
Sandra terlihat begitu letih. Ego menatap Sandra seksama dari tempatnya berdiri. Ternyata, banyak kandidat yang melakukan hal serupa seperti Sandra.
Mereka mulai menggelepar memegangi kedua tangan mereka yang terasa sakit karena menopang terlalu lama.
"Hanya segini saja kemampuan kalian? Pantas saja, butuh waktu lama bagi kalian semua untuk menjadi seorang User," ucap Ego berkesan menyindir ke semua kandidat yang sudah bercucuran keringat.
Terlihat beberapa kandidat berusaha untuk bangkit, tapi mereka roboh lagi karena sudah tak sanggup, termasuk Sandra.
TERERET!
"Selamat kepada Boldomero Baden. Anda berhasil menjadi peserta dengan melakukan push up terbanyak sejumlah 375," ucap Eco menginformasikan, tapi tak ada tepuk tangan dari para kandidat karena tangan mereka serasa kram.
"Hanya 375? Aku cukup yakin jika melakukan lebih dari itu," sahut Baden protes.
"Oke. Coba kita cek," timpal Ego seraya menunjuk ke layar besar di mana rekaman Baden ditayangkan.
Terlihat sebuah data di sana. Jika tak menggunakan sistem analisis dari Eco, Baden mampu melakukan push up hingga 497.
Namun ternyata, ada beberapa gerakan yang dianggap tak sempurna oleh Eco karena hal simple seperti posisi topangan tangan yang tak sesuai standar, tekukkan ketika melakukan dorongan, punggung yang tak rata, dan posisi tubuh yang tak sesuai dengan catatan sebuah gerakan push up ideal.
"Agh, shitt!" keluh Baden kesal dengan keringat membasahi di tubuhnya.
Sandra melirik nilainya yang ternyata hanya mampu melakukan 315 gerakan.
"Eco sangat selektif. Sudah kubilang, kalian mungkin bisa menipu mata kami, para manusia, tapi tidak dengan Eco. Dia diprogram secara khusus di bawah pengawasan langsung Presiden Roman. Jadi, jika kalian ingin protes, bisa disampaikan langsung kepada Presiden. Ingin aku melaporkannya?" tanya Ego seraya menaikkan salah satu alis.
Praktis, semua orang menggeleng cepat terlihat takut termasuk Sandra. Para operator tersenyum geli karena nyali para kandidat itu ciut seketika saat nama Roman disebut.
"Oke. Latihan hari ini aku anggap cukup. Kita lakukan pelemasan sebelum dibubarkan. Kita akan bertemu lagi esok hari. Berdiri," tegas Ego dan orang-orang itu terlihat begitu letih karena fisik mereka digempur hari itu dengan berlari dan push up.
Para kandidat berbaris rapi di tempat mereka berdiri. Ego mengajarkan sebuah gerakan yang membuat para calon User dibuat terkejut karena ternyata, tubuh Ego cukup lentur di balik otot-otot padanya. Ia seperti mengajarkan gerakan senam dengan gaya lambat seperti ilmu bela diri Tai Chi.
Sandra mengikuti gerakan tersebut di mana ia tak pernah mempelajari ilmu itu sebelumnya. Tubuh Sandra terlihat luwes dan tanpa para pria itu sadari, mata mereka teralih ke tubuh Sandra yang meliuk indah seperti seorang penari di tepian oasis di tengah tanah tandus.
Para kandidat bukannya mengikuti gerakan Ego, mata mereka malah terfokus pada gerakan Sandra yang terlihat lebih nikmat untuk dipandang.
Diam-diam, Ego menyadari hal itu, tapi membiarkannya hingga gerakan tersebut selesai dilakukan.
"Oke. Terima kasih atas partisipasi kalian. Mulai besok, Otka Oskova akan aku tempatkan di barisan paling belakang. Aku melihat, banyak yang tidak fokus dan mulai berhalusinasi," ucap Ego tenang, tapi menohok beberapa pria karena merasa tersindir.
Sandra berkerut kening terlihat bingung dengan ucapan sang Komandan. Bablo—salah satu operator di Pusat Kendali Robot Level A nantinya—terkekeh karena ia paham yang dimaksud oleh sang Komandan.
Sore itu, latihan telah selesai. Para kandidat terlihat begitu letih. Sandra memilih segera kembali ke kamarnya. Spectra yang mengawasi ikut kembali ke ruangan sang Jenderal.
Terlihat, pria bermanik biru itu sibuk di ruang kerjanya mengurus beberapa dokumen digital di layar sentuh monitor di depannya.
PIP!
"Isi dayamu, Spectra. Terima kasih laporannya hari ini," ucap Matteo melirik robotnya sekilas dengan wajah datar dan Spectra segera masuk ke sebuah tabung di ruangan tersebut untuk mengisi baterai.
Tiba-tiba, Matteo meletakkan pulpen elektriknya. Ia terlihat kesal akan sesuatu.
"Sial. Kenapa di kepalaku hanya berisi Otka saja? Aku jadi tak bisa berpikir dan menyelesaikan pekerjaanku. Menyebalkan!" gerutunya kesal karena bingung menyelesaikan konflik di pikiran dan hatinya.
__ADS_1
Matteo kembali mengambil pulpen itu, tapi bukannya menyelesaikan pekerjaannya, ia malah menggambar sosok Sandra di layar monitor di hadapannya.
Perlahan, senyum Matteo terukir tanpa ia sadari. Cukup lama sang Jenderal menggambar hingga akhirnya, sketsa Sandra berhasil ia dapatkan dengan garis berwarna biru.
"Hem. Aneh. Kenapa ... jantungku berdebar-debar ya?" tanyanya heran seraya memegangi dadanya dengan kening berkerut.
Matteo beranjak dari kursi kerjanya dan mengambil air minum di dapur. Ia memilih untuk istirahat sejenak dan berdiri di balkon kamar.
Tanpa sengaja, ia melihat Tony bersama Akira sedang berdiri berdua menyeberangi perairan untuk menuju ke gedung Green Eco yang berada di seberang.
"Hem. Aku putuskan, kau menjadi rivalku, Captain Tony," ucapnya menunjuk dari tempatnya berdiri dengan wajah serius.
Keesokan harinya, Sandra kembali menjalani pelatihan berat bersama kandidat pria lainnya. Hari itu, mereka dituntut melakukan sit up dengan teknis seperti sebelumnya.
Tubuh para kandidat yang masih terasa kaku dan kram di beberapa bagian, membuat pergerakan orang-orang itu sedikit lambat.
Namun, Sandra yang terus melakukan latihan fisik selama beberapa bulan terakhir membuatnya seperti tak begitu kesulitan, meski ia tetap tak bisa mendapatkan urutan pertama dan selalu masuk 3 besar.
TERERET!
"Selamat kepada Benvolio Benigno. Anda berhasil menjadi peserta dengan melakukan sit up terbanyak sejumlah 401," ucap Eco menginformasikan.
Kini, suara tepuk tangan terdengar sebagai bentuk dukungan orang-orang kepada salah satu kandidat asal Italia itu. Pria itu mengangguk berterima kasih, meski terlihat kelelahan.
"Oke. Setelah makan siang, kita berkumpul di luar gedung. Cuaca masih cukup dingin di luar meski sebentar lagi musim semi tiba. Namun, cuaca yang tepat untuk berlatih. Persiapkan diri kalian. Bubar!" ucap Ego dengan penuh maksud dalam tiap perkataannya.
Semua kandidat langsung berwajah jelek saat mereka merasa jika pelatihan berat selanjutnya berada di luar ruangan.
"Sebentar lagi, kau akan diwisuda, Otka. Selamat ya," ucap Ben dengan senyum manisnya.
"Ya, terima kasih. Semoga ... kalian bisa segera menyusul," jawab Sandra dengan senyum yang sama karena para kandidat yang ikut latihan bersamanya baru bisa diwisuda tahun depan.
Sandra akan diwisuda bersama para kandidat User tahun sebelumnya di bulan Maret saat musim semi nanti. Terlihat keakraban dari wajah para prajurit itu saat menikmati makan bersama.
Spectra, lagi-lagi mengintai dari kejauhan. Matteo terlihat sendu melihat Sandra mampu bersosialisasi dengan orang-orang begitu mudah seperti tak mengalami kesulitan.
"Apa yang salah denganku? Aku tak bisa akrab seperti itu dengan orang-orang di sekitarku. Mereka tak pernah tertawa atau tersenyum santai di hadapanku," tanya Matteo bingung dengan dirinya sendiri.
Sang Jenderal berdiri di depan cermin dan menunjukkan senyumnya dengan berbagai gaya. Ia bahkan melakukan beberapa gerakan dan pembicaraan seolah ada orang di depannya.
"Agh, tidak-tidak. Otka tak melakukan hal konyol itu. Dia ... seperti ini," ucapnya mengolok tingkah lakunya sendiri.
"Ehem," dehemnya memulai aksi panggung solo dengan senyuman meski terlihat terpaksa dan tubuh tegak membusung. "Hai, aku ... Matteo Corza," ucapnya seraya mengajak berjabat tangan dan berpura-pura ada orang yang menyambutnya. "Aku ... seorang Jenderal di Great Ruler. Hem, kau tahu 'kan jabatan itu. Aku juga ... akan menjadi calon Presiden menggantikan Roman nantinya. Ya, ya, aku tahu, terima kasih. Aku memang tampan, cerdas, kaya, dan ... hebat. Jangan memujiku seperti itu. Aku juga heran kenapa bisa terlahir sempurna seperti ini, hahahaha," ucapnya berlagak.
Tanpa Matteo sadari, Lala mengintip kegilaan yang sedang Matteo lakukan di ruang kerjanya. Sora, yang ikut bersama Lala ikut menahan senyum karena baru pertama kali melihat sang Jenderal melakukan hal konyol tersebut.
"Agh, tidak, tidak. Otka tak pernah memuji dirinya sendiri. Mungkin ya, sesekali, tapi tak begitu. Mm, bagaimana ya?" ucapnya kembali merevisi tingkah lakunya.
Sora yang biasanya menunjukkan wajah angkuhnya sampai tak bisa menahan senyum. Hingga akhirnya, ia memberanikan diri muncul bersama sang Wakil Presiden.
"Sora! Sudah kaupersiapkan dokumen untuk ditandatangani oleh Jenderal?" tanya Lala yang berpura-pura baru datang dan suaranya terdengar di koridor.
__ADS_1
Praktis, mata Matteo terbelalak. Ia segera kembali ke kursi kerja dan terlihat serius dengan pekerjaannya.
"Hai, Jenderal," sapa Lala dengan senyum terkembang dan Matteo mengangguk dengan sikap angkuh seperti biasa.
Sora ikut masuk ke ruangan dengan anggun, meski terlihat seperti menahan senyum.
"Maaf, Matteo karena memberikanmu banyak pekerjaan. Roman sedang serius dengan tes terakhir robot Otka nantinya," ucap Lala seraya mengambil sebuah chip dari dokumen yang telah Matteo selesaikan di sebuah kotak berwarna hitam.
"Ya, Bibi, aku mengerti. Jadi ... apakah sudah sempurna?" tanya Matteo seraya menerima dokumen baru berupa sebuah tablet dari Sora.
"Kau diminta untuk ikut memeriksanya begitu semua pekerjaan ini selesai. Minggu depan?" tanya Lala dan Matteo mengangguk.
Lala lalu pamit undur diri. Ia meninggalkan Sora karena masih ada pekerjaan yang harus Sora sampaikan pada sang Jenderal. Matteo terlihat waspada dengan sekitar. Sora mengerutkan kening terlihat bingung.
"Ada apa, Jenderal?" tanya Sora menatap pria tampan di depannya keheranan.
"Sora. Kau belum memiliki pacar 'kan?"
Sora langsung memundurkan tubuhnya hingga terpepet sandaran kursi. "Aku tak mau berkencan denganmu," tegasnya menolak. Matteo terkejut.
"Aku bahkan tak menawarkanmu hal itu. Jangan sombong," desisnya dan Sora memalingkan wajah dengan angkuh. Matteo menarik napas dalam. Ia terlihat bersabar dengan teman semasa sekolahnya dulu. "Sora. Menurutmu ... bagaimana Captain Tony?" tanya Matteo tiba-tiba.
"Tony?" Matteo mengangguk. Sora terlihat seperti berpikir serius. "Dia ... baik. Dia ... merasa tak sungkan berbicara padaku," jawab Sora lugu. Mata Matteo berbinar.
"Itu pertanda, jika Tony suka padamu," sahutnya cepat langsung memajukan tubuhnya dengan kedua tangan di atas meja kerja.
"What?"
Matteo mengangguk cepat. "Pria tak pernah mengakui perasaannya. Namun, dari semua pria, hanya Tony saja 'kan yang berani bertegur sapa, mengajakmu mengobrol dan ... sejenisnya?"
"Sejenisnya?" sahut Sora mengulang karena baginya Matteo sungguh aneh.
"Ya. Kenapa kau tak mencari tahu tentang Tony. Dia masih single, seperti dirimu."
"Execuse me?" sahut Sora langsung menaikkan salah satu alisnya.
"Aku mendukungmu, Sora. Yakinlah padaku, hanya Tony yang pantas untukmu," tegas Matteo menatap Sora lekat.
Namun sikap anehnya itu malah membuat Sora curiga. Wanita cantik berambut Toska itu memilih pergi dan tak melanjutkan obrolan anehnya lagi dengan sang Jenderal.
Matteo terlihat bangga dengan aksinya barusan di mana ia memiliki cara tersendiri untuk menyingkirkan Tony dari Sandra.
"Hem, aku memang hebat," ucapnya memuji diri sendiri.
***
ILUSTRASI
SOURCE : GOOGLE
uhuy tengkiyuw tipsnya lele padamu😘 laper uyy makan siang dulu~
__ADS_1