
Keesokan harinya. Sandra yang tak menyadari jika sang Jenderal telah bangun dari tidurnya, sedang ditatap dalam entah apa yang dipikirkan pria bermanik biru tersebut.
"Selamat pagi, Tu—"
"Ssst! Diam! Pergi sana! Jangan kemari kalau tidak kuminta," tegas Matteo langsung menunjuk robot asistennya itu tajam.
Spectra keluar kamar karena diusir oleh majikannya. Matteo kembali memandangi wajah polos Sandra yang tertidur lelap dalam posisi duduk dengan tumpukan bantal sebagai sandarannya.
"Hem. Dia memang berbeda, tak seperti tiga wanitaku sebelumnya. Dia berani memarahiku bahkan menunjukku. Wanita ini punya nyali," guman Matteo masih sibuk mengamati wajah Sandra saksama.
"Tapi ... dia isteri Vemo. Haish, pria bertato itu beruntung sekali bisa mendapatkan seorang wanita yang mau berkorban untuknya. Haruskah ... aku melakukan semacam sabotase, agar keinginannya mencari Vemo padam? Selain itu, pernikahan mereka ilegal. Roves tak menyetujuinya. Sayang sekali, wanita sehebat Otka harus berakhir dengan lelaki penuh tato seperti Vemo," guman Matteo menggerutu.
"Emph."
Matteo terkejut karena Sandra mulai menggerakkan tubuhnya dan mulai membuka mata. Matteo akhirnya mengikuti gerakan Sandra seperti orang bangun tidur dengan memunggunginya.
Tentu saja, Sandra terkejut saat mendapati Matteo duduk di sampingnya meski matanya masih terpejam dan rambutnya berantakan. Sandra menelan ludah.
"Hoamp." Matteo menguap seraya merentangkan kedua tangan pura-pura tak melihat Sandra di dekatnya, sedang wanita cantik itu terlihat gugup. "Oh! Kau di sini?" tanya Matteo pura-pura terkejut saat membalik tubuhnya.
"Mm ... sepertinya, Anda sudah lebih baik. Saya ... permisi kembali ke kamar. Sampai jumpa, Jenderal," ucap Sandra sungkan dan segera beranjak.
Matteo bingung dan sebenarnya enggan untuk ditinggal, tapi ia tak punya alasan untuk menahan wanita cantik itu untuk tetap bersamanya.
"Ya, hati-hati dan terima kasih," ucap Matteo dengan senyum terkembang.
Sandra terlihat gugup. Ia membalas senyum itu dan bergegas pergi meninggalkan kamar Matteo. Sedang sang Jenderal, terlihat begitu gembira saat merebahkan tubuhnya lagi di ranjang.
"Spectra! Siapkan sarapan untukku. Cepat! Aku lapar!"
"Baik," jawab Spectra yang baru saja masuk kamar lalu keluar lagi untuk melakukan perintah majikannya. Spectra meneruskan pesan dan segera dikerjakan oleh robot koki.
Hari itu, kondisi Matteo sudah mulai membaik. Ia tak terlihat pucat, ditambah, kue yang dibawa oleh Sandra kini sudah diakuisisinya.
__ADS_1
Sedang Sandra, terpaksa merelakan kue buatan puteri Zua karena merasa canggung jika terlalu sering bertemu Matteo dan takut jika dianggap membuat alasan dengan mengambil kuenya.
"Selamat datang kembali, Otka Oskova. Pemberitahuan jadwal terbaru dari Wakil Presiden Lala," ucap Eco yang membuat langkah Sandra terhenti saat akan masuk ke kamar mandi.
"Ya? Detail," pintanya kini berdiri di bingkai pintu tersebut dan mendengarkan dengan serius.
"Mulai bulan Januari minggu pertama sampai akhir Februari sebelum wisuda, pelatihan tambahan akan dilakukan. Empat mentor telah ditunjuk untuk membantumu berlatih. Mereka adalah Komandan Akira, Komandan Ego, Captain Tony, dan Jenderal Matteo Corza. Masing-masing dari mereka akan memberikan kelas berbeda," jawab Eco menjelaskan.
"Oke," jawab Sandra pasrah dan segera masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Hari itu, cuti bersama telah berakhir. Semua penduduk di Great Ruler memulai aktivitasnya seperti biasa dengan bekerja dan bersekolah sesuai jadwal.
Di sisi lain tempat Vemo berada.
"Apa yang kauinginkan dariku, ha? Kalian ingin menjadikanku mutan? Enak saja!" teriaknya marah menunjuk sekumpulan ilmuwan yang kini berdiri di depan dinding kaca tempat Vemo disekap.
"Hah, sombong sekali. Kau pikir, kau pantas untuk menjadi salah satu mutanku? Sayangnya tidak, Vermendis Vemo. Kami memiliki ketertarikan lain darimu, tentang ... ini," jawab Morlan seraya menunjukkan dua buah benda yang diambil dari sebuah koper khusus milik Vemo yang berhasil dicuri oleh para mutan kala itu di Distrik 10.
"Akan kami kembalikan, tapi dengan syarat. Buat yang banyak. Jika kau mencoba menipu kami, aku tak segan membuatmu ditemani oleh salah satu mutan baru ciptaanku. Hehehe," kekeh Morlan dengan seringainya.
Vemo menelan ludah. Ia langsung menoleh di mana dinding kaca di sebelah kanannya terbuka. Tampak seekor mutan jenis baru yang mengerikan dan bentuknya tak lazim. Mata Vemo melebar seketika.
"Iiek! Iiek!" lengkingnya yang membuat pria bertato itu merinding dan langsung mundur hingga punggungnya terpepet tembok. Pria itu ketakutan.
"Kami ... belum mengujinya, dan rencananya ... kau akan menjadi kelinci percobaan itu, jika, kau, tidak mau, mengerjakan, apa yang, aku, perintahkan," tegas Morlan mendikte yang memuat Vemo terpaksa mengangguk karena mutan yang hanya tersekat pembatas dinding kaca itu seperti mengetahui keberadaan dari mangsanya.
Vemo melihat gerak-gerik mutan tersebut yang tak memiliki mata dan telinga, seperti buta. Namun dia yakin, jika makhluk mengerikan itu memiliki kemampuan lain terlihat dari bulu-bulu seperti duri kaktus yang mencuat di sebagian tubuhnya. Vemo sibuk mengamati dan menilai tentang mutan jenis baru itu saat para ilmuwan itu pergi meninggalkannya.
Pasti campuran dari manusia lagi. Makhluk ini berkaki dua dan memiliki tangan sangat panjang, meski tak ada jarinya. Namun, kukunya sungguh mengerikan. Giginya tajam dan seperti mulut dari hewan pemangsa. Iyuh, dia mengeluarkan lendir. Selain itu ... itu apa? Duri? Bulu? Apa fungsinya? tanya Vemo yang malah mendekati dinding kaca tempat makhluk itu disekap.
"Iiiekk!"
__ADS_1
"Oh!" Vemo terkejut dan kembali mundur, tapi ia menyadari sesuatu.
Tadi jika tak salah lihat, saat aku mendekat, bulu-bulu itu bergerak. Oh, apakah ... dia bisa mendeteksi gerakan dari bulu panjang seperti duri itu? Ah, ya, aku yakin demikian. Gila, Morlan dan anak buahnya semakin sinting bukannya waras. Untuk apa mereka terus melakukan penelitian dan membuat makhluk-makhluk mutan? tanya Vemo tak habis pikir dengan jalan pikiran mantan presiden Great Ruler itu.
Sore itu, usai Vemo menyantap makan malamnya ditemani oleh mutan buta dalam ruangan kaca, suami ilegal Sandra tersebut diajak ke sebuah ruangan kosong dengan beberapa perlengkapan tergeletak secara berantakan di meja. Vemo terlihat bingung dan berdiri di depan koper miliknya dengan gugup.
"Buat senjata seperti milikmu itu. Kami mengawasimu, Vermendis Vemo. Jangan berpikir bisa kabur, karena ... kau dijaga oleh para mutanku. Berani kau membuat keributan, aku tak segan melepaskan mereka," ucap Morlan tegas seraya menekan sebuah tombol pada remote yang ia genggam.
NGEKKK!!
Praktis, mata Vemo melebar. Ruangan itu ternyata tempat Morlan mengurung mutan-mutan ciptaannya.
Vemo lemas seketika dengan pandangan tak menentu. Jumlah mutan itu ada puluhan dengan berbagai jenis. Vemo seperti mengalami sesak napas karena tak percaya dengan apa yang dilihatnya.
"Untuk apa kau menciptakan mereka semua, Morlan?!" tanya Vemo lantang dengan napas tersengal.
"Jangan banyak bertanya. Jika ingin tetap hidup, kerjakan apa yang kuminta. Gagal, kau akan jadi santapan para mutanku. Jangan kau kira, kami tak bisa membuat senjata seperti buatanmu, Vemo. Kami bisa, hanya saja, kami tak suka melihat orang lain bermalas-malasan sedang kami sibuk bekerja. Jadi, kau juga harus menyibukkan diri agar otakmu tak berkarat. Selamat bekerja," jawab Morlan santai lalu menutup pintu ruangan seperti bengkel tersebut meninggalkan Vemo seorang diri.
Vemo pucat dan terlihat gugup hingga tubuhnya gemetaran saat melihat dinding kaca di sekitarnya dipenuhi mutan yang seperti mengincarnya.
Vemo tertekan dan terlihat ketakutan. Pria itu kebingungan sampai menjatuhkan beberapa benda ketika memilih peralatan untuk membuat senjata ciptaannya karena merasa diincar oleh para makhluk menyeramkan itu.
***
ILUSTRASI
SOURCE : PINTEREST
Uhuy. Kayaknya novel SIMULATION series akan lele tamatkan akhir november ini karena novel cetak udah jadi ya. Jangan lupa komennya bagi yang udah baca di novel cetak, tapi ... jangan spoiler ya karena banyak eps yang belom nongol di sini.
Tengkiyuw tipsnya, lele padamu❤️ mau rehat dulu makin gak karuan ini badan. bengek oh bengek.
__ADS_1