SIMULATION

SIMULATION
STUNG*


__ADS_3

Selama lima hari penuh, Sandra dijadwalkan melakukan pelatihan langsung dengan Captain Tony untuk memperkuat fisik, fokus, dan ketajaman daya ingat.


"Robot level A adalah kombinasi dari robot petarung level B dan robot mata-mata level C. Aku memang belum pernah melakukan simulasi dengan robot tersebut, tapi aku pernah melihat prototype-nya. Ditambah, robot itu sekarang disesuaikan denganmu. Sebuah robot perempuan. Kau tahu 'kan maksudku, ada benjolan di dada, bagian pantat, pinggul yang ramping, dan—"


"Tony!" pekik Sandra kesal karena Tony menggerakkan kedua tangannya mengikuti pola bentuk tubuhnya, di mana wanita cantik bertubuh pirang itu kini berdiri di hadapannya.


Tony terkekeh. "Lihat! Itu salah satu strategiku mengajarimu. Kau tidak fokus, kau termakan ucapanku. Kau harusnya mengabaikannya, dan pusatkan pikiranmu pada misimu," ucapnya berdalih.


Sandra mendengkus kesal. Ia kembali fokus dengan berlatih menembak menggunakan senapan laser yang dimiliki oleh Departemen Militer Great Ruler.



"Itu belum seberapa, ada senjata yang lebih besar dan lebih berat dari yang kau gunakan. Kerahkan seluruh tenagamu, Otka!" pekik Tony garang di mana mereka berlatih di ruangan khusus menembak yang memiliki pelindung anti ledakan dan anti laser.


Sandra membidik target berupa papan berbentuk tubuh manusia yang terbuat dari logam.


Target-target itu bergerak dengan lincah dan random sehingga membuat Sandra kesulitan menembak.


Tony tersenyum tipis dengan kedua tangan saling mengait di belakang pinggang melihat anak didiknya kehilangan fokus.


"Oke, oke, stop, stop," ucapnya dengan kedua tangan ke atas seperti orang menyerah dalam sebuah pertempuran.


Sandra menurunkan senjata, berikut papan target yang berhenti bergerak. Tony berjalan mendekati Sandra lalu bertolak pinggang di depannya. Wanita berambut pirang tersebut menatap Tony seksama.


"Oh sungguh, Otka. Kau akan mempermalukan namaku. Kau malah asyik menonton targetmu itu dengan memamerkan sebuah senjata besar yang memiliki sinar indah berwarna ungu dalam genggaman. Hai! Kau bukan seorang model, kau prajurit! Dan seorang prajurit harus sigap dalam menghadapi musuh. Kau paham?!" tegasnya membentak yang membuat Sandra terperanjat.


"Letakkan senapan itu. Reflekmu lambat, kau tidak fokus!" pekiknya kesal.


Sandra terkejut karena Tony sungguh marah hingga matanya melotot. Baru hari pertama dan Sandra merasakan tekanan berat dari kawan karib mendiang suaminya itu.


"Eco! Persiapkan Simulasi T-89!" perintah Tony garang.


"Perintah di proses," ucap asisten ruangan—Eco.


Seketika, semua rak yang berisi senjata tembak di ruangan tersebut mundur ke belakang, digantikan sebuah dinding logam yang muncul di dua sisi—kanan dan belakang.


Sisi sebelah kiri muncul sebuah dinding kaca yang membatasi antara Sandra dan Tony. Di depan Sandra adalah sekelompok papan target berbentuk manusia logam.


Praktis, tempat itu menjadi sebuah ruangan luas dengan papan sasaran tembak berdiri di depannya mengeluarkan sebuah sinar berwarna merah.

__ADS_1


Beberapa kotak tembus pandang terbuat dari plastik tebal muncul dari bawah lantai secara acak sebagai tempat perlindungan Sandra dari incaran sinar.


"Fokuskan bidikan dengan sasaran Otka Oskova!" perintah Tony dari balik dinding kaca.


"Perintah dilaksanakan. Penguncian sasaran dilakukan. Penguncian selesai. Otka Oskova sasaran tembak pelatihan simulasi," ucap Eco yang membuat mata Sandra melebar seketika.


"Kau ingin membunuhku?!" pekik Sandra lantang menatap Tony tajam.


"Hem, good luck. Meskipun kau nantinya ada di dalam robot, tapi ... jika robotmu yang terkena tembakan dan mati, kau hanya memiliki waktu 1 menit untuk bisa kembali ke dunia nyata sebelum pemutusan hubungan syaraf. Namun, jangan salah, ada konsekuensi bagi User yang merusakkan robot apalagi sampai hancur. Potong gaji," tegasnya.


Praktis, mulut Sandra menganga lebar. Ia melihat logam-logam target berbentuk manusia yang tadi menjadi sasaran tembaknya, kini mengeluarkan sinar seperti senter berwarna merah di beberapa bagian tubuh sedang membidiknya.


Ada yang menyinarinya dari dahi, dada, telapak tangan, dan perut. Sandra was-was seketika. Jumlah target logam itu ada 10 dan masih banyak lagi di belakang, siap untuk membunuhnya.


"Kau, harus menghindari tembakan sinar itu. Jika kau terkena, ugh ... kau tak mati, tapi sengatan listrik akan terasa di tubuhmu. Kau ... tak ingin hal itu terjadi, bukan?" tanya Tony dengan wajah berkerut terlihat miris.


"What? Sinar itu bisa melontarkan sengatan listrik?" tanya Sandra gugup menunjuk target. Tony mengangguk. "Oh shiit! Oh, shitt!" pekiknya kesal, tapi tak bisa melakukan apapun.


"Dalam hitungan ketiga. Bersiaplah. Satu ... dua ... tiga! Mulai!" ucap Eco memulai simulasi.


Dan benar saja, lampu sinar yang tadinya padam, kembali menyala. Sandra panik dan berlari menghindar.


Tony terlihat tegang. Ia berdiri di lokasi aman dari zona pelatihan dengan sebuah dinding kaca melindunginya.


Tony melihat Sandra bergulung ke kanan dan ke kiri, menghindari lampu merah yang akan menembakkan sinar sengatnya ke tubuh Sandra.


CRET!


"Agh!"


"Sandra!" pekik Tony melangkah maju di balik dinding kaca, saat Sandra lengah dan punggungnya terkena sinar merah tersebut. "Bangun cepat!"


Sandra menahan sakit di punggung dan kembali berlari. Ia berlindung di balik sebuah kotak transparan.


Nafas wanita cantik itu tersengal. Sandra terlihat panik dan kesakitan dengan luka sengat di punggungnya.


"Oke, cukup! Cukup!" ucap Tony memerintahkan Eco. Dan seketika, target logam tersebut padam.


Dinding kaca terangkat dan Tony berlari mendatangi Sandra yang duduk membungkuk terlihat pucat.

__ADS_1


"Hei, kau tak apa?" tanya Tony cemas.


Sandra tak bisa menjawab. Tony segera memapah Sandra dan membawanya ke ruang medis. Dokter robot segera memeriksa Sandra.


Wanita cantik yang sudah tak peduli dengan penampilannya, membuka baju latihannya dan membiarkan tubuh bagian atas hanya mengenakan bra.


Tony terkejut untuk beberapa saat, tapi ia kembali fokus pada luka punggung di tubuh mendiang isteri sahabatnya itu—Rey.


PSSS!!


Sebuah semprotan pereda nyeri di semprotkan oleh mesin dokter. Sandra tengkurap dan terlihat lemas. Tony berdiri di samping wanita berambut pirang itu dan melihat lukanya seksama.


Beberapa semprotan kembali diberikan. Perlahan, kerutan seperti menahan sakit di wajah Sandra memudar. Tony terlihat lega karena luka di punggung Sandra mulai terlihat membaik.


"Hei, bagaimana? Masih sakit?" tanya Tony cemas membungkukkan tubuh.


Sandra mengangguk pelan dengan senyuman. Sandra diberikan waktu istirahat sampai obat yang diberikan terserap sempurna. Tony terlihat cemas dan tetap menemani Sandra selama 30 menit di tempat itu.


"Sandra. Urungkan saja niatmu menjadi User. Sungguh, kau tak perlu bekerja keras seperti ini. Yang terjadi padamu ini baru permulaan. Saat kau bertugas nanti, robot level A akan dikirimkan keluar dari benteng Great Ruler. Kita tak pernah tahu bahaya apa yang akan muncul di luar sana. Dan bisa saja, serangan mendadak atau bahkan musuh yang belum kita ketahui muncul," ucap Tony cemas duduk di sebelahnya.


"Aku tahu, Tony. Semua pekerjaan pasti memiliki resiko. Jikapun aku bekerja di restoran Eliz, tempat itu juga bisa saja mencelakaiku. Entah aku yang terpeleset, atau tak sengaja terbakar ketika memasak, atau mungkin tersayat pisau saat memotong. Semua hal buruk bisa terjadi. Jangan khawatir. Percobaan selanjutnya, aku akan lebih berhati-hati," jawabnya tetap dalam posisi tengkurap. Tony memejamkan mata terlihat pusing karena wanita di sampingnya keras kepala. "Oke, kau ... emph, bisa bangunkan aku?" pintanya yang kesulitan bangun karena alas yang sempit.


"Yup," jawabnya dengan sigap dan membantu Sandra untuk duduk.


Tony terlihat gugup karena wanita di depannya hanya memakai bra dan terlihat jelas belahan dada serta dua gundukan yang menyumbul itu.


Sandra ikut canggung, tapi ia berusaha bersikap biasa seraya mengenakan kembali pakaiannya.


"Kita makan siang dulu, baru lanjutkan latihan. Aku tak menerima penolakan," tegas Tony menunjuk dan Sandra mengangguk pelan.


Keduanya berjalan berdampingan menuju ke kantin. Dan ternyata, Spectra diam-diam mengawasi. Matteo yang melihat dari ruang kerjanya terlihat kesal akan kedekatan keduanya.


***


ILUSTRASI


SOURCE : PINTEREST


wah dapet tips lagi. tengkiyuw lele padamu😍 stok tips koin udah habis ya. mau ada yang ngasih recehan lagi gak. kwkwkw nglunjak😆

__ADS_1



__ADS_2