
Karena presentasi dari Matteo, uji coba robot level A Sandra dibatalkan. Tentu saja, hal itu membuat wanita berambut pirang itu kesal.
Namun, ia tak bisa melakukan apapun. Para pejabat harus membuat keputusan untuk inovasi baru dari sang Jenderal.
Ternyata, Matteo tak hanya mengusulkan satu jenis robot. Ia juga melakukan pembaharuan beberapa robot hingga memakan waktu satu minggu bagi para pejabat untuk mendengarkan presentasi darinya.
Sandra yang kesal karena merasa jika Matteo sengaja melakukannya, memilih untuk menemui Akira dan Ego untuk berlatih bersama para kandidat lainnya sampai jadwal untuk uji coba ditetapkan.
"Kau kenapa cemberut selama beberapa hari ini, Otka?" tanya Ego saat mereka menikmati makan siang di kantin.
"Dia sengaja melakukannya, aku tahu," jawab Sandra marah.
"Bersabarlah. Aku tahu kau sudah menunggu hal ini sangat lama. Anggap saja ini sebuah ujian," sahut Akira.
Sandra tak menjawab dan memilih untuk menyelesaikan makan siangnya. Setiap hari, Sandra berlatih bersama Akira di jam pagi hingga siang, lalu dilanjutkan latihan dari siang hingga sore dengan Ego.
Terlihat, perubahan dalam diri Sandra yang semakin mahir dalam menggunakan persenjataan dari perlengkapan tempur para robot.
Namun, Sandra menyadari jika Tony seperti menghindar darinya. Tiap mereka bertemu, Tony seperti berpura-pura mendapat panggilan lalu pergi begitu saja tak menegur.
Sandra merasakan jika Tony seperti sengaja menjauh darinya, meski ia tak mengetahui alasan sikapnya tersebut.
Hingga malam itu. Tony yang masih dirundung rasa kekecewaan yang mendalam karena merasa dipermainkan oleh wanita yang selama ini dicintainya, menghabiskan waktunya dengan mabuk di sebuah Bar Distrik 2.
Tony terlihat begitu sedih. Ia menghabiskan beberapa botol sendirian selama beberapa jam hingga larut malam.
Ternyata, detektor di jam tangannya berbunyi memberikan peringatan jika kadar alkohol sang Captain sudah mencapai 10%.
"Tuan. Sudah cukup. Sebaiknya, Anda pulang," ucap seorang petugas bar seorang manusia.
"Diam! Jangan ikut campur! Aku membayar semua minuman ini. Jangan dengarkan jam bodoh ini."
KRAKK!!
Semua orang yang berada di sekitar Tony terkejut karena sang Captain memukul jam tangan itu hingga remuk.
Tony yang merasa dirinya mulai diperhatikan, memilih pergi seraya membawa sebuah botol minuman berwarna merah dalam genggaman.
Tony berjalan sempoyongan menuju mobil otomatisnya. Saat ia akan masuk ke dalam, Tony terkejut ketika mendapati seorang pria memakai pakaian serba hitam dengan masker wajah menutupi parasnya.
Tony yang sedang mabuk, tak bisa berpikir dengan jernih, meski ia masih bisa melihat pria yang berdiri di depannya menyorot tajam.
"Kita bicara di dalam," pintanya.
__ADS_1
"Kau siapa?" tanya Tony berkerut kening menunjuk.
"Roman."
Praktis, mata Tony melebar seketika. Tony membuang botolnya dan mengelap mulutnya. Pria tersebut membuka masker wajah dan menunjukkan parasnya.
"Maaf, Presiden. Aku ... am, oke, silakan masuk," ucap Tony merasa buruk karena mabuk di hadapan sang Presiden.
Lelaki itu melihat sekitar dengan waspada lalu masuk ke mobil segera. Tony menyemprotkan pengharum napas saat Roman masih berada di luar mobil.
Tony berusaha untuk tetap sadar karena ia merasa jika sang Presiden seperti ingin berbicara serius padanya.
"Captain Tony. Kau berjasa besar kepada Great Ruler. Pengabdianmu, sudah menjadikanmu sebagai pahlawan negara. Kau, tak tergantikan," tegas Roman menatap Tony tajam dan sang Captain mengangguk pelan berterima kasih meski tak mengatakan apapun.
"Maaf, Presiden. Kenapa Anda bisa berada di luar sini? Apakah ... Anda memata-mataiku?" tanya Tony yang tak bisa berpikir dengan jelas, tapi ia merasa ucapannya sedikit melantur dan kurang sopan.
"Ya, karena kau adalah orang kepercayaanku. Jadi ... aku ingin kau melakukan hal penting ini untukku. Kau bisa kuandalkan 'kan?" tanya Roman menatap sang Captain tajam. Tony mengangguk mantap.
Tiba-tiba saja, Roman memberikan sebuah flashdisk. Benda itu masih digunakan di Great Ruler karena bagi mereka, fungsi dari alat penyimpan data itu sangat ekonomis, berbentuk minimalis, dan bisa diandalkan.
"Untuk apa, Presiden?" tanya Tony seraya menerima benda berwarna silver dengan penutup seukuran kelingking orang dewasa berbentuk persegi panjang.
"Aku sedang memperbaharui data di sistem kerja robot level A. Hanya saja, aku merasa tak enak badan. Aku letih dan ... jenuh dengan keseharianku. Jadi ... aku minta tolong padamu untuk menginputkan data di flashdisk ini ke sistem komputer simulator," jawabnya menegaskan.
Tony menatap flashdisk itu saksama.
"Aku ingin sekali melakukannya. Hanya saja, beberapa hari ini tanganku kesulitan untuk digerakkan. Nasib baik aku bisa menemuimu. Aku tak ingin Lala khawatir dan juga para penduduk Great Ruler. Aku sengaja tak ke dokter karena tak ingin penyakitku membuat cemas semua orang. Jika kabar aku sakit di dengar oleh pihak musuh, akan sangat berbahaya. Jadi ... aku mohon agar kau mau melakukan permintaan sederhanaku ini," jawab Roman memelas.
"Ya, tentu saja, Presiden," jawab Tony mantap menatap Roman lekat.
Tony mengamati gerak-gerik Roman yang terlihat aneh, tapi sang Presiden memang seperti orang sakit. Roman nampak pucat dan tubuhnya bergetar.
"Aku akan mengantarkan Anda pulang, Presiden," jawab Tony segera menyalakan mesin mobil otomatisnya.
"Ah, bawa aku ke Pertambangan Batu Bara. Ada yang harus aku lakukan di tempat itu sebelum pulang," pintanya.
"Di malam selarut ini?" tanya Tony heran dan Roman mengangguk pelan.
Tony tak ingin banyak bicara lagi. Ia mengeset mobil otomatis untuk membawanya ke pertambangan, tempat Sandra dulu bekerja.
Akhirnya, setelah dua jam perjalanan melewati terowongan akses khusus, mereka tiba. Roman segera turun dan mengucapkan terima kasih kepada sang Captain.
"Kau hanya perlu mencolokkan flashdisk itu ke komputer utama Mola. Dia akan melakukan pembaharuan sistem secara otomatis. Simpan baik-baik flashdisk itu. Aku akan memintanya lagi saat sudah merasa lebih baik. Semua hasil kerja kerasku ada di benda mungil itu," ucap Roman menunjuk benda berwarna silver dalam genggaman Tony.
__ADS_1
"Yes, Sir. Berhati-hatilah," ucap Tony seraya memasukkan flashdisk itu ke saku celananya.
Roman mengangguk dan segera berjalan meninggalkan Tony yang masih memandangi sosoknya yang menutup kepalanya dengan sebuah kain. Roman memasuki gerbang utama ke pertambangan dan pada akhirnya, sosoknya tak terlihat.
Sepeninggalan Tony. Roman memasuki area pertambangan seperti saat ia datang ke lokasi. Ternyata, semua petugas di tempat itu tak sadarkan diri dan tergeletak di sepanjang sudut ruangan.
Kamera pengawas sengaja di-pause agar tak terlihat mencurigakan saat ada penyusup di dalam.
Roman berjalan dengan langkah mantap melewati orang-orang itu menuju ke sebuah galian batu bara. Ia melapisi dirinya dengan memakai pakaian khusus seperti para pekerja tambang lapangan menggunakan helm.
Roman mengoperasikan robot level D konstruksi untuk mendorong sebuah batu yang ternyata memiliki lubang di baliknya. Lubang tersebut bisa dimasuki oleh satu manusia.
Roman memasuki sebuah terowongan bekas tambang yang cukup panjang dan sudah tak digunakan lagi menuju ke luar dinding The Great Ruler. Roman meledakkan pintu keluar dari jalan itu sehingga tak bisa dimasuki lagi.
Roman menatap benteng yang menjulang tinggi melindungi penduduknya. Wajahnya sendu saat ia kembali berjalan seraya merapatkan jubahnya untuk melindungi tubuhnya yang mulai gemetaran tanpa ia kehendaki.
"Sudah terasa. Erg, ini ... mulai merenggutku," ucapnya seraya melihat tangannya yang mulai berubah dengan lapisan kulit mengeras.
Ternyata, Tony yang merasa mendapatkan amanat penting dari Roman, tak ingin membuang waktu. Ia segera menuju ke Distrik 9 di malam yang larut untuk segera mengaplikasikan pembaruan data.
Tentu saja, kedatangannya terekam oleh kamera pengawas Distrik. Namun, Tony yang dikenali, membuat petugas dari User robot level E tak menaruh curiga padanya. Tony juga memberikan senyuman kepada semua User yang ditemuinya.
Saat Tony masuk ke ruang simulator Mola, tempat itu tak dijaga dan lampu dimatikan. Namun, komputer pintar itu selalu menyala tak pernah padam.
Tony bergegas menuju ke ruang server dan terlihat gugup ketika berdiri di mesin Mola yang berbentuk lingkaran.
Ada sebuah colokan USB terlihat di sana. Dengan sigap, Tony segera menancapkan flashdisk pemberian Roman padanya.
Seketika, mesin Mola mengeluarkan suara. Tony terkejut dan melangkah mundur melihat cahaya biru mengelilingi mesin tersebut berkedip.
Tony terlihat panik, tapi berusaha tenang meski kepalanya terasa pusing dan perutnya mual karena pengaruh alkohol.
Tony melangkah mundur dan duduk di sebuah bangku saat melihat layar hologram di mesin Mola seperti melakukan pembaruan data.
Tony mencoba menenangkan diri seraya memijat kepalanya yang terasa berat. Cukup lama hingga 15 menit, akhirnya mesin Mola tak bercahaya lagi. Tony segera berdiri dan melangkah maju.
"Pembaruan data selesai," ucap Mola dan Tony segera mencabut flashdisk itu.
Tony bergegas keluar dari ruang server dengan tergesa. Entah mengapa, hal yang ia lakukan barusan membuat perasaannya tidak tenang seperti ada yang mengganjal. Namun, Tony berspekulasi jika hal itu karena pengaruh alkohol yang diminumnya.
Tony segera kembali ke mobil otomatisnya usai menyelesaikan tugas dari Roman. Tony bahkan tertidur di mobil saat kendaraan itu membawanya kembali ke apartemen tempat tinggalnya selama ini dan malah bermalam di alat transportasi tersebut hingga esok hari.
***
__ADS_1
uhuy, tengkiyuw tipsnya❤️ lele padamu💋