
Semua orang bersuka cita atas keberhasilan para prajurit tangguh Great Ruler dalam melawan para mutan.
Para penduduk diizinkan kembali ke rumah masing-masing usai pembersihan bangkai mutan di seluruh penjuru Great Ruler yang memakan waktu hingga 2 hari, meskipun kerusakan beberapa properti masih terlihat di beberapa sudut wilayah.
Terlihat, benteng dan pelindung yang mengalami kerusakan sedang diperbaiki oleh para teknisi handal. Bahkan, ada beberapa sosok manusia setengah robot yang ikut membantu.
Tubuh orang-orang itu melayang di udara dan sibuk terbang ke sana kemari dengan beberapa perlengkapan yang mereka bawa.
Tentu saja, kemunculan para manusia itu menjadi tanda tanya besar seluruh penduduk yang melihatnya.
Aktivitas di Great Ruler diliburkan selama satu minggu penuh pasca peperangan besar. Semua warga bersuka cita menyambut hari libur yang jarang terjadi itu.
Momen tersebut dimanfaatkan oleh Wakil Presiden Lala untuk mengenalkan penduduk baru di Great Ruler yang nantinya akan diresmikan oleh Presiden Roman di Colosseum.
Para penduduk tak sabar untuk mengetahui lebih jauh dari kumpulan manusia yang tampak unik.
Hanya saja, para manusia evolusi yang merasa jika Great Ruler terlalu besar untuk mereka, memilih untuk tinggal di Oasis. Para petinggi Great Ruler menghormati keputusan itu.
Roman ingin agar Great Ruler kembali optimal sesuai standar karena sang Presiden ingin mengumpulkan seluruh warganya pekan depan di Colosseum seraya ingin memberikan pengumuman penting.
Tentu saja, semua penduduk di Great Ruler dibuat penasaran dengan pesan penting dari sang Presiden.
Di kediaman Colosseum Blue.
Sandra terlihat malu ketika sebuah pesta penyambutan diberikan untuknya oleh sang Jenderal.
Roboto, Purple, dan Spectra kembali ke tubuh robot mereka usai diperbaiki oleh 5 anak buah andalan Matteo.
Kini, lima orang itu sedang bersuka cita menikmati libur panjang mereka untuk menghabiskan hadiah gratis dari Matteo.
Eliz dan Otka yang seharusnya libur, terpaksa membuka restoran demi para tamu istimewanya, termasuk Sentra Video Games yang tetap ditutup, tapi sebenarnya lima anak buahnya serta Ceros bermain di dalam sana.
"Tinggalah di sini bersamaku, Sandra Salvarian. Jujur, aku bosan dengan tiga robot warna-warni itu," ucap Matteo menunjuk tiga robotnya yang berjejer rapi di belakang Sandra.
Wanita cantik itu tersenyum dengan anggukan. Ia menerima ajakan sang Jenderal. Kini, tak ada lagi dendam, kebencian, dan kepalsuan yang mereka berdua simpan.
"Dan ... satu lagi. Maukah ... em ...," ucap Matteo terlihat gugup seraya menggosok ujung hidungnya yang mendadak merasa gatal karena grogi.
"Maukah apa?" tanya Sandra penuh selidik.
Tiba-tiba saja, tiga robot itu menyuarakan musik pernikahan. Sandra dan Matteo terkejut karena Roboto menaburkan kertas kerlip ke arah mereka berdua.
"Aku belum mengatakannya!" seru Matteo garang.
Seketika, tiga robot itu berhenti bergerak dan tak bernyanyi lagi. Sandra tertawa karena ia akhirnya tahu apa yang ingin diucapkan oleh kekasihnya.
"Kau melamarku? Semacam itukah?" tanya Sandra lugas.
__ADS_1
"Ya, begitulah. Sial, kenapa malah jadi canggung begini. Semua gara-gara kalian. Suasana romantisnya hilang!" teriak Matteo memarahi tiga robotnya dan memukuli kepala mereka tampak kesal dengan kedua tangannya.
Sandra menghentikan amukan Matteo dengan memeluknya dari belakang. Matteo terkejut dan tak marah lagi. Ia mendekap kedua tangan Sandra di perutnya dan malah bergoyang seperti orang berdansa.
"Kau yakin ingin menikahiku, Jenderal?" tanya Sandra meletakkan dagunya di pundak sang kekasih.
"Seharusnya, aku yang berkata demikian. Aku melakukan banyak kesalahan padamu, Sandra Salvarian. Kau memaafkanku saja, itu sudah sebuah anugerah terbesar untukku. Aku sangat berterima kasih karena kemuliaan hatimu," jawab Matteo seraya melepaskan pelukan Sandra di perutnya dan kini keduanya saling berhadapan.
Sandra menatap mata biru sang Jenderal lekat, begitupula Matteo yang menggenggam kedua tangannya mesra lalu mengecupnya. Sandra tertunduk dengan senyuman.
Tiba-tiba saja, Matteo berjongkok seperti melakukan lamaran pada zaman dahulu. Kuno, tapi tak bisa menyingkir dari rasa gugup yang kini melanda hati wanita berambut pirang itu.
"Sandra Salvarian. Maukah kau menikahi pria yang pernah memberikan kenangan buruk di kehidupanmu, untuk menjadi suamimu dan cinta sejatimu? Sungguh, aku sangat berharap kau mengatakan mau. Tolong katakan ya, aku memaksa," ucapnya yang membuat Sandra langsung tertawa terbahak.
Jenis lamaran yang awalnya membuat jantungnya berdebar karena khawatir jika ia akan menangis langsung sirna. Ia merasa jika Matteo gugup hingga ancaman yang malah terlontar dari mulutnya.
"Karena kau memaksa, dan ... aku juga mencintaimu, aku rasa ... ya. Aku mau menikah denganmu, Matteo Corza," jawab Sandra dengan senyuman.
Matteo terlihat begitu bahagia. Ia langsung berdiri dan berjoget bersama tiga robotnya yang kali ini tepat ketika memutarkan musik pengiring pengantin serta taburan kertas berkelip.
Sandra dan Matteo tertawa bahagia. Keduanya berpelukan karena pada akhirnya saling memaafkan dan memutuskan untuk saling mencintai.
Tentu saja, kabar baik itu segera Matteo informasikan kepada bibi dan pamannya. Roman dan Lala terkejut karena Matteo seperti sudah tak sabar ingin pesta pernikahan itu dilangsungkan padahal Great Ruler masih dalam tahap perbaikan.
"Kami masih bisa bersabar, Mr. President. Yang utama, Great Ruler harus pulih seperti sedia kala. Aku dan Matteo akan membantu mulai besok. Terima kasih atas libur dua harinya," ucap Sandra dengan senyuman walaupun terdengar seperti sindiran karena cuti yang sedikit dari tampilan video call.
"Hubungi ayahmu, Matteo. Aku rasa, dia berhak tahu dengan pilihanmu," ucap Lala menasehati dan Matteo mengangguk paham.
Morlan yang memilih tinggal di Oasis bersama para manusia evolusi karena merasa tak layak untuk kembali ke Great Ruler, pagi itu mendapat kunjungan dari tamu yang selalu diharapkannya.
Matteo datang bersama Sandra mengendarai helikopter yang hanya muat untuk dua orang dan dilindungi oleh helibot selama penerbangan.
Jenis helikopter itu sudah ada sejak 100 tahun silam dan tetap digunakan oleh Great Ruler sebagai salah satu jenis kendaraan minimalis yang efisien.
Divisi Pengembangan Teknologi Kendaraan Sipil Great Ruler, mengembangkan teknologi dari helikopter tersebut tanpa mengubah tampilan aslinya sebagai bentuk mengenang kemajuan teknologi zaman itu.
Kedatangan keduanya tentu saja mendapatkan sambutan yang meriah dari para penghuni Oasis.
Colonel Brego yang berada di tempat itu sebagai penanggungjawab, kembali memperkenalkan Sandra dan Matteo.
Colonel Brego menyiapkan makan siang yang dinikmati oleh semua orang. Bahkan, pudding Otka menjadi santapan favorit para manusia evolusi termasuk Morlan.
Sandra terharu karena resep dari mendiang ibunya memberikan kebahagiaan orang-orang yang menyantapnya.
Usai makan siang bersama, Matteo mengajak sang ayah yang kini berwujud mutan untuk berkeliling Oasis.
__ADS_1
Tempat yang tadinya gersang, kini terlihat lebih teduh dan memiliki banyak kolam di beberapa kawasan.
"Jadi ... begitulah, Ayah," ucap Matteo saat keduanya berdiri di tepi kolam seraya memandangi sekitar yang kini tampak asri dipenuhi pepohonan rindang.
"Hem, Sandra Salvarian. Ya, Ayah rasa dia cocok denganmu. Dia bisa mengendalikan sikapmu yang semena-mena," ucap Morlan dengan pandangan lurus menatap air terjun buatan di depannya. Matteo melirik sang ayah yang terdengar seperti menyindirnya. "Sandra memang tak seperti ibumu, tapi ... wanita seperti dialah yang kaubutuhkan untuk menjadi teman hidupmu, Matteo. Ayah, merestui kalian berdua," sambung Morlan seraya menoleh ke arah sang anak.
Senyum Matteo terkembang. Ia terlihat begitu bahagia karena sang ayah mendoakan untuk kebahagiannya.
Matteo memeluk sang ayah, meski tak erat seperti sebuah formalitas karena tubuh Morlan yang membuatnya sulit untuk dipeluk.
"Oia. Kau diminta untuk datang ke Colosseum minggu depan. Jangan sampai tak datang. Kalian akan dijemput untuk menghadiri sebuah acara. Namun, jujur. Aku juga tak tahu acara apa yang dipersiapkan oleh Roman," ucap Matteo menginformasikan.
"Baik. Aku rasa, muncul sekali lagi di hadapan para penduduk bukan hal buruk, meski aku tak yakin jika mereka akan memaafkan kesalahanku," ucap Morlan tampak sedih.
"Jika kau dihukum, aku juga. Kita akan tinggal di Oasis. Sandra menyukai tempat ini, jadi ... aku tak masalah," ucapnya tenang, dan hal itu membuat Morlan tersenyum bahagia.
"Kau mau menemaniku di tempat gersang ini?" tanya Morlan memastikan.
"Yah. Gersang, panas, tak ada asisten ruangan, robot pembantu, mobil otomatis, dan yah, fasilitas keren lainnya, tapi aku rasa ... aku bisa mengatasinya selama Sandra selalu berada di sisiku, dan juga kau," jawab Matteo dengan kedua tangan di belakang pinggang saling menggenggam.
"Hem. Kita bisa berenang setiap hari di kolam ini seperti saat kau masih kecil dulu. Kau selalu bersemangat jika kuajak ke kolam renang," ucap Morlan yang membuat kening Matteo berkerut.
"Kau ingin meracuni seluruh penghuni Oasis? Apa kau tak sadar jika zat dalam tubuhmu itu mengandung racun?" tanya Matteo frontal yang membuat mata Morlan melebar.
"Apa kau tak bisa membedakan antara bercanda dengan pembicaraan serius? Apa kau sedang menyindirku dengan wujudku yang mengerikan ini? Kau pikir aku menyukainya, ha?!" balas Morlan berintonasi tinggi.
"Kau yang memulainya, bukan aku. Wajar jika aku berpikir serius karena aku ini jenius, tampan dan juga—"
"Wahahaha! Oh, untung ibumu sudah meninggal. Lihatlah, Aurora! Anakmu tak berubah sama sekali. Ia tetap sombong dan angkuh!" teriak Morlan lantang ke arah langit seolah mendiang isterinya berada di atas sana.
Matteo terlihat kesal dan memilih meninggalkan sang ayah. Morlan terkekeh melihat Matteo menggerutu disetiap langkahnya saat kembali ke dalam gedung di balik dinding batu.
Morlan tersenyum menatap langit yang terik di tengah tanah tandus luar Great Ruler.
"Blue dan Matteo telah menyatu, Aurora. Seharusnya, itu yang kita lakukan sejak lama. Maaf, jika aku tak bisa melihat kebaikan dalam usahamu. Ambisiku, membuat kau kini pergi dariku selamanya. Aku ... menyesal," ucap Morlan sendu melihat bayangan dirinya yang tampak menyeramkan karena berwujud mutan.
Morlan memejamkan mata seperti berusaha untuk memaafkan dirinya sendiri karena sikap buruknya di masa lalu.
***
tengkiyuw tipsnya. lele padamu❤️ maap baru sisipin tips soalnya naskahnya udh ditimer sejak 1 minggu yg lalu😁
ILUSTRASI
__ADS_1
SOURCE : GOOGLE