SIMULATION

SIMULATION
SURROUNDED


__ADS_3

Ketegangan begitu terasa dari dua belah pihak. Negara Bintang dan kota Titan kembali bertikai karena masa lalu. Tiba-tiba ....


"Sir! Ada konvoi motor mendekat! Dari gerak-geriknya, mereka pasukan negara Baatar!" pekik salah seorang pria penjaga di atas menara yang bertugas sebagai pengintai.


"Kita telah dimata-matai. Segera kembali ke armada! Cepat!" titah Matteo tegas.


Orang-orang itu pun dengan sigap bergerak untuk menyelamatkan diri. Matteo mendekati Colonel Brego yang bersiap untuk mengemudikan cacing robot lagi.


"Colonel. Aku percayakan cacing robot padamu. Bawa mereka masuk ke dalam negara Bintang lalu bersiaplah. Kirimkan pesan ke Great Ruler agar siap dengan serangan dan kirim pasukan bantuan kemari."


"Oke. Hati-hati, Presiden," ucap Brego dan Matteo mengangguk mantap.


Matteo kembali berlari mendatangi Sandra yang masih berdiri untuk mengevakuasi orang-orang.


"Aku tidak tahu apakah kita akan selamat dari pertempuran ini atau tidak. Namun, aku akan berjuang agar kau tetap hidup untuk anak kita Alva," ucap Matteo terlihat takut.


"Kau juga akan tetap hidup, Matteo Corza. Aku juga akan berjuang untuk melindungimu. Kita harus pulang demi Alva," jawab Sandra lalu meraih dua pipi Matteo.


Sandra mengecup bibir Matteo hingga mata keduanya terpejam. Matteo memeluk Sandra erat seperti takut jika kehilangan wanita yang dicintainya.


"Sandra, Teo! Ayo!" panggil Vemo telah siap dipunggung robot serigalanya.


Saat Sandra dan Matteo sedang bersiap, Akira, Tony dan Ego keluar dari dalam cacing bersama 6 buah peti warna hitam yang melayang mengikuti pergerakan tiga pria itu.


Mata Sandra dan lainnya terfokus pada 6 benda yang mulai terbuka saat tiga orang itu menyentuh papan dengan lima jari seperti melakukan pemindaian.


PIP!


"Akses diterima. Komandan Ego."


KLEK!


Hal serupa juga terjadi pada Akira dan Tony. Sandra dan Matteo segera mendekat untuk mencari tahu isi dari kotak tersebut, termasuk yang lain.


"Kalian ... membawa senjata kemari?" tanya Matteo berkerut kening.


"Maaf. Antisipasi. Anda menghilang cukup lama, Tuan Presiden. Seluruh warga cemas jika Anda dimakan oleh monster laut atau semacamnya," jawab Ego menjelaskan seraya membuka peti terakhir.


"Oh, apakah karena ini, kita tak bisa membawa lebih banyak orang? Karena muatan ilegal yang bahkan tak kuketahui?" tanya Sandra menaikkan salah satu alis.


"Ini tidak ilegal. Kami 'kan sudah mengatakan jika akan membawa beberapa perlengkapan. Dan ini salah satunya," jawab Tony membela diri.


"Ada 12 dan kita harus segera membaginya. Siapa orang yang Anda tunjuk, Tuan Presiden?" tanya Akira menatap Matteo lekat seperti berpikir siapa yang akan diberikan tanggungjawab penting itu.


"Hei! Ayo! Cepat! Mereka akan tiba sebentar lagi!" seru Vemo dikejauhan.


Tiba-tiba, petugas yang menjaga benteng berlari mendekati Benyamin yang masih berdiri di samping mulut cacing robot bersama Brego.


"Ada apa?" tanya Benyamin tetap tenang.

__ADS_1


"Pasukan itu ternyata tak menuju kemari. Mereka tetap lurus ke Utara. Sepertinya, tujuan mereka adalah negara Bintang," tegas pemuda itu yang terlihat letih dan tegang.


"Mereka akan menyerang wargaku. Kita harus bergegas!" pekik Benyamin lalu masuk ke dalam mulut cacing dengan sigap.


Matteo, Sandra, Akira, Tony, Ego, Vemo, Roman, Xili, Wego, Imo, Rhyz, dan Bablo, mengenakan jam tangan yang terkoneksi dengan drone bersenjata. Alat tempur terbang itu akan melindungi konvoi sampai tiba di negara Bintang.


Pakaian tempur robot level E segera mereka kenakan berikut helm. PIP! Suara sambungan komunikasi yang terkoneksi dengan operator di Pusat Komando Great Ruler siap untuk melindungi mereka dari serangan musuh.


"Pusat! Apa kau mendengarku?" tanya Sandra yang telah bersiap dengan pedang laser yang disarungkan dengan sebuah sabuk portabel di sisi kiri. Pistol laser siap disisi kanan.


"Sangat jelas, Mam!" jawab Qimi sebagai petugas komunikasi.


"Gunakan satelit untuk memetakan dan memindai musuh dari tangkapan mata WolfBot, HeliBot dan Drone!"


"Yes, Mam!" jawab Qimi sigap.


Untuk mengamankan pemimpin negara Bintang dan kota Titan, cacing robot kini dikemudikan oleh Brego sebagai masinis.


Empat kursi penumpang diduduki oleh Benyamin, Curva, Siren, dan Verosa. Sisanya, mengendarai mobil.


Brego akan tetap berada di bawah tanah dan mereka baru muncul begitu memasuki wilayah negara Bintang. Vemo, Roman, Morlan, dan Xili menunggangi WolfBot.


Sedang Akira, Tony dan Ego menggunakan HeliBot sebagai pelindung dari udara termasuk Sandra. Matteo menggunakan Purple sebagai robot terbangnya.


"Jika ada Roboto dan Spectra, ini pasti akan lebih mudah," ucap Matteo yang mengharapkan dua robot itu ada bersamanya.


Wajah Curva dan timnya dari kota Titan terlihat tegang saat mendengar pembicaraanq orang-orang yang terkoneksi dengan cacing robot entah apa yang mereka khawatirkan.


Segera, rombongan yang terdiri dari berbagai negara dan kota melaju kencang keluar dari ngarai.


Jalanan yang berbelok-belok dengan celah gunung yang sempit, membuat semua orang berhati-hati agar tak terhantam dinding dua.


Saat mereka melaju agar segera tiba di tanah lapang, tiba-tiba ....


"GOARRR!" erang seekor WolfBot yang ditunggangi oleh Vemo.


Pria yang memiliki tato barcode di wajah itu langsung mendongak karena WolfBot miliknya berhenti berlari dan melihat ke atas.


"Pasti ada ancaman. Bersiap!" seru Sandra lantang dari HeliBot-nya.


Dengan sigap, Roman mengerahkan drone bersenjata dengan menempelkan telunjuk ke layar sentuh jam tangan untuk mengendalikan benda terbang tersebut.


Kacamata khusus yang dikenakan oleh kedua belas orang dan terkoneksi dengan drone, membuat orang-orang itu bersiap.


Masing-masing operator menerbangkan satu buah drone yang mengikuti mereka sesuai jam tangan yang dikenakan. Empat WolfBot mengerang dan kepala mereka terus melihat ke atas seperti menyadari adanya ancaman serangan.


Benar saja, "Pasukan musuh di permukaan. Kita dikepung!" seru Roman lantang setelah drone miliknya berhasil keluar dari celah gunung dan mendapati banyak pasukan dari negara Baatar telah mengintai dari atas.


Tiba-tiba, CRINGG!

__ADS_1


"Apa itu?" tanya Sandra dengan kening berkerut saat melihat orang-orang dari negara Battar seperti menembakkan sesuatu dari pergelangan tangan mereka yang berlapis besi.


Seketika, mata Morlan melebar.


"Run! Now!" serunya lantang.


Dengan sigap, konvoi mobil dan WolfBot melaju cepat. Sandra yang penasaran dengan gaya tempur pasukan Baatar tetap terbang menggunakan HeliBot meski kepalanya menoleh ke sana kemari dan mendongak ke atas untuk melihat serangan yang akan terjadi.


SHOOT! SHOOT! CLEB! CLEB!


Gelang panjang terbuat dari besi tersebut, menembakkan semacam tempurung telur ke dinding-dinding batu berwarna hitam. Ternyata, pasukan Baatar telah berdiri di sepanjang tepian ngarai seperti menunggu konvoi mereka.


PIP! KLEK!


Mata Sandra melebar saat melihat tempurung hitam itu terbuka dan muncul hewan berwarna hitam bersayap yang memiliki sengat di bagian belakang melengkung ke atas, seperti sebuah binatang.


"Apa itu?" tanya Sandra dengan kening berkerut.


"Itu adalah kalajengking robot yang telah dimodifikasi. Jika sampai terkena sengatnya, kalian akan langsung tewas. Mereka sangat gesit dan sulit untuk dibunuh!" jawab Morlan lantang yang meneropong dari kacamata khusus yang memiliki banyak fungsi.


"Bagaimana kau tahu banyak tentang hal ini?" tanya Roman curiga menatap Morlan yang menaiki WolfBot.


"Aku menggunakan kalajengking robot untuk mengetes kemampuan mutanku. Sayangnya, hanya mutan jenis serigala yang bisa melawannya. Kulit mereka tebal seperti perisai dan gigi mutanku dari besi. Mereka bisa meremukkan kalajengking robot dengan giginya, dan sengat itu tak bisa menembus kulit serigalaku," jawab Morlan menjelaskan pengalamannya.


Orang-orang mulai panik karena akan sangat sulit melumpuhkan para kalajengking yang ternyata memiliki sayap sehingga bisa terbang.


Saat mobil barisan depan sudah hampir tiba dan keluar dari ngarai, tiba-tiba ....


BLUARR! KRAKK!! BRUGGG!


"Menghindar! Menghindar!" seru Ego lantang yang melihat dinding ngarai diledakkan dan membuat bongkahan batu besar tersebut jatuh dengan cepat.


Sayangnya, mobil dibarisan depan terlalu lambat untuk menghindar.


BRANGG!


"AAA!" teriak para wanita dari kota Titan yang berada di mobil lain karena melihat mobil dipaling depan tertimpa dan membuat kendaraan beroda empat itu hancur berikut para penumpangnya.


CITTT!!


Semua kendaraan yang melintasi permukaan langsung berhenti seketika. Jalanan mereka terhalang seperti sengaja agar terperangkap.


"Siaga!" seru Sandra lantang yang bersiap dengan pistol laser dalam genggaman tangan kanan.


Para penunggang WolfBot turun dari serigala robot dan ikut bersiap menghadapi serangan. Vemo menggunakan senjata andalannya yang kini telah menyatu bersama pakaian tempurnya.


***


__ADS_1


uhuy tengkiyuw tipsnya. lele padamu😍


__ADS_2