
Sandra berjalan menuju ke gedung pelatihan tempat ia mempelajari teknik dari tiga ilmu bela diri yang Matteo pilihkan untuknya.
Ternyata, kehadiran Sandra telah ditunggu oleh orang-orang yang bertugas hari itu. Sayangnya, sang Jenderal belum muncul karena masih masa pemulihan, tapi ada Spectra di sana.
Mata Sandra terfokus pada robot pintar tersebut. Spectra balas menatapnya, dan hal itu malah membuat Sandra gugup.
Sandra diminta oleh petugas untuk segera bersiap, tapi kali ini ia tak menggunakan baju robot. Ia hanya memakai pelindung gigi dari karet, pelindung kaki tanpa alas, dan bantalan tangan berwarna putih yang selaras dengan baju karate yang ia kenakan hari itu. Sandra terlihat bingung.
"Pakaian ini dipakai oleh para manusia seabad yang lalu, Otka. Kita menghormati budaya leluhur," tegas Colonel Brego yang ikut menonton. Sandra mengangguk paham.
"Kali ini lawanmu adalah manusia, Otka," sambung Wakil Presiden Lala yang menjadi pengawas dan penilai ujian hari itu.
"Oke. Siapa lawan saya, Wapres Lala?" tanya Sandra gugup dan telah berdiri di lingkaran tempat ia biasa berlatih.
Lala hanya tersenyum. Tiba-tiba, lingkaran tempat biasanya ditempati oleh robot mentor, kini ditempati oleh Komandan Ego.
Pria bertubuh atletis itu mengenakan seragam berwarna serupa dengannya, tapi pelindung tangan dan kaki berwarna hitam. Sandra menelan ludah, ia tahu kekuatan Ego karena pernah uji coba dengannya di hari terakhir.
"Hallo," sapanya dengan senyuman, tapi kesan intimidasi begitu terasa.
"Hallo, Komandan," jawab Sandra sopan seraya membungkuk.
"Kita akan bertanding Karate. Eco akan menilai dari sensor gerak yang ia tangkap dari tubuhmu. Ada 7 teknik yang masuk dalam penilaiannya. Kihon atau gerakan dasar. Lalu ada Kata atau jurus yang nantinya akan kau gunakan seperti latihan kita sebelumnya," ucapnya menjabarkan dan Sandra mengangguk paham. "Lalu, Kumite atau pertarungan di mana kau dituntut untuk agresif. Jangan segan untuk memukulku atau kau akan kalah. Aku serius, Sandra," tegasnya menunjuk dan Sandra terlihat tegang seketika. Ego tersenyum tipis. "Berikutnya, Dachi atau kuda-kuda yang akan dilihat oleh sistem apakah sesuai atau kau asal bergerak saja. Selanjutnya Zuki atau pukulan, Geri atau tendangan, dan terakhir Uke atau disebut dengan tangkisan."
"Oke, aku mengerti," jawab Sandra seraya memposisikan tubuhnya tegap layaknya prajurit.
"Kita akan bertanding sampai 15 menit ke depan. 7 penilaian itu akan dirangkum oleh Eco. Kau dinyatakan lulus jika syarat dari Eco berhasil kau lengkapi. Level kesempurnaan dalam pertandingan ini adalah level 10. Mari tunjukkan kesiapanmu selama ini, jangan kecewakan kami, Otka," tegas Ego dan Sandra hanya bisa menjawab dengan anggukan untuk kesekian kalinya.
"Otka," panggil Wakil Presiden Lala yang membuat Sandra langsung menoleh ke arahnya.
"Kami lupa memberitahukanmu. 10 level untuk satu jenis ilmu bela diri. Matteo meminta 3 jenis. Jadi, kau harus mengumpulkan nilai sempurna di tiap jenis ilmu bela diri," ucap Lala yang membuat Sandra langsung mematung di tempatnya berdiri.
"Oke! Kau bisa melamun saat ini semua selesai, Otka. Bersiap!" seru Ego lantang yang mengembalikan fokus Sandra di mana hari ini adalah penentuan akhir dari pelatihan kilatnya selama sebulan.
"Jika kau tak lulus, kau harus mengulang latihan sampai kau mendapatkan nilai sempurna, dan hal itu, akan sangat menyakitkan fisikmu, Otka Oskova," tegas Ego berdiri tegap terlihat siap untuk bertarung.
Sandra menarik nafas dalam dan menghembuskannya. Ia mengangguk mantap dan berdiri dengan kaki lebar terlihat kokoh menatap Ego tajam yang berdiri di hadapannya.
Lala memberikan perintah pada Xili untuk memulai timer 15 menit.
"Dalam hitungan mundur. 5 ... 4 ... 3 ... 2 ... 1, start!" ucap Eco memulai pertandingan.
Keduanya langsung melakukan lompatan kecil dengan kaki bergerak gesit maju-mundur saling mendekat dengan kedua tangan siap beradu. Keduanya terlihat waspada dan saling menunggu siapa yang akan menyerang duluan.
Ego membuat gertakan-gertakan dengan kedua tangan siap untuk melakukan pukulan, dan Sandra termakan oleh gerakan intimidasi itu.
Benar saja, Ego melakukan pukulan kecil di pelindung tangan kiri Sandra. Wanita itu tersentak saat tiba-tiba saja sebuah tendangan meluncur dari kaki kiri Ego dan mengenai leher samping kanannya.
DUAKK!
__ADS_1
"Oh!" seru para penonton yang terkejut akan serangan cepat itu.
Sandra segera menyingkir. Ego tersenyum dan kembali melakukan lompatan kecil. Kali ini, Sandra balas menyerang dengan cara serupa, tapi Ego melihatnya dan mampu menghindar dengan memiringkan tubuhnya ke samping.
Lala dan semua orang yang melihat kemampuan Ego tersenyum. Sandra terlihat tegang dan sangat berambisi untuk bisa menjatuhkan pria berkulit hitam di depannya. Namun, semua pergerakannya seakan bisa dibaca oleh sang Komandan.
Tiap Sandra melakukan gertakan dengan melompat-lompat kecil seraya mengadu pukulan tangannya, Ego terlihat tak takut dan tetap bertahan dengan posisinya.
Saat Sandra tiba-tiba meluncurkan tendangan dengan titik ke dagu Ego, pria berkulit hitam itu dengan mudah mengelak hanya dengan menekuk punggungnya ke belakang. Semua tendangan Sandra bisa dihindari olehnya.
"Come on, Otka! Berhenti bermain-main dan fokus!" teriak Ego lantang saat melepaskan pelindung gigi dan malah meminta Sandra untuk menyerangnya.
"Wah, sepertinya Komandan Ego mengharapkan kena hajar Otka, Mam," celetuk Xili, dan Lala tersenyum dengan kedua tangan melipat di depan dada.
Benar saja, permintaan Ego terkabul. Sandra melakukan gertakan dengan mengangkat kaki kirinya seperti bersiap untuk menedang, tapi ternyata ....
DUAKK!
"Emph!" rintih Ego saat tendangan tipuan Sandra berhasil mengecoh.
Tendangan dari kaki kanan dengan cepat meluncur dan mengenai rusuk kiri Ego. Sang Komandan terkejut karena Sandra terus menyerangnya bahkan terlihat tak takut ketika lawannya melakukan serangan balasan.
Sandra menendang paha atas dan melakukan pukulan dengan kedua tangannya bergantian, meski tak mengenai wajah Ego, tapi gerakan itu membuat Ego sedikit kehilangan fokus.
"Yeah! Itu yang kumaksud! Lakukan lebih baik lagi!" pinta Ego tak marah dan makin mendukung.
Keduanya kembali ke lingkaran dan memulai melakukan lompatan saat Eco menyuarakan tanda pertandingan dimulai. Kali ini, Sandra lebih agresif dan Ego terlihat waspada.
Dengan cepat, Sandra melompat seakan dirinya terbang dengan melakukan pukulan langsung dan tepat mengenai pipi kiri Ego.
Sandra menambahnya dengan pukulan lanjutan yang mengenai pipi kanan sang Komandan. Ego tertegun dan langsung menjauh.
Keduanya terlihat mulai fokus. Saat Sandra kembali menyerang dengan gerakan yang sama, Ego kini berhasil menghindar dengan membungkuk dan memiringkan tubuhnya hingga menghadap ke samping, menahan serangan Sandra.
Ego berkelit ke samping, dan langsung meluncurkan tendangan dengan kaki terbalik dalam posisi memunggungi Sandra, mengenai kepala belakang saat wanita tersebut memposisikan tubuhnya menyamping. Sandra terdorong ke depan dan terkejut akan serangan balasan itu.
Penonton saling menarik nafas ikut tegang dalam pertandingan ini. Kedua petarung kembali ke titik lingkaran.
Kali ini, Sandra semakin agresif karena waktu mulai memasuki menit kesepuluh dan poin yang ia miliki seimbang dengan sang Komandan.
Keduanya saling menggertak dalam lompatan kecil, memojokkan lawan hingga ke batas arena. Keduanya saling memukul bantalan tangan memberikan efek kejutan.
Tiba-tiba saja, saat Ego melangkah maju untuk memojokkan Sandra, wanita berambut pirang itu memposisikan tubuhnya seperti orang berlutut seraya melakukan tinju ke dari kedua tangannya secara bergantian ke arah perut Ego.
Sang Komandan terkejut dan langsung melangkah mundur meski ia sudah terkena pukulan tersebut.
Sandra tak memberi ampun. Saat Ego kembali melakukan gertakan dengan pukulan ke bantalan pelindung tangan Sandra dengan cepat, kaki kanan Sandra melangkah maju lalu mengangkatnya membentuk sebuah tekukan tajam.
Ego menahan serangan tersebut dengan tangan kanannya, tapi luncuran dari kedua tangan Sandra dengan cepat terarah ke wajah sang Komandan.
__ADS_1
BUK! BUK!
"Wooo!" seru para penonton saat Sandra berhasil mengenai wajah pria berkulit hitam yang ukuran tubuhnya dua kali dari dirinya.
Keringat Sandra mulai bercucuran, termasuk Ego yang mengedipkan mata berulang kali seperti berusaha untuk tetap sadar karena terkena pukulan.
"Kau memiliki dendam padaku? Awas saja jika aku harus melakukan operasi plastik," tegurnya menunjuk lawan tandingnya. Sandra terkekeh dan kembali ke lingkarannya.
Saat keduanya kembali melompat kecil dan melakukan gertakan untuk kesekian kalinya, indera penglihatan Sandra menajam seketika. Ia bisa melihat Ego meluncurkan tendangan kaki kirinya.
Dengan cepat, Sandra membungkuk dan mengapit lutut Ego hingga pria itu terperangkap. Sandra merapatkan tubuhnya. Ia menendang kaki Ego yang menjadi tumpuan.
Sang Komandan terkejut dan pertahanan Ego roboh. Pria besar itu jatuh di area dengan punggung sebagai alas.
PRITTT!!
"Yeahh!" para penonton bersorak-sorai.
Sandra memenangkan perolehan poin dan semua teknik yang ia gunakan terekam oleh Eco.
Wanita itu terlihat senang dan langsung berlutut di arena. Ego tersenyum seraya mendekat. Ia mengajak tos Sandra dengan kepalan dari bantalan tangan.
"Jangan puas dulu. Masih ada pertandingan selanjutnya melawan Akira. Dia sudah sembuh dan siap menghajarmu," ucap Ego mengingatkan dan Sandra langsung pucat seketika.
Sandra yang belum pernah melawan Akira sebelumnya, tak tahu bagaimana teknik untuk melawan sang Komandan, calon suami Eliz tersebut.
Sandra diberikan ucapan selamat karena Eco memberikan nilai sempurna. Wanita berambut pirang itu lolos level 10 ilmu bela diri selama 15 menit.
Pertandingan akan dilanjutkan besok. Sandra diminta untuk kembali ke kamar untuk beristirahat.
Makan siang dan malamnya akan diantar ke rumah mengingat kejadian yang menimpa Matteo bisa terjadi pada siapapun, dan Lala tak ingin calon User level A-nya mengalami kejadian serupa.
"Selamat, Otka. Beristirahatlah, dan persiapkan dirimu untuk pertandingan besok melawan Akira. Semoga sukses," ucap Lala yang diangguki oleh Sandra saat Wakil Presiden Great Ruler tersebut pergi meninggalkan ruang simulasi.
Sandra ditemani oleh Ego kembali ke kamar. Keduanya terlihat akrab, bahkan tak saling membenci padahal mereka saling tendang dan pukul di arena.
"Em ... apakah kau punya saran untukku saat melawan Akira besok?" tanya Sandra meringis.
Ego terkekeh, tapi menggeleng. "Maaf, tapi sungguh aku tak punya teknik apapun untuk membuatnya kalah. Akira sangat tangguh. Sebaiknya, kau banyak berdoa saja," jawabnya yang malah membuat Sandra makin tertekan.
Sandra mengucapkan terima kasih dan segera masuk ke kamarnya. Ego balas tersenyum dan melangkah pergi meninggalkan kamar Sandra.
"Huff ... Akira. Hem, aku sungguh penasaran dengan gaya bertarungnya. Semoga, aku bisa mengalahkannya agar bisa mencapai level 10. Oh, jantungku tak bisa berhenti berdebar jika mengingat besok harus bertanding melawannya. Seseram itukah dia?" ucapnya panik memegangi dadanya yang meletup-letup seperti popcorn.
***
rencananya mau crazy up eh malah diajak kencan sama abang monster😑 gagal dah😩 tengkiyuw tipsnya. lele padamu💋
__ADS_1