SIMULATION

SIMULATION
TITAN*


__ADS_3

Di tempat Matteo berada.


Sang Presiden yang sudah sadar, dikurung dalam sebuah ruangan berdinding kaca berbentuk gelembung. Semua gerak-geriknya terlihat oleh orang-orang yang melewati ruangan besar mirip aula.


"Tempatku berada sekarang seperti jalan utama. Ada lima cabang dari koridor seperti terowongan menuju ke suatu tempat. Sebenarnya tempat apa ini?!" pekik Matteo kesal.


Sang Presiden melihat ada banyak pria dan wanita tak dikenalnya sedang berdiri mengelilingi benda tempat ia dikurung, seakan dia sebuah objek pertunjukkan. Namun terlihat, banyak ikan-ikan berenang di luar kaca itu.


"Itu ikan sungguhan atau hanya proyeksi gambar empat dimensi? Terlihat nyata," guman Matteo penuh curiga.


Matteo terlihat tak nyaman karena dipandangi, seolah dia makhluk aneh.


"Hei! Di mana aku? Apa kalian mengerti yang kukatakan?" tanya Matteo mencoba berkomunikasi.


Sayangnya, tak ada satu pun manusia yang memandanginya, bersedia menjawab pertanyaan pria bermanik biru tersebut.


Matteo bertolak pinggang terlihat kesal, meski ia masih mencoba untuk bersabar.


"Di mana robotku Spectra? Roboto dan 4 WolfBot?" tanya sang Presiden untuk kedua kali, tapi ia tetap tak mendapatkan jawaban.


Matteo menyerah dan memilih untuk duduk di sebuah ranjang yang terasa aneh. Kasur dari lapisan elastis berwarna putih itu seperti sebuah gelembung. Matteo merasakan tubuhnya terpantul-pantul saat ia duduk.


"Seperti ada air atau semacamnya di dalam kasur unik ini," ucapnya seraya menekan-nekan alas yang didudukinya.


Akhirnya, sang Presiden membaringkan tubuh dan memilih tidur. Matteo memejamkan mata. Sudah lima hari ia siuman dan tersekap di ruangan tersebut, tapi putera dari Morlan tak mengetahui hal tersebut.


Tempat yang mengurungnya berada di dalam air. Matteo tak bisa membedakan kapan matahari terbit dan kapan matahari terbenam.


Pria itu kebingungan dan kepribadian gandanya kembali. Hal unik itu, membuat orang-orang yang hidup dalam kota misterius tersebut semakin tertarik pada sosok Matteo Corza.


"Bukankah kau menyukai hal-hal aneh semacam ini, Blue? Ikan, air biru yang jernih, dan ... makanan-makanan sehat seperti ini? Sungguh, sehari lagi aku diberi makanan sejenis ini, aku akan mendobrak paksa kaca itu. Tak peduli mereka akan menangkapku lagi, tapi aku tak tahan!" pekik Matteo kesal memandangi sepiring seafood yang terlihat segar seperti baru saja ditangkap.



Matteo terlihat enggan untuk memakannya. Ia hanya meminum air dalam gelas kaca berwarna bening terasa segar layaknya air mineral.

__ADS_1


Matteo kembali berbaring dan melihat langit-langit kamar dengan pemandangan ikan laut yang berlalu lalang.


"Lihatlah ikan-ikan itu, Matteo. Mereka ikan laut lepas. Mirip seperti di kamarku. Bahkan, tempat ini lebih hebat," ucap Matteo dengan tangan kanan dan kiri bergerak bergantian mengekspresikan suasana hatinya.


"Kau lihat? Orang itu berbicara pada dirinya sendiri. Aku penasaran, kisah apa lagi yang akan dia dongengkan untuk kita hari ini. Apa kau merekamnya, Siren?" tanya seorang pria berambut biru terang dengan tato warna serupa di pipi.



"Ya, Curva. Kita merekam semua gerak-geriknya sejak ia ditemukan," jawab wanita dengan rambut berwarna hijau layaknya rumput laut.


"Hem, bagus. Aku tertarik padanya. Aku suka warna matanya. Biru. Apakah ... itu asli?" tanyanya menatap operator lain yang mengawasi Matteo dari ruang kendali.


"Ya. Dokter mengatakan jika matanya asli. Dia tak memakai lensa kontak dan semacamnya," jawab Siren, dan pria bernama Curva mengangguk paham.


Matteo terlihat asyik mengobrol dengan Blue seolah mereka sedang berbaring berdampingan di atas kasur gelembung.


"Apa kau tak ingat, ketika ibu pernah bercerita jika nenek sering mendongengkan kisah kota bawah laut? Yah, mungkin seperti cerita Atlantis. Namun, kota itu sungguh ada. Ibu pernah menggambarkannya. Jika aku melukiskannya kembali, armada bawah laut mereka berbentuk ikan, seperti ... paus ... hiu ... dan ikan pari," ucap Matteo yang kini menjadi Blue. Tangan kanan Matteo membentuk sebuah pola seperti yang ia sebutkan tadi.


Praktis, ucapan Matteo membuat orang-orang berambut hijau dan biru itu melebar.


"Dia tahu kisah kota kita?" tanya Curva dan orang-orang di ruangan itu ikut terkejut seperti tak menyangka hal tersebut.


"Hem, entahlah, Blue, aku ... lupa-lupa ingat. Apakah ... karena cerita itu yang menjadi inspirasi ibu untuk membuat sebuah tempat bawah air seperti di Distrik 9?"


"Ya. Kisah itu menginspirasinya. Ingatan ibu sangat hebat, padahal ia masih kecil saat itu. Kalau tidak salah, nenek pernah menggambarkan kota itu dalam buku yang ibu simpan di rumah. Buku itu berisi seluruh design yang ibu ciptakan dan rancangan yang belum terealisasikan, termasuk gambar milik nenek," sahut Matteo dengan pribadi Blue.


"Mungkinkah ... kita berada di kota itu, Blue? Kota yang disebut nenek sebagai ...."


Seketika, mata Matteo melebar. Ia langsung duduk terlihat menyadari sesuatu. Saat Matteo akan berdiri, ia melihat seorang pria berambut biru dengan goresan tanda unik di pipinya. Kening Matteo berkerut.


"Siapa nama ibu dan nenekmu?" tanya lelaki itu yang suaranya masuk ke dalam ruangan tempat Matteo disekap.


"Kau siapa?" tanya Matteo masih menutup diri.


Pria itu mendekati dinding kaca dan menatap Matteo tajam.

__ADS_1


"Aku Curva. Pemimpin kota ini. Jawab pertanyaanku. Kau, berhutang budi padaku karena anak buahku menyelamatkanmu," tegasnya. Mata Matteo menyipit.


"Ibuku bernama Aurora Dimensia. Neneku bernama Bellatrix Dimensia. Dan aku, Matteo Corza, Presiden Great Ruler," jawab Matteo mantap.


Praktis, mata semua orang yang mendengar pengakuan Matteo terkejut. Curva mengangkat tangan kanannya dan seketika, pintu dari ruangan berkaca terbuka.


Matteo tak menyangka jika ada pintu di sana karena ia tak melihat ada celah atau pun garis. Ia seperti dalam gelembung besar tanpa celah. Matteo merasa seperti orang bodoh karena tak menyadari hal itu.


Pria bernama Curva melangkah masuk ke dalam gelembung. Saat itu juga, pintu tersebut kembali tertutup.


Matteo akhirnya berdiri karena ia tahu, jika pria yang baru saja ditemuinya seperti memiliki banyak pertanyaan untuknya.


"Kau Presidennya sekarang? Apakah ... Roman dan Morlan sudah tak menjabat lagi?" tanya pria itu seperti tahu kisah dari Great Ruler.


"Ya. Aku belum lama menjabat menggantikan mereka. Tadinya, aku bersama pamanku Roman dan kawan-kawanku. Namun sepertinya, mereka berhasil sampai ke permukaan," jawabnya terlihat gugup.


Pria itu mengangguk pelan. Ia berjalan mendekat dan duduk di sebuah bangku yang bagi Matteo terasa aneh karena tubuhnya membuatnya bergoyang-goyang.


"Kalian keluar dari Great Ruler, apakah ... tujuan kalian ke negara Bintang?" tanya Curva tampak penasaran. Matteo mengangguk. "Apakah kalian bermaksud untuk menyerang negara Bintang?" Matteo menggeleng. "Tidak? Lalu apa?" tanya pria berambut biru itu penasaran.


"Menebus dosa leluhurku. Kakekku, Rodega. Dulu ia menjanjikan orang-orang Bintang tinggal di Great Ruler saat ia dan kelompok penjelajahnya menemukan tempat untuk layak huni. Sayangnya, saat orang-orang Bintang datang, kakekku malah mengusir mereka. Kakekku, mengingkari janjinya. Oleh karena itu, Benyamin, selaku pemimpin negara Bintang menaruh dendam pada Great Ruler. Ia merebut negara yang dulunya bernama ...," jawab Matteo yang diakhiri dengan menggantung kisahnya.


Matteo menatap pria di depannya yang memandanginya lekat.


"Apakah ... ini negara ...."


"Ya. Selamat datang di Titan," ucap Curva yang membuat Matteo langsung terdiam.


***


ILUSTRASI


SOURCE : GOOGLE


__ADS_1


Uhuy makasih tipsnya. Kayaknya 4YM gak up dulu karena lele hari ini sibuk parah sejak pagi siapin acara arisan kempung di rumah. Happy weekend.


__ADS_2