
Malam mencekam menyelimuti Great Ruler. Para mutan dari berbagai jenis bermunculan.
Mulai dari mutan seperti macan kumbang yang memiliki taring dan cakar dari besi, lalu jenis Derga yang memiliki kepala hiu dengan delapan tangan dan dua kaki.
Selanjutnya mutan burung yang memiliki dua kaki, dua tangan dilengkapi cakar tajam, serta paruh bergigi runcing dan dua sayap besar. Hewan bersayap itu mampu menyemburkan cairan asam yang bisa melelehkan logam.
Mutan serigala ikut muncul dengan dua kaki yang membuatnya bisa berjalan layaknya manusia dan memiliki dua tangan dengan cakar tajam serta tubuh anti peluru.
“Dia akan mati jika menghadapi sendiri. Dasar sombong! Tak akan kubiarkan kau menjadi pahlawan dan dibuatkan monumen jika kau tewas nanti. Semuanya! Bersiap!” perintah Tony lantang yang suaranya terdengar di seluruh bangunan.
“Yes, Sir!” jawab semua User level E bersiap.
“Auuu!” Lolong serigala mutan yang membuat para mutan di seluruh Distrik bergerak.
“Matteo!” panggil Lala lantang karena keponakannya berdiri sendirian untuk menghalau puluhan mutan yang berlari dan siap untuk mencabiknya.
“Purple! Sayap!”
“Sayap diaktifkan.”
Seketika, Matteo yang telah berlapis perisai dari tiga robotnya itu terbang. Semua orang terkejut ketika sang Jenderal menuju ke gedung pelatihan. Para mutan mengejar dan mulai memasuki gedung.
“Bagus! Dia berhasil memancing para mutan masuk kemari,” ucap Tony dengan senyum terkembang.
Para mutan berlari dan mengejar robot bowling hijau yang membawa mutan-mutan tersebut ke berbagai ruang pelatihan.
Para mutan terperangkap di dalam ruangan yang telah siap untuk memberikan pelajaran kematian.
“Simulasi pertarungan ilmu pedang untuk mencapai level 10 dimulai dalam hitungan mundur. 5 … 4 … 3 … 2 … 1, go!” ucap Eco di ruang simulasi ilmu pedang di mana Sandra pernah berlatih bersama Matteo sebagai mentornya.
“Bagus! Hajar dia robot samurai! Jadikan mereka sushi!” seru Xili begitu bersemangat dari tempat duduk.
Lima mutan jenis Derga menjadi lawan dari 10 robot samurai yang muncul dari bawah lantai. Mereka bertarung sengit, saling menyerang dan berusaha menjatuhkan lawan.
Robot-robot samurai memotong lengan dan tubuh para mutan tersebut. Para User robot level E menunggu saat yang tepat ketika para robot samurai mulai berguguran untuk menggantikan tugas mereka.
“Bersiap … serang!” perintah Matteo lantang saat dinding pelindung para User di ruang pelatihan ilmu pedang terbuka.
Kesepuluh User melanjutkan tugas dengan membagi tugas. Lima diantara mereka menebas tubuh para mutan dan lima sisanya mengambil potongan tubuh para mutan itu untuk dijadikan senjata makan tuan.
Para mutan roboh satu per satu dan tubuh mereka bergelimpangan di seluruh sudut ruangan tak bernyawa.
“Jangan lengah! Kembali berlindung! Mutan lain pasti akan datang dan masuk ke ruangan. Bersiap!” perintah Tony dari ruang kendali.
“Yes, Sir!” jawab para User yang masih bertahan.
Matteo menjadikan dirinya tameng di depan pintu ruang simulasi tempat Sandra berada. Ia tak akan membiarkan mutan jenis apa pun menerobos masuk.
Matteo bisa mendengar suara erangan para mutan dan para User dari seluruh ruangan yang berada di gedung berlantai 10 tersebut.
Ruang simulasi berada di lantai ketujuh. Para operator dan pemimpin di pusat kendali tiap Distrik terlihat sigap dalam menghadapi para mutan yang menyerang wilayah mereka.
Namun ternyata, serangan dari luar benteng juga terjadi. Hal itu kembali mengejutkan Pusat Kendali Distrik 9.
“Wakil Presiden! Ada pasukan manusia menuju ke dinding terluar Distrik 1! Mereka membawa senjata seperti Meriam untuk menghancurkan barikade!” ucap Xili yang tentu saja membuat Lala dan semua orang panik.
Lala berjalan mendekat. Ia mengenali kelompok itu. Mereka dari negara Baatar dengan Gobi sebagai kepala negara yang pernah ditemui Sandra dan Vemo di dalam cacing saat menjalankan misi.
Meriam besar itu dipersiapkan. Generator cadangan untuk mengaktifkan pelindung rusak karena ulah mutan serigala meski berhasil ditumpas.
__ADS_1
Jantung semua orang berdebar dan hanya bisa pasrah saat tiga buah meriam berjejer berbentuk silinder dengan diameter selongsong berukuran 1 meter siap ditembakkan.
“Bersiap!” teriak Lala lantang dan semua orang di Distrik 1 berpegangan.
Dan, benar saja. DOOM! DOOM! CESS!
“Oh! Itu … itu meriam peleleh logam! Mereka berusaha untuk melelehkan barikade!” pekik Mayor Kyel saat melihat cairan berwarna hitam pekat mengeluarkan asap dan melubangi barikade yang menutup langit Great Ruler.
Lubang-lubang besar terlihat dan meriam-meriam itu terus dilontarkan. Tak lama, para mutan burung kembali datang dengan membawa mutan lain yang dicengkeram oleh kaki mereka.
Para mutan terus bertambah dan mulai menguasai distrik-distrik yang berhasil dimasuki oleh mereka.
Ternyata, para pasukan manusia itu melontarkan meriam ke seluruh Distrik. Mereka mengepung Great Ruler dari berbagai sudut di mana negara besar itu berbentuk sebuah tempurung besar layaknya kura-kura dengan lapisan baja sebagai pelindung langit dan beton menjulang tinggi sebagai benteng terluar.
Serangan besar terjadi di dalam Great Ruler. Kali ini, gelombang besar tak bisa ditaklukan oleh para pejuang. User level E dan D mulai kewalahan.
Banyak di antara mereka berguguran karena gagal melawan para mutan yang sangat sulit untuk dibunuh meski telah menggunakan teknik yang Sandra ajarkan.
Matahari mulai terbit dan menerangi kawasan di sekitarnya. Akhirnya, perjalanan Sandra menuju ke titik di level 9 hampir berakhir.
Terlihat, kota mati yang telah ditinggalkan di depannya. Daya pada WolfBot yang dikendarainya mulai berkurang dan tersisa 30 persen karena terus berlari tanpa henti agar misi cepat dirampungkan.
“Isilah dayamu, Wolfy. Aku akan baik-baik saja,” ucap Sandra saat turun dari punggung serigala robot seraya mengelus kepalanya.
Serigala robot itu mencari posisi untuk mengisi baterai di mana sinar matahari mulai menyinari kota mati tersebut.
Suasana mencekam sungguh terasa, padahal sensor tak memindai adanya kehidupan di sana.
Hingga tiba-tiba, “Grrrr ….”
Rey tak memproses permintaannya. Sandra sungguh kesal karena komputer simulator tak bisa diajak kerjasama hampir di setiap misi karena pembaharuan dalam pemrograman.
“Rey! Pedang laser.”
“Pedang laser diaktifkan.”
“What? Oh, sungguh. Aku kesal setengah mati padamu. Kaupilih perintah ya? Awas saja,” gerutu Sandra saat ia merasakan pergerakan lambat menuju ke arahnya seperti langkah kaki dengan hentakan berat.
Seketika, mata Sandra melebar, begitupula orang-orang di pusat kendali simulator karena mengenali sosok di hadapan robot level A tersebut.
“Kau hebat karena berhasil sampai sejauh ini, Otka Oskova,” ucap mantan Presiden Great Ruler—Morlan.
“Sandra Salvarian,” tegas Sandra dan membuat mata Morlan menyipit. “Kau merubah dirimu seperti mereka?” tanya Sandra mengerutkan kening karena tubuh Morlan telah berubah.
Kepala pria itu menjadi gundul dan tumbuh tanduk-tanduk kecil di sekelilingnya. Wajahnya pucat dan kulitnya menjadi tebal seperti badak.
Morlan mengenakan sebuah rompi kain untuk menutupi tubuh bagian atasnya dan celana kain selutut.
Ia tak menggunakan sepatu karena kedua kakinya berjinjit bahkan memiliki tanduk runcing di bagian tumit serta siku belakangnya.
Morlan seperti manusia dengan campuran hewan. Jantung semua orang berdebar saat apa yang dilihat Sandra disiarkan ke semua pusat kendali yang berada di seluruh Distrik.
“Ayah! Apa yang kaulakukan?!”teriak Matteo lantang saat dirinya muncul dari hologram jam tangan Sandra.
“Ah … Matteo?” panggil Morlan dengan suara serak.
“Aku sudah ingat semuanya. Aku … ingin minta maaf padamu karena menyalahkanmu selama ini. Aku yakin, kau menjadi seperti ini karena ucapanku yang menyakiti hatimu,” ucap Matteo tiba-tiba yang mengejutkan semua orang.
__ADS_1
Kening Morlan berkerut, ia terlihat bingung. Matteo menarik napas dalam terlihat serius seperti ingin menyampaikan sesuatu.
“Aku yang membunuh ibu, itu bukan salahmu, tapi … aku selalu menyalahkanmu. Aku menyebutmu monster dan … kau mewujudkan ucapanku.” Praktis, mata semua orang melebar mendengar pengakuan sang Jenderal. Morlan membisu di tempatnya berdiri. “Kau benar, Ayah. Aku menjadi pria aneh karena memiliki Blue dan Matteo dalam diriku. Namun, karena Blue-lah, aku bisa merasakan kasih ibu. Dan karena Matteo-lah, aku menjadi lelaki kuat sepertimu. Blue dan Matteo adalah satu, dan hal itu tak bisa diubah karena darah kalian mengalir di tubuhku,” ucap Matteo sendu.
“What? Colosseum Blue dan Matteo Corza adalah satu orang yang sama?” tanya Tony, dan Wakil Presiden Lala mengangguk.
“Aku akan menemanimu dalam pengasingan, Morlan. Kau tak sendiri. Aku juga bersalah karena menyembunyikan kematian Aurora dari seluruh penduduk Great Ruler. Aku juga membohongi semua orang dengan mengatakan jika Blue dan Matteo adalah dua orang yang berbeda, tapi mereka saudara kembar. Kesalahanku fatal sepertimu, dan tak mengapa jika aku harus diusir dari Great Ruler agar bisa selalu bersanding bersama saudaraku,” ucap Roman yang sosok hologramnya muncul dari mata WolfBot yang menyala terang.
Semua orang terkejut akan pengakuan yang tak pernah mereka duga sebelumnya selama bertahun-tahun hidup di Great Ruler.
“Namun aku mohon, hentikan kegilaan ini, Morlan. Orang-orang yang menyayangi kita tewas karena mutan-mutan ganas itu. Jangan libatkan mereka dalam perseteruan kita,” pinta Roman memandangi saudara kembarnya yang tertunduk terlihat sayu.
“Tidak bisa,” jawabnya lesu.
“Kenapa tidak bisa?” tanya Matteo menyahut dengan mata melebar.
“Mereka … tak bisa dikendalikan. Mereka membunuh para ilmuwanku. Aku terpaksa menjadikan diriku seperti mutan, karena mereka hanya mengenali sesama jenisnya karena DNA mutan mengalir dalam tubuhku. Para mutan saling terhubung seperti memiliki ikatan batin layaknya saudara. Aku tak diserang oleh mereka karena mutan-mutan itu menganggap aku sejenis dengan mereka. Aku … tidak bisa menolong apa pun,” jawabnya sendu.
Semua orang terdiam entah apa yang dipikirkannya. Sandra menatap Morlan lekat yang terlihat tak berbahaya baginya.
“Misi yang kauberikan. Apa yang sebenarnya kau rencanakan? Apakah … kau bermaksud memberikan petunjuk pada kami, melaluiku?” tanya Sandra.
Morlan tersenyum. “Kau pintar. Tak salah Roman memilihmu menjadi User robot level A, Sandra Salvarian.”
“Apa maksudnya? Aku tak paham,”tanya Lala bingung.
“Morlan memberikan misi yang telah diperbaharui karena aku akan melawan beberapa mutan. Di sana, aku dituntut untuk mencari solusi untuk membunuh mereka tanpa senjata buatan Great Ruler, seperti caraku dengan menggunakan senjata dari mutan itu sendiri,” jawab Sandra dan Morlan bertepuk tangan.
“Kau … meninggalkan remah roti untuk kami saat kautahu jika mutan-mutanmu tak bisa dikendalikan. Begitu?” tanya Roman, dan Morlan mengangguk.
“Pantas saja, Rey tak bisa memberikanku petunjuk karena Morlan sendiri tak tahu caranya untuk membunuh mutan-mutan ciptaannya. Ia menggunakanku agar aku menemukan cara sendiri yang nantinya bisa menyelamatkan Great Ruler!” sambung Sandra lantang dan Morlan mengangguk. “Lalu … apa misi dari level 9? Menemuimu?” tanya Sandra curiga.
“Kau memang pintar. Jadi … segeralah selesaikan misi terakhirmu, Sandra Salvarian. Misi level 10. Apa kau bisa menebak, misi terakhir itu?” tanya Morlan dengan senyum tipis di wajahnya.
Sandra diam sejenak seperti berpikir serius di ruang simulasi. Matteo dan semua orang di pusat kendali menatap Sandra saksama, hingga tiba-tiba wanita cantik itu menaikkan pandangan.
“Kembali ke Great Ruler dan membunuh para mutan?”
“Hahaha! Hebat sekali! Kau sungguh cerdas. Jadi … tunggu apalagi? Pergilah, dan ... selamatkan negara yang kuhancurkan karena ketamakanku. Titip salamku kepada semua orang di Great Ruler. Katakan … Morlan menerima hukumannya dan akan menghabiskan sisa hidupnya dengan menyesali kebodohannya,” ucap Morlan menyesal.
“Tebus dosamu dengan kembali ke Great Ruler, Ayah! Mereka mutan-mutan ciptaanmu! Kau harus bertarung dengan kami untuk membuktikan penyesalanmu, bukan dengan menunggu di tempat terkutuk itu dan menyesali nasib. Kau adalah seorang ilmuwan, dan kau adalah ayahku! Berhentilah bersikap menyedihkan dan tunjukkan kau layak untuk diampuni!” tegas Matteo lantang menunjuk ayahnya dengan sorot mata tajam di ruang komunikasi.
“Oh, lihatlah putera kita, Aurora. Kebiasaannya menunjuk tak bisa lepas darinya. Ia mendikte dan memaksa orang agar menuruti kemauannya. Hem, aku baru menyadari jika ucapan Aurora benar. Matteo, seperti diriku. Dia menjadi pria yang angkuh dan keras kepala. Jadi … pria di depanku ini adalah sifat dari Matteo? Putera didikanku?” tanya Morlan menatap hologram dengan sosok pria tampan di depannya.
“Yes! Dan jika kau masih menganggap aku anakmu, kembalilah. Kita tuntaskan ini bersama, sebagai ayah dan anak,” tegas Matteo dengan napas memburu. Morlan tersenyum.
“Kembalilah, Presiden Morlan. Kami membutuhkanmu,” pinta Xili menyahut dan mengejutkan semua orang.
“Semua orang pernah melakukan kesalahan. Kembalilah dan bantulah kami,” pinta Wego dan disusul dengan lainnya di mana sosok mereka bermunculan satu per satu dari mata WolfBot.
“Terima kasih atas kesempatan kedua. Baiklah. Penebusan dosa?” jawab Morlan.
“Yes, penebusan dosa,” sahut Matteo dan diikuti oleh Roman yang mengatakan hal sama.
Morlan mendekati robot Sandra dan mengajaknya bersalaman. Sandra menerima jabat tangan itu dengan senyuman di balik topeng robotnya.
***
ILUSTRASI
__ADS_1
SOURCE : GOOGLE