SIMULATION

SIMULATION
REVENGE FIRE


__ADS_3

Di kamar tempat Matteo berada.


Pria itu terlihat murung seperti memikirkan sesuatu di RC—robot chair—miliknya. RC adalah sebuah kursi yang melayang di udara berbentuk seperti bulan sabit, dan hanya bisa diduduki oleh satu orang manusia.


RC hanya memiliki satu warna yakni silver. Benda tersebut dilengkapi dengan sebuah monitor layar sentuh berukuran 14 inch di hadapan pengguna.


Kursi robot itu memiliki banyak fungsi dan bisa bergerak ke mana pun di segala medan. Hanya saja, RC tak diperkenankan berada di luar gedung karena benda tersebut hanya diperuntukkan untuk kegiatan di dalam.


“Spectra,” panggil Matteo dengan pandangan lurus ke depan menghadap monitor tembus pandang pada RC-nya.


Spectra adalah sebuah robot pribadi yang bekerja sebagai asisten. Robot itu dibuat sendiri oleh Matteo Corza.


Spectra berwarna silver, memiliki kepala yang terpisah dengan tubuhnya. Kepala dan tubuhnya berbentuk seperti sebuah kapsul canggih.


Spectra memiliki dua telinga yang berbentuk seperti sebuah sayap, dua mata biru dalam lapisan kaca, kepalanya seperti sebuah helm, memiliki dua buah tangan multifungsi, dan ia melayang di atas permukaan seperti RC.


“Yes, Mr. Matteo,” jawab Spectra seraya mendekat, di mana sebelumnya ia berada di dalam sebuah bingkai foto besar di dinding yang ternyata adalah tempat robot itu bersemayam.


“Putarkan rekaman kejadian lima tahun silam saat penyerangan mutan pertama kali terjadi,” pintanya tanpa menatap robot yang berada di samping.


“Baik.”


Tangan kiri berbentuk bulat robot itu berubah menjadi sebuah benda pipih pada bagian ujung. Tangan tersebut masuk ke sisi kanan RC, di mana terdapat sebuah konektor untuk mencolokkan USB.


Seketika, layar bening di hadapan Matteo menyala dan menampilkan rekaman dari kejadian tragis yang menyerang Great Ruler dari beberapa tampilan kamera pengawas, termasuk aktivitas dalam ruang simulator para User. Wajah Matteo tegang seketika.


Kedua bola mata Matteo fokus pada layar yang mempertontonkan kejadian saat penyerangan pasukan Russ-King ke Great Ruler.


Matteo juga melihat pergerakan orang-orang di Great Ruler baik di Gerbang Kermogal ataupun di Pusat Komando.


Hingga akhirnya, video menunjukkan dan memperdengarkan lolongan nyaring melengking dari mutan serigala yang terdengar hingga ke seluruh penjuru Distrik.


Seluruh tampilan dari kamera pengawas muncul di layar RC. Matteo memilih sebuah tampilan untuk ditampilkan dalam layar utama agar bisa melihatnya lebih jelas.


Gua tempat Sandra berada saat itu langsung riuh. Matteo menyamakan rekaman kejadian dengan ingatan Sandra yang ternyata sama.


Matteo memejamkan mata terlihat tertekan akan hal ini. Namun, ia kembali melanjutkan menonton rekaman tersebut.


Presiden Morlan terlihat fokus menatap makhluk itu yang berlari dan menyerang para robot penyerang dari Russ-King berwarna putih. CCTV di kawasan Distrik 5 diaktifkan, fokus mengikuti pergerakan makhluk itu.


Lalu sebuah tayangan yang membuat mata Matteo hampir tak berkedip ketika Mola memberikan peringatan jika baterai pada pedang laser Rey sudah hampir habis.


Perasaan cemas hingga membuat jantung sang Jenderal berdebar kencang, seakan ia yang menjadi Rey saat itu.


Matteo seakan tahu isi pikiran Rey, di mana ia sangat yakin jika sang Captain tak ingin mahluk itu mendatangi tempat evakuasi karena sang istri dan seluruh warga Great Ruler berlindung di sana.


Tayangan terakhir, membuat mata Matteo terpejam. Kedua tangannya bergetar saat menutup wajah.


Di ruang simulasi tempat Sandra berada.


Lala duduk di samping Sandra yang masih memejamkan mata menunggu reset time lima jam lagi. Wanita yang berumur sekitar lima puluh tahun itu terlihat sendu ketika sebuah ingatan lama muncul dalam pikirannya.

__ADS_1


Ia teringat kejadian satu tahun silam, saat Sandra muncul di mana ia tak dikenal sama sekali, dan mengaku dirinya bernama Otka Oskova.


“Kau selalu membuatku kagum, Otka Oskova. Kau satu-satunya wanita yang berhasil lulus dan menjadi kandidat User. Bahkan, kau menawarkan diri untuk menjadi relawan percobaan User robot level A yang masih dalam tahap uji coba. Namun, siapa sangka, kau malah terjebak dalam simulasi ini. Kau mengingatkanku pada anak perempuanku, Mola, yang telah tiada,” ucap Lala lalu memejamkan mata.


Seketika, pikirannya kembali pada masa-masa Mola masih hidup, dan berakhir saat Mola meninggal karena mengalami kerusakan otak ketika menjadi relawan percobaan User robot level B.


Lala kembali membuka mata. Sebuah tetesan air membasahi pipinya. Ia menghapus air mata itu dengan segera dan menoleh ke arah Sandra.


“Kau lebih kuat dari Mola, aku yakin itu. Kau pasti bisa melalui semua level dan pada akhirnya kembali pada kami, Otka. Berjuanglah, aku akan membantumu dari sini,” ucap Lala menatap Sandra saksama seraya memegang tangannya erat yang tergolek lemas.


Saat Lala ikut merebahkan dirinya pada sebuah RC, tiba-tiba sebuah tayangan ingatan Sandra muncul dan mengejutkan semua orang di ruang simulasi tersebut.


Lala kembali duduk tegap dan melebarkan mata. Semua petugas langsung bersiap di mana tayangan itu otomatis direkam.


Ingatan Sandra kembali saat ia masih muda dulu di mana ada Eliz di sana. Sebuah pemandangan indah dari sebuah kenangan di mana tampak dua wanita muda itu seperti memiliki jalinan persahabatan kuat bagai saudara.


Dapat disimpulkan dalam tayangan itu, Eliz dan Sandra adalah teman lama sejak kecil. Ayah ibu mereka sudah meninggal akibat perang. Eliz kini hidup berdua dengan kakaknya—Tony.


Ayah dan ibu Sandra dulunya orang militer, sama seperti orang tua Eliz. Oleh karena itu, mereka tetap mendapatkan fasilitas hunian dan uang pengabdian sebagai penunjang hidup selama ini.


Meski demikian, orang tua Sandra tak ingin anak gadisnya terlibat dalam peperangan yang akan membahayakan hidupnya.


Sandra menuruti keinginan orang tuanya dan memilih kehidupan biasa layaknya gadis-gadis normal.


“Pantas saja, Otka terlihat seperti tak terkejut ketika mengikuti pelatihan militer. Ia sudah mengenali dunia kita sejak masih muda. Hem, mengagumkan,” guman Lala, dan mendapatkan anggukan semua orang yang ikut mendengar penilaian Wakil Presiden.


Tampilan dalam ingatan Sandra membuat senyum Lala terkembang apalagi saat menampilkan sosok Rey di sana.


“Ya, itu benar, Wakil Presiden. Rey sangat disanjung. Ia sangat baik bahkan aku ingat ketika ia membelikanku sebuah jaket saat aku berulang tahun, padahal aku saja tak ingat tanggal kelahiranku,” sahut Xili.


Semua orang terdiam. Mereka yang mengenal Rey langsung terlihat sendu.


Hingga tampilan yang tadinya berwarna terang dan meneduhkan, tiba-tiba menjadi sebuah tampilan seperti berkabut dengan suasana sedikit mencekam.


Wajah semua orang berubah serius seketika. Mereka bingung dengan apa yang terjadi.


“Sepertinya, Otka kini berada di rumah sakit,” sahut operator berambut pirang dan berkulit hitam—Bablo—mendapatkan anggukan semua orang yang setuju dengannya.


Sandra mendengar kabar dari dokter dan menangis sedih saat tahu jika keguguran anak pertamanya. Ia merasa sangat kehilangan dan takut mengecewakan suaminya.


Namun, kesedihannya bertambah saat Tony menyampaikan berita buruk untuknya malam itu.


"Sandra, aku benar-benar minta maaf, tapi aku memang harus menyampaikan hal ini padamu," ucap Tony gugup.


"Ada apa, Tony?" tanya Sandra ikut cemas.


"Suamimu, Rey. Ia tewas, setelah bertarung dengan serigala mutan itu," jawabnya berusaha tegar.


Sandra syok saat itu juga. Air matanya menetes begitu saja tak bisa dibendung. Eliz langsung memeluknya erat. Ia ikut menangis mendengar hal ini.


Tony mendongakkan kepala menahan air mata kesedihan agar tak ikut menetes di wajahnya. Tubuh Sandra gemetaran. Ia tak menyangka jika lelaki yang sangat dicintainya harus mati mengenaskan demi menyelamatkan warga Great Ruler.

__ADS_1


"Bagaimana bisa, Tony? Bagaimana bisa Rey tewas?" tanya Sandra dengan suara serak karena menahan isak tangis.


"Ini semua salah jenderal muda itu! Rey harus berangkat menggantikan tugasnya! Apa kau tahu, Sandra? Jenderal sombong itu berpura-pura sakit. Padahal ia teler di rumahnya setelah pesta pora dengan gadis-gadis malam itu. Ia tak bisa bangun karena sangat mabuk. Jenderal macam apa yang mengabaikan tugasnya hanya karena hawa nafsu dan kepentingan pribadinya, huh?!" pekik Tony lantang penuh dengan emosi meluap-luap.


"Siapa nama Jenderal itu?" tanya Sandra dengan napas menderu.


"Matteo Corza. Ia anak lelaki satu-satunya Presiden Morlan," jawab Tony dengan sorot mata tajam.


“Aku bersumpah. Aku bersumpah akan membalas kematian Rey dan janinku. Dia akan mati di tanganku,” ucapnya penuh kebencian, dan terlihat, Eliz serta Tony mengangguk setuju.


Seketika, orang-orang yang mendengar dan melihat tayangan tersebut tersentak. Lala akhirnya tahu, dari mana kebencian Sandra, Akira, Ego, dan Tony muncul.


Bahkan Eliz termasuk di dalamnya. Orang-orang itu mengira jika Matteo Corza lalai dalam tugas karena bersenang-senang.


Ternyata, Matteo diam-diam masuk ke ruang simulasi dan menyaksikan tayangan tersebut.


Sang Jenderal muda terlihat seperti kehilangan gairah hidup. Ia keluar dari ruangan dan berjalan lesu kembali ke kamar bersama Spectra yang berjalan di sampingnya.


“Spectra. Panggil Roboto dan Purple,” pintanya dengan pandangan kosong.


“Baik.”


Matteo membaringkan tubuhnya di ranjang kamar tempat para User robot tinggal sementara waktu selama masa tugas sedang berlangsung. Telunjuknya bergerak memegangi jam tangan dengan pandangan kosong.


“Blue, gantikan aku. Sandra membutuhkanmu, bukan diriku. Bangunlah,” ucap Matteo perlahan memejamkan mata seraya menekan layar pada jam tangan di pergelangan tangan tanpa gelang tersebut.


KLIK! CLEB!


Spectra bergerak dan kembali ke bingkai tempat ia berada. Matteo terlihat seperti orang yang tertidur lelap.


Entah sudah berapa lama ia berbaring, tiba-tiba Eco—asisten ruangan—melakukan panggilan dan seketika, mata Matteo terbuka.


“Selamat malam, Jenderal Matteo. Anda mendapat panggilan dari Wakil Presiden Lala dan diminta untuk segera ke ruang simulasi. Otka Oskova siap untuk mengulang level yang gagal sebelumnya,”ucap Eco.


“Oke,” jawab Matteo segera bangun dan berjalan dengan langkah cepat ke wastafel.


Pria bermanik biru itu memandangi wajahnya di cermin. Rautnya terlihat begitu serius saat mengeringkan kulitnya dengan sebuah handuk  hijau muda.


“Apa yang terjadi? Kenapa aku masih Matteo? Di mana Blue?” tanya Matteo bingung dengan kening berkerut.


Pria yang dijuluki ‘Malaikat Langit’ karena wajahnya yang rupawan, rambut yang berkilau, kulitnya tampak berseri, tubuh yang atletis, lensa mata biru meneduhkan, dan senyumnya yang menawan.


Praktis, seluruh kesempurnaan itu membuat semua orang yang melihatnya pasti akan terpesona.


Namun hari itu, hanya wajah serius yang tampak dari ketampanannya karena wanita yang dicintainya terperangkap dalam simulasi peperangan dan ternyata, berimbas ke dunia nyata di mana hal ini tak pernah terjadi sebelumnya.


***



uhuy tengkiyuw tipsnya mbak aju. lele padamu😍 pegel uyy😆

__ADS_1


__ADS_2