SIMULATION

SIMULATION
SURPRISE*


__ADS_3

Mata Sandra terbelalak saat sebuah rasa dari kapsul itu pecah di mulutnya. Blue menatap Sandra lekat, terlihat tak sabar menunggu sebuah ungkapan dari mulutnya.


"Wow! Hem, rasa ayam panggang! Oh, ini enak sekali," ucapnya dengan mata terbuka dan tertutup, seakan ia mengunyah daging ayam sungguhan.


"See, apa kataku? Habiskan," sahut Blue yang ikut memasukkan kapsul itu di mulutnya.


Sandra terlihat seperti orang kelaparan ketika mengkonsumsi pil-pil berwarna orange itu. Ia makan dengan lahap dan tak terasa, pil-pil itu sudah tak tersisa.


Blue mengetuk mejanya lagi, dan mangkuk kosong itu kembali masuk ke dalam meja. Sandra terlihat puas.


Blue memberikan gelas berisi air mineral untuknya. Senyum Sandra merekah, ia terlihat tak sabar menunggu kejutan dari balik meja itu. Blue tersenyum tipis.


Hingga akhirnya, hidangan lain muncul, tapi kali ini dari atap samping lampu di langit-langit meja makan. Seperti sebuah lift yang turun sembari membawa makanan di dalamnya.


Sandra terbengong melihat semua keajaiban di rumah Colosseum malam itu. Makan malam itu, benar-benar berkesan untuknya.


"Silakan. Aku khawatir kau tak terbiasa dengan makanan yang aku hidangkan. Jadi, makanan ini sepertinya familiar denganmu," ucap Blue seraya menekan tombol berwarna abu-abu dan rak itu terbuka.



Mulut Sandra terbuka. Hidangan pizza pada rak nomor tiga muncul. Sebuah salad sayur pada rak paling atas. Ia penasaran dengan isi rak kedua dan keempat.


Piring bersih beserta garpu, sendok, dan pisau stainless muncul dari atas meja seperti piring-piring sebelumnya.


Blue mengambilkan makanan-makanan itu untuk Asistennya, dan hal itu membuat Sandra sungkan.


"Aku bisa melakukannya sendiri, Blue," ucapnya tak enak hati.


"Ini rumahku, ikuti peraturanku. Kau tamuku, jadi wajar jika aku memanjakan dirimu. Diam, dan makanlah. Saat kau sudah sembuh nanti, aku akan merepotkanmu. Jangan kau pikir ini semua gratis, aku juga ingin mencoba masakanmu," jawabnya sembari memberikan sepotong pizza di piringnya dengan wajah serius.


Praktis, ucapan Blue membuat mata Sandra terbelalak lebar.


"Ka-kau ingin ke rumahku?" tanyanya gugup. Blue tak menjawab dan hanya mengangguk lalu menikmati makan malamnya.

__ADS_1


Sandra menelan ludah. Rumahnya sangat jauh dari kata mewah tak seperti Bos-nya. Ia malah khawatir jika Blue tak nyaman saat berkunjung nanti.


Namun, kekhawatiran Sandra kembali di tepis oleh Blue saat pria itu memberikan banyak nasehat untuknya agar bisa menjadi seorang User. Sandra kembali fokus sembari menikmati makan malamnya.


"Benarkah? Kau yakin dengan hal itu, Blue?" tanya Sandra menatap wajah tampan Bos-nya lekat.


"Hem. Begitu sembuh, kau kuizinkan bermain sampai kau mencapai level 10. Aku akan merekomendasikanmu kepada Dewan yang melakukan perekrutan User non-Akademi. Semoga kau beruntung, dan berhasil menjadi User," jawabnya sembari mengelap bibirnya dengan serbet.


"Ya, dan aku akan bertemu dengan Matteo Corza. Ia harus tahu perbuatannya," jawab Sandra terlihat serius dengan garpu dan pisau dalam genggaman.


Blue diam menatap Sandra dari tempatnya duduk.


"Sudah selesai? Maaf, kau jadi pulang larut malam. Sopirku akan mengantarkanmu pulang. Maaf, aku tak bisa mengantar, aku harus beristirahat," ucapnya terlihat lesu.


Sandra mengangguk dan berterima kasih. Ia pamit dan diantar oleh Purple menuju ke pintu lain ke mobil otomatis yang akan mengantarkannya pulang.


Sepanjang perjalanan, Sandra tersenyum. Entah kenapa, malam ini hatinya terasa hangat dan jantungnya tak berhenti berdebar. Ada perasaan aneh yang membuatnya mudah untuk tersenyum dan tersipu malu.


Setibanya di rumah, Rey—asisten ruangan—memberikan informasi kepada Tuannya jika ada telepon masuk dari Eliz.


"Yes, Eliz," jawabnya malas.


"Sandra! Kau mendapat surat peringatan juga dari Distrik 1? Zalama Mall?"


"Hem. Besok kita harus ke sana."


"Tapi, aku tak bisa. Aku ada urusan," jawabnya sedih.


Mata Sandra langsung terbuka lebar dan kembali duduk, meski selimut masih menutupi kedua kakinya.


"Memangnya kau mau ke mana?"


"Aku ... mm, aku ada ...."

__ADS_1


"Eliz?" panggil Sandra tegas.


"Komandan Akira mengajakku berkencan."


Sontak, Sandra tertawa begitu kencang setelah mendengar pengakuan dari kawannya itu. Entah kenapa hatinya begitu gembira. Ia sampai lupa jika tangannya terluka, hanya saja rasa nyeri tak separah hari kemarin.


"Bisakah aku minta tolong kau yang pergi ke sana? Maaf ... hanya saja, aku sungguh ingin pergi. Komandan Akira mengatakan ingin mengajakku ke Distrik 4. Katanya, ia ingin mengenalkanku kepada keluarganya. Apakah ... ah, tidak mungkin," potongnya cepat.


"Oh, benarkah? Wah, aku ikut bahagia mendengarnya, Eliz. Semoga dugaanmu benar. Sejak kapan kau menjalin hubungan dengan Akira. Kenapa kau tak memberitahukanku?" tanya Sandra yang merasa letihnya sirna seketika.


"Tidak pernah. Jadi, tadi siang dia datang ke rumah. Ternyata Akira pria yang to the point. Dia langsung mengatakan jika menyukaiku sejak pertama kali kami bertemu. Lalu dia mengatakan ... ah, apakah harus aku ceritakan? Aku malu!"


Sandra terkekeh tanpa suara. Ia bisa membayangkan wajah merona kawan karibnya yang sedang dilanda asmara itu.


"Oke, oke, aku bisa membayangkan kelanjutannya. Aku ... ikut bahagia, Eliz. Semoga semua lancar dan kalian, segera menuju pelaminan. Aku akan jadi orang pertama yang memberikanmu petuah agar menjadi isteri yang baik," tegas Sandra.


"Terima kasih, Sandra. Oh, aku sungguh beruntung memiliki kawan pengertian sepertimu," ucapnya yang praktis membuat Sandra terharu.


"Bagaimana respon Tony?"


"Haish, orang itu. Kau tahu yang dikatakannya? Tony bilang, Akira pasti sedang mabuk. Matanya sakit karena terkena debu dari tambang batu bara sehingga rabun saat melihatku. Dia sungguh kejam."


Sandra kembali tertawa. Ia tak menyangka jika Tony bisa berkata jahat demikian. Sepertinya, Tony iri karena Adiknya mendapatkan kekasih dan segera menikah mendahului dirinya.


"Hem, mungkin Akira memiliki teman wanita yang bisa dikenalkan pada Tony? Aku juga akan merasa sangat bahagia jika kakakmu segera menemukan pujaannya," ucap Sandra dengan senyuman, meski Eliz tak bisa melihatnya.


"Ya, aku berharap juga demikian. Baiklah, kau sebaiknya istirahat. Aku akan mampir ke rumahmu untuk mengantarkan jam itu sebelum Akira datang menjemputku. Terima kasih, Sandra," ucapnya ramah.


Sandra balas mengucapkan selamat malam dan menutup panggilan. Sandra menghembuskan nafas panjang. Ia merasa jika hari ini banyak kejutan yang membuat hatinya gembira.


Sandra memejamkan matanya perlahan di mana rasa kantuk kembali menghampirinya. Sandra tertidur lelap malam itu dengan senyum tipis terukir di wajahnya.


***

__ADS_1


ILUSTRASI


SOURCE : GOOGLE


__ADS_2