SIMULATION

SIMULATION
THE SUBCONSCIOUS*


__ADS_3


Sandra baru menyadari rute misinya. Ia sebenarnya hanya diminta untuk berputar mengelilingi kawasan di luar Great Ruler, tetapi tak sampai meninggalkan Benua. Ia hanya melewati perbatasan dan kembali ke rute.


Tengah hari, Sandra telah tiba di wilayah perbatasan. Ia menaiki WolfBot bersama Morlan di mana seluruh WolfBot yang tersebar telah berkumpul untuk ikut menjadi pasukannya.


Sandra melihat di kejauhan ada kepulan asap, dan terdengar suara ledakan bersahut-sahutan serta beberapa mutan terbang di langit Great Ruler.


“Aku akan mengurus mutan-mutanku! Kau segeralah ke ruang simulasi dan bangunkan semua User,” titah Morlan di sisi kiri robot Sandra.


Robot level A itu mengangguk dan fokus dengan tujuannya. Vemo terlihat bersiap di mana seluruh WolfBot kini telah terisi daya penuh.


Sandra melihat Distrik 10 telah porak-poranda. Ia tak menyangka jika tempat kelahirannya akan rusak separah ini.


Sandra menguatkan mental di mana jaraknya untuk sampai ke Great Ruler tinggal 1 kilometer lagi.


“Sir, look!” panggil Xili lantang saat melihat dari tangkapan satelit segerombolan WolfBot berlari kencang mendekat ke arah Great Ruler.


“Yeaahh!” sorak orang-orang di seluruh Distrik melihat kunci utama kemenangan mereka telah berada di luar gerbang.


“Lindungi Sandra! Bersihkan jalan! Kirimkan HeliBot!” perintah Matteo lantang.


Wego dengan sigap menerbangkan HeliBot untuk robot level A tersebut. Sandra melihat helikopter itu melayang menuju ke arahnya. Sandra bersiap, dan ….


“Hiyahh!” serunya saat ia berjongkok di atas punggung WolfBot yang ditungganginya lalu melompat tinggi.


HeliBot menangkap tubuh Sandra dan segera membawanya ke Great Ruler Distrik 9 di mana simulasinya berada.


Saat perjalanannya, tiba-tiba sebuah misil diluncurkan dari pasukan Russ-King di depan benteng Distrik 7.


SWOOSH!


“Sandra!”


“Otka!”


Teriak Matteo dan Vemo bersamaan karena misil itu meluncur tepat ke arah HeliBot. Benar saja, BLUARRR!


HeliBot meledak hebat. Tubuh robot Sandra terlempar jauh masuk ke dalam benteng Great Ruler Distrik 8. Semua orang di pusat kendali simulator mematung seketika.


Layar mereka yang terhubung dengan Sandra padam, bahkan raga wanita cantik itu tergolek lemas ditopang oleh mesin di ruang simulasi.


“Sandra!” seru Matteo lantang dan langsung berlari hampir terjatuh karena tergesa saat mendatangi Sandra yang memejamkan mata tak bergerak. “Sandra! Sandra!” panggil Matteo berulang kali karena Sandra tak merespon ucapannya.


“Ya, Tuhan,” ucap Lala dengan suara dan tangan bergetar karena Mola juga tak muncul seakan-akan hilang setelah terkena serangan mematikan itu.


Vemo yang melihat kawan masa kecilnya terkena serangan misil murka. Ia menyerang para pasukan dari Russ-King dengan para WolfBot dan Morlan membantunya.

__ADS_1


Morlan menggunakan kemampuan mutannya untuk melumpuhkan para pasukan bersenjata. Tubuh Morlan yang tebal bagai perisai tak mempan terkena tembakan dari peluru-peluru tajam yang dilontarkan oleh pasukan musuh.


Bahkan, tenaga Morlan sangat besar bagaikan badak. Ia mampu membalik sebuah mobil tempur lapis baja dan menghancurkan dengan tubuhnya.


Tanduk di kepalanya bahkan bisa memanjang dan runcing terbuat dari baja. Ia menggunakannya untuk menusuk tubuh para manusia berlapis baju tempur robot hingga menewaskannya.


“Temukan robot Sandra dan bawa kemari! Cepat!” perintah Matteo yang telah tergenang air mata.


“Yes, Sir!” jawab para pasukan robot level E yang bertugas untuk melindungi gedung tersebut. Namun tiba-tiba, dari luar ruang simulasi ….


“Arrghhh!” suara erangan begitu santer terdengar.


Kepala semua orang di pusat kendali menoleh ke arah pintu yang tiba-tiba saja seperti didobrak kuat hingga Eco memberikan suara alarm peringatan.


BRANG! BRANG!


“Apa yang terjadi?” tanya Lala karena semua kamera pengawas di gedung tersebut padam.


Matteo yang masih mengenakan pakaian robot gabungan dari Spectra, Purple, dan Roboto langsung bersiap.


Ia mendatangi pintu masuk yang terus didobrak paksa di mana pikiran buruk semua orang mulai datang menghampiri.


“Harrrghhh!”


“Oh my God!” teriak Lala panik karena mutan serigala berhasil menjebol pintu tersebut.


“Berlindung!” perintah Matteo lantang.


Semua petugas operator dan medis berkumpul di balik dinding kaca saat melihat Matteo berusaha untuk melumpuhkan serigala mutan tersebut.


“Sandra! Sandra! Bangunlah!” panggil Wakil Presiden Lala menggoyangkan lengan Sandra karena wanita cantik itu masih memejamkan mata seperti terkena hypersleep.


Di alam bawah sadar Sandra. Wanita cantik itu seperti berada dalam dunia ilusi. Ia melihat sekitar dan mendapati banyak kunang-kunang beterbangan di sekitarnya dengan lampu berkelap-kelip berwarna-warni seperti sebuah festival.


Hingga tiba-tiba, langkah Sandra terhenti saat ia melihat ada seseorang berdiri memunggunginya tampak bersinar dengan cahaya putih lembut.


Kening Sandra berkerut ketika pria itu membalik tubuhnya yang mengenakan pakaian serba putih. Sandra langsung menutup mulutnya dengan kedua tangan, ia menangis.


“Halo, Sayang. Kau cantik seperti biasa. Aku sangat merindukanmu. Apa kau juga?” tanya Rey seraya memegang wajah Sandra lembut dengan senyum manisnya.


“Rey, hiks, Rey …,” lirihnya karena pria yang dicintainya terasa begitu nyata muncul di depannya.


“Hei, aku tak apa-apa. Lihatlah, aku baik-baik saja. Aku bahagia di alam sini, Sandra. Aku … kagum padamu. Kau sungguh hebat. Aku tak menyangka jika isteriku begitu tangguh,” ucapnya memuji, tetapi malah membuat Sandra semakin menangis terisak. Rey memeluk isterinya erat, dan Sandra membalasnya dengan hal serupa.


“Sayangnya, Sayang. Orang-orang di luar sana menderita. Mereka ketakutan. Mereka membutuhkanmu,” ucapnya yang praktis membuat Sandra melepaskan pelukannya. “Kembalilah, dan … jalani hidupmu. Kau pantas bahagia. Aku tak bisa lagi memberikan kebahagiaan padamu. Aku minta maaf karena tak menepati janjiku untuk pulang dan merayakan makan malam pernikahan kita.”


Sandra menangis terisak. Rey menatap Sandra dengan wajah sendu seraya menghapus air mata sang isteri dengan kedua tangannya.

__ADS_1


“Aku sangat mencintaimu, Sandra, dan akan terus seperti itu. Namun, aku tahu, jika di luar sana ada pria lain yang juga memiliki cinta yang tulus padamu sama sepertiku. Jadi, bukalah hatimu dan terimalah cintanya. Kau pasti tahu yang kumaksud karena dia mengorbankan banyak hal untukmu,” ucap Rey yang membuat mata Sandra melebar seketika.


“No …aku tak ingin mencintai pria lain selain kau, Rey. Biarkan aku tetap di sini bersamamu,” pintanya sedih.


“Tidak, Sayang, tidak bisa, ini bukan takdirmu. Kita akan bertemu lagi, tapi tidak hari ini. Lupakan dendammu. Dalam hati kecilmu kau sadar, jika kau juga mencintainya. Kembalilah, dan hidup bahagia bersamanya. Aku mencintaimu,” ucapnya seraya meninggalkan kecupan manis di kening Sandra.


Seketika, “Hah!”


“Oh! Berhasil! Alat kejut jantung berhasil membangunkannya!” seru Lala yang berdiri di samping Sandra.


Para petugas medis di ruangan itu bernapas lega karena Sandra telah sadarkan diri. Sandra masih terperangkap dalam simulasi. Napasnya terengah dan pandangannya kini menangkap tempat yang dikenali.


“Distrik 8?” ucapnya seraya bangun, tetapi ia melihat jika kaki robotnya hancur. Sandra melebarkan mata terlihat panik. “Oh! Bagaimana ini?”


“Kau dengar itu? Distrik 8! Robot Sandra ada di Distrik 8!” ucap Lala lantang.


Kelima operator terlihat bingung karena serigala mutan itu belum berhasil dikalahkan oleh Matteo meski ia telah terluka parah dan kehilangan salah satu lengannya.


Tiba-tiba saja, Xili keluar dari tempat perlindungan dan kembali ke mejanya.


“Xili!” panggil Lala lantang karena pemuda berambut hitam itu seperti melakukan sesuatu di komputernya.


“Harrghh!”


Mutan serigala melihat Xili dan ia segera berpaling dari Matteo yang terkapar di lantai setelah terlempar dan menghantam dinding karena gagal membunuh makhluk itu.


“Xili!” panggil Imo karena kawannya didatangi oleh mutan serigala tersebut.


Namun tiba-tiba, “Harrghh!” erang mutan itu saat tubuhnya dinaiki oleh Matteo.


Matanya mengeluarkan laser dan sinar mematikan itu berusaha menembus kepala belakang musuhnya.


“Xili!” panggil Wego panik karena Xili masih terlihat fokus dengan yang dikerjakannya.


“Laksamana Joe! Robot Sandra ada di kawasan pertambangan Distrik 8! Tolong bawa dia kemari! Segera!” teriak Xili lantang terlihat panik.


“Segera!” jawab Joe dan sambungan itu terputus.


“Harrghhh!”


“Xili!” panggil Bablo panik saat mutan serigala kembali mengejarnya setelah Matteo gagal menghabisi nyawa mutan itu untuk kesekian kali karena tenaganya yang besar. Tubuh Matteo kembali terhempas dan jatuh terkapar di lantai.


“Hah, hah, haaaa!” teriak Xili lantang saat mutan serigala itu mendatanginya dengan cepat, dan Xili malah duduk mematung tak bergerak.


Tiba-tiba saja, “Oh!” pekik semua orang terkejut karena mutan serigala itu roboh setelah diterkam dari samping oleh sosok mutan yang mereka kenali.


***

__ADS_1


ILUSTRASI


SOURCE : GOOGLE


__ADS_2