
Sandra merasakan perutnya terasa berat seperti tertindih. Ia menyingkirkan benda itu dengan kasar dan tanpa sengaja, Matteo terbangun karena tangannya menampar wajahnya sendiri. Pria tampan itu melebarkan mata dan menatap Sandra tajam yang tidur di sebelahnya.
"Benar-benar wanita bar-bar. Tidur saja bisa membuatku kesal," gerutunya langsung duduk.
Matteo beranjak dari kamar dan segera membersihkan diri. Saat ia kembali, Matteo bertolak pinggang karena Sandra masih tertidur lelap di kamar tersebut bahkan posisinya serampangan.
"Aku pasti sudah tak waras. Kenapa aku harus memelihara wanita seperti ini di rumahku? Kenapa aku harus menolongnya? Dia hanya kandidat User, hanya anak didik. Tak ada hal spesial darinya. Jika dibandingkan dengan tiga wanitaku, kecantikannya sungguh di bawah standarku," gerutunya menatap Sandra yang tertidur pulas seperti orang pingsan.
Saat Matteo akan membangunkannya, langkahnya terhenti saat mendapati luka lebam di beberapa bagian tubuh Sandra yang terkena cahaya matahari karena ia membuka tirai kamar. Matteo menatap tubuh Sandra lekat, bukan karena bergairah, melainkan iba.
Amarah sang Jenderal mereda. Ia memilih untuk membiarkan Sandra tidur lebih lama. Ia pergi dari rumahnya bersama dengan Spectra entah ke mana.
Hingga akhirnya, Sandra membuka mata karena merasakan silau matahari mengusik penglihatannya.
Sandra bergulung ke samping, menjauh dari sinar. Sandra tengkurap di atas kasur dengan mengedipkan matanya yang terasa malas untuk dibuka lebih lebar lagi.
"Oh!" pekiknya tiba-tiba saat melihat dekorasi di depannya berubah, tak seperti interior di kamarnya. Sandra bangun seperti orang push up seraya menoleh ke kanan dan ke kiri. "Aku di mana?" tanyanya bingung langsung melebarkan mata.
Sandra berusaha bangun, tapi tubuhnya terasa kaku di semua bagian. Ia kembali terlentang dengan wajah berkerut. "Agh, sakit se ... kali," erangnya menggeliat di atas ranjang.
Sandra berusaha bangun perlahan lalu duduk di pinggir ranjang. Ia berusaha mengingat kejadian semalam, meski terasa samar.
Namun, ingatannya tak membawanya ke mana pun. Ia terlalu letih untuk mengingat. Sandra memijakkan kakinya perlahan di lantai yang terasa dingin.
Wanita berambut pendek itu berjalan tertatih karena kedua kakinya terasa seperti mengalami kram. Sandra bersandar pada dinding dan keluar dari kamar perlahan.
Ia mengintip keluar dan betapa terkejutnya saat ia menyadari jika rumah tersebut adalah kediaman Matteo. Mata Sandra melebar seketika.
"Apa yang kulakukan di tempat ini? Oh!" tanyanya kaget pada diri sendiri.
Sandra segera melangkah keluar dengan tergopoh menahan seluruh tubuhnya yang terasa nyeri. Sandra berhasil keluar dari rumah Matteo dan berjalan dengan tergesa sembari meringis menahan sakit.
"Wow!" teriak Tony terkejut begitupula Sandra karena mereka berdua berpapasan di koridor.
Sandra yang hanya memakai pakaian minim kebingungan. Tony ikut salah tingkah dan memilih untuk mendongakkan kepala menatap langit-langit ruangan.
"Cepat pergi!" seru Tony.
Sandra bergegas berlari melewati Tony dengan tersipu malu. Sang Captain kembali menurunkan pandangan saat merasakan Sandra melewatinya. Tony menoleh dan sudah tak mendapati Sandra di koridor itu.
"Kenapa dia berjalan seperti bebek? Apa dia sakit?" tanya Tony khawatir. Sang Captain berbalik dan berjalan tergesa menuju ke kamar Sandra.
Wanita berambut pirang itu terkejut saat Eco menginformasikan jika Tony berada di depan pintu meminta izin untuk masuk. Sandra bergegas memakai celana panjang untuk menemui tamunya.
PIP!
"Kau tak apa?" tanya Tony panik langsung mendatangi Sandra.
"Yah," jawabnya gugup.
"Kenapa jalanmu seperti hewan? Kakimu sakit?" tanya Tony melihat kedua kaki Sandra yang telah tertutup kain panjang.
"Ahh ... kram," jawabnya terlihat menahan sakit. Tony menatap Sandra lekat.
__ADS_1
"Ayo ke ruang medis. Aku cukup yakin kau mengalami lebam. Jika dibiarkan, bisa berakibat buruk. Ingat, kau akan menjalani ujian, fisikmu harus prima," tegas Tony seraya mengambil jaket yang Sandra gantungkan di dekat pintu.
Sandra mengangguk. Ia terlihat letih dan kesakitan. Tony iba dengan kondisi wanita yang masih dicintainya itu. Tony ingin membantu Sandra berjalan dengan memapahnya, tapi wanita cantik itu enggan.
Setibanya di ruang medis, Sandra mengenakan bra sport dan celana pendek sepaha atas perintah robot dokter.
Lebam Sandra disemprot oleh cairan khusus dan diberikan suntikan pereda demam. Sandra dibiarkan untuk berbaring sementara waktu sembari menunggu hasil diagnosis robot dokter. Tony menunggu di samping Sandra dengan wajah cemas.
"Kenapa aku harus selalu mendapatimu di ruang medis?"
"Karena kau yang membawaku kemari, Tony," jawab Sandra dengan senyuman, meski matanya terpejam.
"Jika kau tak bawa kemari, lantas harus membawamu ke mana? Restoran dengan lebam di sekujur tubuhmu? Orang-orang akan berpikir aku melakukan tindak kekerasan padamu," jawabnya garang.
Sandra terkekeh seraya membuka mata, tapi Tony menunjukkan wajah kesal.
"Kau memang melakukan tindak kekerasan padaku. Kau menedang, bahkan memukulku, meski aku sudah menggunakan pakaian pelindung," jawab Sandra memonyongkan bibir.
Tony menopang dagunya dengan kepalan tangan kanan di atas ranjang tempat Sandra berbaring. Sandra terlihat gugup lalu memalingkan wajah.
"Tapi ... aku senang menemanimu di sini. Melihatmu tergeletak tak berdaya. Memakai pakaian seksi ... dengan tubuh penuh luka, hem, sungguh pemandangan luar biasa. Lebih mengerikan ketimbang serangan mutan di Distrik 10."
"Hei!" sahut Sandra kesal langsung memukul lengan Tony. Pria berambut cokelat itu terkekeh.
"Bagaimana dengan sarapan setelah ini? Aku lapar. Eliz tak memberiku makan. Lihatlah, aku jadi kurus dan jelek, tak terawat. Dia sibuk dengan Akira. Dia mengabaikanku," ucapnya cemberut.
Sandra menatap Tony seksama di mana ucapan pria di sampingnya itu terdengar jujur. Tony terlihat berantakan tak seperti biasa.
Pria itu tersenyum dan kembali mendekat, Sandra langsung memalingkan wajah.
"Kau ternyata memperhatikanku selama ini. Hem, aku senang mendengarnya. Baiklah, kita sarapan bersama lalu temani aku potong rambut," ucapnya menatap Sandra lekat.
"Aku tak bisa keluar dari gedung pelatihan, Kapten Tony," tegas Sandra masih enggan untuk menatap pria di sebelahnya.
"Oh. Kau tak tahu? Gedung ini memiliki fasilitas layaknya mall mini. Wah, sepertinya ... Akira belum menunjukkan keseluruhan dari fasilitas di gedung Green Eco," jawabnya heran.
Usai menjalani beberapa pemeriksaan, Sandra akhirnya bisa berjalan sedikit normal, meski lebam di beberapa bagian tubuhnya belum pulih sepenuhnya.
Tony mengajak Sandra ke lantai 10 tempat Barber Shop itu berada karena Sandra penasaran dengan tempat tersebut.
Dan benar saja, wanita berambut pirang itu terlihat kagum ketika memasuki salon tersebut. Tak ada orang di sana dan hanya beberapa kursi tersedia dengan cermin di hadapannya.
Sandra berdiri di samping Tony yang duduk pada sebuah kursi berwarna hitam. Sandra melihat gerak-gerik Tony saat telunjuk Tony menekan tombol di sandaran tangannya.
PIP!
"Wow!" kejut Sandra ketika mendapati cermin di hadapannya kini memiliki banyak menu dengan wajah Tony di sana. Mata Sandra kini terfokus pada cermin di hadapannya.
"Cermin di depan akan memberikan semacam ilustrasi model rambut dari beberapa pilihan yang tersedia. Kita lihat, gaya apa yang cocok untukku," ucap Tony menjelaskan. Sandra mengangguk terlihat penasaran.
Tony menggerakkan telunjuknya dan menekan tombol geser ke kanan. Seketika, model potongan rambut Tony berubah. Sandra terkekeh karena gaya rambut Tony jadi aneh dalam ilustrasi itu.
__ADS_1
"Agh, aku seperti berandalan," gusarnya karena rambutnya malah bergaya punk.
"Coba yang lain," pinta Sandra karena baginya simulasi tersebut terlihat menarik untuknya.
Tony dan Sandra saling tertawa karena beberapa perumpamaan gaya rambut yang ditampilkan malah membuat wajah Tony aneh.
Potongan rambut yang muncul di cermin mengikuti gerakan kepala Tony sehingga detail dari gaya tersebut seakan sudah terealisasi di kepalanya.
"Oh! Itu keren!" ucap Sandra saat sebuah gaya rambut membuat Tony terlihat rapi untuknya.
"Benarkah? Coba jika aku ganti penampilanku," sahutnya saat memilih sebuah menu dengan koleksi pakaian di sana.
Sandra terlihat kagum dengan aplikasi yang ada di barber shop tersebut. Pelanggan bebas memilih gaya sesuai selera mereka.
PIP!
"Wow!" seru Sandra spontan begitu saja saat wajah Tony terlihat tampan dengan setelan hitam dengan kemeja putih di dalamnya.
Tony bergaya layaknya ia seorang eksekutif muda dengan senyum terkembang. Padahal kenyataannya, ia hanya mengenakan kaos ketat berwarna hitam sebagai seragam seorang User, dan rambut ikal menutup sebagian dahinya.
"Bagaimana? Bagus?" tanya Tony dengan senyum menawan. Sandra mengangguk dengan lugu. "Oke. Aku pilih ini!" serunya mantap menekan tombol 'Oke'.
"Pemesanan diproses. Silakan duduk dengan tegap dan jangan bergerak selama proses pencukuran," pinta robot salon.
Tony duduk tegak saat muncul sebuah helm besar berbentuk lingkaran yang turun dari atap tempat ia duduk.
Bagaikan akuarium berbentuk bulat, benda itu mengurung kepala Tony. Sandra terkejut saat muncul tangan-tangan robot di dalam kaca tersebut. Tony duduk dengan tenang seraya memejamkan mata, terlihat menikmati proses pemotongan itu.
Sandra mengamati gerak-gerik alat cukur tersebut yang bergerak dengan rapi sesuai dengan model rambut permintaan Tony.
Tak butuh waktu lama hanya 30 menit, Tony telah berubah menjadi pria tampan dengan potongan rapi seperti dalam ilustrasi. Sandra terlihat bahagia, ia bertepuk tangan.
"Kenapa kau senang sekali?" tanya Tony bingung karena Sandra terus mengembangkan senyuman.
"Kau tampan dan terlihat ... tampan," jawabnya memuji seperti bingung dalam mengekspresikan perasaannya.
"Haruskah aku pamerkan ke seluruh gedung gaya rambut baruku? Bagaimana jika ke kantin?" ajak Tony usai robot salon membersihkan sisa potongan rambut yang menempel di seragam dengan penyedot kecil.
"Oke," jawab Sandra dengan senyum terkembang.
Tony berjalan berdampingan dengan Sandra menuju ke kantin. Tak henti-hentinya Tony menoleh ke arah Sandra karena pertama kalinya wanita itu memujinya dengan senyum merekah tak habis-habis. Tony terlihat senang dan senyumnya ikut terkembang.
***
ILUSTRASI
SOURCE : GOOGLE
uhuy tengkiyuw tipsnya😍 lele padamu💋 besok lagi ya. kwkwkw😆 jangan lupa boom like audio book lele ya😘
__ADS_1