
Pusat Komando, Distrik 9.
Sandra panik. Koneksi telekomunikasi cacing robot masih terhubung ke Great Ruler dan masih ada satu kamera pengawas ruangan yang dapat dilihat oleh semua orang di ruangan besar tersebut.
Wakil Presiden Great Ruler gemetaran ketika melihat suami tercintanya berusaha keras melawan gravitasi yang membuat robot cacing tersebut bergerak cepat menuju ke dasar lautan yang cukup dalam.
Namun, dalam keadaan kacau itu, Sandra masih bisa melihat peluang.
"Sambungan aku ke Spectra, Roboto dan empat WolfBot. Sekarang!" titahnya lantang ke para operator yang bertugas.
"Yes, Mam!" sahut Qimi cepat mencoba masuk ke jaringan komunikasi enam robot tersebut.
Saat Qimi sedang berusaha, DANG! BRANG! PRANG! KRAK!
Seketika, mata Sandra dan Matteo melebar bersamaan ketika mendengar suara retakan keras dari benda-benda yang berjatuhan mengenai kaca pelindung ruang kendali robot cacing.
"MATTEO!" panggil Sandra hingga wajahnya tegang.
Matteo menoleh ke arah kaca besar tersebut. Benar saja.
KRAK! BRUSHH!
BLUB! BLUB!
TET! TET! TET!
"Bahaya! Bahaya! Air laut menggenangi robot cacing dan terus meluap ke lambung. Analisis kerusakan. Sistem akan mengalami ke-ke-ke ...."
Tiba-tiba, tampilan di layar Pusat Komando gelap gulita. Hal serupa juga terjadi di dalam robot cacing saat semua sistem mati.
Sebagian tubuh Matteo yang dilapisi oleh bagian robot Spectra dan Roboto masih mampu bertahan.
Kepala Matteo yang terbungkus helm Spectra membuatnya tak terendam air. Meski demikian, tubuh bagian bawah Jenderal basah kuyup.
"Wapres! Komunikasi kita masih terhubung meski tampilan video tidak!" sahut Qimi cepat.
Sandra memejamkan mata sejenak mencoba mengingat penjelasan Matteo tentang kemampuan robot-robot ciptaannya yang telah dimodifikasi.
Seperti mendapatkan pencerahan, Sandra membuka mata dan wajahnya berubah serius seketika.
"Gunakan tampilan dari mata WolfBot untuk melihat kondisi Matto. Lakukan!" titah Sandra tegas menoleh ke arah Qimi.
"Yes, Mam!"
Segera, Qimi mengirimkan perintah kepada empat robot serigala itu. Seketika, sepasang mata dari empat WolfBot menyala terang bagaikan lampu.
Matteo terkejut saat kegelapan di sekitarnya kini menjadi bercahaya. Mata bagaikan senter itu menyorot, meskipun empat serigala robot terpencar di berbagai tempat.
WolfBot mampu bergerak dalam air seperti berenang. Matteo masih berusaha untuk tetap bergerak menuju ke pintu keluar.
"Oh, syukurlah, dia baik-baik saja. Arahkan keempat WolfBot ke tempat Matteo berada. Cepat!" titah Sandra selanjutnya.
Qimi dengan sigap mengirimkan perintah kepada empat serigala robot itu. Kaki-kaki mereka bergerak dengan lincah meskipun dalam air.
"Bahaya! Kadar oksigen dalam helm menipis. Tersisa 50% dan terus berkurang," ucap Spectra yang mengejutkan para pendengar.
Sayangnya, saat Matteo berhasil, pintu tersebut macet dan tak bisa dibuka.
"Matteo! Gunakan laser penembus Spectra untuk melubangi kaca dan segeralah berenang menuju ke Gelembung. Cepat! Waktumu tak banyak!" tegas Sandra.
Tanpa berlama-lama. "Spectra! Tembakan laser penembus!"
__ADS_1
"Laser penembus diaktifkan."
Seketika, CRETT!!
Matteo mengarahkan mata yang mengeluarkan sinar laser itu ke pintu tempat Roman tadi dihadang oleh asisten ruangan.
Jantung semua orang berdebar karena Spectra menunjukkan kadar oksigen kini tersisa 40%. Matteo segera menghindar dan berpegangan pada handle samping pintu saat benda berbentuk persegi empat itu jatuh setelah berhasil dilubangi.
Matteo segera berenang melawan tekanan dalam air karena robot cacing terus bergerak menurun.
Matteo bagaikan mendaki ke bukit yang terjal agar bisa segera masuk ke dalam alat penyelamat bernama Gelembung.
Gelembung adalah alat penyelamat jenis baru berbentuk seperti namanya. Terbuat dari bahan plastik kedap air dan lapisannya cukup tebal. Tak mudah hancur dan robek.
Gelembung berwarna putih dan membuat manusia di dalamnya terlihat samar dari luar.
Bagian dalamnya, manusia tersebut terlindung oleh embrio inti berbentuk kapsul elips terbuat dari lapisan baja sebagai penunjang kehidupan selama 24 jam sampai Gelembung ditemukan dan dirobek menggunakan laser.
Dinding Gelembung kenyal dan membuatnya terpantul jika terhantam benda keras layaknya bola bekel.
Gelembung dapat mengapung dalam air dan akan berhenti menggelinding saat sensor pada kulit gelembung mendeteksi jenis permukaan yang aman sampai benda berbentuk bulat itu ditemukan oleh tim penyelamat.
Kapsul bagian dalam sebagai embrio inti, mengirimkan sinyal ke satelit pusat Great Ruler sehingga keberadaan Gelembung dapat dilacak.
Di dalam tubuh robot cacing.
Matteo bersusah payah. Beruntung, tangan Roboto mampu terjulur panjang dan membantu sang Presiden untuk menggapai benda yang bisa ia gunakan sebagai tumpuan.
Namun, saat Matteo berhasil ke ruang evakuasi, pintu Gelembung macet. Matteo berusaha menggeser pintu tersebut, tapi tak berhasil karena tak adanya listrik.
"Spectra! Tembakan laser penembus!"
"Penggunaan laser penembus satu kali lagi menyisakan energi 10% termasuk kadar oksigen. Pengulangan perintah. Dilanjutkan atau dibatalkan."
"Wapres! Anda tak apa? Sebaiknya Anda ...."
"Tidak! Matteo berjuanglah. Gunakan laser penembus. Kau masih bisa bertahan dengan oksigen 10% sampai ke Gelembung. Saat kau sudah di dalam, kau akan aman. Cepat!" titah Sandra.
Matteo memejamkan mata sejenak dan menarik napas dalam.
"Lanjutkan perintah. Aktifkan tembakan laser penembus."
"Tembakan laser penembus diaktifkan."
Jantung semua orang berdebar saat melihat kadar oksigen menurun drastis. Dan benar saja, tanda berkedip peringatan oksigen menipis membuat semua orang panik seketika. Matteo mulai mengalami sesak napas.
"Berjuanglah! Demi aku, Alva dan kami semua! Bergerak!" seru Sandra lantang terlihat begitu tegang hingga kedua tangannya mencengkeram kuat pinggir meja yang menopang sebuah monitor.
Layar 40 inch itu, menunjukkan kondisi Matteo yang berusaha keras untuk menjangkau Gelembung.
Saat Matteo sudah hampir tiba dengan empat WolfBot berenang mengikuti di belakangnya, tiba-tiba, BOOM!
"NO!" teriak Matteo histeris saat sebuah ledakan menghancurkan dinding dan membuat Gelembung terakhir terlontar bersama dinding besi berikut dirinya.
Tubuh Matteo terhempas keluar dari tubuh cacing robot dan membuatnya berputar-putar tak terkendali di dalam air. Empat WolfBot ikut terlempar dan mereka kini tercerai-berai di beberapa tempat.
"Hah! Hah!" engah Matteo dengan wajah mengkerut karena sudah kehabisan oksigen di dalam helm Spectra.
Semua operator membungkam mulut dengan mata melotot lebar melihat kondisi Matteo yang masih terpantau dari mata WolfBot.
Sandra memejamkan mata terlihat seperti akan menyerah. Ia yang masih mengenakan piyama tidur dengan Alva ikut bersamanya dalam box bayi melayang, mulai meneteskan air mata.
__ADS_1
Alva seperti menyadari jika nyawa ayahnya sudah di ujung tanduk. Tiba-tiba, TUUT!
Sandra terkejut saat mendengar bunyi kentut dari sang bayi ketika suasana hening menyelimuti ruangan. Namun hal itu, membuat dirinya terpikirkan ide gila.
"Qimi! Arahkan WolfBot ke tempat Matteo berada. Kerjakan!"
Segera, Qimi melakukan yang Sandra perintahkan. Empat WolfBot bergerak dengan cepat mendatangi Matteo.
"Kau masih bisa selamat! Tunggangi salah satunya, Matt. Cepat!" perintah Sandra.
"What?"
"Jangan banyak bertanya! Cepat lakukan!"
Jantung Matteo berdebar. Bukan karena ia hampir mati kehabisan oksigen dan terus tenggelam menuju dasar laut, tapi karena isterinya mengamuk.
Matteo tak ingin membantah. Ia segera menangkap tubuh salah satu WolfBot berseri 7 dengan sisa tenaganya. Namun, itulah usaha terakhir dari sang Presiden.
Matteo mulai memejamkan mata dan tubuhnya tergolek lemas saat sudah menaiki punggung WolfBot tersebut.
"Anda ingin saya menginstruksikan apa, Wapres?" tanya Qimi pucat. Semua orang di Pusat Komando ikut serius menatap isteri dari sang Presiden.
"Buat Roboto memeluk tiga WolfBot yang tersisa dan arahkan kepala mereka ke bawah. Kita akan meluncurkan Matteo dengan tembakan laser para WolfBot ke arah cacing robot. Kita manfaatkan gelombang ledakannya. Bersiap!" jawabnya serius saat ia sudah tak bisa melihat wajah suaminya lagi karena kepala WolfBot terarah ke bangkai cacing robot yang terus tenggelam meski ekornya tak lagi bergerak.
"5, 6, 7, 8! Fire!"
Seketika, SHUW! SHUW! SHUW! SHUW!
BLUARRR! WHUSS!
Benar saja, tubuh robot Matteo dan para WolfBot terlontar karena gelombang ledakan besar yang dihasilkan dari robot cacing.
Puing-puing robot cacing tersebut berhamburan di dalam lautan. Sayangnya, gelombang itu masih tak bisa membawa tubuh Matteo ke permukaan.
"Gunakan meriam laser dari keempat WolfBot!"
"Namun, hal itu akan menghabiskan energi WolfBot, Mam!" sahut Qimi tak sependapat.
"Lakukan!" teriak Sandra marah.
Tak ingin membantah, Qimi segera melakukan yang diperintahkan oleh Wakil Presidennya.
"5, 6, 7, 8! Meriam laser!"
Mulut keempat WolfBot menganga lebar. Seketika, SHUW! BLUARR! WHOOM!
Mata semua orang terpejam saat melihat cahaya menyilaukan muncul dari tampilan mata WolfBot.
Gelombang besar muncul dan langsung menghempaskan tubuh para robot itu. Matteo terdorong bersama para WolfBot yang sudah kehabisan energi menuju permukaan.
Seketika, tampilan layar padam. Sandra memejamkan matanya rapat dengan kening berkerut.
Semua orang seperti tak bernapas untuk sepersekian detik karena tak tahu kelanjutan dari nasib sang Presiden.
"Tolong, selamatkan dia. Aku berharap banyak pada kalian," ucap Sandra menggenggam kedua tangannya erat di depan dada seperti orang berdoa dengan mata terpejam.
Semua orang ikut berdoa dan berharap agar doa sang Wakil Presiden terkabul.
***
__ADS_1
Makasih tipsnya. Lele padamu❤️ ditunggu lainnya yg belom absen tips. Jangan lupa boom like dan komen audio book lele buat dapetin bonus eps utk novel karya yg on going dg min akumulasi pendapatan tips audio book 19. Kuy💪