SIMULATION

SIMULATION
SALVARIAN CORZA


__ADS_3

Di sisi lain. Sandra mulai merasakan jika perutnya bergejolak. Purple kini menjadi asisten Wakil Presiden Great Ruler selama menjalani rutinitasnya.


Sandra lebih banyak menghabiskan waktu di kantor ketimbang di rumah karena merasa bosan jika berdiam diri saja.


Beruntung, hari itu Sora berkunjung ke ruangannya karena ingin mengajak makan siang bersama.


"Kau kenapa?" tanya Sora dengan kening berkerut karena Sandra tampak pucat sembari memegangi perutnya. "Kau akan melahirkan? Sungguh?" imbuhnya dengan mata melebar. Sandra mengangguk. "Purple! Hubungi tim medis! Cepat!" perintah Sora panik karena ia juga tak tahu apa yang harus dilakukan pada kawannya yang tampak kesakitan seperti akan melahirkan.


Purple segera melaksanakan perintah Sekretaris Negara itu. Ternyata, panggilan Purple membuat Lala, Eliz dan Otka ikut hadir untuk membawa Sandra ke Rumah Sakit di Distrik 9.


"Aaaa! Kenapa perutku yang merasa mual padahal kau yang akan melahirkan?" tanya Eliz seraya mengelus perutnya.


Sandra dibaringkan pada sebuah papan yang melayang dan bergerak secara otomatis. Sebuah pengendali jarak jauh dikendalikan seorang perawat yang berjalan di depannya. Sandra terkekeh melihat kawannya histeris.


"Kami boleh menemaninya saat proses melahirkan 'kan, Suster?" tanya Otka penuh harap.


"Tentu saja. Hanya saja, Tuan Presiden sebaiknya segera dihubungi. Beliau mengatakan jika ingin melihat proses kelahiran puterinya," jawab perawat tersebut seraya menempelkan barcode di pergelangan tangan kanan untuk membuka pintu ruang persalinan.


"Huff, di mana dia?" tanya Sandra dengan wajah berkerut menahan nyeri saat sudah memasuki ruang bersalin.


Tiba-tiba, Lala datang mendekat. Semua orang menatapnya lekat.


"Sandra. Kabar buruk, tapi ... Matteo dan Vemo sedang diselamatkan," ucap Lala yang membuat wajah Sandra tegang seketika.


"Ada apa? Apakah Matteo terluka atau semacamnya?" tanya Sandra langsung panik dan menaikkan tubuhnya yang telah mengenakan baju bersalin.


"Robot cacing terjebak di dalam tanah karena kehabisan energi. Tak ada tenaga cadangan untuk menggerakkannya. Jadi ... tim penyelamat sedang berusaha untuk mengeluarkan suami dan sahabatmu. Bersabarlah," jawab Lala seraya memutus panggilan dari earphone yang kini memiliki fungsi sebagai media komunikasi layaknya ponsel.


"Benar-benar ceroboh. Untung masih dalam wilayah kita. Bagaimana jika cacing robot berada di wilayah asing negara musuh?" tanya Sandra sebal dan seperti lupa jika ia akan melahirkan.


"Nyonya, Anda sudah memasuki pembukaan 6. Ini bagus karena sebentar lagi Anda akan melahirkan," ucap perawat dari alat pemindai yang diarahkan ke bagian intiim tersebut.


"Oh! Aku tak sabar melihat cucuku," ucap Lala antusias karena Matteo sudah menganggapnya sebagai Ibu.


Otka, Sora dan Eliz ikut tak sabar. Persalinan hanya dibantu oleh tiga orang saja. Dua perawat dan satu orang dokter kandungan. Robot inkubator telah siap di samping ranjang pasien.

__ADS_1


Nantinya, tabung kaca itu akan membersihkan bayi dengan memandikan lalu menghangatkannya.


Ada tangan robot di dalam tabung yang akan merawat bayi tersebut sampai pada akhirnya bersanding bersama sang Ibu dan keluar dari Rumah Sakit.


"Maaf, tolong beri jarak," pinta perawat karena Eliz, Otka, Sora dan Lala mengerubungi Sandra.


"Nyonya Sandra, Anda sudah siap untuk melahirkan," ucap seorang dokter wanita yang telah berdiri di depan ranjang pasien depan kedua kaki Sandra, tempat lahirnya bayi itu nanti.


Ranjang tempat Sandra berbaring menyesuaikan posisi sang dokter. Bagian alas punggungnya pun secara otomatis disesuaikan dengan posisi melahirkan.


Tiga kawan Sandra terlihat gugup ketika tubuh Sandra kini terlindungi oleh dinding kaca di sisi kiri dan kanan, untuk menjaga agar tak jatuh saat proses melahirkan.


"Persalinan ini akan sangat mudah. Selama Anda dalam tabung, udara yang Anda hirup sudah bercampur dengan banyak nutrisi dan juga obat-obatan pendukung untuk memperlancar persalinan. Kami tak lagi menggunakan infus dan semacamnya agar tak menyakiti tubuh Anda. Banyak pasien yang trauma dengan jarum suntik. Oleh karena itu, proses injeksi kami tiadakan. Jadi, selama Anda bersama bayi dan menyusui nanti, Anda tetap bisa bergerak bebas," ucap Dokter tenang saat dipakaikan sarung tangan karet oleh dua perawatnya.


"Terima kasih, Dokter," ucap Sandra dengan senyuman.


"Baiklah. Anda sudah siap?" tanya Dokter tetap tersenyum ramah.


"Tapi ... Matteo belum kemari," jawab Sandra yang berulang kali melihat ke arah pintu mengharapkan kedatangan suaminya yang telah berjanji untuk menemaninya melahirkan.


"Matteo pasti akan mengerti. Yang terpenting, kau dan bayimu sehat. Lahirkanlah," ucap Lala seraya mengelus kepala Sandra lembut.


"Oke, oke. Aku siap," jawab Sandra sudah mencengkeram kuat handle di samping kiri dan kanan atas kepalanya.


"Dalam satu tarikan napas kuat lalu tekan pada bagian perut untuk mendorong bayi Anda agar keluar. Apakah Anda paham?" tanya Dokter seraya menayangkan sebuah video yang muncul dari atap ranjang bersalin Sandra.


Wanita cantik ikut melihat simulasi proses persalinan dan mengangguk paham.


"Oke, aku mengerti. Aku bisa," jawabnya mantap.


"Dalam hitungan tiga, tarik napa lalu tekan," tegas Dokter dan Sandra mengangguk mantap. "Satu, dua, tiga!"


"Errrghhh!"


Tiba-tiba, PIP!

__ADS_1


"Selamat datang, Presiden Matteo Corza," ucap Eco asisten ruangan.


"Oekkk!"


Seketika, mata Matteo melebar ketika melihat bayi itu lahir dan menangis dalam gendongan dokter.


BRUK!


"Teo!" pekik Vemo terkejut ketika melihat sahabatnya pingsan di tempat entah apa yang terjadi.


Tentu saja, Sandra dan lainnya ikut panik. Namun, perawat yang bertugas mengatakan jika pria bermanik biru itu baik-baik saja.


Vemo pamit keluar karena mereka terlihat kumal meski sudah disterilkan oleh uap pembersih sebelum memasuki ruangan.


"Hahaha! Sepertinya Matteo terkejut melihat bayi lahir masih terselimuti darah," ucap Sora terkekeh.


Sandra yang awalnya berpikir jika suaminya sakit atau mengalami serangan jantung, bernapas lega. Sandra ikut terkekeh geli karena tak menyangka jika suaminya akan seheboh itu.


Saat Sandra sudah selesai dalam persalinan, Matteo datang menjenguk. Lala, Sora, Otka dan Eliz kembali ke rumah untuk memberikan waktu bagi sepasang orang tua baru.


Sandra tersenyum melihat suaminya yang terlihat gugup saat mendatanginya.


"Memalukan. Kau sampai pingsan," ledek Sandra dan Matteo hanya mengerucutkan bibir.


"Oh! Itukah ... Salvarian? Penerus Corza?" tanya Matteo melihat anak perempuannya sedang berbaring dengan imutnya dan menggeliat dalam tabung inkubator.


"Ya. Dia puterimu, Sayang. Salvarian Corza," jawab Sandra dengan senyuman.


Matteo melangkah dengan senyum terkembang saat mendatangi tabung yang menghangatkan tubuh puteri kecilnya.


"Hallo, Alva," sapa Matteo penuh haru terlihat dari gerak geriknya.


***


pendek dulu epsnya. ngetik nyambi nahan mual di mobil. smg gak ada tipo dan tamat akhir bln ini. amin~

__ADS_1


__ADS_2