SIMULATION

SIMULATION
DISTRICT 10 FALL*


__ADS_3

Di waktu yang sama, tempat Sandra berada. Wanita berambut pirang itu kembali online setelah energinya terisi penuh. WolfBot terlihat bersiap untuk melanjutkan misi.


Matteo dan seluruh petugas operator yang berada di ruang simulasi tersebut berusaha keras agar Sandra tak terluka serta robot di lapangan tidak hancur.


Sandra menggunakan HeliBot yang membantunya bergerak lebih cepat. Mola tak menganggap penggunaan benda tersebut sebagai kecurangan.


Matteo dan anak buahnya kini mendapatkan taktik untuk memanipulasi simulasi yang telah diperbaharui oleh Morlan.


“Oh! Itu dia!” pekik Sandra menunjuk lokasi dari tujuan misinya tersebut.


Sandra mengendalikan HeliBot dari pengendali protabel berbentuk pipih, yakni alat yang sama ketika ia mendapatkan pesan dari pusat dengan visual Rey.


Sandra menggunakan telunjuk untuk mengarahkan pergerakan benda terbang yang membawa tubuh robotnya itu. WolfBot mengikuti di bawah Sandra dengan berlari kencang.


“Jenderal! Otka mendaratkan HeliBot sekitar 200 meter dari titik misi,” ucap Xili melaporkan.


Matteo segera mendekat, di mana fokusnya tadi tertuju pada penyerangan para mutan di Distrik 10 dan hampir menembus Distrik tempatnya berada.


Kini, bola mata sang Jenderal terkunci pada pergerakan Sandra agar wanita yang dicintainya itu tak tewas saat menjalankan misi.


Sandra mendarat dengan mulus dan tak terlihat pergerakan dari musuh melalui tangkapan radar Mola.


HeliBot mengamankan dirinya dengan mendarat di sebuah atap rumah dari arahan jam tangan portabel Sandra.



“Rey, identifikasi kondisi lingkungan,” perintah Sandra dengan posisi berjongkok. Ia menyembunyikan tubuh robot di balik dinding sebuah batu besar.


“Terdapat tingkat radiasi tinggi hingga sejauh satu kilometer. Wilayah aman untuk dimasuki oleh robot dan mutan, tapi beracun bagi makhluk hidup,” jawab Rey dari hasil analisisnya.


Sandra diam sejenak. “Jika mutan bisa hidup, mereka pasti sudah beradaptasi dengan wilayah ini. Lalu … di mana para warga yang dikatakan disandera?”


“Mereka berada di ruang bawah tanah. Temukan jalan masuk, bunuh semua mutan, dan selamatkan sandera untuk menyelesaikan misi level 6,” tegas Rey.


Sandra menoleh ke arah empat WolfBot yang terlihat siap untuk bertempur. Sandra meninggalkan HeliBot dan ia segera masuk ke wilayah dengan tingkat radiasi tinggi dengan tubuh telah berperisai duri.


Sandra memasuki sebuah kota kecil yang ditinggalkan oleh para penghuninya dan hanya menyisakan sisa peradaban.


Wanita bertubuh atletis itu terlihat waspada karena pandangannya sedikit kabur di mana udara berubah menjadi hijau.


“Rey, temukan pintu masuk tersebut,” perintah Sandra seraya berjalan mengendap sembari tetap waspada.


“Aku tidak diprogram untuk membantu User menemukan jalan. Silakan temukan sendiri,” jawab Rey yang membuat Sandra langsung mendesis kesal.


Matteo tersenyum karena wanita itu seperti marah dengan sosok mendiang suami hologramnya.


Sandra menggunakan penglihatan sensor panas untuk mencari keberadaan para manusia itu, tetapi permukaan tanah di wilayah tersebut seperti dilindungi oleh suatu medan penghalang yang membuat penglihatannya tak bisa menembus struktur bawah tanah.


“Benar-benar cara mati yang keren dengan berada di simulasi ini,” ucap Sandra seraya melihat sekitar di mana banyak bangunan rusak di wilayah tersebut yang membuatnya makin waspada.


“Bahaya! Bahaya! Pergerakan di sisi Tenggara dengan kecepatan 50km/jam dan semakin mendekat!”


“Piikkkk!!”


“Rrrggg!” erang para WolfBot yang menyadari pergerakan tersebut.


“Pedang laser diaktifkan.”


“Aku kenal suara itu! Itu adalah … oh, shitt! Kenapa tebakanku harus benar?!” pekik Sandra kesal saat mutan yang menyerang Distrik 10 ikut muncul di tempatnya berada.


“Otka juga menghadapi mutan serangga itu! Robot kita saja kalah, bagaimana jika dia—“


“Diam! Sandra tahu apa yang harus dilakukan. Aku sangat yakin dia bisa menghadapinya. Setidaknya … Itulah harapanku,” potong Matteo cepat, meski terlihat jelas kekhawatiran di wajahnya.


“Hargghhh!” Para serigala itu segera menerkam mutan tersebut dari segala sisi. Sandra dengan sigap ikut menyerang di mana ia bisa melompat tinggi.

__ADS_1


“Piikkk!!”


“Oh!” pekik para operator terkejut saat Sandra menggunakan pedang lasernya untuk membelah kepala berbentuk hiu tersebut dan usahanya berhasil.


“Hiyahhh!” teriak Sandra lantang saat  menebas seluruh tangan runcing mutan itu hingga bagian-bagian tubuhnya berceceran di tanah.


“Piikkkk!”


Mata Sandra melebar saat melihat jika mutan itu tak tewas dan tangannya tumbuh kembali padahal ia sudah memotongnya dengan laser.


“Tidak mungkin!” teriaknya dengan mata memelotot. “Rey! Cari kelemahannya!” perintah Sandra yang terus melakukan serangan karena WolfBot miliknya terlempar satu per satu karena kekuatan mutan berkaki dua


tersebut.


“Permintaan ditolak. User harus menemukan kelemahan mutan dari hasil analisisnya,” jawab Rey yang membuat Sandra kesal bukan main.


Sandra menghentikan serangannya dan melihat para WolfBot-nya menyerang mutan tersebut. Pandangan User robot level A tersebut teralih ke potongan dari tubuh mutan yang masih bergerak dan mengeluarkan lendir.


Sandra mengambil potongan tangan dengan kuku tajam tersebut. Para operator dan Matteo terlihat bingung karena Sandra seperti ragu akan aksi yang akan dilakukannya.


“Cari solusi sendiri, ha? Oke, ini solusiku!” jawabnya kesal dan berlari kencang ke arah mutan tersebut.


“Apa yang dia lakukan?!” tanya Xili dengan mata membeliak saat Sandra menggunakan lengan mutan tersebut sebagai pengganti pedang lasernya.


“Hiyaahh!”


“Piikkk!! Iiikkk!!”


“Oh! Itu melukainya!” pekik Xili terkejut saat Sandra menyabetkan kuku tajam mutan tersebut ke tubuhnya sendiri di bagian perut dan merobeknya.


Kulit mutan itu tak lagi memperbaiki diri seperti sebelum-sebelumnya. Terlihat, cairan bening menetes dan mutan itu seperti kesakitan. Sandra menyeringai dan ia mengambil lengan yang terpotong lainnya untuk dijadikan senjata.


“Hiyaahh!” serunya lagi yang kini kedua tangannya memegang lengan mutan dengan kuku tajam sebagai pengganti senjatanya.


Mata semua penonton terbelalak saat melihat Sandra dengan lincah menyabet tubuh mutan itu hingga lengkingan kesakitan begitu santer terdengar.


“Senjata makan tuan, Tuan mutan. Nikmati kematian dari kuku tajammu,” ucap Sandra keji saat menggunakan kuku mutan yang melengkung seperti sabit tersebut menancap di leher mutan lalu menariknya kuat hingga kepala berbentuk hiu itu terlepas.


“Yeahhh!” teriak para operator senang.


“Segera beritahukan kepada seluruh User di semua Distrik cara melawan Derga, cepat!” perintah Matteo yang baru saja mendapatkan petunjuk dari cara bertarung Sandra.


Senyum Matteo terkembang saat melihat Sandra mampu mengalahkan mutan buas itu yang terlihat begitu mudah, padahal para User di Distrik 10 sampai kewalahan mencari cara membunuh para mutan itu.


Pusat Kendali Distrik 10.


Mayor Petroska enggan meninggalkan tempat untuk melakukan evakuasi seperti yang ia perintahkan kepada seluruh petugas di tempat itu.


“Sir! Para mutan itu akan segera masuk ke wilayah ini! Anda harus segera pergi!” ucap operator bernama Neo panik karena suara teriakan dari para manusia terdengar bersahut-sahutan saat mereka bertemu dengan para mutan yang telah berhasil masuk ke menara.


“Aku akan mempertahankan meriam laser yang tersisa. Kau pergilah! Sudah tugasku untuk tetap mempertahankan Distrik!” jawabnya mantap di mana kini ia mengoperasikan secara manual karena sistem komputer yang membidik para mutan telah mati akibat satelit portabel mereka dirusak oleh para mutan terbang.


Operator pria itu terlihat kebingungan, dan pada akhirnya kembali ke sisi Walikota yang sedang berjuang dengan dua buah pengandali besar dalam genggamannya. Petroska menatap pemuda itu tajam.


“Saya bukan pengecut. Saya lahir di Great Ruler dan akan mati di tempat ini sebagai pejuang! Saya … merasa bangga dan terhormat bisa menemani Anda mempertahankan Distrik 10, Sir,” jawabnya mantap dan kini mengaktifkan pedang laser dalam genggaman tangan kanan.


Petroska mengangguk mantap terlihat kagum akan pemuda di sampingnya. Pria berambut hitam itu terlihat bersiaga di belakang Petroska untuk menghalangi semua mutan yang berusaha masuk ke pusat kendali.


DANG!


BRANGG!


“Piikkk!”


Petroska dan Neo tersentak saat menyadari jika salah satu mutan tersebut berhasil masuk ke dalam menara dan menerobos pertahanan User robot level D seri 05 terakhir.

__ADS_1


Jantung dua pria itu berdebar dan tampak pucat menunggu kemunculan hewan tersebut ke ruang kendali.


“Kendali Distrik 10? Apa kalian mendengar panggilan ini? Over?” tanya Xili dari sambungan komunikasi.


Petroska segera menekan tombol untuk menjawab panggilan. “Yes! Apa yang harus kami lakukan?”


“Ma-Mayor Petroska? Oh, Anda masih bertahan. Syukurlah,” jawab Xili lega.


“Tak ada waktu! Cepat katakan!” pekiknya lantang.


“Piikkk!!”


“Arrggg!” erang Petroska dan pemuda itu saat mutan berkepala hiu masuk ke ruang kendali dengan lengkingan mematikannya. Dua pria tersebut langsung menutup telinga mereka yang berdarah.


“Mayor! Ada cara membunuhnya! Potong lengannya lalu gunakan kukunya untuk menyerang tubuh mutan itu sendiri! Otka berhasil melakukannya! Dia berhasil membunuh mutan Derga dengan cara tersebut!” ucap Xili lantang.


Petroska dan pria operator mendengar seruan dari instruksi Xili meski telinga mereka begitu nyeri. Petroska mendatangi pemuda itu dan mengambil pedang lasernya yang jatuh.


“Kau dengar yang dikatakan olehnya? Otka saja yang seorang perempuan, bahkan bukan lulusan militer Great Ruler berhasil melakukannya. Jangan permalukan diri kita sebagai pria, Neo. Kita harus bisa membunuh keparat ini,” ucapnya dengan napas tersengal seraya memberikan pedang itu kepada bawahannya.


Neo mengangguk dan membiarkan darah menetes dari lubang telinganya. Keduanya perlahan berdiri tegak dan terlihat siap untuk menyerang mutan berkepala hiu yang mulai menunjukkan pergerakan untuk melakukan perlawanan.


“Piikkk!!”


“Heyaahhh!” erang Neo dan Petroska bersamaan seraya berlari kencang mendatangi mutan tersebut yang melakukan hal sama.


JLEB!


“Mayor!” teriak Neo lantang saat dada sang Walikota tertusuk oleh kuku tajam mutan tersebut hingga tubuhnya terangkat dan darah langsung tersembur dari mulutnya.


“Po-potong tangannya … ce-cepat …,” ucapnya seraya menahan tangan yang menembus dadanya tersebut.


Neo berteriak lantang saat menebas lengan tersebut dan membuat sang Walikota jatuh bersamaan potongan tubuh mutan.


Neo yang diliputi amarah, menyabetkan pedang lasernya ke tubuh mutan itu, tetapi hanya melukainya. Ia lalu mengayunkan pedang dan berhasil menebas lengan lainnya.


“Piikkkk!!”


JLEB!


“Aggg, ohok!” rintih Neo saat perutnya ikut tertusuk dan membuatnya muntah darah seketika.


Kening Petroska berkerut. Ia mencabut lengan yang menembus dadanya dan JLEB!


“Iiikkk!!”


Mutan itu mengerang saat kuku dari lengannya yang terpotong menancap di perutnya karena ulah Petroska. Neo melihat Petroska tergeletak di lantai dengan mata terbuka sudah tak bergerak.


“Arrggghhhh!” erang Neo saat mencabut kuku mutan di perutnya dan membuatnya jatuh menimpa sang Walikota.


Neo merangkak seraya mengambil lengan mutan yang terpotong karena pedang lasernya.


“Harggg! Mati kau!” teriaknya lantang seraya menusuk salah satu kaki mutan dan membuat makhluk itu roboh.


Neo meneruskan serangannya dengan menusuk dada dan leher mutan tersebut. Di waktu bersamaan, kuku mutan dari tangan di belakang punggungnya ikut tertancap di punggung Neo.


Pemuda itu tewas dengan posisi berlutut. Namun serangan terakhirnya, berhasil membunuh makhluk menyeramkan tersebut.


“Sir, gawat! Distrik 10 telah tertembus, dan kini Distrik 9 dimasuki oleh para mutan,” ucap Xili melaporkan dan membuat mata Matteo melebar seketika.


***


ILUSTRASI


SOURCE : FREE IMAGES

__ADS_1



uhuy tengkiyuw tipsnya mbak aju. lele padamu❤️


__ADS_2