SIMULATION

SIMULATION
I HATE YOU*


__ADS_3

PIP!


Sandra langsung menoleh saat mendapati Matteo masuk ke ruang perawatan usai ia melakukan panggilan video dengan keluarga Roves.


Sandra menatap Matteo saksama yang berjalan mendekatinya dengan wajah serius. Terlihat, Spectra melayang di samping sang Jenderal. Nampak pria bermanik biru itu berpakaian rapi dengan jas berwarna seperti cokelat caramel.


Tercium aroma parfum maskulin dari tubuhnya saat Matteo bergerak. Sandra berusaha menahan gejolak di hatinya karena pria berambut berkilau itu terlihat sangat tampan malam itu.


"Kenapa Anda kemari? Bukankah ... ada acara jamuan untuk Anda hadiri, Jenderal?" tanya Sandra sopan.


"Aku terlambat. Aku terlalu sibuk memperbaiki Spectra hingga aku lupa waktu," jawab Matteo serius tak ada senyuman di wajahnya. Sandra mengangguk pelan dan memilih untuk tidur karena ia merasa lelah. "Kau mengabaikanku?" tanya Matteo terlihat tersinggung. Sandra membuka matanya kembali.


"Apa aku tak salah dengar? Anda pergi meninggalkanku dan semua orang di pertempuran. Anda pergi dengan robot besar dan Spectra di dalamnya," jawab Sandra ketus.


"Kau tak menyadari kesalahanmu, hem? Aku sudah berusaha baik dengan memaafkan sikapmu yang sembrono," jawabnya tegas terlihat marah.


"Kesalahanku? Sembrono?" sahut Sandra terlihat kesal balas menatap Matteo tajam.


"Gayamu yang sok jagoan ingin melindungi orang-orang padahal sudah kularang, membuat semua orang dalam bahaya! Sudah kukatakan jika robot level E tak bisa melawan mutan, tapi kau ngotot melakukannya bahkan timmu ikut serta!" bentak Matteo menunjuk.


Dengan sigap, Sandra langsung duduk lalu berdiri di hadapan sang Jenderal.


"Jika aku tak bertindak, semua orang akan tewas. Bukankah ... aku seorang prajurit? Begitupula para kandidat User? Sudah sewajarnya kami mati di pertempuran, bukan malah bersembunyi di bunker. Untuk apa aku melakukan latihan keras hingga terluka dan mengorbankan banyak hal jika aku sama saja dengan warga sipil seperti para tukang masak di Oasis?" balas Sandra penuh penekanan.


"Kau berani menantang perintahku, Otka Oskova. Bukan hanya satu kali, tapi berkali-kali. Kau pikir, aksi heroikmu ini dapat aku toleransi, ha? Tidak!" tegasnya melotot tajam di depan wanita cantik itu.


Ternyata, perseteruan antara Sandra dan Matteo di dalam ruang perawatan itu tak terdengar sampai luar karena dinding yang cukup tebal dan ada peredam suara.


Namun, sebuah dinding kaca di sisi lain yang di punggungi Matteo, membuat pengunjung pasien melihat hal lain.


Siapa sangka, Tony datang berkunjung usai menghadiri jamuan. Tony mengantarkan Sora kembali ke apartemennya sebelum menjenguk Sandra.


Namun, yang dilihat Tony berbeda. Kening Tony berkerut dan ia mengurungkan niat untuk menjenguk.


Tony melihat Sandra dan Matteo saling berhadapan meski wajah sang Jenderal tak terlihat olehnya. Matteo memiringkan kepalanya sehingga wajah Sandra tak nampak.


Hingga akhirnya, Tony terkejut ketika melihat Matteo memegangi wajah Sandra seperti menciumnya.


Tony tersentak dan mundur beberapa langkah meski matanya masih terkunci pada dua orang yang kini berpelukan itu.


Tony segera berpaling dan pergi dengan langkah gusar meninggalkan ruang perawatan.


Pandangan Tony tak menentu, ia terlihat marah, sedih, dan kecewa dalam waktu yang bersamaan saat menyusuri koridor hingga ia duduk dengan napas tersengal di dalam mobil otomatisnya.


"Dia ... berbohong. Dia mengatakan jika tak akan mencintai pria manapun. Ternyata selama ini, dia sudah menjadi kekasih Jenderal. Dasar munafik, dendam apanya? Kau malah jatuh cinta padanya," ucap Tony sinis penuh sindiran.


Tony segera mengemudikan mobilnya kembali ke rumah. Hatinya diliputi kebencian karena merasa dipermainkan dan ditipu oleh wanita yang dicintainya.


Dendam menguasai pikiran dan hatinya yang tersakiti. Praktis, sikap Tony berubah seketika.


Sedang di ruang perawatan tempat Sandra berada.


PLAK!


Matteo tertegun. Pipi kanannya ditampar kuat oleh Sandra yang terlihat begitu marah padanya.


"Dasar tak tahu malu. Kaupikir, setelah kau menghinaku, lalu menciumku, hal itu akan membuatku jatuh cinta padamu, Jenderal? Kau berpikir jika aku seperti wanita-wanitamu? Vanessa? Margaretha? Clara? Heh, sayangnya tidak," tegas Sandra menyindir dan segera pergi meninggalkan ruang perawatannya.


"Otka!" panggil Matteo lantang.

__ADS_1


Pria tampan itu terkejut saat melihat Sandra keluar dari dengan langkah gusar seraya melepaskan infus protabel di kedua lengannya. Benda-benda itu berjatuhan di lantai saat Sandra berjalan cepat menyusuri koridor.


"Otka!" panggil sang Jenderal untuk kesekian kali karena tiba-tiba saja, Sandra berlari kencang menuju ke lift hingga pintu itu tertutup.


BRAKK!


"Agh, sial!" teriak Matteo marah karena ia kalah cepat untuk mengejar Sandra.


Lift yang dinaiki Sandra terlihat jelas karena terbuat dari tabung kaca. Matteo dengan sigap menggunakan lorong seluncur yang biasanya digunakan oleh bagian binatu untuk mengirimkan kain kotor dari kamar pasien agar tiba lebih cepat di lantai dasar.



"Oh! Jenderal!" pekik salah satu petugas rumah sakit saat mendapati Matteo muncul dari seluncuran itu mengenakan jas rapi.


"Hai. Jangan katakan pada siapapun ya. Aku ... hanya penasaran bagaimana rasanya. Sampai jumpa," jawab Matteo menahan malu lalu dengan sigap beranjak pergi.


Spectra terbang melayang mengikuti Tuannya yang sudah tak memperdulikan penampilan. Matteo berlari tergesa hingga rambutnya yang telah disisir rapi menjadi berantakan.


Napas Matteo tersengal saat tak mendapati Sandra di mana pun bahkan hasil pemindaian Spectra tak membuahkan hasil.


"Agh! Ke mana dia?" tanya Matteo gusar bertolak pinggang.


Sandra berlari kencang dengan baju pasien tanpa alas kaki melintasi trotoar menuju ke gedung Green Eco satu-satunya tempat tinggal yang ia miliki.


Tanpa Sandra sadari, aksinya dilihat oleh beberapa kandidat User yang mengenal sosoknya.


"Itu Otka? Apa yang dia lakukan?" tanya seorang kandidat berambut pirang saat melihat Sandra berlari kencang di koridor yang berseberangan dengan tempat ia berjalan.


"Entahlah. Dia ... kabur dari rumah sakit mungkin?" jawab kandidat lain berambut hitam yang juga melihat sosoknya.


"Haruskah ... kita mencari tahu?" tanya kandidat berambut cokelat.


Akhirnya, orang-orang itu memilih untuk tak ikut campur dan kembali ke kamar masing-masing. Sandra berhasil kembali ke kamarnya tanpa dikejar oleh Matteo.


Napas Sandra tersengal dan terlihat marah. Ia melepaskan baju pasiennya dan melemparkannya kasar ke lantai.


"Dasar brengsek! Matteo brengsek!" umpat Sandra bersedih hingga air matanya menetes.


Sandra membaringkan tubuhnya di kasur terlihat begitu sakit hati dengan yang Matteo ucapkan padanya.


"Aku tak peduli jika Blue ada dalam dirinya. Kenyataannya, Matteo yang kulihat selama ini. Orang itu memang tak memiliki perasaan, persis seperti yang dikatakan orang-orang. Aku tak pernah merasakan sakit hati seperti ini sebelumnya," ucap Sandra sedih dengan air mata terus mengalir, meski sudah berulang kali ia menghapusnya. Sandra memeluk guling di kasurnya dengan tangis terisak.


Sedang Matteo. Melangkah dengan lesu saat ia berjalan menuju mobil otomatisnya. Entah sadar atau tidak, sang Jenderal kembali ke rumah tempat Blue tinggal selama ini.


Matteo memasuki rumah peninggalan ibunya dengan pandangan kosong bahkan tak menyadari kehadiran Purple dan Roboto yang menyambutnya.


Matteo merebahkan tubuhnya yang mendadak terasa berat dan malas untuk melakukan apapun. Ia hanya ingin sendiri untuk menenangkan hati dan pikirannya.


Matteo memandangi akuarium di hadapannya dengan pandangan sendu.


"Apa yang sudah kukatakan? Aku ... sungguh keterlaluan," ucapnya sedih seraya mengelus pipinya yang terasa sakit.


Teringat jelas ekspresi kecewa dan sedih Sandra dalam ingatannya saat di Rumah Sakit.


"Apa bedanya kau dengan tiga wanitaku? Kau juga pernah tidur denganku 'kan? Semua wanita sama saja, apa yang membuatmu berpikir kau spesial? Kau hanya seorang kandidat, bahkan kau menikahi seorang lelaki tak berguna seperti Vemo yang tak bisa memasuki Great Ruler karena sikap menyimpangnya. Kau itu, hanya sebuah siluet di hidupku," ucap Matteo tegas penuh sindiran menunjuk wanita di depannya.


Namun, saat tetesan air mata jatuh di dua mata indah Sandra, Matteo baru menyadari ucapannya.


Dengan segera, Matteo mencium bibir wanita itu sebagai permohonan maaf, tapi apa yang diharapkannya, tak seperti yang Sandra pikirkan.

__ADS_1


Sebuah tamparan sakit hati dari Sandra membuatnya semakin yakin jika ia sudah keterlaluan.


Matteo terlihat begitu menyesali perbuatannya. Ia tak bisa melupakan kata-kata kejinya kepada wanita yang meninggalkan kesan mendalam di hatinya.


Keesokan harinya.


Sandra yang kelelahan karena terus menangis semalaman, tak menyadari ketika Presiden Roman dan Lala datang berkunjung.


Mereka melihat Sandra menanggalkan baju pasien di lantai. Wanita cantik itu hanya mengenakan pakaian dalaam saat tidur.


"Jangan berpikir aneh-aneh," ucap Lala melirik suaminya tajam.


Roman menoleh dan menatap Lala keheranan.


"Memang kaupikir, apa yang kupikirkan? Aku bahkan tak berpikir apapun. Kenapa kau selalu mencurigaiku?" tanya Roman heran, tapi Lala seperti tak percaya.


Roman tak ingin bertengkar dengan isterinya. Sang Presiden memilih keluar dari kamar Sandra dan menunggu di luar.


Lala mendekati Sandra yang tertidur pulas memunggungi para tamu yang sudah memasuki kamarnya.


"Otka? Otka?" panggil Lala pelan seraya duduk perlahan di pinggir ranjang wanita cantik itu.


"Oh!" pekik Sandra terkejut saat rambut yang menutupi wajahnya disingkirkan.


Mata Sandra melebar seketika dan langsung menarik selimut untuk menutupi tubuhnya. Lala tersenyum tipis karena ekspresi terkejut Sandra yang alami itu.


"Sudah waktunya. Bersiaplah," ucap Lala dan Sandra mengangguk pelan. "Aku dan Roman akan menunggu di Plaza. Kita akan serapan sebelum uji coba dimulai. Apa ... kau suka masakan Jepang?" tanya Lala. Sandra diam sejenak.


"Bagaimana jika ... makanan segar? Aku ingin sarapan dengan salad buah dan sayur. Susu cokelat dan juga roti yang baru di panggang. Maaf," jawab Sandra sungkan.


"Hem, ide bagus. Baiklah, kita bertemu di Fresh Farm," jawab Lala lalu berdiri dengan senyuman.


Lala keluar dari kamar di mana sang Presiden menunggu dengan sabar. Sandra terkejut saat ia menyadari jika Roman juga ada di sana.


"Apakah ... Presiden Roman masuk ke kamar? Oh, sungguh, ini sangat memalukan jika terjadi. Agh! Menyebalkan!" teriak Sandra marah menendangi selimut, bantal dan guling di kasurnya hingga berjatuhan di lantai.


Usai meluapkan kekesalannya dengan berteriak dan menendangi benda-benda tak bersalah itu, Sandra bergegas menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.


Sandra bersiap dengan seragam latihannya. Ia menyisir rambutnya rapi dan menatap wajahnya di cermin dengan serius.


"Aku tak peduli dengan Matteo atau Blue. Mungkin ... aku memang ditakdirkan dengan Vemo. Bagaimanapun ... Vemo adalah cinta monyetku saat masih kecil dulu," ucap Sandra memotivasi dirinya.


Wanita cantik itu keluar dari kamar dengan langkah mantap menuju ke Plaza untuk sarapan.


Tanpa Sandra sadari, pergerakannya diawasi oleh Spectra yang terhubung dengan Matteo di kediaman Blue. Matteo yang tak bisa tidur, membuatnya terus teringat akan perlakuan kasarnya semalam.


"Sepertinya ... dia baik-baik saja. Syukurlah," ucap Matteo lirih lalu memejamkan matanya perlahan seraya melepaskan kacamata fiber.


Tak lama, Matteo tertidur lelap karena lelah dengan rasa bersalahnya.


***


ILUSTRASI


SOURCE : GOOGLE



uhuy tengkiyuw tipsnya😍 lele padamu💋 Makan siang time🤤

__ADS_1


__ADS_2