SIMULATION

SIMULATION
UNDERWATER CITY*


__ADS_3

Semua orang memejamkan mata dan berdoa agar Matteo selamat. Sayangnya, sudah 10 menit berlalu, tapi sang Presiden tak muncul ke permukaan termasuk para robotnya.


"Hubungi negara Bintang!" seru Sandra mulai gemetaran karena sang suami tak diketahui nasibnya di bawah lautan luas.


"Sandra! Matteo tak kami temukan! Kami sudah menggunakan perahu penangkap ikan untuk menyusuri sekitar, tapi jejaknya hilang!" jawab Morlan yang membuat Sandra langsung duduk dengan lesu dan pandangan tak menentu.


"Hiks, Matteo ...," tangis Sandra pada akhirnya hingga kedua bahunya berguncang.


Semua orang di pusat komando tertunduk sedih. Lala, Sora dan lainnya menangis karena kehilangan sosok yang begitu penting dalam kenangan mereka.


Namun, siapa sangka, di tempat Matteo berada. Sang Presiden bersama robot-robotnya ditemukan oleh sebuah kapal berbentuk seperti ikan pari.


Mulut kapal itu menelan Matteo dan membawanya ke sebuah fasilitas di dalam air yang tak diketahui oleh pihak manapun, termasuk Great Ruler.



PIP!


"Meminta izin memasuki palka 1," ucap co-pilot dari nahkoda kapal selam yang menyerupai ikan pari.


"Diizinkan," jawab operator yang bertugas di pintu masuk armada kapal selam di wilayah itu.


Matteo yang tak sadarkan diri, tak mengetahui jika dirinya dibawa oleh sekumpulan orang berpakaian khusus berwarna biru menyerupai lautan dalam.


Orang-orang itu mengelilingi Matteo dan terlihat seperti mempelajarinya. Sang Presiden Great Ruler dibaringkan dalam sebuah papan besi di mana tubuh Roboto, Spectra, dan empat serigala robot yang telah habis fungsi, melekat di tubuhnya.


SRINGG! KLAK!


"Denyut nadi melemah, tapi dia bisa diselamatkan," ucap seorang wanita berwajah tegas berkulit pucat.


"Kita akan cari tahu siapa dia. Robot-robot ini, tak pernah kita jumpai sebelumnya," sahut seorang lelaki seraya memegang helm dari kepala Spectra yang telah terbelah dua karena dipotong dengan mesin laser.


Tangan besar Roboto yang memeluk empat WolfBot dipotong. Robot-robot itu dipisahkan dari pria bermanik biru tersebut. Roboto dan lainnya, dimasukkan dalam sebuah kotak besi khusus.


Sedang Matteo, dimasukkan dalam sebuah tabung yang ternyata memiliki sistem untuk memulihkan fungsi organ agar kembali normal. Matteo mulai bernapas.


Terlihat dari bibir dan lubang hidungnya yang bergerak mengeluarkan CO2. Embusan udara itu, mengembun di dinding kaca.


Tempat Morlan dan lainnya berada.


"Tidak mungkin Matteo mati! Dia pria tangguh dan kuat! Ia pasti terbawa arus dan kini entah berada di mana. Kita harus menemukannya!" seru Roman lantang di mana hujan deras mengguyur wilayah tepian laut.


Semua orang mengangguk setuju. Gelembung yang memiliki fungsi motor penggerak baling-baling di bagian kiri kanan seperti kapal, kembali digunakan.


Vemo bersama Roman, menyusuri permukaan air laut dengan Gelembung. Sedang Morlan bersama Benyamin, mencoba menyelam menggunakan kapal selam yang dimiliki negara Bintang, tapi tak bisa menjangkau hingga kedalaman lebih dari 50 meter di bawah permukaan laut.


"Ada yang tidak benar, tapi ... aku tak begitu yakin. Mungkinkah?" ucap Benyamin yang suaranya terhubung dengan Pusat Komando Great Ruler dan juga orang-orang yang ikut dalam misi pencarian.

__ADS_1


"Apa itu?" tanya Morlan penasaran.


"Sekitar ... 30 tahun terakhir. Banyak laporan dari para nelayan, jika mereka sering melihat ikan pari besar muncul ke permukaan. Namun anehnya, pari besar berwarna putih itu seperti bukan ikan, melainkan robot," jawab Benyamin seraya mengemudikan laju kapal selam yang hanya muat untuk dua orang saja.


"Sungguh? Maksud Anda ... ada yang mengendalikan robot ikan pari itu seperti cacing Gobi?" tanya Morlan curiga menatap pria berkebangsaan Indonesia itu saksama.


"Ya, begitulah. Ikan aneh itu mengeluarkan semacam lampu berwarna biru pada bagian atas mulutnya. Saat itu, salah satu nelayan terbaik kami menyelam untuk melihat pergerakan ikan tersebut dari dalam air. Ternyata, ekor ikan itu terhubung ke sebuah benda berbentuk layaknya bola," jawab Benyamin menjelaskan.


"Bola?" sahut Morlan mengedipkan mata. Benyamin mengangguk.


"Benda itu awalnya berukuran kecil, tapi kelamaan menjadi besar seperti balon. Lalu, setelah sekitar 15 menit, benda itu terlepas dari ujung ekor ikan itu dan tenggelam. Sayangnya, karena kedalaman laut yang tak kami ketahui, kami tak ingin ambil resiko dengan menyelam lebih dalam lagi," sambung Benyamin.


"Oh! Mungkinkah ... ada negara lain yang memiliki jenis kapal ikan itu?" tanya Morlan menebak.


"Bisa jadi. Sayangnya, aku tak begitu yakin. Namun, dulu sebelum negara Bintang menjadi milik leluhurku, ada sebuah terowongan yang menuju ke bagian bawah pulau dan tersambung ke perairan. Hanya saja, setelah kami selidiki, pintu itu tertutup. Jika dibuka, daratan bisa runtuh dan ambles tertelan lautan. Jaraknya cukup jauh dan hampir menjangkau dasar pulau," lanjutnya.


"Bisa jadi, pemilik kapal ikan pari itu adalah orang-orang yang dulu menetap di negara Bintang sebelum direbut oleh kalian. Maaf jika menyinggung, tapi ... itu hanya pemikiranku," tegas Morlan terlihat tak enak hati.


"Ya, aku juga berpikir demikian. Aku menduga, jika orang-orang yang selamat itulah yang menutup jalan ke dasar pulau. Mereka bertahan hidup di dalam air. Namun ... bagaimana caranya?" tanya Benyamin terlihat berpikir serius.


"Aku akan ke sana," sahut Sandra tiba-tiba.


"Jangan gegabah. Kita tak tahu bagaimana caranya sampai ke tempat itu. Lokasinya saja tak kita ketahui," sahut Morlan tak sependapat.


"Anakmu terjebak, Ayah. Kau akan biarkan dia di tempat asing? Aku sedikit lega mendengar kisah dari Tuan Benyamin. Hanya saja, jika benar Matteo diselamatkan oleh mereka, tak mungkin Matteo dilepaskan begitu saja. Kita harus memastikan, Matteo bisa keluar dari tempat itu hidup-hidup dan tak menimbulkan perselisihan berkelanjutan dengan negara yang tak kita tahu itu," tegas Sandra.


"Aku rasa, kita patut mencobanya. Kita membutuhkan banyak informasi dari Anda, Tuan Benyamin, tentang pergerakan si ikan pari itu untuk menyelamatkan keponakanku. Tolong," pinta Roman.


"Hem, baiklah. Kalau begitu, kita kembali dan segera berdiskusi untuk misi menyelamatkan Presiden Matteo. Ayo," jawab Benyamin sependapat.


Sandra segera bersiap untuk pergi ke negara Bintang. Namun kali ini, ia terpaksa meninggalkan bayinya bersama Lala dan orang-orang yang ia percaya.


"Jangan salah paham, Sayang. Namun, aku tak bisa membiarkan kawanku itu sok menjadi pahlawan lagi dengan melintasi negara sendirian. Aku harus mendampinginya," tegas Tony.


"Aku tahu. Aku tak cemburu, tapi aku mengawasimu," jawab Sora menyipitkan mata.


Tony tersenyum lalu mencium bibir isterinya dengan rakus. Sora memberontak, tapi ia menyukai keagresifan suaminya.


Tujuh hari kemudian, Great Ruler.


"Aku yang akan mengemudi," tegas Brego, tapi membuat Sandra dan timnya yang akan pergi ke negara Bintang menggunakan cacing robot terakhir meringis.


"Ah, entahlah, Colonel," jawab Sandra tak yakin.


"Tak menerima penolakan. Jika tak mau, pergilah sendiri dengan robot level A milikmu," jawab Brego tak ingin beranjak dari dudukkan kemudi si robot cacing.


"Oke. Aku akan duduk," jawab Tony pasrah karena enggan berdebat dengan si rambut singa. Sandra akhirnya ikut duduk di samping Brego.

__ADS_1


Robot cacing pertama buatan Matteo hanya bisa dikemudikan satu orang dan tak ada operator seperti pada robot cacing generasi kedua.


Namun, robot itu telah disempurnakan oleh para pekerja yang membuat robot cacing generasi kedua usai menganalisis kerusakan dari tampilan rekaman sebelum sinyal hilang.


Hari itu, empat orang yang duduk dibangku penumpang meliputi Sandra, Akira, Ego dan Tony. Colonel Brego dipercaya sebagai masinis robot cacing generasi pertama dengan sumber energi dari panas matahari.


Namun, tim teknis telah menggunakan baterai cadangan sejumlah tiga buah berukuran besar sebagai antisipasi jika robot cacing kehabisan energi seperti saat percobaan menuju ke Great Mazepita kala itu.


Sandra juga mengikutsertakan WolfBot dan HeliBot sebagai pelindung mereka. Kali ini, tim Sandra telah siap dengan segala resiko yang mungkin bisa terjadi saat menuju ke negara Bintang.


"Memulai analisis sistem keseluruhan," ucap sistem kontrol memulai persiapan.


Jantung semua penumpang dalam robot cacing berdebar kencang, termasuk Pusat Komando di Distrik 9 Great Ruler.


"Sistem navigasi diaktifkan. Mengikuti jalur robot cacing generasi kedua menuju ke negara Bintang. Estimasi perjalanan menempuh 2 hari non-stop tanpa lokasi pemberhentian. Cek. Sistem kontrol sumber energi diaktifkan. Sumber daya energi mencukupi sampai ke titik tujuan. Cek."


Para penumpang dan operator di Great Ruler menyimak dengan serius saat sistem memberikan laporan.


"Tak ditemukan kerusakan dan kegagalan sistem pengoperasian otomatis. Cek. Sirkulasi udara dan cadangan oksigen selama perjalanan 100%. Cek. Sistem komunikasi internal dengan pusat terkoneksi tanpa gangguan.Cek."


Orang-orang yang mendengar bernapas lega karena sistem cukup jelas menjabarkan jika keseluruhan sistem berfungsi normal dan siap untuk diberangkatkan.


"Robot cacing akan bergerak dalam hitungan mundur. 10, 9, 8, 7 ...."


Jantung semua orang berdebar. Kelima orang yang duduk dalam formasi segitiga sama sisi tampak fokus melihat ke kaca di hadapan mereka.


Jalur dari cacing robot di dalam terowongan khusus di bawah Distrik 4 siap untuk meluncurkan cacing robot sampai ke tanah luar gerbang Great Ruler.


Gerbang utama bawah tanah terbuka dan terlihat lampu menyala terang sampai cacing robot keluar dari sangkar utama.


"... 3 ... 2 ... 1, go!"


GREKKK!


Robot cacing bergerak secara otomatis meski Colonel Brego duduk sebagai masinis. Brego bertugas untuk memastikan seluruh fungsi dalam robot cacing bekerja sesuai dengan prosedur.


"Bertahanlah, Matteo. Kami datang," ucap Sandra penuh harap dan diamini oleh semua orang yang mendengar.


***


ILUSTRASI


SOURCE : GOOGLE



Tengkiyuw tipsnya💋Lele padamu😍

__ADS_1


__ADS_2