SIMULATION

SIMULATION
SPIDERBOT*


__ADS_3


Matteo yang telah bangun pagi itu, bergegas menuju ke Distrik 4 di bengkelnya. Sebuah ide kembali muncul di kepalanya dan kali ini berhubungan dengan HeliBug.


"Jenderal meminta kita untuk menemuinya di bengkel. Apakah ... ia akan membuat robot keren lainnya?" tanya Xili, tapi empat kawan lainnya menggeleng tidak tahu.


Kelima petugas yang dipercaya oleh Matteo segera pergi ke bengkel, memenuhi permintaan sang Jenderal. Setibanya di sana, mereka terkejut saat mendapati sebuah robot yang mereka kenal yakni jenis HeliBug sudah berada di atas sebuah meja.


"Oh, kalian tepat waktu. Bagus, segera duduk," pinta Matteo dengan Spectra melayang di sampingnya.


Kelima orang itu adalah Xili, Bablo, Wego, Rhyz, dan Imo. Para pria tersebut duduk dengan manis seperti mengikuti sebuah kelas dengan Matteo sebagai mentor mereka.


Matteo berdiri di depan laptopnya. Hari itu, kegiatan mereka diawasi oleh dua pejabat dari Great Ruler.


Untuk menghindari kasus yang terjadi seperti Morlan, setiap kegiatan yang berhubungan dengan produk ciptaan ataupun modifikasi harus diketahui oleh pejabat yang terkait.


"Hallo, selamat pagi Laksamana Joe dan Mayor Kyel," sapa Matteo dari sambungan video. Dua pejabat tersebut mengangguk pelan. "Oke, jadi begini. Aku terpikirkan sebuah ide untuk memodifikasi HeliBug menjadi HeliBot," tegasnya. Semua orang diam menyimak. "Aku melihat jika HeliBug bisa difungsikan lebih baik lagi. Banyak ruang di dalam HeliBug yang tak digunakan secara maksimal. Oleh karena itu, aku mengusulkan ... SpiderBot," ucapnya.


"SpiderBot? Laba-laba robot?" tanya Laksamana Joe dan Matteo mengangguk membenarkan.


"Sepertinya akan seru," sahut Wego dan keempat kawan prianya mengangguk setuju.


KLIK! PIP!



Sebuah design muncul di layar proyeksi. Semua orang menatap benda yang diyakini adalah SpiderBot dengan saksama.


"Apa keistimewaannya, Jenderal?" tanya Mayor Kyel mulai melakukan tugasnya untuk meminta detail dari proyek yang diajukan.


"Spy."


"Spy? Mata-mata?" tanya Kyel menegaskan dan Matteo mengangguk.


"SpiderBot aku rancang untuk hidup di dalam HeliBot nantinya. Ia akan keluar dari bagian cangkang atas HeliBot dekat baling-baling utama. Penutup itu akan terbuka secara otomatis saat SpiderBot akan ditugaskan. Robot berkaki delapan seperti laba-laba itu aku harapkan bisa berukuran kecil yakni dua centimeter. SpiderBot memiliki sebuah kamera pengintai di bagian kepala. Kalian lihat warna merah seperti mata itu? Ya, itulah fungsinya. Kamera tersebut bisa menangkap sensor panas tubuh manusia dan penglihatan dalam gelap. Kedelapan kakinya akan kulengkapi dengan senjata laser yang mampu melubangi logam," tegasnya menjelaskan.


"Dua centimeter? Kecil sekali," tegas Joe terlihat tak sependapat.


"Spy, Laksamana. Jika robot mata-mata berukuran besar seperti robot kita level C, kenapa aku harus repot-repot membuat SpiderBot? Semakin kecil, semakin tak terdeteksi. Ditambah, robot ini terlihat seperti laba-laba. Jujur, aku memang belum pernah melihat laba-laba sungguhan, tapi di buku yang pernah kubaca dan ... ada gambar di sana, kurang lebih berbentuk seperti ini," jawabnya sedikit gugup.


"Ya, itu seperti laba-laba, tapi ... versi kerennya. Bagus juga," celetuk Kyel, dan Matteo tersenyum lebar.


"Bagaimana sistem kerja SpiderBot? Apakah dia bersinkronisasi dengan HeliBot nantinya?" tanya Joe mempersempit tugas robot mini tersebut.


"Ya. Dia tetap terhubung dengan satelit kita sama seperti saat mengoperasikan HeliBug. Cengkeraman di kedelapan kakinya bisa membuatnya berjalan di dinding, seperti laba-laba sungguhan. Kalian lihat bokong dari laba-laba itu?" tanya Matteo seraya menunjukkan bagian belakang robot barunya.


"Bokong?" sahut Imo memastikan pendengarannya.


"Ya, karena benda berbentuk kotak itu ... ada di bagian belakang tubuh laba-laba. Memang apa kalau bukan bokong?" tanya Matteo bingung karena ternyata, baik dirinya ataupun para operator tak pernah ada yang melihat wujud laba-laba asli.


Sedang Kyel dan Joe terkekeh di mana mereka hidup lebih lama ketimbang para generasi muda itu.


"Hahahaha! Bokong! Seleramu bagus juga, Jenderal. Laba-laba punya bokong. Ya, dia sepertimu," kekeh Joe gembira, begitupula Kyel. Matteo terlihat kikuk karena ditertawai. "Oke lanjutkan. Maaf, hanya saja ... aku tak tahu jika kau bisa bercanda juga. Bagus, Jenderal," sambung Joe dan Matteo mengangguk sungkan.

__ADS_1


"Jadi soal bokong, ah!" ucapnya lalu mendadak terdiam. Semua orang menahan senyum. "Maksudku ... ah sudahlah, kita sebut saja bokong," sambungnya pasrah. Orang-orang kembali terkekeh. "Jadi, bagian bokong laba-laba ini, berpusat sebagai penerima dan pengirim sinyal. Akan ada operator yang mengendalikannya. Dan semua SpiderBot yang diaktifkan bisa saling terhubung. Mereka bisa mengirimkan video dan foto saat menjadi mata-mata," tegasnya.


"Bagaimana dengan suara? Apakah ... bisa juga?" tanya Kyel.


"Akan aku usahakan, Mayor. Aku ingin robot ini memiliki banyak fungsi. Hanya saja, karena ukurannya kecil, ada keterbatasan dalam muatan data tentunya. Oleh karena itu, aku tak ingin membebani robot tersebut. Aku ingin dia tetap lincah dan terlihat senatural mungkin saat bekerja," sambungnya.


Semua orang diam mencoba menelaah ucapan dari sang Jenderal.


"Bagaimana dengan beban dari HeliBot sendiri?" tanya Bablo penasaran.


"Pertanyaan bagus. HeliBot bisa menyimpan SpiderBot di dalam tubuhnya seraya membawa beban sebuah robot baik level E, C, B atau A nantinya. Hanya saja, jumlah SpiderBot masih akan aku batasi kurang lebih 10 buah per HeliBot agar dua robot itu bisa bersanding tanpa saling membebani saat bertugas," sambungnya.


"Tadi Anda mengatakan, fungsi laser kakinya bisa melubangi logam. Apakah ... ia juga bisa menjadi sebuah robot untuk aksi penyelamatan?" tanya Rhyz penasaran.


"Ya, kau benar, Rhyz. Kita tak pernah tahu kejadian buruk di luar sana. Bisa saja kita mengirim HeliBot dan SpiderBot untuk mencari robot kita yang dicuri atau mungkin salah satu penduduk kita yang tersesat. Dengan laser itu, kita bisa membebaskan orang atau produk buatan kita dan membawanya kembali dengan selamat," jawab Matteo mantap.


"Oh. Aku setuju dengan usul Jenderal. Aku rasa, SpiderBot dan HeliBot akan berkolaborasi dengan baik," sahut Imo.


"Hei, bukan kau yang memutuskan, tapi pejabat," tegas Rhyz dan Imo meringis malu.


"Aku suka idemu, Jenderal. Kau selalu mengesankan. Akan aku rundingkan dengan para pejabat lainnya," ucap Joe.


"Ya. Presentasimu sudah direkam dan akan segera aku siarkan kepada semua pejabat. Aku harap, satu hari bisa membuat keputusan karena pekerjaan ini tak membutuhkan banyak waktu hingga tahunan dan juga biaya yang besar. Benar 'kan?" tanya Joe seraya menaikkan salah satu alis.


"Ya, benar sekali, Laksamana. Selain itu, jika produk ini disahkan, aku ingin membuatnya secara masal mengingat jumlah HeliBug kita sangat banyak. Dengan bantuan orang-orang cerdas di Great Ruler, seharusnya ... cukup satu minggu untuk diselesaikan karena kita memiliki semua perlengkapan dan teknologinya," tegasnya.


"Baik. Terima kasih atas presentasimu. Semoga ... kabar baik berpihak padamu, Jenderal. Selamat pagi," ucap Kyel dan diikuti oleh Joe yang ikut memutus sambungan video.


"Jadi ... apakah SpiderBot sudah dibuat? Prototype-nya maksudku?" tanya Wego penasaran.


"Belum."


"Ha?!" pekik lima orang itu dengan mata melotot.


"Oleh karena itu, aku memanggil kalian semua. Aku sudah siapkan design dan juga teknis pembuatannya, jadi ... selamat mengerjakan. Semua bahan yang kalian butuhkan ada di bengkel ini. Aku harap, sebelum makan malam semua telah selesai. Jangan khawatir, aku sudah siapkan Purple untuk melayani kalian dan juga Roboto. Aku pergi dulu dan saat aku kembali, SpiderBot-ku telah selesai. Selamat bekerja," ucap Matteo seraya menepuk pundak Xili dengan senyum lebar.


Lima operator itu mematung karena mendapatkan pekerjaan sulit dari sang Jenderal.


"Kurang berapa jam lagi hingga makan malam menjelang?" tanya Bablo tegang.


"Mm ... sekitar .... 10 jam lagi?" jawab Rhyz pucat.


"Sial. Kita dikerjai oleh Jenderal," sahut Wego lemas.


Namun, mereka tak mau membuang waktu. Roboto mengawasi kinerja kelima pemuda itu saat di bengkel sang Jenderal.


Purple mulai menyiapkan cemilan pendamping untuk para pria yang bekerja keras pagi itu. Seketika, bengkel yang tadinya sepi menjadi sibuk seketika.


Akhirnya, tepat pukul 8 malam, sang Jenderal kembali ke bengkel bersama Spectra. Kening pria bermanik biru itu berkerut ketika mendapati lima petugas yang diminta olehnya membuat SpiderBot malah duduk santai menikmati sajian yang Purple hidangkan.


"Ehem!"


Praktis, suka cita itu sirna. Kelima pemuda itu langsung berdiri tegap seraya menghapus sisa makanan yang masih menempel di pakaian serta mulut mereka.

__ADS_1


"Presentasi," pinta Matteo dengan wajah datar.


Xili dengan sigap berdiri di samping meja panjang dengan HeliBug yang telah dimodifikasi menjadi HeliBot.


Matteo berdiri di kejauhan dengan kedua tangan di belakang pinggang menunggu penjelasan pekerjaan dari anak buahnya. Namun, Xili malah mematung karena ditatap tajam oleh sang Jenderal.


"Mm ... Wego!" panggil Xili gugup menunjuk kawannya yang telah siap dengan pengendali dari laptop yang berada di bengkel tersebut.


Mata Matteo terfokus pada pergerakan Wego ketika mengendalikan joystick. Perlahan, HeliBot tersebut terbang.


Xili menunjukkan pada layar besar yang terpampang mengenai pergerakan dari HeliBot tersebut di dalam bengkel.


"Hem, gambar dari tangkapan kamera bagus. Pergerakan HeliBot juga stabil. Kerja bagus. Suara baling-baling tak berisik, terpaan anginnya tak terlalu kencang. Oke, selanjutnya," ucap Matteo berkomentar.


Wego mendaratkan HeliBot di atas salah satu tangan robot pekerja. Mata Matteo kini tertuju pada Imo yang memegang sebuah joystick dengan sebuah layar tablet di hadapannya.


Matteo melihat dari layar utama saat robot-robot kecil dari dalam HeliBot keluar sesuai permintaannya. Matteo tersenyum lebar.


Cangkang terbuka dengan mulus tanpa tersendat. Matteo mendekat dan melihat secara langsung saat kesepuluh SpiderBot itu keluar dari robot induk dan berpencar ke segala arah.


"Aku ingin lihat sepuluh tampilan dari tangkapan SpiderBot," pinta Matteo menunjuk layar utama. Dengan sigap, Rhyz memproses permintaan sang Jenderal di meja kendali.


Satu layar utama sebesar 10 inch terbagi menjadi 10 gambar dari kamera pengintai di kepala SpiderBot. Matteo tersenyum lebar.


Ia lalu meminta kepada Imo untuk memfokuskan SpiderBot yang diberi nama SB-1 sampai dengan SB-10 untuk membuat mereka bergerak secara terpisah. Senyum Matteo merekah.


PLOK! PLOK! PLOK!


"Hebat sekali! Kalian mengerjakan sesuai dengan permintaanku. Rapi dan cepat. Kerja bagus," ucap Matteo memuji bertepuk tangan. Praktis, semua orang di bengkel tersebut merasa bangga.


"Namun tetap, akulah si jenius itu karena membuat ide cemerlang ini," ucapnya bangga memuji diri sendiri.


Seketika, senyum merekah dari kelima pemuda itu sirna. Wajah masam menghiasi paras mereka.


Ternyata, Matteo menyadari hal tersebut. Ia menyentuh punggung Spectra dan robot pintar itu mendekati kelima pemuda tersebut. Xili dan lainnya menatap Spectra saksama.


"Kalian mendapatkan tiket bermain sepuasnya di Distrik 2 Sentra Video Games dan mendapatkan vocer makan gratis di restoran milik adik Captain Tony di Distrik 1 Kota Zalama selama 7 hari. Tiket dan vocer bebas digunakan kapan pun dalam jangka waktu selama 1 tahun sebelum habis masa berlaku. Selamat," ucap Spectra menunjukkan hadiah dari sang Jenderal dari dadanya yang menampilkan video tersebut.


Praktis, mata orang-orang itu berbinar seketika.


"Wah, terima kasih, Jenderal!" seru kelima orang tersebut serempak.


Tampak, wajah bahagia terpancar dari para petugas itu. Matteo menatap anak buahnya lekat di mana ia juga ikut bahagia karena ini pertama kalinya ia mentraktir anggota padahal nilai yang ia keluarkan tidak seberapa.


***


ILUSTRASI


SOURCE : GOOGLE



Uhuy tengkiyuw tipsnya❤️ Lele padamu😍

__ADS_1


__ADS_2