SIMULATION

SIMULATION
ABOUT AKIRA


__ADS_3

Selama seminggu penuh, Sandra mempelajari ilmu pedang dari Akira secara langsung. Akira mengajarkan penggunaan dari pedang laser dari semua jenis yang dibuat oleh Departemen Divisi Persenjataan Great Ruler.


Sandra yang sudah mengantongi ilmu dasar saat berlatih dengan robot mentor, tak mengalami kendala. Tubuhnya tetap lincah, gesit dan tangkas saat melakukan tanding dengan instrukturnya itu menggunakan pedang asli.


"Kau takut terpotong oleh pedangku, Otka Oskova? Ingat, walaupun tubuh aslimu nanti berada di mesin simulator, tapi robotmu yang berada di lapangan. Kau harus tetap memposisikan dirimu seperti berada di medan sesungguhnya. Kau harus menjaga robotmu agar tak rusak seperti kau melindungi nyawamu sendiri. Kau paham?" tegas Akira seraya mengambil kuda-kuda, siap untuk melakukan penyerangan lagi.


Sandra mengangguk mantap. Ia memikirkan dengan serius ucapan Akira.


Benar kata Akira. Aku tak boleh mengandalkan robotku. Akulah pengendalinya, ucap Sandra mantap menguatkan hatinya.


"Cukup melamunnya. Harg!" seru Akira lantang saat melangkah dengan cepat seraya menggenggam gagang pedangnya kuat di samping dada kanan.


Akira terlihat begitu berambisi untuk menebas Sandra. Wanita itu merasakan dirinya terpojok dan hanya bisa terus menangkis serangan mematikan itu seraya melangkah mundur.


BRUKK!!


"Hah!" kejutnya saat ia tersandung oleh langkahnya sendiri dan jatuh terlentang hingga pedangnya terlepas.


"Meskipun kau jatuh, jangan sampai pedangmu terlepas. Itu sama saja, kau kalah. Jika sampai hal itu terjadi saat melawanku lagi, kau akan merasakan hukuman berat dariku, Otka Oskova," ucap Akira dengan wajah bengis.


Sandra menelan ludah. Akira terlihat begitu serius. Wajah lugu dan keramahannya seakan sirna saat ia bersungguh-sungguh dalam bertarung.


"Oke," jawab Sandra gugup sembari mengambil pedangnya lalu berdiri.


Tiba-tiba, terdengar suara seseorang bertepuk tangan saat memasuki ruangan. Praktis, kepala Sandra dan Akira menoleh. Matteo datang ditemani Spectra seraya menunjukkan senyum menawan.


"Sebagai seorang pria, aku iri padamu, Komandan Akira. Kau sungguh hebat. Turun temurun dari generasi ke generasi, ilmu pedangmu memang tak diragukan. Semoga, anakmu kelak ikut menuruni bakatmu," ucap Matteo memuji dan Akira membungkuk hormat hingga 90°.


"Jangan sungkan memberikan pelatihan berat pada Otka Oskova, dia senang ditekan. Semoga, kau berhasil, Otka. Kami mengandalkanmu," ucap Matteo dengan kedua tangan saling menggenggam di belakang pinggang lalu pergi.


"Hem. Kau sepertinya sangat akrab dengan Jenderal, Otka," ucap Akira menekan seraya mengayunkan pedangnya ke samping saat berjalan memunggungi Sandra.


Sandra terlihat canggung dan berusaha untuk tetap tenang.


"Jenderal akrab dengan semua orang, Komandan Akira. Aku bukan orang spesial di hidupnya. Ayo, lagi," jawab Sandra serius telah bersiap dengan kuda-kudanya.


"Majulah," tantang Akira tersenyum miring.


"Heyahh!" teriak Sandra lantang saat ia melangkah maju seraya menyabetkan pedangnya ke arah dada Akira, tapi sang Komandan dengan sigap mampu menangkisnya.


Sandra menyerang dengan ketat hingga Akira tak memiliki celah untuk melakukan serangan balasan.


TRANGG!!


Percikan api muncul saat dua pedang laser tersebut saling bergesekan. Akira dan Sandra beradu kekuatan ketika dua pedang itu saling mendorong untuk menunjukkan kehebatan.


Tiba-tiba, DUAKK!


"Ugh!" rintih Akira saat Sandra menggunakan kaki kanannya untuk menendang paha kiri sang Komandan hingga pria Asia itu roboh dengan satu kaki tertekuk. "Kau," geramnya menunjuk ketika pedang mereka sudah tak saling beradu lagi.

__ADS_1


"Ups, sorry," jawab Sandra meringis.


"Hah! Aku lapar," jawab Akira seraya mematikan pedang lasernya. Sandra terkejut, tapi ikut mematikan laser pedangnya.


"Traktir aku sushi," pinta Akira seraya berjalan melewati Sandra lalu meletakkan pedangnya ke sebuah dinding yang memiliki magnet sehingga tak memerlukan penyangga untuk menopangnya.


"Oke," jawab Sandra mengikuti arahan Akira lalu berjalan berdampingan keluar dari Dojo.


Terlihat, dua orang itu seperti mengobrol akrab. Diam-diam, Spectra mengamati dari kejauhan gerak-gerik mentor dan anak didik itu ketika keluar dari gedung pelatihan menuju ke Plaza.


"Jika Eliz tahu, pasti dia akan mengaum," ucap Matteo kesal seraya mengunyah biskuit pemberian puteri Zua yang tersisa 5 buah dalam toples.


Akira dan Sandra makan disebuah restoran yang menyuguhkan hidangan masakan Jepang. Kali ini, Sandra tak keberatan mentraktir calon suami Eliz. Sandra terlihat gugup karena ia tak pernah sedekat ini dengan Akira.


"Jadi ... sudah sejauh mana persiapan pernikahan kalian?" tanya Sandra membuka obrolan seraya menunggu sajian dihidangkan.


Akira menoleh terlihat waspada dengan sekitar. Sandra terlihat bingung dan ikut melirik. Namun akhirnya wanita itu paham. Akira khawatir jika kamera pengawas merekam pembicaraan mereka.


"Tunggu saja undangan dari kami," jawab Akira seraya menuang teh hijau dari teko keramik ke cangkirnya. Sandra mengangguk pelan.


Sebenarnya, wanita cantik itu ingin menanyakan banyak hal, tapi ia juga takut jika keceplosan yang membuat jati dirinya terbongkar.


Sandra menatap Akira lekat dan baru menyadari jika pria bertubuh atletis itu memiliki sebuah tato di pergelangan tangan lainnya yang tak tercetak barcode.


"Maaf, Komandan. Itu ... tato apa?" tanya Sandra menunjuk karena terlihat sebuah gambar seperti hewan.


"Mm ... tadi jika tak salah dengar, Jenderal Matteo mengatakan tentang ... generasi dari kaummu. Jika boleh tahu, apa maksudnya? Sepertinya ada kisah menarik dari generasi keluargamu, Komandan. Itu pun ... jika kau tak keberatan," ucap Sandra penuh selidik.


Tak lama, pesanan sushi datang berikut hidangan lainnya yang dipesan Sandra. Wanita cantik itu seperti menunggu sang Komandan untuk menceritakan kisah leluhurnya. Akira menghembuskan napas panjang.


"Konon katanya, leluhurku adalah penyembah Ryujin. Apa kau tahu, kisah dari Dewa Naga Air yang tinggal di laut dan berasal dari Jepang itu?" Sandra menggeleng.


Akira dengan lahap memasukkan sebuah sushi ke mulut lalu mengunyahnya. Sandra masih diam menyimak dengan sumpit dalam apitan jemarinya.


"Menurut cerita yang dikisahkan oleh para tetua hingga terakhir sampai di telingaku, para leluhurku melindungi naga itu dengan menjadi nelayan. Hingga suatu ketika, Ryujin sang dewa naga itu diburu untuk dibunuh karena dianggap mencuri sebuah permata dari seorang manusia. Lalu ... Ryujin memberikan sebuah kemampuan kepada orang-orang yang menyembahnya."


"Ilmu pedang," tebak Sandra dan Akira mengangguk.


"Para leluhurku yang awalnya menggunakan pedang hanya untuk memotong bambu untuk membuat kapal dan perabotan lainnya, berubah menjadi ahli pedang. Mereka bertugas untuk melindungi Ryujin dari siapapun yang berniat untuk membunuhnya. Yah, leluhurku mampu menjalankan amanat itu dengan baik bahkan bisa mengembangkan ilmu pedang tersebut menjadi beberapa jurus dan teknik-teknik hebat lainnya hingga muncullah julukan Samurai pada masanya," ucapnya menjelaskan.


Sandra mengangguk paham, tapi ia malah semakin penasaran. Sedang Akira, terlihat santai dalam menjelaskan seraya menikmati sushinya dalam suapan besar seperti langsung menelannya.


"Lalu ... bagaimana caranya leluhurmu bisa bergabung dengan Great Ruler. Maksudku ... dalam ilmu geografi yang kupelajari, Kepulauan Jepang berada di luar dari wilayah Great Ruler," tanya Sandra masih bertahan dengan sumpit dan belum menyuapi mulutnya.


"Oh. Untuk itu ... seharusnya kau bertanya kepada Wakil Presiden Lala. Dia menjadi ahli sejarah Great Ruler. Ia mempelajari lebih banyak tentang asal muasal orang-orang yang tinggal di sini. Dia seperti ... perpustakaan dalam wujud manusia?"


Sandra terkekeh. Julukan Akira yang menyamakan wakil presiden mereka dengan sebuah perpustakaan membuat Sandra tak bisa menahan rasa gelinya membayangkan. Tiba-tiba saja ....


"Kepada Komandan Akira. Anda diharapkan menemui Wakil Presiden Lala di kantornya tepat pukul 2 siang. Peringatan ini akan terus disampaikan sampai Anda tiba di lokasi. Terima kasih," ucap Eco asisten ruangan yang mengejutkan dua orang itu.

__ADS_1


"Sial. Agh, dasar kamera pengawas tukang adu," gerutu Akira menatap tajam kamera pengawas di ujung ruangan yang menyorot ke arah mereka.


Sandra hanya bisa meringis dan diam saja tak berani berkomentar karena takut ikut dipanggil. Akira dengan segera menghabiskan makanannya.


"Kau yang bayar. Aku pergi dulu, hempf," keluhnya dengan wajah masam saat meninggalkan Sandra sendirian di restoran Jepang itu.


Sandra menahan senyum karena tak menyangka jika ucapan dan gerak-gerik mereka akan terpantau oleh kamera pengawas.


Namun, Sandra sungguh penasaran. Ingin rasanya ia pergi ke Perpustakaan untuk mencari tahu, tapi ia tak bisa keluar dari tempat itu sampai ia dinyatakan lulus menjadi User dan di wisuda.


Sandra menikmati makan siangnya sendirian tanpa Akira. Hanya ada beberapa orang di sana yang duduk menikmati hidangan dengan nyaman.


Sandra kembali ke kamarnya usai menikmati makan siang. Saat ia akan masuk, Spectra muncul dengan sebuah toples kosong dalam genggaman tangannya. Sandra berkedip berulang kali karena mengenali toples tersebut.


"Halo, Otka Oskova. Kata Jenderal Matteo, terima kasih atas biskuit lezatnya. Sebagai gantinya, ia mengajak Anda makan malam bersama. Bagaimana?"


Praktis, mata Sandra melebar. Ingatannya akan kejadian terakhir kali untuk makan malam malah berakhir di ranjang meski saat itu Matteo berubah menjadi Blue.


Sandra terlihat gugup, tapi ternyata, hal serupa juga terjadi dengan sang Jenderal yang menunggu jawaban Sandra dari mata Spectra yang kini memiliki fungsi lain sebagai kamera.


"Mm, maaf. Hanya saja, jadwalku padat hingga akhir Februari. Titip permohonan maafku kepada Jenderal, Spectra. Tak perlu diganti dengan makan malam atau apapun. Anggap saja, ini hadiah karena Jenderal Matteo sudah bersedia menjadi mentorku selama ini," jawab Sandra dengan senyuman seraya mengambil toples dari genggaman Spectra.


"Baik. Sampai jumpa," jawab Spectra ramah dan segera pergi.


Sandra menarik napas dalam. Ia masuk ke kamar seraya membawa toples kosong itu. Di sisi lain, terlihat wajah sedih dari Matteo karena ajakannya ditolak.


"Tuan," panggil Spectra yang telah kembali dan kini mendatangi Matteo yang duduk di ranjangnya terlihat murung.


"Aku sudah dengar, Spectra," jawabnya lesu.


PIP!


"Selamat siang, Jenderal Matteo Corza. Pesan masuk datang dari tiga wanita Anda yang menunggu balasan untuk ajakan makan malam. Apakah Anda ingin membalasnya atau saya hapus pesannya?" tanya Eco.


Matteo diam sejenak. "Balas. Katakan jika Matteo Corza sibuk sampai Maret nanti," jawabnya dengan wajah datar.


"Baik. Pesan akan segera dikirim," jawab Eco ramah.


Spectra menatap majikannya seksama yang kini mengacak-acak rambutnya entah apa yang dipikirkannya, tapi Matteo mengungkapkannya.


"Aku pasti sudah gila, Spectra. Aku mengabaikan tiga wanita cantik dan seksi itu karena Otka? Haruskah aku ke Rumah Sakit lagi? Aku rasa ... obatku tak cocok. Pasti aku mengalami gegar otak atau semacamnya, tapi tak terdeteksi oleh robot dokter," ucapnya serius.


Spectra diam saja tak menjawab. Matteo yang kesal pada dirinya sendiri malah kembali tidur. Spectra kembali ke tempatnya di bingkai lukisan saat Matteo tertidur lelap.


***


tengkiyuw tipsnya tante Aju semoga cepat sembuh ya cakitnya😍 yang udah pada pesen novel cetaknya silakan ditunggu ya semoga paketnya sampai dengan selamat. selamat akhir pekan💋


__ADS_1


__ADS_2