
Sandra terlihat begitu sedih. Ia hampir menangis, tapi dengan segera, ia memejamkan mata dan mengusap wajahnya dengan tangan yang telah basah karena air kolam.
Sandra dibantu oleh User robot level E naik ke atas. Sandra menundukkan wajah. Semua orang tahu, jika Sandra nyaris berhasil.
"Apakah robot kita rusak? Apakah mataku salah melihat? Bukankah seharusnya wanita bernama Otka itu lulus?" tanya seorang pria dengan pakaian militer memasuki ruangan tes diikuti oleh dua pria bertubuh tegap, tapi beda ras.
Mata Sandra melebar. Ia kenal betul siapa sosok tiga pria itu. Sandra terlihat gugup, dan memilih untuk memalingkan wajah.
"Tidak, Captain Tony. Robot kita berfungsi dengan baik," jawab User yang berdiri di samping Sandra.
"Benarkah?" sahut Tony menaikkan salah satu alis. Sandra tertunduk.
"Bukankah komputer meminta sebuah cangkir? Aku merasa jika pengetahuanku tentang cangkir mulai dipertanyakan. Benda ini, adalah cangkir, walaupun terbelah. Apakah komputer memberikan spesifikasi khusus tentang cangkir yang lolos dan tidak?" tanya Komandan Akira seraya meraih dua pecahan cangkir tersebut dan disatukan.
"Mm, sepertinya tidak, Komandan. Komputer hanya meminta sebuah cangkir, sesuai gambar," jawab User gugup menjawab.
Sandra terlihat bingung dengan tingkah tiga orang pria yang ia kenal seperti sedang melakukan sesuatu dengan cangkir yang sudah terbelah itu.
"Robot. Pindai," pinta Komandan Ego seraya menyerahkan cangkir yang kembali menyatu entah ia apakan karena Sandra tak melihat gerak-geriknya dengan jelas.
PIP!
"Cangkir," jawab mesin.
"Hem. Sekarang, pindai ulang seluruh benda yang berhasil diambil oleh Otka Oskova," pinta Ego lagi dengan wajah garang.
Jantung Sandra berdebar ketika komputer memindai benda-benda yang berhasil dikumpulkannya.
PIP!
"Selamat, Otka Oskova. Anda berhasil lulus dalam tes. Silakan melanjutkan ke tes berikutnya. Semangat!" ucap komputer, yang tentu saja mengejutkan semua orang.
"What?! Dia lolos?" kejut seorang peserta yang mengantri di bawah.
"Ya! Kalian semua juga setuju 'kan jika wanita ini lolos tes. Benar 'kan?" tanya Tony membungkukkan tubuh dan menampakkan seringai iblis.
"Yes, yes, tentu saja, Sir," jawab pria itu pucat seketika.
"Hahaha, selamat San ... Otka! Wow. Kau hebat. Semoga, kau berhasil di tes selanjutnya," ucap Tony kaku saat menepuk salah satu pundak Sandra dengan senyum penuh maksud.
"Thank you, Sir," ucap Sandra mengangguk sungkan ke hadapan tiga pria yang ia kenal.
"Apa yang kalian lakukan di sini?"
"Beri hormat!" teriak User robot level E lantang seraya hormat saat Wakil Presiden Lala muncul.
Sandra ikut memberikan hormat termasuk peserta lain, begitupula tiga Perwira Great Ruler tersebut. Wajah semua orang tegang seketika saat Lala tampil dan menatap Sandra tajam.
"Otka Oskova?"
"Yes, Madam Vice President," jawab Sandra sungkan.
Lala menatap Sandra lekat dari ujung kepala ke ujung kaki. "Ya, aku rasa kau layak diberikan kesempatan. Aku mengawasimu. Aku penasaran, sampai sejauh mana kau bisa bertahan. Jangan mengecewakanku," ucapnya tegas.
__ADS_1
Sandra tertegun. Secara tidak langsung Wapres Lala mendukungnya. "Yes, Mam!" jawab Sandra semangat.
"Ini bukan pilih kasih, tapi aku melihat jika Sandra layak untuk diberikan kesempatan. Jadi, bagi kalian semua yang akan tes. Gunakan akal, tak hanya kemampuan fisik saja. Otka, contoh bagus dalam tes kali ini. Ia bisa menggabungkan dua hal dan melakukan eksekusi dengan baik. Patut ditiru. Good luck, untuk kalian semua," ucap Wapres Lala di hadapan para peserta tes di bawah.
"Yes, Mam!" jawab para pria itu serempak. Terlihat wajah penuh percaya diri jika bisa lulus tes karena teknik yang Sandra tunjukkan pada mereka.
Tony melirik Sandra tajam, begitupula Akira dan Ego. Sandra memilih tetap diam, pura-pura tak mengenal mereka bertiga.
Sandra kembali turun dan segera masuk ke ruang ganti untuk mengikuti tes selanjutnya.
Ternyata, pergerakan Sandra tak hanya diawasi oleh Wapres Lala yang tertarik pada kemampuannya, tapi Tony, Akira, dan Ego.
Tiga pria itu merasa dibodohi. Pertanyaan besar muncul di benak mereka karena tiga pria itu mengenal Sandra.
"Aku akan menemui Vemo," ucap Ego dengan sorot mata tajam ketika Sandra sedang mengikuti tes IQ di sebuah ruangan tertutup, tapi para Perwira yang diundang, bisa melihat dari balik dinding yang hanya bisa dilihat dari satu sisi saja.
"Vemo?" tanya Tony melirik.
"Hem. Beberapa hari lalu, kamera pengawas menangkap pergerakan Sandra bersama seorang wanita gemuk ke Distrik 10. Mereka mendatangi Vermendis Vemo. Kami tak tahu apa yang mereka lakukan di sana. Polisi menyelidiki, tapi tak ditemukan bukti apapun jika Vemo melakukan tindakan ilegal dengan dua perempuan tersebut. Sandra dan wanita gemuk yang diidentifikasi bernama Otka Oskova, berhasil keluar dari Distrik 10 tanpa dicurigai," jawabnya dengan mata menyipit saat Sandra berhasil dalam tes IQ dan mendapatkan skor 180.
"Pergilah dan cari tahu secara personal. Terpaksa, kita harus ikut bersandiwara. Aku cukup yakin, jika Sandra akan berhasil dalam tes. Aku bisa melihat jika dia akan menjadi User robot level B seperti kita," sahut Akira bertepuk tangan dengan senyum tipis saat para Perwira lainnya ikut bangga akan wanita cantik yang tak tahu jika ia diperhatikan dari balik dinding.
"Dasar tidak waras. Ia sampai melakukan hal nekat ini. Awas saja saat di rumah nanti, akan kubuat perhitungan dengannya. Dia hampir membuatku terkena serangan jantung karena tak melihat namanya masuk dalam daftar seleksi pagi tadi," geram Tony terlihat kesal akan sikap Sandra yang tak mendiskusikan hal ini padanya.
Ego dan Akira hanya bisa tersenyum melihat Tony marah-marah setelah tahu jika Sandra memanipulasi sistem.
Tony yang mendapat informasi dari Akira ketika calon suami Eliz melihat Sandra keluar dari ruang simulasi menuju ke akuarium, tentu saja kaget bukan main.
Tony segera bergegas mendatangi ruang tes, dan benar saja, matanya melotot saat ia yakin jika wanita yang sedang melakukan tes tersebut adalah kawan dari adiknya.
Dari sanalah, tiga pria itu sepakat untuk melakukan sandiwara tak mengenal Sandra untuk mengamankan identitas palsunya sementara waktu, entah motif apa yang menjadi penyebab perbuatan nekatnya yang bisa disebut ilegal.
Hingga akhirnya, tes terakhir yang harus Sandra jalani adalah tes kejiwaan. Sandra dinyatakan lulus tes kesehatan, strategi, IQ, dan fisik.
Sandra terlihat gugup, ketika masuk ke sebuah ruangan yang memiliki banyak cermin. Ia tak tahu apa yang akan terjadi.
Ia melihat sekeliling dan menunggu instruksi, tapi sudah 5 menit berlalu dan tak ada perintah atau pedoman dari komputer.
"Hallo? Sorry, execuse me. Adakah ... yang harus kulakukan di tempat ini?" tanya Sandra sopan, meski terlihat gugup.
Namun, tak ada jawaban. Di tempat itu ada sebuah sofa dan televisi kuno. Sandra memilih duduk karena bosan.
Ia melihat sebuah benda digeletakkan di samping sofa yang memiliki banyak tombol pada papannya. Sandra penasaran akan benda itu.
"Ini ... seperti yang aku lihat di buku sejarah Perpustakaan. Kalau tidak salah, ini untuk menyalakan televisi," ucapnya seraya meraih benda warna hitam persegi panjang tersebut dan menekan tombol merah pada ujungnya.
PIP!
Dan benar saja, tayangan pada layar monitor yang terpasang pada dinding menyala. Sandra terkejut karena suara dari televisi itu begitu nyaring.
Sandra terlihat panik ketika mencari tombol untuk mengecilkan suaranya. Dan akhirnya, ia menemukan tombol itu lalu menekannya dengan tergesa hingga suara televisi mulai pelan.
"Oh, benar. Ini remote televisi," ucapnya kagum akan benda kuno itu.
__ADS_1
Sandra mencoba semua tombol karena penasaran dengan fungsinya. Ia terlihat kagum akan tayangan pada layar televisi karena tampilan yang berbeda.
Ia juga melihat berbagai karakteristik dari acara-acara yang disuguhkan, di mana tak pernah ia lihat sebelumnya dari tayangan yang disiarkan oleh Departemen Media Great Ruler.
"Oh, jadi ... manusia dulu seperti ini? Mereka seperti ... orang-orang yang menghuni Distrik 10," ucapnya menilai.
Tony, Ego dan Akira saling melirik. Ketiga Perwira itu terlihat tegang saat melirik para Perwira lainnya yang mulai berbisik seperti melakukan penilaian atas tingkah laku Sandra dalam ruangan kaca itu.
Hingga tiba-tiba, tayangan itu berganti sendiri dengan sebuah peperangan yang terjadi beberapa tahun silam.
Mata Sandra langsung menyipit. Ia melihat peperangan yang mengerikan tersebut dengan fokus, bahkan hampir tak berkedip.
Semua orang di balik dinding yang mengawasi gerak-gerik Sandra ikut tegang.
"Apa yang harus kita lakukan, Captain?" tanya seorang tokoh prajurit dalam tayangan yang terlihat panik ketika mereka sudah terhimpit dan hampir tewas. Komandan itu terlihat bingung.
"Jangan diam saja! Pasukanmu akan mati. Kalian harus pergi dari tempat itu. Pasukan musuh akan segera datang," ucap Sandra berkomentar terlihat frustasi.
Semua Perwira dalam ruangan makin serius menyimak.
"Aku tidak tahu," jawab Komandan itu ketakutan dan malah berjongkok memegangi kepalanya.
Sandra mendengkus kesal. Ia berdiri seraya bertolak pinggang.
"Jika aku jadi kau, aku akan mengirimkan dua atau empat orang dari pasukanku untuk menyisir bangunan di sekitar. Kita bersembunyi di sana. Berpencar. Kita menyergap para tentara musuh. Gunakan apapun untuk bertahan. Saat mendapatkan peluang, kita rebut senjata mereka untuk melawan balik. Kita masih bisa selamat, walaupun resiko kematian akan kita terima. Tapi, lebih baik mati dengan berjuang dari pada meringkuk ketakutan seperti pengecut! Bangun!" teriak Sandra marah seolah-olah ia yang berada di sana.
"Hem. Bagus juga, ia tak takut mati," bisik Ego dan Akira mengangguk membenarkan.
Tiba-tiba, tayangan kembali berubah. Sandra terlihat kaget. Ia menoleh dan melihat dirinya di cermin yang memasang wajah garang ketika menonton tayangan tadi.
Ia terlihat bingung dengan dirinya saat tersulut emosi. Sandra lalu kembali duduk dan kembali tenang.
Matanya kembali ke layar televisi saat menayangkan sebuah tampilan ketika seorang gadis kecil menangis terisak karena ditinggal mati oleh kedua orang tuanya akibat kecelakaan.
"Hiks, apa yang harus aku lakukan, Mom, Dad? Aku sendirian. Aku tak memiliki siapapun di dunia ini selain kalian," ucap gadis kecil itu sedih, seraya memeluk sebuah boneka beruang cokelat dalam derasnya tetesan hujan yang membasahi tubuhnya.
Sandra terbawa suasana. Ia ikut berlinang air mata, meski tak menangis. Ia membayangkan gadis kecil itu adalah dirinya.
"Kau memang sendiri, tapi percayalah. Jauh dalam dirimu, kau gadis yang kuat. Banyak orang lain yang bernasib sama sepertimu. Sudahlah, pergi dari tempat itu. Orang tuamu sudah meninggal. Mereka tak akan tahu kesedihanmu. Orang mati, tak mungkin bisa mendengar, apalagi merasakan penderitaanmu. Tak ada gunanya kau menangis," ucap Sandra dengan wajah datar, meski tampak jelas kesedihan dalam dirinya.
Tony, Akira dan Ego terdiam. Kali ini mereka enggan berkomentar, dan memilih untuk menyaksikan Sandra yang terlarut dengan tayangan dari televisi tersebut.
"Aku ... aku akan menyusul kalian," ucap gadis kecil itu sedih.
Mata Sandra melotot. "Hei, kau gila?! Aku saja ditinggal mati oleh suamiku dengan cara yang mengenaskan bahkan kehilangan janinku, tapi aku tak sampai bunuh diri! Jangan jadi orang bodoh! Bangun, dan hadapi kenyataan pahit di hidupmu!" teriak Sandra lantang dan kembali berdiri terlihat marah.
Mata Tony, Akira dan Ego melotot. Mereka terkejut saat Sandra mengatakan jika dirinya menikah secara tidak langsung. Para Perwira langsung berbisik.
"Ini gawat," ucap Tony pucat, dan dua kawannya mengangguk membenarkan.
***
wah masih dapet tips koin lagi. makasih ya😍 lainnya gak ikutan ngetips kah🤭 Kwkwk edisi ngarep dan nglunjak😆
__ADS_1