
Saat itu, di ruang rapat Gedung Eco-Green Distrik 9. Sandra memaparkan pemikirannya dihadapan para dewan tertinggi Great Ruler dan Great Mazepita.
"Selama ini, kita bagaikan katak dalam tempurung. Kita merasa hebat dan menyebut negara super power karena memiliki banyak kekayaan alam serta teknologi mutakhir. Namun, hal itu malah membutakan kita dalam fatamorgana karena tak pernah melihat dunia luar yang terus berkembang setiap detiknya," ucap Sandra di hadapan para dewan di tengah mimbar. Para pejabat duduk di RC mengelilinginya.
"Misi dari Morlan, memaksa kita mengerahkan seluruh kemampuan hingga titik terakhir agar tetap bertahan hidup. Misi penuh tekanan dan menguras mental karena harus mencari solusi terbaik dari pilihan sulit, menunjukkan kita jenis manusia seperti apa sesungguhnya. Jati diri kita akan terlihat ketika terdesak, dan itu yang harus kita cari dari para calon User untuk ditugaskan di luar sana. Bukan kemampuan selama di fasilitas militer Great Ruler, tapi menghadapi ancaman nyata dunia luar," tegasnya menjelaskan.
"Maksudmu, kau ingin mencetak para User sepertimu?" tanya Jaksa Helium.
"Yes, dan aku mengharapkan lebih," jawab Sandra mantap.
"Cara seperti apa yang akan kauterapkan?" tanya Brego mengerutkan kening.
"Pelatihan sesungguhnya di luar benteng Great Ruler."
"Kau ingin mengirim robot-robot kita keluar benteng? Kau gila! Teknologi kita bisa dicuri!" tegas Laksamana Joe menolak.
"Saat itu kau beruntung karena banyak orang membantumu. Keberuntungan tak berpihak untuk kesekian kali, Sandra Salvarian," sahut Mayor Kyel menunjuk Sandra dan diangguki oleh semua orang yang setuju dengan pendapatnya. Sandra menarik napas dalam dan tetap berusaha tenang.
"Kalian menginginkan User yang tangguh dan cerdik saat melawan musuh. Namun, sehebat apa pun robot yang kita buat dengan senjata-senjata pembunuhnya, sehebat apa pun sistem simulasi dan komputer yang mengaturnya, tapi ingat. Kitalah pengendalinya," tegas Sandra menunjuk dirinya.
Wajah serius tampak di raut semua orang saat Sandra menjawab pertanyaan kritis itu.
"Satelit hanya melihat secara keseluruhan tanpa tahu seperti apa kehidupan nyata yang ia pantau selama ini. Sama seperti kita. Selama ini kita percaya dengan yang satelit lihat. Tak ada lagi misi robot level C karena dianggap tak ada ancaman, tapi ternyata ancaman mengelilingi kita karena Great Ruler sangat mencolok," sambung Sandra makin mendetail.
Roman menyipitkan mata seperti menelaah maksud dari ucapan Sandra seperti menyindir dirinya saat masih menjabat.
__ADS_1
"Misi yang hampir mustahil kuselesaikan dari Morlan kala itu, membuka mata kita semua. Masih banyak kota hidup di luar sana dan tak diketahui karena kita sibuk memperkaya diri tanpa merasakan penderitaan orang lain. Kita masih bisa menyelamatkan banyak kota dan mengajak mereka bergabung dengan Great Ruler untuk menciptakan kedamaian yang selama ini kita harapkan," tegas Sandra menunjuk layar besar di belakang RC para pejabat di mana isi layar itu terkoneksi dengan tampilan monitor mereka.
Para pejabat terdiam termasuk Roman, Matteo, dan Morlan saat tampilan misi dari Sandra ditayangkan. Ceros dan Alolo mengangguk membenarkan dalam diam.
"Aku mengajukan diriku untuk menemui pemimpin negara musuh seperti negara Bintang, Russ-King, New-US, Baatar, dan lainnya. Aku ingin mengajak negara-negara itu berdiplomasi. Bukan memata-matai pergerakan mereka karena aku yakin, dalam setiap penyerangan yang terjadi di Great Ruler, mereka memiliki maksud lain selain sumber daya kita."
"Mereka menginginkan kehancuran Great Ruler. Mereka iri dengan kesejahteraan kita!" seru Alolo buka suara.
"Ya, iri. Mereka iri dengan kehidupan damai di Great Ruler. Kau yang mengatakannya, Tuan Alolo. Magenta, Cryzen, Pipemo, dan lainnya, iri dengan keharmonisan Great Ruler. Mereka penasaran dengan apa yang kita miliki dan tak mereka miliki. Mereka tak tahu caranya untuk mewujudkan hal itu di negara mereka. Jalan pintas, merebut apa yang bukan menjadi miliknya agar mereka bisa merasakan kesejahteraan itu. Jangan munafik, Tuan Alolo. Apa ucapanku benar?" tanya Sandra menunjuk putera dari Yovic Yofalen dari tempatnya berdiri.
Pria itu terkejut dan merasa tertohok dengan pertanyaan Sandra. Namun, Ceros mengangguk membenarkan termasuk perwakilan dari Pipemo.
Semua pejabat yang berasal dari Great Ruler tertegun karena mereka tak menyangka jika hal itu benar adanya.
"Kau ingin membagi ilmu yang sudah susah payah kita pikirkan hingga puluhan tahun lamanya kepada negara lain agar bisa merasakan hidup sejahtera seperti kita? Begitu maksudmu?" tanya Lala memperjelas.
"Ya. Oleh karena itu, kirim aku. Aku siap melakukannya," jawab Sandra mantap.
Matteo tidak sependapat dengan keinginan sang isteri. Pria bermanik biru itu menolak keras. Sandra tersenyum melihat suaminya yang ngotot melarang ide gilanya tersebut.
"Apa Anda tak melihat jika Distrik 10 semakin banyak pengungsi, Tuan Presiden? Kita tak bisa memperlebar wilayah," ucap Sandra menatap suaminya lekat. Matteo menarik napas dalam seraya menyenderkan punggung tampak tersudut.
"Jika kita melakukannya, iri, benci dan dengki malah akan semakin mengancam kesejahteraan Great Ruler dan Mazepita. Negara lain akan semakin bernapsu untuk merebut negara ini. Sebelum hal itu terjadi, kita harus mengantisipasinya. Kita semua tahu jika hal ini beresiko dan mengancam nyawa. Namun, kalian sudah mempercayakanku sebagai Wakil Presiden, dan inilah salah satu tugasku. Memastikan negara ini tetap aman, damai dan sejahtera tanpa adanya ancaman yang bisa menghancurkan keharmonisan serta tatanan negara," ucapnya tegas menjelaskan.
Semua orang tertunduk diam.
__ADS_1
"Hal kecil kita sepelekan karena sibuk dengan rumah kita sendiri dan lupa jika kita tak hidup sendiri di Bumi ini. Kita memiliki banyak tetangga dan kita harus membantu mereka. Akan sangat egois dan aku akan mati dalam penyesalan jika tak melakukan hal ini. Aku tak mengajak kalian ikut bersamaku mendatangi negara-negara itu. Cukup kirimkan robotku, WolfBot untuk melindungiku dan HeliBot. Hanya itu," ucap Sandra menatap mata semua para pejabat yang memandanginya tajam.
Para pejabat mulai berbisik membiacarakan keinginan Sandra. Matteo menatap isterinya saksama entah apa yang dipikirkan. Sandra balas melihat wajah suaminya yang terlihat masih ragu dengan keputusannya.
"Baiklah. Vote dimulai," ucap Sora yang ditunjuk sebagai pemimpin rapat.
Papan tombol layar sentuh di meja RC mulai ditekan oleh para pejabat Great Ruler dan Great Mazepita berjumlah 299 orang yang memenuhi ruangan besar tersebut.
Sandra terlihat gugup menunggu keputusan dari hasil perolehan suara atas idenya tersebut. Wajah semua orang tampak tegang ketika Eco-asisten ruangan-mulai mengakumulasi total pilihan.
"Hasil perolehan suara," ucap Eco yang membuat semua orang duduk dengan gelisah. "Jumlah vote yang memilih 'Tidak Setuju' sebanyak 120 orang. Jumlah vote yang memilih 'Setuju' berjumlah 179 orang. Keputusan final, SETUJU."
Tepuk tangan meriah langsung terdengar memenuhi ruangan. Sandra tersenyum seraya membungkukkan badan.
Meskipun terlihat banyak wajah kecewa karena pilihan mereka tak sesuai keinginan, tapi hasil terbanyak tak bisa diganggu gugat.
Namun, siapa sangka. Matteo salah satu pria yang menekan tombol 'Tidak Setuju' dari ide sang isteri.
"Aku tahu kau mencemaskanku, Sayang. Aku akan baik-baik saja," ucap Sandra saat mereka berbaring di atas kasur usai penyatuan tubuh untuk yang kesekian kali.
"Aku tak sanggup kehilanganmu, Sandra. Aku terlalu mencintaimu, dan pilhanmu, sangat beresiko," jawab Matteo memeluk sang isteri erat karena Sandra akan memulai tugasnya bulan depan.
"Aku juga sangat mencintaimu. Oleh karena itu, misiku harus berhasil karena aku ingin terus memelukmu sampai akhir hidupku," jawabnya dengan mata terpejam.
Matteo tak sanggup berkata-kata. Ia tak melepaskan pelukannya karena sangat mencemaskan keadaan sang isteri yang akan pergi untuk menemui negara musuh yang selama ini menginginkan kehancuran Great Ruler.
__ADS_1