
Sandra kembali ke ruangan tempat ia melakukan latihan simulasi peperangan. Sandra meyakinkan Tony jika ia baik-baik saja.
"Oke. Kau harus fokus. Latihan fisik ini sengaja dilakukan agar ketika kau dalam simulasi robot nanti, kau seperti merasakan jika robot itu adalah kau. Sehingga kau lebih berhati-hati dengan segala jenis serangan dari senjata-senjata mematikan yang mungkin saja bisa merusak fungsi robotmu. Kau mengerti?" tegas Tony dan Sandra mengangguk mantap.
"Ingat, fokus dan reflekmu harus cepat, tapi kau juga dituntut tidak gegabah dalam mengambil keputusan. Kau sudah merasakan sengatan itu bukan? Jadi aku rasa, kau tak ingin merasakannya lagi. Benar?" tanya Tony menunjuknya, dan Sandra mengangguk untuk membenarkan.
"Aku akan berusaha. Aku percaya bisa melewati tes ini," jawabnya mantap dan Tony tersenyum bangga.
Tony memerintahkan prosedur simulasi kepada Eco. Sandra kembali dibidik oleh 10 papan target berbentuk logam dengan sinar merah menyala dari salah satu bagian tubuh tersebut.
"Simulasi dimulai. Dalam hitungan mundur. 5 ... 4 ... 3 ...."
"Oke, aku bisa," ucap Sandra seraya mengibaskan kedua tangan untuk pelemasan dengan mata tetap terfokus pada papan target tersebut.
"2 ... 1! Go!"
Mata Tony melebar. Gerakan Sandra sungguh gesit kali ini. Ia diminta untuk menghindari seluruh tembakan yang ditujukan padanya, seolah-olah dia sedang terkepung di wilayah musuh.
Sandra berlari dengan cepat, lalu meluncur di atas lantai dengan menjatuhkan dirinya. Sandra bersembunyi di balik kotak yang melindunginya dan tak bergerak.
Semua sinar merah robot mengarahkan bidikan mereka ke kotak tersebut, tapi ternyata, kotak bening itu menahan sinar sehingga tak menembus dan mengenai tubuh Sandra.
Lima menit Sandra dalam posisi itu dan Tony terlihat serius mengamati pergerakannya.
TET!
"Simulasi pertahanan selesai. Selamat, Otka Oskova. Anda berhasil bertahan," ucap Eco yang mengejutkan Sandra.
"Hahaha! Wah, kau hebat! Mudah 'kan?" ucap Tony dengan tawa, pujian dan tepuk tangan seraya berjalan mendekat.
"Ya, aku baru paham. Jadi ... aku hanya diminta bertahan? Pantas saja aku tak diberikan senjata apapun untuk melakukan perlawanan. Sial, aku gegabah saat diawal," jawabnya bertolak pinggang terlihat kesal.
"Oleh karena itulah, tak mudah menjadi seorang User, tapi kau cukup bagus sebagai pemula. Nah, karena waktu kita sempit, kita kembali belajar menembak. Kali ini, bidiklah yang benar, jangan bengong. Seharusnya latihan tadi cukup membuatmu bersemangat," ucap Tony terlihat bangga dengan anak didiknya.
"Oke!" jawab Sandra mantap dengan senyuman.
Sandra kembali menggenggam senapan laser dengan sinar ungu untuk membidik dan menyerang targetnya.
"Dalam hitungan mundur. 3 ... 2 ... 1. Go!"
__ADS_1
Papan logam itu kembali bergerak dengan gesit. Sandra menajamkan mata dan terlihat fokus dengan bidikannya.
Kali ini, wanita berambut pirang tersebut berhasil menekan pelatuk untuk menembakkan sinar laser tersebut.
SHU!
BIB! BIB! BIB!
Satu persatu, target logam itu berhenti bergerak begitu laser ungu mengenai dan membuat lubang di tubuhnya.
Senyum Tony terkembang karena Sandra terlihat fokus dan bisa mengimbangi berat senjata tersebut.
Sedang di sisi lain. Ruang kendali pengawasan para User, Distrik 9.
"Hem, perkembangannya sungguh pesat. Otka Oskova sangat bagus. Dia memiliki potensi," ucap Wapres Lala kagum dari tayangan kamera pengawas tanpa suara tersebut.
"Yah, kita harus bersiap memasukkan Vermendis Vemo ke Great Ruler. Sungguh, aku tak akan melepaskan pengawasanku darinya," tegas Komandan Ego.
"Aku rasa, Vemo bisa memberikan kita sebuah pengetahuan baru," sahut Komandan Akira.
"Pengetahuan apa?" timpal Ego dengan kening berkerut.
"Ya, kau benar, Komandan Akira. Hem, bagaimana jika ... kita izinkan Vemo masuk tanpa harus menunggu Otka selesai masa pelatihan? Kita harus membuat pria bertato itu mengungkapkan semua rahasia tersembunyinya. Demi keamanan Great Ruler," sahut Jenderal Matteo.
Wapres Lala melirik Presiden Roman yang hari itu ikut dalam mengawasi pelatihan seluruh calon User.
"Kita harus rundingkan hal ini lebih dulu. Jadwalkan, besok kita akan rapat mengenai hal ini. Biarkan Otka dan Tony berlatih, jangan usik mereka," titah sang Presiden.
"Yes, Sir," jawab semua orang serempak.
Eco yang bertugas di ruangan tersebut segera melakukan penjadwalan lalu mengirimkan undangan kepada seluruh pejabat yang masuk dalam daftar.
Hari itu, Sandra berlatih pengenalan senjata dengan Tony hingga malam. Dan, latihan berakhir ketika makan malam.
"Lelah?" tanya Tony melirik Sandra yang wajah dan rambutnya sudah basah karena keringat.
"Kau bisa melihat kejujuran dari wajahku, Captain Tony," jawab Sandra dengan wajah lesu.
Tony terkekeh. Pria tampan itu mengantarkan Sandra kembali ke kamarnya. Sang Captain tak ingin membuat anak didiknya semakin letih karena esok hari masih harus melakukan pelatihan lanjutan. Tony pun kembali ke rumahnya.
__ADS_1
Keesokan harinya, para pejabat yang diundang berkumpul untuk membahas mengenai meloloskan Vermendis Vemo untuk masuk ke Great Ruler.
Namun, hasil rapat itu ternyata mendapatkan pro-kontra. Banyak yang setuju dengan usulan Matteo, tapi ada juga yang menentangnya.
Bagi orang-orang yang menentang, Vemo dianggap tak pantas untuk tinggal dan menjadi penduduk Great Ruler. Vemo disebut sebagai penjahat karena mampu memanipulasi barcode.
"Oleh karena itu, sebelum orang lain atau negara musuh memanfaatkannya, kita harus mengamankan Vemo. Dia bisa menjadi aset berharga Great Ruler dengan pengawasan ketat," tegas Matteo.
"Apa Anda yakin bisa mengendalikannya?" tanya Walikota Distik 1—Mayor Kyel—dari bangku tempat ia duduk yang berseberangan dengan Matteo.
"Yes, tentu saja. Apalagi dengan adanya Otka Oskova, Vemo pasti akan menurut. Aku sudah membaca laporan tentang dirinya, dan kelemahannya adalah Otka. Kita gunakan Otka untuk mengendalikan Vemo. Simple," jawab Matteo santai.
Para pejabat tersebut kembali saling berbisik seperti mencoba menyamakan pendapat. Presiden Roman, Ego, dan Akira terlihat diam tak ikut berkomentar, seperti menunggu dan menyimak hasil rapat.
"Jika menunggu Otka resmi menjadi User, Vemo malah akan bebas di Great Ruler. Kita tak bisa mengendalikannya, karena haknya sama dengan warga lain, dan itu, malah lebih membahayakan. Jadi, sebelum Otka menyebutkan nama pria itu sebagai salah satu hadiah karena ia menjadi relawan User robot level A, kita dahului. Kita kurung dia dalam pengawasan ketat dan kendali penuh sampai Otka dinyatakan resmi," sambung Matteo mempertegas pemikirannya.
"Bagaimana? Vote dilakukan?" tanya Wakil Presiden Lala dan orang-orang itu akhirnya mengangguk.
Sebuah benda berbentuk seperti sebuah tempurung muncul di atas meja di hadapan para pejabat yang duduk.
Tempurung itu terbuka setengah bagian dan tangan para pejabat tersebut masuk ke dalam benda seperti goa yang terbuat dari besi. Lala menatap semua orang yang kini memandanginya.
"Telunjuk sebagai 'Yes' yang berarti kalian setuju jika Vemo masuk ke Great Ruler besok. Sedang jari tengah sebagai 'No' yang berarti Vemo tetap berada di Distrik 10 sampai pada akhirnya nanti Otka meminta namanya sebagai orang yang akan dibawa masuk ke Great Ruler. Bedanya, besok adalah jalan pintas bagi Vemo dengan masuk lebih awal tanpa Otka harus meminta. Intinya, Vemo tetap akan masuk ke Great Ruler, hanya tinggal menunggu waktu," tegas Lala dan semua orang mengangguk paham.
Para pejabat itu terlihat siap saat tempurung seperti gua itu telah menyala lampu putih. Lala memberikan kode dengan anggukan kepala.
Terlihat beberapa pejabat telah selesai melakukan vote. Mereka menarik tangan dari gua itu dan benda tersebut kembali masuk ke dalam meja.
"Eco, akumulasi dan umumkan hasil vote," pinta Lala.
"Hasil vote dihitung," ucap Eco yang membuat wajah semua orang tegang seketika. "Hasil vote dari 100 pejabat yang hadir, terakumulasi, 80 orang memilih 'Yes', dan 20 orang memilih 'No'. Kesimpulan, 'Yes' menang."
Semua orang yang terlihat memilih vote 'Yes' bertepuk tangan, sedang wajah-wajah kecewa di beberapa paras para pejabat yang sepertinya memilih 'No' tak bisa ditutupi.
"Baiklah, telah ditetapkan. Vermendis Vemo dalam pengawasan ketat seluruh Departemen Great Ruler. Dalam hal ini, aku menunjuk Komandan Ego untuk membawa Vemo masuk ke Great Ruler," ucap Presiden Roman menunjuk lelaki berkulit hitam tersebut, dan sang Komandan mengangguk siap.
Senyum Matteo terbit meski hanya sekilas. Entah apa yang direncanakannya, tapi terlihat sang Jenderal muda begitu puas dengan hasil vote pagi itu.
***
__ADS_1
mt kumat gaes. notifikasi tips koin gak masuk jadi lele gak tau siapa aja yg kasih tips. tapi makasih yaa lele padamu❤️