
Saat semuanya masih tertidur lelap di tempat baru karena merasakan kenyamanan meski tak berada di dalam benteng Great Ruler, baik Sandra ataupun Matteo, keduanya telah membuka mata dalam posisi berhadapan, saat menyadari pergerakan dari lawannya.
Sandra menatap Matteo tajam begitupula sang Jenderal. Namun, tak ada teriakan apalagi aksi saling pukul saat Sandra tahu jika Matteo menyelinap ke kamar bahkan tidur di sebelahnya.
"Aku tak perlu menanyakan alasanmu bisa tidur di sini, Jenderal. Cepat pergi sebelum kau memperburuk keadaan," ucap Sandra berbisik.
Matteo dengan sigap bangun dari tempat tidur nyaman tersebut seraya membawa bantal. Sang Jenderal pergi begitu saja tanpa berbicara apapun.
Sandra jadi ikut terbangun karena aksi nekat pria bermanik biru itu yang terang-terangan tidur di sebelahnya.
Matteo berhasil menyelinap keluar tanpa ketahuan karena tempat itu tak memiliki sistem keamanan mutakhir seperti Great Ruler.
Semuanya masih dilakukan dengan manual dan hanya dibantu oleh mesin seadanya. Persis seperti peradaban 170 tahun silam.
Sandra melihat jam digital di dinding di mana waktu masih menunjukkan pukul 5 pagi. Tak ada jadwal ataupun alarm yang diberikan oleh sang Jenderal untuk memulai latihan.
Hari itu, seperti hari bebas untuk para kandidat di mana mereka bisa puas untuk beristirahat. Namun, Sandra telah terjaga. Ia tak bisa tidur lagi.
Sandra memilih untuk membersihkan diri di mana terdapat satu buah kamar mandi di ruangan yang bisa dihuni oleh 6 orang. Wanita cantik itu segera bersiap. Sandra kembali memakai seragam latihannya lalu menuju dapur.
"Oh, kau sudah bangun, Otka Oskova?" tanya petugas dapur yang terlihat mulai bersiap untuk memasak.
"Ya. Aku berpikir untuk membuat masakan lagi untuk Jenderal. Aku hanya khawatir jika menu yang ditawarkan tempat ini tak sesuai dengan seleranya. Maaf menyinggung," ucap Sandra tak enak hati.
Namun, petugas itu malah terlihat senang. Ia lalu mengeluarkan sebuah buku resep yang terbuat dari kertas dari dalam laci.
Sandra terkejut karena masih bisa melihat sebuah buku yang tampak bagus seperti terawat. Di dalamnya, banyak resep makanan yang tak pernah ia jumpai.
"Ini adalah salah satu peninggalan dari nenekku saat aku meninggalkan negaraku. Aku dulu tinggal di Malaysia sebelum akhirnya berakhir di Great Ruler Distrik 10," ucapnya menjelaskan.
"Woah!"
Sandra terlihat kagum saat ia membuka lembaran demi lembaran kertas dengan banyak gambar makanan lezat tercetak di sana.
Hanya saja, ia tak mengerti dengan bahasa yang digunakan. Wanita itu lalu menunjuk sebuah gambar saat Sandra mencoba untuk mencari tahu bagaimana cara memasaknya.
"Roti Jala. Aku rasa Jenderal akan menyukainya. Aku memiliki bahan-bahannya. Aku akan membuat roti ini untuk semua orang agar mereka tak iri dengan makanan Jenderal. Apa kau memiliki ide agar semua orang bisa ikut menikmati menu diet Jenderal, Otka Oskova?" tanya wanita itu ramah dan Sandra mengangguk.
"Aku juga memiliki sebuah resep turun-temurun dari ibuku. Aku akan mencoba membuatnya satu. Jika menurutmu enak, aku akan membuatnya dalam jumlah banyak. Bagaimana?" sahut Sandra. Wanita berwajah Asia itu mengangguk setuju.
Keduanya lalu sibuk untuk membuat masakan di mana petugas lain belum datang karena hari masih gelap di kawasan itu.
Ternyata, Matteo kembali ke kamar Brego. Beruntung, sang Colonel sudah tak mendengkur lagi. Matteo kini bisa tidur dengan nyenyak sebelum jam sarapan dikumandangkan.
Tak lama, satu persatu petugas dapur mulai berdatangan. Mereka terkejut karena Sandra ada di sana untuk membantu memasak.
Sandra terlihat sungkan, tapi para petugas malah senang karena mendapat bantuan dari calon User Level A yang namanya makin berkibar.
__ADS_1
Hingga akhirnya, masakan buatan Sandra selesai. Mata semua orang terpaku pada wujud makanan yang memiliki banyak warna dan terlihat segar itu.
"Maaf jika terlihat seperti kekanak-kanakkan. Namun, ini adalah salah satu menu favoritku saat masih kecil dulu. Ibuku sering membuatnya untukku. Jadi aku rasa, makanan ini cocok sebagai penutup. Bagaimana?" tanya Sandra gugup karena ia seperti sedang presentasi sebuah karya dan menunggu komentar para juri.
"Wah. Boleh kucoba?" tanya salah seorang petugas dapur berambut pirang.
Sandra mengangguk mempersilakan. Dua buah garpu berwarna merah telah tersedia di meja.
Semua orang terlihat penasaran dengan komentar dari kawan mereka itu saat memasukkan potongan puding yang dikombinasikan dengan kue ke mulutnya. Seketika, mata wanita itu melebar.
"Em, aku suka dengan sponsnya. Lembut, tapi bersuara renyah!" ucapnya senang.
"Oh ya? Boleh kucoba?" tanya wanita Asia asal Malaysia. Semua orang kembali penasaran dengan komentar wanita cantik itu. "Oh, kau benar. Agar-agar dengan berbagai rasa ini bisa bercampur dengan sempurna di mulutku. Rasanya manis dan asam, tapi pas dengan kue lembut sebagai alas dari pudding ini," ucapnya berkomentar.
Praktis, potongan puding di piring hijau itu ludes setelah dikeroyok oleh para petugas dapur yang penasaran.
Sandra terlihat senang karena masakannya disukai. Ia juga merasa bahagia karena bisa memasak kembali setelah sekian lama tak berkutat di dapur karena kesibukannya berlatih untuk memperkuat diri.
"Buat yang banyak, Otka. Mereka pasti akan senang. Kita masih memiliki waktu dua jam sebelum jam sarapan tiba," ucap petugas dapur berambut hitam.
Sandra mengangguk siap. Wanita cantik itu segera mempersiapkan semua bahan untuk membuat puding tersebut.
Ternyata, tak hanya itu saja. Sandra sengaja membuat variasi dengan jenis puding lain. Para petugas terlihat sedih karena tak bisa mengincipinya, sebab waktu yang terbatas dan makanan buatan Sandra harus segera dihidangkan.
Sandra tersenyum lebar dan mengangguk. Para petugas dapur terlihat senang. Mereka kembali memasak karena para kandidat mulai datang ke ruang makan satu persatu termasuk Matteo dan Colonel Brego yang terlihat sudah rapi dengan seragam mereka.
"Hei. Di mana Otka?" tanya Matteo kepada teman satu kamar Sandra.
"Entahlah, Jenderal. Sejak aku bangun, Otka sudah tak ada," jawab Sam jujur.
Saat Matteo terlihat cemas karena khawatir Sandra marah padanya, tiba-tiba saja, sosok yang dicarinya muncul dari arah dapur dengan senyum terkembang seraya melambaikan tangan ke semua orang.
"Hei! Kau dari mana saja? Aku tak melihatmu di kamar," tanya Retro.
"Oh! Aku ... mm, aku berkeliling. Aku masih penasaran dengan tempat ini," jawab Sandra beralibi.
Matteo melirik Sandra dan wanita cantik itu memalingkan wajah terlihat gugup. Sandra segera duduk dan ternyata, satu-satunya bangku ada di hadapan sang Jenderal. Entah itu sebuah kesengajaan atau tidak, tapi Sandra hanya bisa pasrah.
Sandra terlihat kikuk karena ditatap manik biru sang Jenderal lekat. Sandra memalingkan wajah dan memilih untuk berbincang dengan Colonel Brego.
"Colonel. Kegiatan kita hari ini apa? Aku ... masih penasaran dengan wilayah sekitar tempat ini," tanya Sandra yang kini, pertanyaannya membuat semua kandidat menoleh ke arahnya.
"Kita akan kembali ke Great Ruler. Belum ada yang bisa kita lakukan di tempat ini. Wilayah ini sengaja dibuat agar tak mencolok dengan aktivitas besar-besaran karena khawatir akan diserang oleh pihak musuh yang ingin merebutnya. Oleh karena itu, kita belum bisa melakukan pelatihan di tempat ini," jawab Brego menjelaskan.
Sandra menganggu paham. Tak lama, makanan pun datang. Orang-orang terlihat kagum saat melihat Roti Jala yang berbentuk unik dan berwarna-warni.
__ADS_1
Tanpa banyak bicara, orang-orang itu segera mencomotnya dengan tangan begitu saja. Kening Matteo berkerut. Ia yang selalu menjaga kehigienisan tak sependapat dengan cara primitif itu.
Sandra melirik petugas dapur, dan wanita itu mengangguk pelan. Matteo hanya bisa melihat orang-orang menikmati makanan itu dengan wajah datar di mana ia tak bisa membiarkan tangannya mengambil makanan di hadapannya itu.
Tak lama, petugas dapur datang seraya memberikan makanan yang sama dengan garpu tersedia.
Petugas itu langsung pergi tanpa berbicara apapun. Sandra tersenyum dan memberikan kode pada Matteo untuk memakannya.
"Cobalah. Itu makanan dari Malaysia," pinta Sandra dan semua orang terkejut karena baru mengetahui hal itu.
Matteo terlihat ragu, tapi setelah makanan itu masuk ke mulutnya, ia terlihat bisa menerima rasa dari makanan tersebut di lidahnya.
Satu persatu makanan lezat datang dengan bentuk yang unik seperti hidangan yang Matteo nikmati. Tak ada diskriminasi menu hari ini.
Matteo menatap Sandra lekat penuh selidik, tapi wanita berambut pirang itu mengabaikannya.
Hingga akhirnya, sajian penutup tiba. Semua orang menyerukan kekagumannya pada bentuk unik nan cantik dari puding buatan Sandra yang telah dipotong sesuai dengan jumlah orang yang duduk di tempat itu.
"Ini puding?" tanya Baden yang malah sibuk mengamati makanan itu tak berani menyentuhnya dengan garpu.
"Ya, cobalah. Katanya ... itu enak," jawab Sandra seraya menusukkan ujung garpunya dan mulai menyuapi mulutnya.
Semua orang terbengong saat Sandra berekspresi layaknya bintang iklan makanan yang memuji rasa dari sajian itu.
Semua orang malah terpana dan mematung karena melihat Sandra seperti begitu menikmati makanan cantik itu.
"Emph, ini ... emph, lezat sekali," ucap Sandra sampai memejamkan mata dengan suara sensual untuk memikat para konsumen.
Dengan sigap, semua orang segera menusuk puding itu dan memasukkan ke mulut. Sebuah ekspresi yang sama ditunjukkan bahkan ada yang sampai berteriak karena rasanya lezat.
Sandra terkekeh karena pujian dari ekspresi mereka atas makanan buatannya. Matteo menatap Sandra yang tersenyum manis.
"Otka," panggil sang Jenderal saat semua orang sibuk menikmati dan mengomentari puding tersebut.
"Yes?" tanya Sandra akhirnya berani menatap mata biru Matteo.
"Kau berhutang makan malam denganku. Aku ingin, semua yang kau masak, kau buat ulang saat di rumahku nanti. Aku tak menerima penolakan," ucapnya memaksa seraya menunjuk.
Sandra menatap Matteo lekat, tapi sang Jenderal tak peduli. Diam-diam, Brego mendengar obrolan itu. Sang Colonel hanya bisa tersenyum sembari menikmati puding lezat itu yang baru pertama kali ia coba selama hidupnya.
***
ILUSTRASI
SOURCE : GOOGLE
Uhuy tengkiyuw tipsnya😍 Maap kemaleman banyak kerjaan uyy😵
__ADS_1