
Malam itu, Sandra terlihat sibuk mempelajari tentang senjata-senjata yang diberikan Tony padanya.
Sandra juga mempraktekkannya, meski masih terlihat kaku, tapi semangatnya untuk bisa menjadi User membuatnya terus berusaha.
Hingga akhirnya, rasa lelah mulai menjatuhkan semangat wanita bermanik biru itu. Rasa kantuk dan lapar, membuat Sandra kembali merapikan semua perlengkapan tersebut dan memasukkannya kembali ke tas milik Tony.
Sandra yang berkeringat, kembali membersihkan diri dan menyempatkan makan sebelum pergi tidur.
"Hem, aku cukup yakin jika pria bertindik itu sama persis dengan yang ada di mimpiku. Bagaimana itu bisa terjadi? Apa ... aku pernah mengenal dia sebelumnya?" guman Sandra sembari mengunyah roti panggang.
Sandra terlihat memikirkan semua hal itu dengan serius. Malam semakin larut. Sandra membaringkan tubuhnya yang kini merasa lebih baik setelah perutnya terisi dan punggungnya merasakan kelembutan dari matras tempat tidurnya.
"Good night, Rey," ucapnya seraya tersenyum.
"Good night, Sandra," balas Asisten ruangan dengan suara menenangkan.
***
PIP! PIP!
Sandra membuka matanya perlahan. Ia mendengar suara pesan masuk dari asisten ruangan.
"Good morning, Sandra," sapa Rey seraya membuka tirai jendela.
Sinar menyilaukan dari matahari yang bersinar terang membuat Sandra memalingkan wajah dan terpaksa bangun, meski terlihat masih sangat lelah.
"Good morning too, Rey. Ada pesan untukku?" tanya Sandra dengan suara parau.
"Ya. Panggilan dari Otka. Anda ingin menghubunginya kembali? Otka sudah menelepon sebanyak 3 kali sejak pukul 6.15 am."
"Oh, dia meneleponku? Oke, sambungkan," pinta Sandra segera beranjak dari kasur dan berjalan menuju dapur untuk meminum segelas air hangat.
"Sandra!"
"Hei. Ada apa, Otka?" jawab Sandra hampir tersedak karena Otka memekik.
"Aku ... hiks, aku tak mungkin lolos untuk menjadi User. Hiks, aku harus bagaimana?"
Mata Sandra melebar. Ia terlihat kaget mendengar hal tersebut.
"Dari mana kau tahu?" tanyanya seraya meletakkan gelas dan kini duduk di kursi meja makan terlihat serius.
"Aku ... aku mencoba permainan simulasi di Distrik 2 selama beberapa minggu ini. Robot analisis mengatakan jika aku tak mungkin bisa lolos. Robot itu membaca reflek dan tingkat intelegensiku selama bermain. Data menyebutkan, 89% aku gagal, Sandra. Hiks, aku ... aku harus bagaimana?" tanyanya sedih.
Perasaan Sandra ikut kacau mendengar keterpurukan Otka. Ia memijat kepalanya yang mendadak terasa berat dengan tubuh membungkuk dan wajah menatap lantai. Namun tiba-tiba, ia menaikkan pandangan.
"Otka! Apa ... kau bisa membawaku ke Distrik 10?" tanya Sandra terpikirkan sesuatu.
"Ya, bisa saja. Tapi, kita harus cepat. Polisi perbatasan robot level E mulai memperketat penjagaan. Paling lama 1 atau 2 jam. Kenapa?" tanya Otka bingung.
"Akan aku jelaskan nanti. Kita bertemu di Distrik 9. Oke?"
"Oke, oke. Sampai jumpa," jawabnya lalu menutup panggilan.
Sandra segera bergegas untuk bersiap. Ia membawa tas berisi perlengkapan yang diberikan oleh Tony. Sandra bahkan membawa seragam yang diberikan oleh Komandan Ego.
Sandra segera pergi meninggalkan Apartemen menuju ke Distrik 9 menggunakan kereta cepat. Sandra terlihat tegang tak seperti biasanya. Ia ingat betul keadaan di Distrik 10 termasuk perbatasannya.
Siang itu, ia dan Otka bertemu di dekat gerbang perbatasan Distrik 9. Otka terlihat begitu sedih. Ia memeluk Sandra dengan mata berlinang.
__ADS_1
"Oke, kita cari tempat untuk bicara," ajak Sandra dengan senyum terkembang dan Otka mengangguk dengan wajah sembab.
Mereka duduk di sebuah Cafe yang menghadap tembok perbatasan cukup tinggi. Berbeda dengan tembok pembatas Distrik lainnya.
"Apa yang ingin kaubicarakan, Sandra?" tanya Otka setelah meneguk segelas orange jus, dari 2 gelas yang sudah ia habiskan sebelumnya untuk menenangkan hatinya yang kalut.
"Kau bilang memiliki teman di dalam Distrik 10. Boleh kutahu, siapa dia?" tanya Sandra serius.
Otka mengangguk. "Dia bernama Vemo, laki-laki, bertindik. Hanya saja, kudengar dia tak lulus untuk menjadi warga Great Ruler saat seleksi terakhir. Dia memiliki catatan hitam. Usaha ilegalnya diketahui oleh polisi, jadi ... berapapun dia berusaha, sepertinya akan sia-sia," jawabnya dengan wajah tertunduk.
"Memang ... apa usahanya?"
"Tato. Dia bisa membuat barcode seperti milik kita, Sandra. Dia punya teknologinya. Entah bagaimana dia bisa melakukannya, tapi Vemo dalam pengawasan khusus karena teknologi itu tak ditemukan oleh pihak Kepolisian. Great Ruler sengaja mengurungnya di Distrik 10 dan tak dilepaskan keluar benteng."
Sandra diam sejenak. Ia terlihat seperti berpikir serius.
"Bawa aku ke tempat Vemo. Aku rasa, temanmu itu jalan keluar dari kesulitanmu," ucapnya yakin seraya memegang tangan Otka kuat.
Otka terlihat bingung, tapi ia mengangguk. Otka menggunakan identitas milik ayahnya dulu untuk masuk ke Distrik 10.
Ternyata petugas perbatasan itu adalah kawan baik Roves. Dia mengizinkan, tapi hanya diberikan waktu maksimal 2 jam untuk berada di sana. Otka dan Sandra sangat berterima kasih.
Di dalam Distrik 10, Otka segera membawa Sandra ke tempat Vemo berada. Ternyata, kediaman pria itu masuk cukup dalam dan jauh dari keramaian para warga yang berkumpul di pusat kota.
"Ingat. Jangan bertanya apapun padanya, dan jangan mengajukan pertanyaan padaku, begitupula sebaliknya. Kau hanya perlu menjawab apa yang ia tanyakan. Vemo, orang yang cukup kasar, Sandra. Aku tak ingin kau terluka," ucap Otka terlihat khawatir. Sandra mengangguk paham, meski terlihat tegang.
TOK! TOK! TOK!
"Vemo! Ini aku, Otka."
CEKLEK!
"Kenapa dengan wajahmu?" tanya Otka bingung.
"Kau bertanya?" tanya Vemo melirik Otka garang.
Otka tersentak, ia baru ingat peringatan yang baru saja ia katakan pada Sandra. Otka panik seketika.
"Ya, dia bertanya padamu. Dia khawatir," jawab Sandra cepat. Vemo mengalihkan pandangan dan kini menatap Sandra tajam.
"Kau siapa?"
"Sandra."
Vemo melihat dua wanita di depannya bergantian. Ia membuka pintunya lebih lebar dan mempersilakan dua tamunya untuk masuk dengan sentakan kepala. Otka menggandeng tangan Sandra dan mengajaknya masuk ke dalam.
Sandra terlihat kagum. Ia meletakkan tasnya seraya melihat sekeliling. Sandra mendapati banyak lukisan indah di sana yang di dominasi warna hijau, hitam dan merah.
Kertas-kertas yang dilukis dengan banyak ornamen unik di tempel pada dinding yang terbuat dari papan kayu.
BRUKK!
"Oh!" pekik Sandra terkejut saat punggungnya menabrak Vemo yang ternyata berdiri di belakangnya.
Sandra membalik tubuhnya. Ia terlihat takut dan melangkah mundur saat Vemo terus mendekatinya dengan sorot mata tajam.
"Apa kau ingat padaku?"
__ADS_1
Kening Sandra berkerut. Ia mengedipkan mata berulang kali seraya melihat sosok di depannya dari atas ke bawah dengan cermat.
"Aku tak mengenalmu sebelumnya. Hanya saja, aku melihatmu dalam mimpiku, dan kemarin saat kau gagal tes. Maaf."
Kening Otka berkerut, ia ingin mengajukan pertanyaan, tapi ia ingat aturan di rumah Vemo. Otka memilih diam dan terus memandangi dua orang di hadapannya penuh rasa penasaran.
"Kenapa kau datang kemari?" tanyanya mengunci pandangan pada wajah Sandra seorang.
"Kudengar, kau bisa membuat barcode. Namun, apakah kau bisa menukar barcode? Maaf, bertanya, tapi ... itulah tujuanku datang kemari. Aku ingin tahu."
Kening Vemo berkerut. Otka terlihat bingung dengan perkataan Sandra, tapi ia juga khawatir jika kawannya itu terluka karena mengajukan pertanyaan pada Vemo.
Tiba-tiba, Vemo tersenyum. Ia mengangguk pelan.
"Kau ... bisa menukar barcode?"
"Stttt, aku sudah menjawabnya, jangan bertanya lagi. Kau kuizinkan melanggar peraturanku, tapi hanya satu kali," jawabnya seraya meletakkan telunjuk kanannya di bibir Sandra. Wanita cantik itu mengangguk paham dan membungkam mulutnya rapat.
"Ditukar dengan siapa?"
"Otka."
Otka terkejut, ia ingin bertanya, tapi kembali di tahan. Vemo melirik Otka sekilas dan pandangannya kembali kepada Sandra.
"Kenapa?" tanya Vemo yang masih memepet tubuh bagian depannya ke tubuh Sandra. Wanita berambut pirang sebahu itu merasa tak nyaman dengan sikap Vemo, tapi ia tahan demi tujuannya.
"Otka dan keluarganya akan terusir dari Great Ruler. Aku tak ingin itu terjadi. Jadi, aku ingin menggantikannya. Otka akan tetap bisa hidup di Great Ruler. Ia akan bekerja pada kawanku Eliz yang membuka usaha restoran bulan depan."
Otka menangis. Ia tak menyangka jika Sandra rela mengorbankan kehidupannya di Great Ruler demi orang yang belum lama ia kenal.
"Kenapa?" tanya Vemo lagi dengan mata menyipit makin menatap Sandra tajam.
"Aku sudah tak memiliki siapapun di Great Ruler, Vemo. Jikalau aku gagal menjadi seorang User, aku bisa hidup di luar sana, atau mungkin hidup di Distrik 10 sepertimu."
Vemo menatap Sandra tajam. Otka tak bisa menghentikan air mata yang terus menetes di mata indahnya.
Vemo tersenyum seraya meraih pergelangan tangan Sandra dan melihat barcode di tangannya. Ia mengayunkan tangan dan meminta Otka mendekat. Vemo mensejajarkan dua barcode dua wanita itu dan mengamatinya seksama.
"Aku bisa melakukannya. Aku cukup memodifikasinya. Garis barcode ini tak begitu berbeda. Mungkin, kalian akan percaya dengan keajaiban Tuhan, atau ... ini kebetulan?" tanya Vemo tersenyum miring kembali menatap Sandra.
"Aku lebih percaya dengan kemampuanmu jika ini sungguh berhasil," jawab Sandra tegas.
"Apa bayaranku? Ini mahal dan pertama kali kulakukan," tanya Vemo dan Sandra segera menarik tangannya.
Sandra menyingkir dari hadapan Vemo dan membuka tas yang ia letakkan dekat pintu mengambil beberapa benda.
Otka dan Vemo menatap Sandra tajam dari tempat mereka berdiri. Sandra membawa beberapa benda dalam dekapannya dan menunjukkannya pada Vemo.
"Ini adalah gelang pemberat. Benda ini milik militer, tak semua orang memilikinya. Ini bayaranmu, termasuk detektor oksigen dan tablet pengendali. Aku rasa ini sudah lebih dari cukup."
Senyum Vemo terkembang. Ia mengambil dua gelang pemberat, detektor oksigen dan tablet tersebut. "Deal."
Otka menatap Sandra tajam dan wanita cantik itu hanya tersenyum dengan anggukan.
***
ILUSTRASI
SOURCE : GOOGLE (pxfuel.com)
__ADS_1
Maap baru up. Masih gak enak badan plus kerjaan setinggi gunung. Trims sudah menunggu💋Jangan lupa like dan komennya ya~