SIMULATION

SIMULATION
TRICK


__ADS_3

Sandra bersiaga dengan serangan yang mungkin bisa terjadi. Mata robot level A menangkap dua orang dalam mobil itu mengarahkan senapan laras panjang ke tubuh robotnya.


"Jangan menembak jika belum kuperintahkan! Kita harus tahu tujuan mereka. Aku yakin, jika orang-orang itu bukan orang bodoh yang mau berurusan dengan Great Ruler. Kalian paham?!" tegas Sandra di hadapan para pria berseragam hitam di bawah komandonya.


"Yes, Mam!" jawab ketiga puluh calon User level B lantang bersiap dengan formasi Bulan Sabit.


Robot Sandra berdiri diantara dua ekor WolfBot sisi kiri dan kanan melindunginya. Semua orang baik di gurun atau pun di ruang simulasi tegang seketika. Matteo yang panik dengan keadaan sang isteri langsung bergegas menuju ke pusat kendali.


"Sir!" sapa Erly langsung berdiri memberikan hormat diikuti oleh petugas lain saat Matteo dan timnya memasuki ruangan.


"Seberapa buruk?" tanya Matteo cemas.


"Mobil itu berhenti dengan menjaga jarak 5 meter dari pasukan kita, Sir," jawab Qimi melaporkan.


"Sudah diidentifikasi siapa orang-orang itu?" tanya Roman penasaran.


"Tahan tembakan!" seru Morlan yang tiba-tiba datang bersama seorang manusia evolusi menggunakan helikopter seperti yang digunakan Sandra dan Matteo kala itu.


Mata semua orang kini terfokus pada Morlan yang berjalan mendekat tak menutupi sosok mutannya.


"Morlan?" ucap seorang pria yang terlihat kaget dan langsung turun dari bangku kemudi sopir.


Saat empat orang pria turun dari mobil, tiba-tiba saja, kain seperti jubah yang menutupi tubuh mereka terbuka karena tertiup angin gurun. Praktis, mata semua orang melebar seketika.


"Kenapa kalian menjadi sepertiku? Kukira ... kalian mati," tanya Morlan sampai matanya melotot.


"Kami berhasil selamat menggunakan cara yang sama sepertimu. Namun, hal buruk terjadi. Negara Bintang mendapatkan sisa mutan kita. Mereka yang tak tahu prosedur dalam menciptakan mutan, malah menyuntikkan diri mereka dengan DNA mutan. Sehingga ...," ucap salah seorang pria yang dulu bekerja bersama Morlan sebagai ilmuwan.


"Jangan katakan jika mereka menjadi manusia setengah mutan seperti Morlan!" seru Sandra langsung mendekat.


"Yes," jawab pria itu tertunduk seraya memalingkan wajah.


Semua orang terpaku. Jantung mereka berdebar kencang mengingat kemampuan mutan Morlan sangat luar biasa di atas rata-rata.


"Berapa banyak?" tanya Morlan menelan ludah.


"Semuanya. Seluruh warga di negara Bintang menjadi seperti kita, Morlan," jawab pria itu terlihat ketakutan.


"Apakah kalian datang kemari untuk memperingatkan kami?" tanya Roman yang kini sosok hologramnya muncul dari proyeksi mata WolfBot.

__ADS_1


"Yes," jawabnya lirih.


"Seberapa dekat mereka?" tanya Matteo ikut tegang.


"Mungkin, dua atau tiga hari lagi sampai. Mereka lebih kuat dari mutan-mutan kita, Morlan. Mereka berakal. Ditambah, mereka memiliki banyak senjata. Kali ini, Great Ruler dalam bahaya. Sebaiknya segera evakuasi para warga keluar dari Great Ruler sebelum banyak nyawa menjadi korban," ucap pria yang tubuhnya berwarna hitam dan memiliki sisik karena kulitnya menebal. Bola matanya berubah menjadi seperti mata ular.


Roman segera meneruskan kondisi darurat ini kepada seluruh Walikota yang bertugas. Matteo menekan sebuah tombol warna kuning yang terkoneksi dengan robot Sandra di lapangan. Sandra melirik layar di samping kanannya karena wajah Matteo muncul di sana.


"Apakah kau memikirkan yang sedang kupikirkan, Sayang?" tanya Matteo menyipitkan mata.


"Hem, sepertinya begitu. Jadi ... terima atau tolak? Aku berpikir untuk menerimanya," jawab Sandra berbisik. Matteo mengangguk setuju dan Sandra tersenyum tipis di ruang simulasi.


Sedang semua orang yang mendengar di pusat kendali simulasi terlihat bingung. Mereka tak paham dengan rencana Presiden dan Wakil Presiden mereka.


"Terima kasih atas informasi kalian. Ikut kami ke Great Ruler. Kalian pasti lelah setelah perjalanan jauh dari negara Bintang," ucap Sandra ramah dengan pelindung duri telah ia non-aktifkan.


"Terima kasih atas kebaikan kalian," jawab salah seorang dari empat pria tersebut.


Para pria itu kembali menaiki mobil yang membawa mereka. Sandra memerintahkan ketiga puluh anggotanya untuk kembali ke posisi semua meski masih terlihat waspada.


"Kalian akan berlari untuk kembali ke Great Ruler?" tanya Morlan tak habis pikir dengan jalan pikiran menantunya di saat keadaan genting.


"Situasi seperti ini yang diperlukan dalam latihan perang sesungguhnya, Ayah," jawab Sandra mendekati Morlan yang terlihat bingung. Tiba-tiba, Sandra menggenggam tangan kanan Morlan mengajak berjabat tangan. Morlan melihat tangan robot tersebut dan menatap wajah robot Sandra saksama. "Siapa saja yang tahu celah di Gerbang Kermogal menuju dunia luar?" tanya Sandra berbisik.


"Mereka tahu?" Morlan mengangguk pelan. "Menurutmu ... apakah mungkin, negara Bintang menyerang kita dalam waktu dua hingga tiga hari perjalanan menuju Great Ruler?" tanya Sandra tetap menjabat tangan mantan Presiden Great Ruler tersebut.


"Mereka sudah di sini," jawab Morlan pucat. Sandra mengangguk.


"Mereka sengaja meminta kita mengosongkan kota. Mereka akan membunuh orang-orang kita saat evakuasi keluar dari benteng menuju Great Mazepita. Ini ... jebakan, Ayah," ucap Sandra menatap Morlan tajam di mana pria itu juga balas menatap wajah robot Sandra lekat. "Dalam hitungan tiga?" tanya Sandra. Morlan mengangguk.


"Satu ... dua ... tiga, now!" seru Sandra langsung melepaskan jabat tangan itu dan berbalik badan.


Seketika, "WolfBot! 3 fire!" serunya lantang memerintahkan salah satu serigala robotnya.


Dengan sigap, SHUW! BLUARRR!


"Wow!" pekik semua orang yang tak memahami dengan taktik sang Wakil Presiden.


"Pastikan mereka mati! Pasukan negara Bintang sudah di sini! Bersiap!" seru Sandra lantang dengan perisai duri kembali diaktifkan seraya berlari mendekati anggota pasukannya.

__ADS_1


Ketiga puluh kandidat calon User level B segera bersiap. Formasi Bulan Sabit kembali disiagakan begitu merasa serangan muncul dari balik asap kobaran api mobil yang meledak hebat karena tembakan laser peledak dari salah satu WolfBot.


"Aktifkan meriam laser dan barikade pelindung langit Great Ruler. Bersiap menghadapi serangan!" seru Matteo yang kini perintahnya terdengar ke seluruh pusat kendali semua Distrik.


"Yes, Sir!" jawab seluruh operator.


"Amankan Gerbang Kermogal!" titahnya lagi yang diangguki oleh Walikota Distrik 5-Laksamana Joe.


Namun, tiba-tiba, Matteo diam sejenak seperti mengingat hal penting.


"Oh! Bagaimana dengan terowongan yang dibuat cacing robot Gobi? Apakah sudah ditutup?" tanya Matteo ingat dengan jalan bawah tanah tersebut.


"Sudah, Presiden. Hanya saja, masih 70% pengerjaan dan belum selesai sepenuhnya. Apakah ...," tanya Qimi seperti terpikirkan sesuatu.


"Yes, Qimi. Segera kerjakan," jawab Matteo dengan kedua alis terangkat penuh tekanan.


"Yes, Sir!" jawab Qimi yang dengan sigap segera menginformasikan kepada para petugas tambang untuk mengamankan jalan rahasia itu.


Tentu saja, para warga dibuat panik dengan ancaman yang kembali datang. Ceros malah terlihat bersemangat seperti menantikan perang.


Alolo yang masih baru menjabat, terlihat sigap mengamankan para warganya untuk segera memasuki bangunan tempat Sandra dan Matteo melangsungkan pernikahan kala itu.


"Jangan takut, kita pasti akan selamat," ucap Alolo meyakinkan warganya yang tampak pucat dalam gedung dan dijaga oleh para robot level D bersenjata.


"Kami akan mendoakanmu selamat untuk terus melindungi kami, Walikota," ucap salah satu warga menatap Alolo lekat.


"Itu sudah lebih dari cukup," jawabnya dengan senyuman. "Magenta! Bersiap!" seru Alolo lantang dengan senapan laser dalam genggaman.


"Yeh!" jawab para warga Magenta yang menjadi polisi penjaga di kotanya kala itu.


Anak buah Alolo segera mengenakan seragam tempur robot level E dengan persenjataan lengkap. Meriam laser telah disiagakan melindungi benteng dari gempuran dan dikendalikan dari Pusat Kendali Distrik 10.


Ternyata, prediksi Sandra dan Matteo benar. Terlihat kepulan debu seperti badai pasir siap menerjang Great Ruler menuju Distrik 5 dan 10.


"Mereka datang! Lindungi orang-orang terkasih kita. Jangan biarkan nyawa kita melayang dalam pertempuran kali ini. Berjuang!" seru Matteo lantang yang telah siap dengan pakaian tempur dari 3 robot modifikasinya.


"Yeah!" seru para User robot level B, D dan E di seluruh penjuru Distrik yang telah terkoneksi dengan komunikasi pusat.


***

__ADS_1


kwkw mak Ben napsu. tengkiyuw tipsnya lele padamu muach muach😍



__ADS_2