SIMULATION

SIMULATION
GOLDEN INVITATION


__ADS_3

Peperangan bola salju semakin sengit berlangsung. Matteo terlihat menikmati pertunjukkan tersebut dari balik jendela ruang kerjanya.


Karena permainan yang dibilang sepele dan menyenangkan ini dilakukan oleh para tentara, membuat peperangan bola salju seperti perang sungguhan.


Ternyata, tiga benteng yang masih bertahan itu tak ingin menunjukkan sisi lemahnya. Tim Selatan yang telah gugur terus memberikan semangat kepada tim Sandra agar bisa menjatuhkan tembok tim Barat.


"Amunisi menipis! Segera habisi mereka!" teriak Sam yang mulai merasakan dindingnya runtuh secara perlahan.


"Fokus hancurkan Timur! Barat terlalu kuat!" seru Sandra.


Pada akhirnya, serangan terfokus ke benteng Timur. Hal itu ternyata dimanfaatkan oleh tim Barat yang ikut menyerang Timur.


"Hei! Kalian bersengkongkol!" seru salah satu tim Timur yang merasa terdesak karena diserang dari dua kubu.


Tim Barat begitu berambisi menjatuhkan benteng Timur. Sandra melirik anggota timnya yang kini tinggal satu orang saja yang menyerang.


Saat para anggota tim Barat sibuk menggempur benteng Timur, diam-diam, Sandra dan tiga kawannya bersiap untuk menyerang Barat.


Seketika, senyum dari tim Selatan terbit. Mereka membungkam mulutnya dengan senyum tipis saat Sandra bersiap untuk menyerang di belakang mereka.


Benar saja, FIRE!" seru Sandra lantang.


Anggota tim Barat terkejut. Benteng mereka diserang dengan gempuran kuat dan mulai terkikis.


Tim dari benteng Timur melihat kesempatan. Mereka akhirnya ikut menggempur Barat. Tim Barat mulai kebingungan, mereka diserang oleh dua kubu dalam waktu bersamaan. Mereka akhirnya membalas hal tersebut, tapi tiba-tiba serangan dari Timur berhenti.


PRITTT!!


"Stop! Tim Timur gugur karena kehabisan amunisi," seru Ego yang mengejutkan tim Barat dan Utara.


"Kami menyerah!" seru salah satu anggota tim Timur seraya mengangkat kedua tangan dan diikuti oleh anggota lainnya.


Kini, tersisa tim Utara dan Barat di mana mereka seimbang. Jantung semua orang berdebar, ketegangan sungguh terasa di sana termasuk Matteo yang melihat dari lantai atas ruangannya.


"Aku bertaruh, tim Otka yang akan menang, Spectra," ucap Matteo yakin seraya mengambil biskuit terakhir dari dalam mangkok lalu mengunyahnya perlahan dengan sorot mata terfokus pada dua tim terakhir.


"Ini babak akhir dan penentuan dari perang bola salju. Bersiap!" seru Ego lantang yang membuat masing-masing anggota tim siaga dengan bola salju mereka.


"Aku akan melindungi dinding," ucap Ben mantap yang berdiri tegap di balik dinding mereka yang mulai roboh dan sudah setinggi dada.


Benar saja, amunisi tim Barat ternyata cukup banyak. Para pria itu mampu membuat banyak amunisi dalam waktu singkat serta serangan mereka telak tepat sasaran.


"Dinding akan roboh!" teriak Sam mulai panik karena ia bisa merasakan bongkahan salju menjatuhi tubuhnya.


"Amunisi kita tinggal 15 lagi! Kita tak mungkin berhasil!" seru Baden yang membuat tim musuh terlihat gembira mendengar kabar tersebut. Sedang dua tim yang telah gugur terlihat kecewa karena jagoan mereka akan kalah.


Sandra tetap fokus pada sasarannya di mana benteng buatan Barat memang kokoh dan tebal. Hingga akhirnya, PRITT!!


Suara peluit terdengar nyaring. Tim Barat yang melakukan serangan secara agresif membuat tim Sandra yang berdiri di belakang dinding terlihat jelas.


Sam yang menjaga dinding sudah seperti manusia salju karena tertutupi bongkahan putih dingin itu.


Sam dibantu oleh Retro untuk berdiri seraya membersihkan sisa dari salju yang menumpuk di tubuhnya. Tim Barat dan Utara telah kehabisan amunisi.


Ego berjalan mendekati benteng Barat dan mengukur ketinggian di mana benteng tersebut masih setinggi paha, sedang benteng tim Utara hanya setinggi lutut.


"Hem. Pemenangnya tim Utara!" seru Ego yang mengejutkan tiga tim lainnya karena menurut mereka, Barat yang seharusnya menang.


"Komandan! Benteng kami lebih tinggi dari milik tim Utara! Seharusnya kami yang menang!" seru salah satu anggota tim Barat protes dan diangguki oleh tim lainnya.

__ADS_1


Ego tersenyum. Ia menoleh ke arah tim Utara di mana Sandra, Retro, Sam, dan Baden terlihat jelas berdiri di balik benteng yang roboh.


"Ben?" panggil Ego.


Seketika, mata dari tiga tim yang dianggap kalah melebar seketika. Ternyata di bagian belakang dari benteng tersebut, tim Utara membuat sebuah benteng tambahan setinggi perut seukuran manusia dewasa.


"Kalian sibuk dengan yang terlihat di depan, tapi tak melihat jika ada benteng lain di belakang. Ibarat benteng Great Ruler. Dinding kita berbentuk seperti sebuah tempurung kura-kura. Kita memiliki 10 Distrik yang berarti 10 pintu dan 1 pintu utama. Jika satu pintu tertembus, bukan berarti dinding Great Ruler runtuh seluruhnya karena masih ada 9 pintu yang harus dijebol untuk bisa menghancurkan seluruh Distrik. Belum termasuk pintu rahasia lainnya yang tak diketahui," tegas Ego yang akhirnya disadari oleh tiga tim yang kalah.


Sandra tersenyum lebar saat keempat kawannya memuji strateginya dalam membangun benteng tambahan yang tertutupi oleh tubuh mereka berempat di mana tinggi benteng utama lebih tinggi dari benteng cadangan.


"Jadi, tim Utara menang?" tanya Ego menatap tiga tim yang telah gugur.


Seketika, tepuk tangan terdengar dari para anggota tim yang telah kalah. Sandra terlihat senang dan ikut bertepuk tangan.


"Kerja bagus dan selamat. Kalian berlima mendapatkan poin tambahan masing-masing 50," ucap Ego dan kelima orang dari tim Utara bertepuk tangan terlihat gembira. "Baiklah, latihan kita cukup hari ini. Kita bertemu lagi esok hari. Jaga kesehatan, jaga pola makan. Bubar!"


Sandra bersama kawan-kawannya masuk ke dalam gedung diikuti oleh tim lainnya. Sandra dikerumuni oleh orang-orang dari tim lain yang kalah darinya. Terlihat, pembicaraan seru diantara mereka entah apa yang diobrolkan.


"Apa kataku, Spectra. Otka akan menang. Dari sini terlihat jelas. Para kandidat itu, mereka butuh banyak berlatih. Hem ... harus kuapakan ya mereka nanti?" ucap Matteo menaikkan salah satu alis dengan senyum liciknya.


Sandra kembali ke kamarnya untuk segera beristirahat di mana ia merasa lelah dengan pelatihan rutin fisik setiap harinya untuk memperkuat mental dan ketahanan tubuhnya.


Saat Sandra telah selesai mandi dan bersiap tidur, Eco membangunkannya dan membuat mata Sandra terbuka lagi.


"Captain Tony datang berkunjung. Dipersilakan masuk?" tanya Eco yang membuat Sandra menghembuskan napas panjang.


"Yes, please," jawab Sandra seraya bangun perlahan.


PIP!


"Oh! Kau mau tidur?" tanya Tony terkejut saat masuk ke kamar gadis berambut pirang itu.


"Kau sebaiknya minum vitamin. Kau terlihat pucat," ucap Tony menyarankan dan Sandra mengangguk setuju.


"Aku akan mintakan kepada tenaga medis nanti. Sebaiknya, kita makan malam dulu sebelum kau tidur," ajak Tony dan Sandra mengangguk.


Sandra keluar kamar dan jalan berdampingan bersama sang Captain menuju ke kantin di mana tempat itu sudah ramai orang.


Sandra dan Tony disambut oleh User lainnya bahkan ada Ego di sana. Ketika mereka terlihat akrab dengan pembicaraan tentang dunia militer, tiba-tiba saja Sora muncul dan mendatangi Tony dengan elegan. Semua orang diam seketika.


"Captain Tony. Bisa minta waktu sebentar?" tanya Sora dan Tony mengangguk pelan.


Tony pamit dan berjalan berdampingan bersama Sora menuju ke balkon kantin. Sandra melihat Tony menerima sebuah undangan warna emas terlihat berkilau di sampulnya.


Tony menoleh dan Sandra terkejut karena sang Captain mendapati sedang menatapnya. Sandra lalu memalingkan wajah dan kembali menikmati hidangan.


"Apa Sora mengajak Tony?" tanya Ego.


"Mengajak apa?" tanya Sandra penasaran termasuk semua kandidat lain. Ego berdehem lalu berbicara pelan.


"Akan ada acara jamuan yang dihadiri oleh jajaran petinggi negara. Setahuku, akan ada pesta dansa. Pastinya, orang-orang akan mengajak pasangannya. Sepertinya, Sora mengajak Tony," jawab Ego.


"Apakah Anda mendapatkan undangan juga?" tanya Retro yang duduk di sebelahnya.


Ego menggeleng. "Aku harus membereskan Distrik 10. Distrik itu harus segera pulih sebelum wisuda dilaksanakan," jawab Ego serius. Sandra mengangguk pelan.


Tak lama, Tony kembali seraya membawa undangan berwarna emas dalam genggaman terlihat lesu.


"Kau diajak Sora?" tanya Ego dan Tony mengangguk terlihat tak senang.

__ADS_1


"Kenapa kau cemberut begitu? Sora cantik. Selain itu, dia Sekretaris Negara," tanya Sandra heran.


Tony melirik Sandra penuh maksud dan Sandra langsung menundukkan wajah. Ia tahu maksud dari tatapan itu termasuk Ego, sedang lainnya saling melirik terlihat bingung karena tak paham dengan kode itu.


Di kamar Matteo Corza.


"Undangan apa?" tanya Matteo melotot di depan layar RC-nya.


"Maaf. Aku lupa memberitahumu kemarin karena obrolan anehmu. Undangannya akan aku titipkan kepada Wakil Presiden Lala. Katanya, bibimu akan datang berkunjung," jawab Sora meringis.


Matteo menghembuskan napas pelan. Sora lalu mematikan sambungan video call-nya dan membiarkan Matteo pusing dengan acara tersebut.


Pria tampan itu turun dari RC dan sibuk mondar-mandir seraya bertolak pinggang.


"Ada yang aneh, Spectra. Kau tahu 'kan jika aku menyukai pesta. Namun ... entah kenapa aku sedang tak ingin bergabung dalam keriuhan. Aku ingin sendiri dan menikmati waktuku. Jika aku mengajak Otka, itu ... akan sangat mencolok. Jika aku mengajak wanitaku, Otka akan berpikir jika aku sungguh playboy tengik seperti yang ia sangka. Agh!" serunya kesal seraya meremat-remat rambut indahnya.


Matteo tak bisa tidur memikirkan undangan itu. Ia merasa tak enak jika tak hadir, tapi ia juga enggan datang. Pikirannya kacau dan membuat hatinya tak tenang.


Ternyata, hal itu juga menjadi pikiran Sandra dan membuat kantuknya hilang.


Tiba-tiba, "Otka Oskova. Anda mendapat panggilan dari Jenderal Matteo Corza. Apakah Anda akan menerima panggilan?" tanya Eco.


Praktis, mata Sandra melebar seketika. Ia merapikan rambut dan pakaiannya padahal panggilan itu bukan video call, tapi ia merasa seperti sang Jenderal ada di depannya.


"Oke, aku terima," jawabnya gugup.


PIP!


"Hallo, Otka? Apa ... kau sudah tidur? Maaf jika menganggu," tanya Matteo sungkan.


"Belum, Jenderal. Ada yang bisa kubantu?" tanya Sandra gugup, tapi ternyata di tempat Matteo berada, sang Jenderal juga merasakan hal yang sama.


"Mm ... jadi begini. Aku ... mendapat undangan untuk menghadiri jamuan penting para petinggi negara. Aku ... berpikir untuk mengajakmu sebagai ... salah satu anak didik dan calon User level A. Aku rasa ... aku perlu mengenalkanmu kepada orang-orang agar mereka lebih mengenalmu nantinya," ucap Matteo terdengar gugup.


Sandra diam sejenak. Ia merasa jika ajakan itu tak baik untuknya karena akan ada Tony di sana.


"Mm ... maaf, Jenderal. Bukannya aku tidak mau, hanya saja—"


"Aku akan menyiapkan gaun untukmu, jangan khawatir," potongnya cepat.


Sandra menghembuskan napas panjang. "Bukan. Hanya saja ... aku merasa tak pantas untuk datang ke acara mewah dan megah seperti itu. Terlebih ... harus mendampingi Anda. Maaf, Jenderal, tapi ... aku akan menikmati kesendirianku di kamar saja. Aku butuh istirahat cukup karena pelatihanku masih berlangsung. Sekali lagi, mohon maaf," jawab Sandra gugup.


Matteo diam tak menjawab, dan hal itu membuat Sandra merasa bersalah.


"Jenderal?" tanya Sandra yang masih duduk di pinggir ranjang.


"Ya, ya, aku mengerti. Baiklah, aku bisa memahaminya. Selamat malam dan ... selamat beristirahat," jawab Matteo lalu menutup panggilan.


Sandra menghembuskan napas panjang. Perasaannya malah semakin tak menentu. Ada perasaan menyesal karena menolak ajakan itu, tapi baginya hal itu lebih baik.


Sandra tak ingin Tony menyakiti sang Jenderal di mana ia ingat betul ucapan pria yang pernah ia tolak cintanya.


Tony akan melakukan hal buruk jika tahu aku memiliki perasaan dengan pria lain, meskipun pria yang kusukai adalah Colosseum Blue, batin Sandra sedih.


***


uhuy tengkiyuw tipsnya😍 lele padamu😘 selamat malam. Rest time~


__ADS_1


__ADS_2