
ILUSTRASI
SOURCE : GOOGLE
------- back to Story :
Di sisi lain, tempat Morlan dan kelompoknya berada. Sebuah laboratorium penelitian dibangun kembali oleh mantan Presiden Great Ruler tersebut, jauh di luar wilayah negara tempat kelahirannya.
Sebuah wilayah yang ditinggalkan, di mana konon katanya tempat tersebut tak bisa dihuni karena memiliki tingkat radiasi tinggi dari perang nuklir imbas perang dunia ketiga.
Namun siapa sangka, Morlan bisa membuat kelompoknya tinggal di sana, meski di bawah tanah dengan bangunan berupa bunker khusus.
"Morlan, semua mutan hasil rekayasa genetik kita ternyata lebih cepat berkembang setelah mereka menghisap radiasi yang berada di permukaan. Penelitianmu tentang tempat ini dan dampak paparan radiasi terhadap mutan-mutan kita terbukti benar. Tak salah, kami memihakmu," ucap salah satu Profesor yang ikut terusir karena praktek ilegal pengembangan mutan tanpa sepengetahuan petinggi Great Ruler lainnya.
"Ya. Aku mengirimkan robot mata-mata ke tempat ini beberapa tahun silam. Tingkat radiasinya begitu tinggi. Jika orang-orang takut bermutasi dan menyebabkan kegagalan fungsi tubuh, makhluk-mahkluk kita malah hidup dengan sejahtera di tempat ini. Kita akan mengembangbiakan mereka sebagai pertahanan dan penyerang. Kita akan merebut kembali rumah kita, Great Ruler," jawab Morlan dengan seringainya.
"Jadi selama ini, kau sudah mempersiapkan semua?" tanya ilmuwan lain ikut merapat.
"Ya. Aku mengirimkan robot ke tempat ini untuk membuat bunker bawah tanah. Bodohnya, Roman percaya jika robot-robot miliknya bertugas sebagai mata-mata dan pengirim pesan. Ia kira, kita berkawan dengan negara tetangga yang selama ini berdagang dengan Great Ruler. Padahal aku menipunya. Dan lihatlah, tempat ini seribu kali lebih baik dari laboratorium kita di Great Ruler 'kan? Di sana, pergerakan kita selalu diawasi dengan peraturan-peraturan menjijikkan yang membatasi ide-ide kita. Mereka terlalu takut dan menjadi pengecut karena khawatir akan menjadi negara miskin seperti lainnya. Payah," ucapnya menghina sistem pemerintahan Great Ruler.
Semua ilmuwan yang berkumpul di sana mengangguk setuju. Morlan mengembangkan kalung dan gelang untuk mengendalikan pergerakan para mutannya agar tak membelot seperti kejadian di Great Ruler.
Namun, tanpa sepengetahuan Morlan dan kelompoknya, pergerakan mereka diikuti oleh robot pengintai yang dikendalikan dari pusat kendali Great Ruler di Distrik 9.
"Mereka memasuki wilayah dengan tingkat radioaktif tinggi, Presiden Roman. Sejak mereka memasuki wilayah itu, sampai saat ini mereka belum muncul ke permukaan," ucap petugas operator bagian pengintai.
"Kenapa robot kita tak masuk ke dalam?" tanya Roman heran.
"Ada yang aneh dengan tempat itu, Presiden. Sepertinya, ada penghalang sinyal. Begitu robot masuk ke kawasan tersebut, komunikasi dan sinyal kami terputus. Hampir saja User yang bertugas waktu itu mengalami mati otak karena sambungan terputus tiba-tiba. Beruntung, ada generator cadangan pada robot sehingga memberikan kita waktu satu menit untuk memutuskan hubungan syarat secara aman," jawab operator tersebut.
__ADS_1
Kening Roman berkerut. Ia melihat dari tampilan kamera penglihatan robot mata-mata kirimannya di layar utama ruang kendali.
Para petinggi Great Ruler yang ikut memantau dalam laporan berkala itu ikut dibuat berpikir keras.
"Morlan mengembangkan sebuah teknologi yang tak kita ketahui. Dia tahu seluk-beluk Great Ruler. Ini berbahaya. Negara kita terancam," ucap Roman serius, dan praktis membuat semua orang yang mendengar tegang seketika.
Saat semua terlihat waspada dengan ancaman Morlan yang pernah ia serukan ketika diusir dari Great Ruler, Komandan Akira memasuki ruangan.
Praktis, pandangan semua orang teralih padanya.
"Maaf, jika kedatangan saya tanpa pemberitahuan terlebih dahulu, Mr. President," ucap Akira dengan siap sempurna seraya membungkuk hormat.
"Tak apa. Kau orang yang to the point. Pasti ada hal penting yang ingin kau sampaikan. Katakan," jawab Presiden Roman seraya mengangkat tangan kanannya di samping telinga.
"Saya mendapatkan relawan untuk melakukan uji coba robot level A."
Seketika, semua orang terkejut. Roman mendekati Akira dan menatapnya tajam.
"Otka Oskova. Satu-satunya wanita yang lolos seleksi menjadi kandidat User," jawab lelaki berwajah Asia itu tenang.
"Oh. Anak dari Roves?" tanya salah seorang Jenderal bernama Qoyo. Akira mengangguk.
Roman terlihat serius seperti memikirkan ucapan dari Akira. "Tidak."
Akira dan lainnya terkejut.
"Kenapa, Mr. President?" tanya Akira heran.
"Dia masih baru. Tak memiliki pengalaman dalam mengoperasikan robot sebelumnya. Dia bukan kandidat yang cocok," jawab Roman menjelaskan.
Terlihat, wajah-wajah kecewa usai mendengar penuturan Presiden mereka.
__ADS_1
"Bagaimana jika kau keliru, Paman?"
"Matteo?" sahut Kolonel Coka saat melihat Jenderal muda itu memasuki ruangan bersama Spectraārobot pendamping. Akira melirik pria bermanik biru itu tajam.
"Sudah berapa kali percobaanmu gagal ketika User tersebut orang-orang pilihanmu?" tanya Matteo seraya berjalan ke sebuah kursi dan duduk di sana menunjukkan kesombongannya.
"Tiga kali," jawab Roman tenang dengan wajah serius.
"Orang-orang itu memiliki fisik yang sangat kuat, layaknya petarung. Mereka patriot sejati. Prajurit yang tangguh, dan tentu saja, cerdas. Namun, dengan semua kesempurnaan itu, membuat sistem komputer dalam robot level A tak bisa bersinkronisasi dengan sistem syaraf User. Muatan otak User memiliki beban berlebih karena banyaknya ilmu yang mereka simpan dalam memori otak. Tentu saja hal itu bertentangan dengan sistem komputer Mega. Jangan lupa, Mega tiga kali lebih pintar dari Mola," tegas Matteo membeberkan.
"Kau berpikir demikian?" tanya Laksamana Silo.
"Hem. Aku rasa, wanita bernama Otka ini cocok. Dia tak memiliki pengalaman sebagai User. Aku yakin, jika isi otaknya masih banyak ruang kosong. Maaf, bukan bermaksud mengatakan dia bodoh, tapi ... patut dicoba. Dia relawan, dan tahu resikonya," jawab Matteo santai dengan kaki saling menumpang ia luruskan.
Roman terlihat serius memikirkan penjelasan dari keponakannya.
"Mr. President. Saya rasa, hal ini patut dicoba. Ada benarnya juga perkataan Jenderal Matteo. Otka adalah kriteria baru dalam uji coba robot level A," ucap Jenderal Qoyo terdengar sependapat.
"Hem, aku setuju. Setidaknya, biarkan Otka mencoba tahap 1. Kita bisa melihat perkembangannya dan akan kita putuskan, apakah lanjut atau dihentikan," sahut Laksamana Silo.
Roman melirik Akira dan Komandan tersebut mengangguk pelan pertanda setuju dengan pemikiran Matteo.
"Baiklah. Persiapkan uji coba," ucap Roman pada akhirnya. Matteo tersenyum tipis. "Dan kau, Akira. Minta Otka datang padaku. Aku ingin bicara empat mata padanya sebelum percobaan dimulai. Aku hanya ingin memastikan dengan keputusannya," pintanya serius.
"Yes, Mr. President," jawab Akira dengan hormat, lalu pergi meninggalkan ruangan tersebut.
***
Adeh kemaleman up nya. Hari ini jadwalnya padet bgt uyy ampe gak sempet setokanš©
Tengkiyuw tipsnya. Lele padamuā¤ļø
__ADS_1