
Tony merasakan hal aneh pada dirinya. Usai penolakan yang Sandra ucapkan secara terang-terangan, hal itu malah membuat hatinya lega, meskipun ada perasaan sakit ketika pengakuan itu terlontar dari bibir wanita yang diharapkan bisa menjadi pendamping hidupnya.
"Jadi, kau akan menginap semalam di rumah, lalu esok baru akan kembali ke fasilitas?" tanya Tony saat mereka kembali mengendarai mobil untuk kembali ke apartemen.
"Ya," jawabnya dengan anggukan dan pandangan tertunduk. "Mm, Tony. Boleh aku tahu, kira-kira berapa lama pelatihan itu? Akira dan mentor lainnya tak memberikan informasi tersebut pada kami para kandidat. Aku khawatir jika perlengkapanku tak cukup selama di fasilitas," tanya Sandra terlihat gugup.
Tony tersenyum dengan tangan menyilang di depan dada. Ia membiarkan mobil otomatisnya melaju dengan sendirinya karena pemberhentian selanjutnya telah ia atur dalam sistem navigasi.
"Aku bantu berkemas. Aku memaksa," jawabnya cuek, dan Sandra tersenyum dengan anggukan.
Dari sore hingga menjelang malam, Sandra menghabiskan waktu bersama Tony di rumahnya untuk mengemasi perlengkapan.
Tony bahkan tak segan membuang beberapa barang yang telah Sandra masukkan dalam koper.
"Kau akan pergi ke pesta dansa atau berlatih? Untuk apa gaun, sepatu berhak, bahkan make-up ini?" tanya Tony mendesis.
"Bagaimana jika ada acara perhelatan semacam jamuan formal?" tanya Sandra cemberut ketika melihat gaun kesayangannya dilemparkan ke lantai berikut benda-benda lainnya.
"Tak ada acara seperti itu selama pelatihan," jawabnya yang sibuk mengecek ulang isi dalam koper. Hingga Tony menemukan sebuah benda dan malah menariknya sambil meringis.
"Tony!" teriak Sandra panik, ketika Tony mengambil sebuah bra miliknya berwarna ungu.
Tony tertawa terbahak bahkan sampai menaikkan kedua kaki dan kedua tangan seperti hewan dengan punggung sebagai alas.
Wajah Sandra merona karena barang berharganya di dapati oleh kawan karib mendiang suaminya.
"Warnanya mencolok sekali. Pakailah warna-warna lembut. Kau sengaja ingin memamerkannya kepada para petinggi pria agar kau bisa menjadi User robot level B?" tanyanya menyindir seraya kembali duduk dan menatap Sandra lekat.
Sandra diam sejenak. Ia baru ingat jika dirinya mengajukan diri menjadi relawan uji coba robot level A. Sandra merasa, jika Tony tahu, pasti pria di depannya ini akan marah besar.
"Aku sudah lama tak membeli pakaian d*lam. Jangan mengejek," jawabnya kesal dan memasukkan kembali bra miliknya ke dalam tumpukan baju.
Tony tersenyum dengan anggukan pelan. Pria itu melirik jam digital pada dinding di mana waktu sudah menunjukkan pukul 9 malam.
"Sebentar lagi penghuni palsu akan datang. Aku harus kembali ke rumah sebelum Eliz mencakarku. Baiklah, kita berangkat bersama esok hari. Aku tak menerima penolakan," ucapnya seraya berdiri sembari mengambil kembali jas yang ia senderkan pada sofa.
"Terima kasih, Tony. Dan, aku minta maaf tentang barang-barangmu yang aku berikan pada Vemo," ucapnya merasa bersalah.
"Hem. Aku anggap sebagai hutang, termasuk makan siang tadi," ucapnya seraya memakai jas. Sandra mengangguk dengan senyum tipis.
Tony berjalan menuju ke pintu dan Sandra mengantarkannya sampai ke depan. Tiba-tiba, Tony meraih tangannya dan mencium punggung tangan Sandra lembut.
Sandra tertegun, tapi hanya bisa diam karena Tony melakukannya dengan cepat.
"Selamat malam. Ingat, besok pergi bersama. Awas saja jika kau pergi duluan," ucapnya mengancam dengan telunjuk di arahkan ke wajah Sandra.
__ADS_1
Wanita berambut pirang itu hanya bisa menghembuskan nafas panjang. Ia melihat Tony berjalan dengan santai pergi menyusuri koridor menuju ke lift. Sandra kembali masuk dan merapikan perlengkapannya untuk ia bawa esok.
Pagi itu, asisten ruangan—Rey—membangunkan Sandra dan Otka karena keduanya harus bersiap, meski mereka memiliki jadwal yang berbeda.
Sandra yang bangun lebih dulu segera mandi dan bersiap. Otka membantu menyiapkan sarapan sebelum mereka pergi bekerja.
"Aku sungguh bangga padamu, Sandra. Kau hebat. Semoga, pelatihanmu selama di fasilitas membuahkan hasil. Aku yakin, kau menjadi User robot level B seperti Rey," ucap Otka menyemangati, dan Sandra mengangguk dengan senyuman.
Sandra juga menyembunyikan dari Roves, Yaz, Eliz, dan Otka tentang dirinya yang menjadi relawan uji coba robot. Tak lama, Tony datang tepat setelah ia selesai menikmati sarapan.
"Aku pergi dulu, Otka. Tolong jaga rumahku dengan baik," pinta Sandra seraya memeluknya, dan Otka mengangguk siap.
Pintu rumah terbuka, dan Tony sudah terlihat tampan dengan seragam Perwira. Sandra juga telah siap dengan seragam khusus selama ia melakukan pelatihan di fasilitas militer Great Ruler.
"Kami pergi dulu. Sampai jumpa," ucap Sandra seraya melambaikan tangan dan berjalan di samping Tony.
Koper miliknya berjalan dengan sendirinya mengikuti Sandra dengan roda menggelinding di lantai, seperti sebuah mobil.
Wanita berambut pirang pendek itu mengenakan sebuah jam tangan navigasi dengan pengenal barcode dan sidik jari telah terpindai pada alat tersebut.
Jam tangan mengirimkan sinyal dan diterima oleh sensor koper yang telah merekam barcode serta sidik jari Sandra.
Koper itu tak bisa dibuka oleh orang lain. Koper akan menyalakan alarm bersuara nyaring jika dibuka paksa, dan teridentifikasi bukan pemilik asli.
Orang-orang yang terusir keluar dari Great Ruler tetap memiliki barcode sebagai identitas kependudukannya, tapi barcode mereka dianggap ilegal dan masuk dalam daftar hitam serta golongan orang terlarang di dalam Great Ruler.
Pagi itu, Sandra tiba di fasilitas tempat ia akan menghabiskan hidupnya entah sampai kapan di tempat berbentuk seperti biji padi tersebut. Tony berpisah arah dengan Sandra karena ia bekerja di gedung lain.
Namun, ketika keduanya sudah melambaikan tangan, tiba-tiba mata dua orang tersebut terkunci pada sosok yang baru saja turun dari sebuah mobil dan diikuti oleh sebuah robot yang melayang di udara.
"Matteo."
"Blue?"
Tony dan Sandra saling melirik dengan kening berkerut di kejauhan.
"Itu Matteo Corza," tegas Tony menunjuk sosok pria bermata biru seraya mendekati Sandra dengan tergesa.
Pria yang mereka kenali dengan nama berbeda memasuki gedung, dan semua orang yang bertemu dengannya langsung memberikan hormat.
"What?" sahut Sandra terlihat bingung.
Seketika, ia teringat akan ucapan Blue kala itu saat masih bekerja bersamanya di Distrik 2.
'Ah benar. Mereka berdua kembar. Blue memakai kacamata, sedang Matteo tidak. Sial, mereka mirip sekali. Oh, kenapa jantungku jadi berdebar-debar,' batinnya terlihat gugup seketika.
__ADS_1
"Ayo ikuti," ajak Tony, dan Sandra mengangguk siap.
Keduanya terlihat sigap dan melangkah dengan kaki lebar untuk mengejar ketinggalan.
Tony dan Sandra mengikuti pergerakan Matteo Corza yang terlihat santai seraya menghisap sebuah rokok tanpa asap berbentuk silinder dari besi berwarna biru mengkilat dalam apitan dua jarinya.
"Sir. Ada dua orang yang mengikuti kita. Diidentifikasi, seorang lelaki bernama Tony Toreo, dan seorang wanita bernama Otka Oskova," ucap Spectra yang melakukan pemindaian dari kepala belakangnya dengan sinar berwarna putih seperti lampu menyala redup.
Matteo hanya tersenyum miring dan tetap berjalan dengan santai menyusuri koridor seakan ia tak tahu jika dibuntuti.
Tony dan Sandra menjaga jarak agar tak ketahuan. Matteo berbelok ke sebuah persimpangan koridor dan dua orang itu dengan cepat mengikuti agar tak tertinggal.
BRUKK!!
"Oh!" pekik Sandra terkejut karena Matteo tiba-tiba muncul dan malah menabrak dirinya. Tony memegangi tubuh Sandra yang hampir roboh.
Matteo berdiri tegak menatap keduanya tajam berikut Spectra yang melayang di sampingnya. Sandra dan Tony langsung memberikan hormat pada sang Jenderal muda.
"Hem, sangat mudah terbaca. Kau, ikut aku. Dan kau, kembalilah ke tempat kau bekerja," ucap Matteo tersenyum miring menunjuk dua orang di depannya bergantian.
Sandra dan Tony saling melirik, tapi mereka mengangguk siap. Tony berbalik dengan sorot mata tajam. Sandra menoleh dan mengangguk pelan.
Tony pergi meninggalkan Sandra dan Matteo yang masih berdiri berhadapan di persimpangan lorong.
"Otka Oskova. Hem, ternyata aslinya lebih cantik ketimbang foto di berkas. Sepertinya, potongan rambut barumu belum masuk dalam database. Kau harus menginformasikan sekecil apapun perubahan dalam bentuk fisikmu. Entah itu bekas luka, tato, atau apapun yang sifatnya dalam jangka waktu cukup lama. Kau paham?" tegasnya menunjuk dengan salah satu alis terangkat.
"Yes, Sir," jawab Sandra tegas dengan sorot mata tajam terarah pada wajah Matteo seorang.
Matteo menyipitkan mata dan malah memajukan wajahnya hingga tubuhnya condong. Sandra terkejut, tapi tetap bertahan dengan sikap siap sempurna.
"Apa kita pernah bertemu sebelumnya? Setelah kulihat-lihat, kau tampak tak asing," tanyanya menyipitkan mata.
"Aku rasa tidak, Sir. Anda sudah mengenalku dari database kandidat User," jawab Sandra tenang.
Matteo mengangguk membenarkan. Ia lalu membalik tubuhnya dan meminta Sandra mengikutinya.
Wanita berambut pirang pendek itu berjalan di belakang Matteo. Matanya teralih ke arah robot yang melayang di samping Tuannya.
'Aku pernah melihat robot itu sebelumnya. Aku sangat yakin. Tapi ... di mana?' tanya Sandra dalam hati mencoba mengingat sosok robot putih tersebut.
***
makasih tipsnya. lele padamu😍 jangan lupa like dan komennya yak. keasyikan scroll lupa jempolnya nanti. kwkwkw
__ADS_1