SIMULATION

SIMULATION
MEGA-US DECISION*


__ADS_3

Semua orang panik. Lala segera dipindahkan ke dalam tabung untuk dilakukan tindakan pengecekan organ vital oleh para petugas medis.


Beruntung, Lala hanya mengalami kelelahan karena harus menggantikan tugas kepala negara karena dipercaya.


Matteo merasa bersalah karena beban itu malah membuat bibi yang disayanginya jatuh sakit.


Serangan New-US dalam skala besar, yang tak pernah diprediksi oleh Great Ruler sebelumnya membuat benteng tersebut semakin terkikis.


Banyak prajurit dan robot berguguran untuk melawan lawan yang hampir sama dari negara musuh. Peperangan itu berlangsung hingga berjam-jam lamanya.


Meskipun Titan sudah memberikan bantuan, tapi New-US telah mengirimkan armada susulan untuk merebut Great Ruler dan menguasai isinya.


Pusat Komando, Mega-US, Amerika Selatan.


"Sir. Great Ruler tidak akan mampu bertahan lebih lama lagi," ucap salah satu operator melaporkan.


"Bagaimana menurutmu, Jenderal?" tanya pemimpin tertinggi negara itu—Presiden Birova Gomez.


"Jika New-US berhasil merebut Great Ruler, dia akan menjadi satu-satunya negara super power di seluruh dunia. Dia akan menaklukkan 5 negara lain dengan mudah menggunakan teknologi milik Great Ruler. Bahkan, jika kita bergabung bersama Russ-King dan negara lainnya, itu terasa mustahil," jawab Jenderal Ogerus mengutarakan pemikirannya.


Para pejabat negara yang tergabung dalam rapat besar membahas serangan brutal ini membicarakan penyerangan New-US kepada Great Ruler dengan serius.


Banyak pendapat dikemukakan oleh para ahli menanggapi insiden ini.


"Oke. Kita akan merangkum semua dampak negatif dan positif dari peperangan ini. Reva, analisis," pinta Presiden Birova kepada komputer pintarnya sebagai juri akhir dalam rapat. Semua orang tampak tegang menunggu hasil.


"Melihat cara pemerintahan negara New-US dari hasil pengamatan selama 50 tahun terakhir, warga Great Ruler yang tak memiliki potensi untuk memajukan negara akan diusir. Migrasi besar-besaran akan terjadi. Populasi manusia akan terancam punah bagi mereka yang tak bisa bertahan melawan alam karena cuaca ekstrim yang berubah-ubah," ucap komputer pintar menjabarkan.


Semua pejabat tampak tegang mendengarkan.


"Dampak negatif secara internal. Para cendikiawan yang memiliki potensi untuk memajukan negara akan diperbudak seperti yang terjadi di negara New-US. Hidup mereka akan diatur dengan pengawasan dan tekanan penuh. Semua sumber daya Great Ruler akan dieksploitasi untuk meningkatkan kemampuan militer dan persenjataan seperti yang terjadi di negara New-US. Mereka akan menerapkan sistem yang sama di negara jajahan baru," sambung komputer pintar tersebut—Reva.


Wajah cemas terlihat jelas di raut para pejabat tertinggi negara.


"Dampak negatif secara eksternal. Dengan seluruh sumber daya yang dimiliki oleh Great Ruler, New-US akan menjadi negara satu-satunya yang berkuasa di muka bumi. Dengan segala potensi yang dimiliki Great Ruler, New-US akan menjajah negara dan kota-kota lainnya untuk tunduk di bawah kekuasaan sesuai dengan Dektret Presiden New-US tahun 2107 yang tercetak berisi 5 poin utama, yakni. '1. New-US berupaya untuk menggabungkan seluruh negara yang tersisa di Bumi menjadi satu dalam kekuasaan tunggal di bawah kepemimpinan Kepala Negara New-US yang menjabat saat itu. 2. Semua manusia yang hidup di Bumi dan nantinya akan bergabung dalam kepemimpinan tunggal, diprioritaskan para cendikiawan guna kemakmuran bersama. 3. Semua sumber daya alam yang bisa dimanfaatkan untuk memperkuat ketahanan negara dalam segala aspek akan dipergunakan dalam jangka waktu tak terbatas. 4. Semua hukum yang berlaku di bawah Yurisdiksi New-US menyebutkan jika Presiden adalah pemimpin tertinggi negara dan hukum itu sendiri. 5. Semua hal yang berkaitan dengan kepemimpinan negara berikut seluruh komponen di dalamnya dikuasai penuh oleh Presiden dan negara'," ucap Reva yang membuat wajah semua pejabat tegang seketika.


"Kita lebih baik dari New-US. Oleh karena itu, kita memisahkan diri. Kita harus menghentikan kegilaan Xivovo," ucap salah satu Laksamana berambut putih.

__ADS_1


"Ya. Dia harus dihentikan," jawab Presiden Birova dengan pandangan tertunduk seperti memikirkan sesuatu dengan serius.


Birova lalu duduk dengan tegap menatap seluruh pejabat tertinggi negaranya dengan sorot mata tajam.


Tampak wajah-wajah siap menerima misi dari sang Presiden dengan negara yang dijuluki Negara Merah.


"Tak ada waktu lagi. Saatnya kita memihak. Kita bantu Great Ruler agar warga kita hidup sejahtera. Sudah cukup ketamakan dari Xivovo. Bersiap!" titah sang Presiden lantang.


"Yes, Sir!" jawab semua pejabat dengan hormat.


Hari itu juga, seluruh armada perang militer Mega-US bergerak. Warna merah ciri khas dari negara itu sebagai pengingat peperangan silam ketika banyak dari warganya yang tewas hingga tanah menjadi merah karena darah yang tumpah demi mempertahankan negara dan mewujudkan perdamaian.


Presiden Birova tak ingin kejadian naas itu terulang kembali di negaranya. Mega-US memilih untuk membantu Great Ruler agar tetap bertahan demi terciptanya perdamaian.


Segera, pesawat tempur milik Mega-US dengan warna merah meluncur pesat di langit. Mereka fokus untuk menjatuhkan drone kiriman New-US dari kapal induk perang mereka di perairan Laut Cina Timur.



Pesawat yang menyerupai burung elang itu ditunjuk sebagai lambang dari negara besar tersebut.


Terlihat, sebuah kota yang cukup besar dengan bangunan dan juga armada tempurnya berwarna abu-abu sebagai ciri khas dari negara New-US.


Benda itu terapung di atas permukaan laut. Namun sebenarnya, itu adalah kapal induk. Benda itu bergerak dan menjadi salah satu Pusat Komando Militer sebagai penjaga perbatasan antar wilayah dengan negara musuh.



Radar dari kapal induk tersebut menangkap pergerakan dari atas langit yang menuju ke wilayahnya.


"Sir! Satelit menangkap pergerakan 10 buah pesawat tempur dari negara Mega-US sedang menuju ke wilayah kita!" ucap salah satu operator dari hasil tangkapan satelit.


Laksamana New-US segera mendekat dan melihat dari tampilan layar hologram petugas tersebut.


"Haruskah kita berikan peringatan?" tanya operator memastikan tugasnya.


"Hanya ada dua kemungkinan. Mereka membantu kita melenyapkan Great Ruler atau ingin mela—"


BLUARRR!!

__ADS_1


TET! TET! TET!


"Peringatan serangan. Sebuah misil menghancurkan menara sinyal," ucap sistem keamanan menginformasikan.


"Kurang ajar! Mereka menggunakan kesempatan ini untuk membalas kita. Jangan beri ampun! Kita harus lenyapkan mereka juga! Persetan dengan saudara satu Benua! Tembak jatuh semua!" titah Laksamana tersebut geram.


"Yes, Sir!" jawab semua petugas yang berada di pos bagian perlindungan serangan.


Tembakan otomatis diaktifkan di mana sebelumnya para petugas masih menunggu instruksi terlebih dahulu kepada pemimpin tertinggi di kapal induk untuk memulai serangan.


Kini, senjata laser tersebut membidik pesawat tempur Mega-US dengan ganas. Namun, para pilot Mega-US mampu menghindari serangan mematikan tersebut dengan manuver apik.


Mereka menjatuhkan bom-bom berhulu ledak tinggi ke kapal induk tersebut. Suara dentuman terdengar bersahut-sahutan hingga ombak timbul di perairan yang cukup tenang di senja hari itu.


Aksi saling tembak tersebut ternyata ikut ditangkap oleh satelit Great Ruler yang berada di angkasa.


"Pusat, apa kalian lihat yang kami lihat?!" tanya salah satu operator di stasiun satelit luar angkasa Great Ruler.


"Ya! Apa yang terjadi? Apakah Mega-US membantu kita dengan memberikan balasan kepada saudara mereka sendiri, New-US?" tanya Lala yang sudah sadar dan tetap memaksakan diri untuk ikut andil karena tak ingin negaranya hancur.


"Entahlah, Mam. Namun, jika melihat dari serangannya, mereka seperti berusaha menggagalkan pengiriman drone ke Great Ruler," sahut Qimi dari hasil analisis serangan.


"Mega-US membantu kita? Benarkah?" tanya Matteo ikut tak percaya seolah itu mimpi.


"Perdamaian yang kau impikan, sepertinya telah terdengar sampai ke seluruh penjuru Bumi, Nyonya Salvarian. Sepertinya, aku tak salah memihakmu," ucap Khan dari bangkunya menatap Sandra lekat.


Sandra tersenyum lebar dan balas menatap Presiden negara Baatar. "Terima kasih, Presiden Khan. Terima kasih," jawab Sandra dengan rasa haru.


***


ILUSTRASI


SOURCE : GOOGLE



Uhuy tips lagi🤭 Habiskan mbak Aju😆Semangat otw tamat! Lele padamu❤️

__ADS_1


__ADS_2