SIMULATION

SIMULATION
DETERMINATION OF FATE*


__ADS_3

Wajah semua orang langsung pucat seketika. Orang-orang itu lemas saat mengetahui jika masih ada lawan tangguh yang harus mereka kalahkan.


Xili melihat orang-orang dari kubu Titan dan Mega-US seperti sudah tak sanggup untuk bertempur meski sekali lagi.


"Aku tidak akan berhenti demi mewujudkan kedamaian! Ayo! Kita harus segera kembali ke Great Ruler! Kita hadang mereka dengan sisa senjata dan semangat yang masih kita miliki!" seru Bablo lantang yang mengejutkan semua orang.


"Kau yakin kita bisa menang? Kemungkinan kita sangat tipis," tanya Imo berkerut kening.


"Tentu saja bisa! Kita bertiga dan New-US hanya sendirian. Kita pasti bisa mengalahkannya! Selama ini, kita tak pernah berjumpa bahkan bertegur sapa. Dalam momen ini, kita bekerjasama untuk mewujudkan satu tujuan. Kita harus saling membantu sampai perdamaian itu berada dalam genggaman kita. Ayo!" seru Bablo menyemangati orang-orang yang mulai patah semangat di tengah lautan itu.


"Aku dukung semangatmu, Anak muda. Akan kami bantu untuk melindungi kalian. Majulah, jangan takut!" seru Birova menyemangati.


"Yeah! Ayo maju!" seru Artic ikut memberikan dukungan.


"Baiklah! Kita akan melawan kapal induk terakhir. Mungkin ini akan sulit dan menyusahkan, tapi kita bekerjasama dan saling bahu-membahu! Kita pergi!" seru Xili lantang dari bangku kendali robot level DG2 miliknya.


"Hoiii!" jawab semua orang serempak.


Kapal selam milik Mega-US masih bertahan satu buah. Kapal itu bergerak di barisan paling belakang seraya menyiapkan amunisi terakhir dari rudal yang tersisa 10 buah saja sebagai gempuran terakhir untuk membombardir kapal induk musuh.


Mega-US menepati janjinya. Ia mengirimkan helikopter tempurnya untuk membantu penyerangan dari langit.


Seluruh kapal perang milik Mega-US kini berjaga di perbatasan dengan New-US. Ketegangan begitu terasa antara dua kubu yang dulu bersaudara itu.



New-US mulai berpikir ulang untuk melakukan perlawanan. Xivovo tak ada kabar beritanya sejak pesawat sang Presiden New-US tersebut memasuki wilayah Great Ruler dan berhasil menjebol salah satu pertahanan di Distrik 9.


Namun, keadaan sesungguhnya, Xivovo bertarung hebat dengan sang Wakil Presiden Great Ruler—Sandra Salvarian.


Semua orang menaruh kagum pada isteri Matteo Corza yang tak menyerah meski ia sudah babak belur dan berdarah karena pukulan serta tendangan kuat pria tersebut.


"Kau cukup tangguh untuk seorang wanita, Salvarian! Kau seharusnya bergabung bersama kami. Dengan kau berpihak pada New-US, kau—"


DUAKKK! BRUKK!


"Sudah kubilang, kaucerewet sekali," ucap Bom yang tiba-tiba saja muncul dengan meluncurkan pukulan ke wajah Presiden New-US tersebut.


Xivovo terhuyung ke belakang dengan punggung menghantam dinding. Sandra yang masih berusaha bangkit setelah dihajar oleh Xivovo, hanya bisa tersenyum tipis saat melihat pemimpin Russ-King berdiri di hadapannya setelah turun dari HeliBot yang membawanya terbang.


"Terima kasih, Presiden Bom. Aku ...."


"Istirahatlah, Wakil Presiden. Kau sudah menunjukkan kehebatanmu. Pergilah temui anakmu. Dia membutuhkanmu. Selain itu, obati luka dan siapkan makan malam untukku. Sungguh, aku lapar," ucapnya dengan wajah memelas.


Sandra terkekeh dan mengangguk pelan. Sandra berdiri tergopoh dengan menumpu pada dinding di samping kirinya. Darah keluar dari sudut bibir dan lubang hidung wanita berambut pirang itu.


"Kutinggalkan dua WolfBot untukmu, Presiden. Sampai bertemu lagi di jamuan," ucap Sandra seraya berjalan menuju ke celah lubang di mana HeliBot menunggunya untuk digunakan.


Bom mengangguk pelan, seraya menatap Sandra yang sedang merentangkan tangan untuk ditangkap helikopter portabel itu.


Namun tiba-tiba, "Harrghhh! Jangan kabur!"


DUAKKK! BRUKK!


"Uhuk!"


"Lawanmu di sini. Bisa-bisanya kau mencelakai wanita bahkan dia seorang ibu. Sungguh, kejiwaanmu sepertinya memang bermasalah, Xivovo. Biar kubantu membenarkan syaraf otakmu yang rusak itu," ucap Bom seraya berjalan mendekat dengan dua kepalan tangan siap diluncurkan.


HeliBot membawa Sandra terbang keluar dari gedung yang telah rusak di bagian dinding terluar karena serangan dari pesawat tempur milik Xivovo. Mata Sandra sayup dan ia terlihat begitu letih.


HeliBot dikemudikan oleh Matteo dari Pusat Kendali Distrik 9. Akira dan lainnya telah masuk dalam pertempuran dengan robot level B yang mereka kendalikan.


Sandra melihat dari atas langit pertempuran sengit terjadi. Suara ledakan bersahut-sahutan hampir terjadi di seluruh Distrik.


Barikade pelindung langit Great Ruler telah berlubang karena gempuran dahsyat bom-bom berhulu ledak tinggi dari New-US.

__ADS_1


Sandra menundukkan wajah dan melihat banyak User level E tewas tergeletak diantara puing-puing bangunan yang telah hancur bersama dengan robot-robot lainnya baik dari kubu musuh atau pun sekutunya.


Sang Wakil Presiden meneteskan air mata. Hatinya begitu sedih melihat negaranya hancur dan orang-orang yang menginginkan perdamaian tewas mengenaskan.


Sandra memejamkan matanya rapat. Ia tak sanggup melihat kengerian dari perang yang terjadi di sekitarnya.


Sandra meluapkan kesedihannya dengan mengeluarkan seluruh air mata yang selama ini terpendam karena ia tak pernah merasa begitu kehilangan, melebihi kematian Rey suami pertamanya.


Tanpa Sandra sadari, HeliBot mendarat dengan sempurna di pintu utama ruang simulasi robot level A miliknya berada.


Matteo segera mendatangi sang isteri yang masih menangis dan menutup wajahnya dengan kedua tangan.


Sang Presiden segera memeluk Sandra erat yang tak pernah terlihat begitu sedih akan sesuatu.


"Tolong hentikan ini semua, Matteo. Ini harus berakhir," pinta Sandra sedih dengan air mata terus mengalir.


Sandra teringat mayat Benyamin saat ia terbang tepat di atasnya sedang dievakuasi oleh para manusia mutan.


"Aku berjanji. Tetaplah di sini. Alva membutuhkanmu. Jaga dia untukku, oke," pinta Matteo dan Sandra mengangguk pelan.


Sora berjalan mendekat seraya menyerahkan kapsul berisi bayi perempuannya. Senyum Sandra terkembang meski wajahnya sudah tergenang air mata. Matteo menatap Sora lekat dan wanita berambut biru itu mengangguk pelan.


Matteo segera pergi meninggalkan ruang kendali simulasi. Sandra menggendong buah hatinya dan mendekapnya erat. Semua orang terharu, tapi juga sedih karena kondisi negara sedang terancam.


"Bertahanlah, Alva. Sebentar lagi semua akan berakhir. Ayah dan Ibu akan menepati janji untuk mengajakmu berkeliling dunia yang sudah dipenuhi kedamaian," ucap Sandra seraya menatap wajah anaknya lekat.


Alva seakan paham dengan yang diucapkan Ibunya. Bayi itu mencoba meraih wajah sang Ibu yang masih basah meski sudah tak menangis lagi. Sora menahan tangisannya meskipun matanya sudah berkaca.


Siapa sangka, Xivovo kalah melawan Presiden asal Rusia itu. Bom yang bertubuh besar dan berotot padat, bukan lawan sepadan bagi Xivovo.


Sang Presiden asal New-US tersebut kini babak belur bahkan seperti akan pingsan setelah dihajar habis-habisan hingga wajahnya berdarah.


"Wow!" seru Matteo terkejut saat ia menyusul dengan HeliBot yang tadi digunakan oleh sang isteri untuk mengevakuasinya.


"Tunjukkan pada negaranya jika Xivovo telah kalah! Minta agar New-US mundur dan aku berjanji, akan membiarkannya hidup," tegas Bom seraya mencengkeram kuat kerah baju Xivovo kuat hingga kedua kaki pria itu menggantung di atas lantai.


Bom terlihat geram, tapi masih menahan amarahnya. Ia menyerahkan Xivovo kepada Matteo.


Sang Presiden Great Ruler menggunakan HeliBot yang ia kendalikan dengan jam tangan dan akses cadangan berupa pengenal suara untuk menahan sanderanya.


Matteo dan Bom berjalan diantara Xivovo yang dibawa terbang melayang dengan kalung detektor kebohongan terpasang di lehernya.


Kedua tangannya diborgol dengan fungsi magnet termasuk kedua kakinya. Praktis, Xivovo tak berkutik.


Mulutnya juga dibungkam dengan penahan besi sehingga pria itu tak bisa mengoceh sembarangan untuk memprovokatori keadaan yang mulai bisa dikendalikan.


"Lihat! Itu Presiden Bom dan Matteo Corza!" seru Curva menunjuk saat melihat dua pemimpin negara besar tersebut berjalan bersamaan dilindungi oleh dua WolfBot yang menjaga di sisi mereka.


"Yeah! Xivovo berhasil ditaklukkan!" seru Atlanta lantang dengan pedang ia hunuskan ke atas menantang langit malam.


"Wohoooo!" seru semua orang bergembira.


"Bibi! Siarkan hal ini ke seluruh Distrik dan sambungkan ke semua negara yang terlibat termasuk New-US! Mereka harus tahu jika Xivovo telah kalah!" pinta Matteo lantang dari tempatnya berdiri di hadapan para pejuang Titan, Bintang, Great Ruler, dan Russ-King.


Lala mengangguk mantap. Qimi dengan sigap menyiarkan sambungan itu ke pihak-pihak yang disebutkan oleh Matteo tadi.


Seketika, serangan baik udara, darat atau pun laut yang dilakukan oleh New-US terhenti karena mereka melihat pemimpin mereka ditangkap.


Wakil Presiden Geros meminta agar seluruh armada yang menggempur Great Ruler mengehentikan aksi sementara waktu untuk mendengar pemberitahuan penting itu.


Satu per satu, semua orang berkumpul di tempat Matteo berada untuk menyaksikan secara langsung kejadian yang mungkin akan menjadi sejarah pada malam itu.


"Aku Presiden Great Ruler, Matteo Corza. Xivovo Morago telah berhasil kami kalahkan. Dengan ini, New-US telah kalah dalam pertempuran. Kami berikan waktu 10 menit untuk menarik seluruh pasukan dari Great Ruler. Sebagai gantinya, akan kami lepaskan Presiden kalian. Namun sebelum itu, ada banyak perjanjian yang harus Xivovo tanda tangani agar perdamaian ini tetap terjalin tanpa New-US mengusik ketenteraman itu," tegas Matteo di hadapan kamera drone yang meliputnya.


"Emph! Errghhh!" erang Xivovo memberontak seperti ingin menyampaikan sesuatu.

__ADS_1


Mata Matteo, Curva, dan Bom menyipit. Namun, tiga pemimpin itu mengangguk setuju untuk memberikan kesempatan bagi Xivovo untuk mengutarakan pemikirannya.


KLEK!


"Hah! Hah! Hahaha! Kalian pikir, dengan ditangkapnya aku, lantas New-US sudah kalah, ha? Kalian salah besar! Kami masih sanggup untuk menghancurkan kalian semuanya hingga tak bersisa. Tak ada yang namanya perdamaian! Hanya akan ada perang sampai dunia ini kiamat. Sembari menunggu kepunahan itu, kalian semua akan bertekuk lutut di hadapanku, Xivovo, sebagai Presiden Dunia di Bumi ini!" jawabnya lantang dengan napas menggebu.


Mata semua orang menyipit termasuk para pejabat tinggi yang ada di New-US usai mendengar pengakuan Presiden mereka.


"Jawab pertanyaanku, Presiden Xivovo!" sahut Gora lantang dari bangku kendali robot level D yang ia kemudikan.


Mata Xivovo menyipit melihat sosok Gora yang seperti menantangnya.


"Siapa yang berpihak padamu? Apakah kau pernah bertanya pada wargamu apa yang mereka inginkan? Selama ini mereka bagaikan budak dari ambisimu. Kau menyerukan kekuatan absolut dalam sebuah kekuasaan. Kau tak memikirkan perasaan pendudukmu!" tanya Gora lantang.


"Tak perlu bertanya karena akulah pemimpin mereka. Seorang pemimpin tahu apa yang diinginkan warganya tanpa harus bertanya," jawabnya tajam.


"Kau salah, Presiden Xivovo," sahut seorang pria yang wajahnya muncul dalam hologram dari dua mata WolfBot yang memancarkan sosoknya.


Praktis, mata Xivovo menyipit. Ia mengenali sosok itu. Dia alah Birova, Presiden Mega-US.


"Semua makhluk hidup yang memiliki jiwa pasti menginginkan kedamaian. Seekor predator saja memiliki titik lelah dan puas ketika ia sudah menyantap buruannya. Sedang kau, pria berhati iblis sepertimu tak pernah puas dengan kekuasaan. Kau dibutakan oleh kepemimpinanmu. Kau tak memikirkan rakyatmu. Kau terus memaksa mereka tanpa memberikan kebebasan dan hak yang pantas. Apakah kau sadar, kenapa banyak warga Amerika memihak Mega-US ketimbang New-US?" tanya Birova menatap rivalnya lekat.


"Karena mereka lemah dan penakut. Mereka adalah para manusia yang tak memiliki potensi, jadi New-US tak membutuhkan mereka. Orang-orang itu adalah kaum yang terbuang. Mega-US saja yang bodoh mau menerima mereka," jawabnya sinis.


"Terbuang, ha? Seperti aku maksudmu? Kau mungkin tak mengenalku, Presiden keparatt, tapi akan kuberitahu. Aku, Vermendis Vemo. Aku masuk dalam kaum terbuang dan tak berpotensi itu. Namun, lihat yang bisa kulakukan. Aku membuat senjata yang bisa melawan para mutan. Aku membuat cacing robot seperti milik Gobi. Aku bahkan memodifikasi banyak armada tempur Great Ruler karena kebodohanku ini. Dan karena aku orang buangan, aku tak mau dianggap sampah! Aku mau dilihat dan dipedulikan! Aku ingin dipuji dan dikatakan layak untuk hidup berdampingan sebagai manusia!" teriak Vemo lantang mengungkapkan perasaannya.


Semua orang tertegun. Verosa yang baru mengetahui hal itu terlihat terkejut akan ucapan kekasihnya.


"Dan jika kau berani mengatakan orang-orang sepertiku tak berguna, kau akan meraskan bagaimana kematian dari orang bodoh itu," sambung Vemo dengan senyum liciknya.


Seketika, kening semua orang menyipit.


"Matilah."


KLIK!


"VEMO!" teriak Matteo lantang saat Vemo menekan sebuah remote yang ia keluarkan dari saku celananya.


Praktis, mata semua orang melotot saat tiba-tiba saja, HeliBot yang menangkap tubuh Xivovo mengeluarkan sengatan listrik hingga tubuh sang Presiden mengejang dan mengeluarkan asap.


Semua orang terkejut karena acara itu disiarkan secara langsung. Orang-orang di Pusat Komando New-US melebarkan mata melihat eksekusi mati yang dilakukan Vemo terhadap Presiden mereka.


Tiba-tiba, SWING! JLEB!


"Oh!" kejut semua orang dengan mata melotot ketika Curva ikut melemparkan tombak listrik ke tubuh sang Presiden New-US.


Ujung tombak tajam itu menancap di dadanya hingga tertembus ke belakang. HeliBot masih melayang di udara sedang Xivovo sudah tewas dengan mata terbuka.


Lalu, tiba-tiba saja, SHOOT! BLUARRR!


"Woah!" seru semua orang saat HeliBot itu meledak.


Orang-orang di sekitar HeliBot melangkah mundur seraya menutupi pandangan mereka dengan tangan karena kobaran api dahsyat menyilaukan mata di malam gelap.


Beruntung, Matteo dan Bom sudah menjauh dari tubuh Xivovo saat Vemo menyetrumnya dari jarak jauh.


Matteo dan Bom yang tiarap di atas tanah terkejut saat melihat Khan melesatkan anak panah dengan bom pada bagian ujungnya ke arah HeliBot tersebut hingga membuatnya meledak.


"Dengan ini sudah diputuskan, tak ada yang memihak New-US. Kota mana pun atau negara mana pun yang masih menginginkan perang, akan melawan kami semua! Kami bergabung demi menciptakan perdamaian. Dan jika usaha keras kami diusik, kami tak segan untuk melakukan eksekusi mati seperti yang kami dilakukan pada Xivovo. Jadi ... New-US, tentukan pilihanmu," tegas Khan menunjuk ke arah mata WolfBot di mana wajah Wakil Presiden New-US terlihat serius.


***


ILUSTRASI


SOURCE : GOOGLE

__ADS_1



Dikit lagi tamat-tamat. Ayo yg belum tips koin. Kesempatan terakhir buat kasih kenang-kenangan buat lele di novel ini karena sebentar lagi TAMAT ya. Kuy kuy segera. Terima kasih mak Ben aku selipin disini tipsnya❤️


__ADS_2