SIMULATION

SIMULATION
SWORD AND SUSHI*


__ADS_3


Mulut Sandra menganga lebar. Ia tak percaya dengan robot yang menguasai ilmu pedang muncul di hadapannya. Robot itu terlihat tangguh dan garang, persis seperti yang dikatakan oleh Matteo.


"Kau akan berlatih bersamanya, Otka. Langkah pertama, ikutilah gerakannya. Kulihat dari tes simulasimu cukup bagus dalam menirukan gerakan. Jadi aku rasa ... latihan kali ini tak akan sulit," ucap Matteo seraya menyeruput kembali teh hijaunya.


Sebuah pedang kayu muncul dari bawah lantai yang terbuka. Sandra mengambil pedang itu dan terlihat siap untuk memulai latihannya.


"Sensor di sekitar dinding menangkap pergerakanmu, Otka. Jika kau melakukan gerakan tak sama dengan robot tersebut, Eco akan memberikan teguran," sambung Matteo seraya mengambil sebuah tusukan kayu seperti sate berisi bulatan kue dengan warna-warna indah lalu memakannya.


Matteo mengamati gerak-gerik Sandra saat wanita cantik itu menirukan setiap gerakan dari robot tersebut.


Sandra merasa jika Matteo tak melakukan apapun. Ia hanya bicara dan menikmati hidangan. Pelatihan itu dilakukan oleh robot dan asisten ruangan—Eco.


TET!


"Kuda-kuda langkah kaki Otka Oskova tidak tepat. Pastikan pijakanmu sesuai dengan papan instruksi," ucap Eco saat Sandra menyadari jika telapak kakinya tak menginjak jejak kaki berwarna merah muda di lantai.


"Wow, jadi harus benar-benar tepat ya? Oke, aku akan lebih cermat," ucapnya memotivasi diri di mana gerakan tersebut masih dalam gerak lambat, dan Sandra bisa mengikutinya.


"Hafalkan gerakan itu, Sandra. Kau akan diminta mengulang saat robot itu selesai melakukan contoh gerak. Aku berikan bocoran padamu. Aku baik 'kan?" ucapnya seraya mengunyah kue dango khas Jepang di mulutnya.


Sandra memutar bola matanya dan memilih tak menjawab, tapi ia mendengarkan petuah sang Jenderal.


Selama 1 jam, Sandra hanya menirukan 3 jenis gerakan yang dilakukan secara berulang-ulang, tapi wanita itu tak terlihat jenuh.


Gerakan tersebut meliputi menarik pedang dari sarung, melakukan pukulan ke depan, dan mengayunkan pedang seraya berputar.


TET!


"Penilaian dari hasil latihan meniru gerakan. Persiapkan diri. Dalam hitungan mundur, bersiap," ucap Eco yang mengejutkan Sandra.


Matteo terlihat tegang dan duduk tegak dalam posisi bersimpuh. Sandra berdiri tegak dengan pedang kayu masih di sarungkan di pinggang kirinya dan sorot matanya tajam menatap robot di hadapannya yang melakukan pose yang sama.


"5 ... 4 ... 3 ... 2 ... 1, go!"


"Ha! Ha! Haa!" teriak Sandra lantang saat ia melakukan tiga gerakan tersebut.


Senyum Matteo terkembang saat tiba-tiba atap ruangan itu terbuka, dan muncul taburan plastik berbentuk bunga sakura. Sandra terkejut, tapi akhirnya senyum manis itu terpancar. Matteo bertepuk tangan.


"Kau memang sangat berbakat. Kau petarung, Otka, sama sepertiku," ucap Matteo dengan senyum menawan.


"Sepertimu?" tanya Sandra menekankan.


"Ya, tentu saja. Dan, karena kita memiliki banyak waktu, lalu ... tehku juga telah diisi ulang berikut camilanku, kita lanjutkan latihannya," ucapnya seraya mengambil sebuah kue mochi yang disajikan dalam piring keramik di hadapannya.


Sandra menarik nafas dalam dan memilih mengabaikan Matteo yang merusak konsentrasi karena makanan yang disantapnya terlihat nikmat.


"Latihan level 2 dari ilmu pedang dimulai. Dalam hitungan mundur. 3 ... 2 ... 1, go!" ucap Eco memberikan instruksi.


Kali ini, Sandra mengikuti gerakan menangkis serangan dalam bentuk kombinasi. Gerakan tersebut menjadi 3 pola seperti level pertama.


Sandra mengulang gerakan tersebut selama satu jam, persis seperti yang dilakukan di level sebelumnya. Matteo terlihat fokus, tapi santai saat menemani Sandra berlatih.


TET!


"Ayunan tangan tak sesuai. Posisikan kaki selebar bahu. Jagalah agar kaki tetap terentang. Jarak kedua kaki terlalu berdekatan," ucap Eco menganalisis.

__ADS_1


Sandra tertegun, ternyata Eco cukup akurat dalam mengamati pergerakannya. Sandra mencoba memposisikan tubuhnya dengan benar seperti gerakan robot di sampingnya. Matteo tersenyum karena Sandra terlihat kesulitan kali ini.


TET!


Sandra langsung memejamkan mata, saat alarm peringatan kembali terdengar. Robot contoh itu pun ikut terdiam.


Gerakannya mematung saat alarm peringatan muncul. Sandra melemaskan tubuhnya dan mencoba menirukan semirip mungkin dengan robot tersebut.


"Ketika menangkis. Jagalah agar pedang berada di dekat tubuh sehingga kau tak perlu merentangkan tangan untuk menangkis serangan," ucap Eco. Sandra menghembuskan nafas panjang. Ia mengulanginya lagi.


TET!


"Pergerakan dan penempatan kaki adalah kunci keseimbangan. Semakin sering telapak kaki menyentuh permukaan, keseimbangan menjadi semakin baik. Dengan begitu, kekuatan yang kau salurkan dalam serangan balasan akan menjadi lebih besar," ucap Matteo tiba-tiba yang mengejutkan Sandra.


Tak lama, suara Eco terdengar, dan ajaibnya, apa yang dikatakan oleh Matteo hampir mirip dengan penjelasan dari hasil analisis Eco.


Matteo terdiam. Ia terlihat bangga pada dirinya, tapi tetap bersikap berwibawa. Sandra tersenyum tipis.


"Terima kasih atas kritikannya, Jenderal," ucap Sandra sopan dan Matteo bersulang cangkir berisi teh hijau untuk diminumnya sendiri.


Sandra kembali fokus pada latihannya hingga tes kembali dilakukan. Sayangnya, Sandra masih gagal, ia mencoba lagi hingga 3 kali dan baru dinyatakan lulus.


"Oke, break!" ucap Matteo dengan tepuk tangan dua kali saat Sandra berhasil melakukannya.


Seketika, robot petarung itu berhenti bergerak dan kembali masuk ke dalam lantai. Sandra bingung saat Matteo memintanya duduk di hadapannya.


Sandra yang merasa letih mendatangi sang Jenderal dan duduk bersimpuh di hadapannya.


"Istirahatlah selama 45 menit, lalu lanjutkan lagi. Jika terlalu memaksakan, tubuhmu akan tegang. Santai saja, dan buat latihan ini menjadi sebuah hal yang menarik, bukan beban," ucap Matteo seraya menuangkan teh hijau dari dalam teko ke cangkir keramik di hadapan Sandra.


"Terima kasih, Jenderal," ucap Sandra sopan dan Matteo mengajak bersulang.


Sandra makan dengan lahap seperti orang kelaparan. Matteo menahan senyum dan memilih untuk menikmati minum.



"Kau menyukainya? Enak?" tanya Matteo yang melihat Sandra seperti mengagumi makanan yang terbuat dari nasi, lembaran rumput laut, daging dan beberapa olahan lainnya.


"Ya. Ini enak sekali. Terima kasih, Jenderal," jawab Sandra sungkan dengan senyum manis.


"Ya, tak masalah. Kau cukup menggantinya dengan makan malam. Hem, karena seingatku saat aku mengajakmu, kau mabuk, bahkan aku menggendongmu pulang ke rumah, dan ... kau! Meninggalkan baju kotormu di rumahku."


Praktis, senyum Sandra sirna. Matteo mengatakannya dengan jelas penuh penekanan. Wanita berambut pirang itu gugup seketika.


"Habiskan. Makanan ini mahal. Terlebih, yang mentraktirmu adalah seorang Jenderal," ucapnya lagi seraya melebarkan mata mengingatkan posisi pria di hadapannya.


Seketika, makanan itu terasa sulit untuk lolos dari tenggorokannya. Sandra tak menyangka jika ternyata Matteo sangat perhitungan.


Akhirnya, sushi itu pun habis dan bersemayam di perut Sandra dengan tenang.


"Terima kasih atas makanannya, Jenderal," ucap Sandra membungkuk hormat dan Matteo mengangguk pelan.


Sandra kembali berdiri karena waktu istirahatnya telah usai. Akan tetapi, banyaknya sushi di perutnya malah membuat Sandra kesulitan bergerak.


Matteo tersenyum saat alarm peringatan dari Eco tak henti-hentinya mengoreksi tiap gerakan Sandra. Raut wajah kesal mulai tampak di paras ayunya.


"Untuk menjaga keseimbangan, bergeraklah dengan menggeser kaki, bukan mengangkat dan melangkahkannya," tegur Eco.

__ADS_1


TET!


"Memiringkan tubuh ke depan akan mengangkat tumit sehingga mengurangi keseimbangan di permukaan. Berhati-hatilah dengan penempatan dan penggunaan kaki di setiap serangan karena ini bisa memberi peluang bagi lawan untuk menghantam Anda."


Matteo terkekeh karena Sandra sampai mendengkus kesal karena dikoreksi hampir di setiap level.


TET!


"Jagalah agar tubuh tetap lurus dengan dada dan tubuh mengarah ke depan sehingga keseimbangan akan tetap terjaga ketika Anda mengayunkan pedang. Hal ini memudahkan Anda untuk menghindari serangan lawan dengan gerakan tubuh yang sederhana. Jika tubuh menghadap ke samping, Anda akan terkunci karena hanya bisa menghindari serangan dalam satu arah," ucap Eco lagi.


Matteo menahan tawanya dengan memalingkan wajah. Sandra melampiaskan kekesalannya dengan berteriak, dan hal itu malah membuat Matteo gembira sampai bertepuk tangan.


"Jenderal!" seru Sandra kesal karena merasa dipermainkan.


"Oh, kau marah. Kenapa? Aku tertawa karena hal itu memang lucu. Kau membuat Eco banyak mengomel hari ini," kekeh Matteo dari tempatnya bersimpuh.


"Kenapa bukan kau saja yang mengajari dan memberikanku kritik?" tanya Sandra menatap sang Jenderal tajam.


"Kau yakin, ingin aku yang melatihmu?"


"Yes," jawab Sandra tegas.


"Oke," jawab Matteo lalu memberikan tepukan tangan dua kali seraya berdiri.


Entah bagaimana, Matteo seperti tak mengalami kesemutan padahal ia duduk cukup lama dalam posisi bersimpuh. Sandra terlihat heran saat sang Jenderal berjalan ke arahnya dengan santai.


Robot tersebut kembali masuk ke dalam lantai dan kini posisinya di gantikan oleh Matteo. Sang Jenderal mengambil pedang kayu yang muncul dari bawah lantai lalu menggenggamnya erat.


"Bagaimana jika kita berlatih bertarung saja agar lemak sushimu berkurang?" tawar Matteo dengan tersenyum tipis.


"Bertarung?" tanya Sandra mengulang.


"Ya. Gunakan semua teknik yang kau pelajari tadi. Kau siap?" tanya Matteo seraya mengarahkan ujung pedang kayunya ke hadapan Sandra.


"Oke," jawabnya mantap.


Sandra bersiap, tapi Matteo hanya berdiri dalam posisi menyamping dengan pedang sudah ia genggam di tangan kanan, bahkan tak ada kuda-kuda yang dilakukannya.


"Aku akan melakukan free style, sedang kau, sesuai pelatihan," ucapnya menegaskan dan Sandra mengangguk paham.


"Dalam hitungan tiga, siap?" tanya Matteo dan Sandra mengangguk. "Satu ... dua ... tiga!"


"Agh!" rintih Sandra saat Matteo tiba-tiba melangkah dengan cepat seperti menggeser kakinya ke depan dengan langkah lebar.


Pria tampan itu mendadak bisa berada di hadapan Sandra dan langsung mengayunkan pedangnya ke samping hingga mengenai rusuk samping kiri Sandra.


"Hem. 1 - 0," ucap Matteo seraya melangkah mundur dengan pedang dalam genggaman menatap Sandra seksama.


Cepat sekali. Aku hampir tak melihat kapan ia menggerakkan kakinya. Aku harus waspada, ucap Sandra dalam hati dengan sorot mata tajam menatap Matteo dari kepala sampai ke kaki.


"Kenapa kau memandangiku seperti itu? Apa ... kau menyukaiku?" tanya Matteo dengan senyuman, dan hal itu malah membuat Sandra terkejut.


***


ILUSTRASI


SOURCE : GOOGLE

__ADS_1


aduh, perut lele nyeri karena diserang pasukan merah gaes😵 ini simulation sama 4YM baru bisa update 1 eps dulu ya. tar kalo ada yg tanya di kolom komentar bantu jawabin ya. kwkwkw lele nyut2an ini. semoga gak ada tipo dan tengkiyuw tipsnya🤩



__ADS_2