SIMULATION

SIMULATION
HYPERSLEEP*


__ADS_3


Tony mengaku menyerahkan diri kepada dua sahabatnya—Akira dan Ego—setelah mengetahui kejadian yang membuat Sandra terperangkap dalam simulasi dan membawa robotnya keluar dari Great Ruler.


Tony yang merasa curiga dengan kejadian beberapa waktu lalu saat dirinya mabuk, memiliki firasat jika yang ia lakukan saat itu adalah kesalahan.


Semua orang akhirnya bisa memahaminya. Mereka juga menaruh kagum karena Tony mengakui kesalahannya meski hal itu juga bukan kesalahan dia sepenuhnya.


Matteo memilih diam enggan berkomentar karena bagaimanapun, Tony adalah rival terbesarnya setelah Vemo.


Sebagai penebusan dosa, Presiden Roman memerintahkan kepada Akira, Ego dan Tony untuk segera menyiapkan pasukan robot level B demi mempertahankan Great Ruler dari segala jenis serangan yang kemungkinan terjadi dalam waktu dekat.


Di ruang kendali simulasi, Roman tampak geram. Sang Presiden memiliki wajah seorang pria Asia, berambut hitam dan beralis tebal, serta tubuh atletis yang terlihat dari pakaiannya karena mengenakan kaus hitam ketat lengan panjang.


Roman segera mendatangi ruangan tempat Mola berada. Sebuah ruangan yang dilindungi oleh dinding kaca tebal anti peluru, anti getaran, dan anti laser.


Sang Presiden mengarahkan barcode di lengannya sebagai akses khusus untuk memasuki ruangan tersebut ke papan pemindai.


“Roman Rodega. Halo, Mr. President. May I help you?” tanya Mola yang mengejutkan semua orang karena si komputer pintar kembali.


“Mola. Katakan padaku apa yang terjadi dengan simulasi Otka Oskova?” tanya Roman saat hologram wujud dari Mola muncul di tengah lingkaran dengan sinar biru.


“Otka Oskova gagal menyelesaikan misi level. Otka ditidurkan sementara waktu sampai pemulihan level selesai ketika reset time sistem,” jawab Mola yang memiliki wujud manusia dengan paras cantik seorang wanita berambut panjang pirang.


Perlahan, Wakil Presiden Lala mendekat dengan wajah sendu. Sorot matanya hanya terfokus pada hologram Mola yang berdiri di hadapan suaminya—Roman.


Lala memindai barcode di lengannya untuk ikut masuk ke ruangan. Orang-orang yang mengetahui jika perwujudan Mola adalah anak perempuan dari dua orang besar di Great Ruler tersebut memilih diam.


“Mola,” panggil Lala terlihat sedih.


“Hai, Mom,” jawab simulator tersebut seolah-olah sosok hologram itu tahu jika wanita yang kini berambut abu-abu dan sedang menatapnya adalah sang ibu.


Lala meneteskan air mata, meski tak ada isak tangis terdengar. Roman mengelus punggung isterinya lembut dengan senyum tipis terpancar. Lala balas tersenyum sembari menghapus air mata.


“Berikan rinciannya padaku tentang sistem yang dibajak,” pinta Roman.


Para petugas dan pejabat militer akhirnya datang berkumpul setelah mengetahui adanya sabotase sistem yang dilakukan oleh Captain kebanggan mereka—Tony.


Orang-orang itu berkumpul di pusat kendali tempat simulasi robot level A berada. Semua orang terlihat serius mendengarkan.


“Sistem komputerku bersinkronisasi dengan pemrograman baru yang diinputkan dalam database. Sistemku telah menyatu dengan program simulasi dan tak bisa dibatalkan. Kode terenskipsi dan tak bisa diubah kembali. Segala bentuk pengubahan kode bisa berimbas kepada User yang masih terhubung dengan sistem simulasi. Perubahan hanya bisa dilakukan saat Otka Oskova berhasil menyelesaikan keseluruhan misi yang diberikan dan ia kembali ke dunia nyata,” jawab Mola menjelaskan.


Mulut semua orang menganga. Roman lega karena ia hampir saja melakukan perubahan dalam pemrograman sistem. Sang Presiden terlihat serius memikirkan hal tersebut termasuk Matteo yang ikut berdiri di depannya.


“Mola. Bisa kau cari tahu dari kode pemrograman barumu, perjalanan level Otka Oskova akan berakhir di mana? Maksudku … seperti apa musuh yang akan dia hadapi, atau rute dari misi?” tanya Matteo menatap


hologram di depannya saksama.


Hologram Mola terlihat buram untuk sesaat, dan hal itu mengejutkan semua orang karena tak pernah terjadi sebelumnya.


Sosok Mola juga tak pernah muncul untuk sekian lama. Akan tetapi, entah apa yang terjadi, wujudnya muncul hari ini usai sebuah virus dimasukkan ke dalamnya.


“Perjalanan misi sampai dengan level 10. Semua yang terjadi di luar sana tak pernah terjadi di simulasi Great Ruler. Jika robot Otka hancur saat menjalankan misi, Otka tewas.”


Mata Matteo melebar seketika, begitu pula semua pendengar. “Mm, adakah cara bagi kami untuk mengantisipasinya?” tanya Matteo panik.


“Seperti dalam permainan video games, level terakhir adalah level penentuan untuk memenangkan sebuah pertempuran. User akan melawan ‘Bos’ atau bisa dibilang musuh utama agar bisa keluar dari simulasi dan mendapatkan hadiah.”


“Maksudmu … seperti melawan raja mutan, begitu?” tanya Laksamana Joe—pria tua berkulit hitam dengan rambut putih—yang kini berdiri di belakang Lala.


“Ya, Anda benar, Laksamana. Hadiah yang diberikan adalah Vermendis Vemo jika Otka berhasil mengalahkan Bos.”


“Bos? Siapa raja mutan itu? Apakah Morlan?” tanya Mayor Kyel—Walikota Distrik 1—menebak.

__ADS_1


Mola diam saja tak menjawab. Hal itu membuat semua orang makin pusing dengan bencana yang sebentar lagi akan dihadapi.


“Mm, Mola. Adakah strategi khusus bagi Otka agar dia bisa memenangkan tiap level?” tanya Matteo.


“Tak ada. Otka tak boleh tewas selama menjalankan misi dan robot di lapangan tak boleh hancur. Saranku, pastikan robot level A tak rusak karena robot itu sekarang ikut tertidur di tempat terakhir sebelum


sambungan terputus.”


“What?!” pekik semua orang di ruangan Mola terkejut.


“Segera kirimkan pasukan robot level B untuk menjaga robot Sandra agar tak rusak! Cepat!” perintah Matteo tegas.


Petugas operator menunggu keputusan dari sang Presiden, dan Roman mengangguk mengizinkan.


Lelaki yang mengenakan earphone tanpa kabel di salah satu telinganya itu segera menghubungi pusat kendali yang mengoperasikan User robot level B di Gedung Green Eco-05.


Namun seketika, petugas itu memekik dan laporannya mengejutkan semua orang.


“Sir! Semua User terkena hypersleep! Sepertinya virus yang ditanamkan oleh Captain Tony menular dan menyerang ke semua simulator! Para prajurit kita terperangkap seperti Otka!”


“Apa?!” seru Roman hingga matanya melebar.


Roman segera berlari bersama para pejabat lainnya ke gedung yang tempatnya berseberangan dengan gedung tempat Sandra berada.


Gedung hijau seperti biji padi tersebut melayang di atas sebuah cekungan yang menjadi penopang. Gedung tersebut bisa berpindah lokasi ketika dibutuhkan.


Di ruang simulasi robot level B berada.


Terlihat, para petugas panik dan mereka berusaha untuk membangunkan para User yang memejamkan mata di ruang simulasi tak sadarkan diri.


“Semuanya?!” tanya Lala memekik.


“Yes, Mam. Bahkan Komandan Akira dan Ego. Beruntung, Captain Tony belum melakukan simulasi karena borgolnya macet dan harus dipotong dengan laser,” jawab operator pria dengan wajah pucat mendatangi para pejabat Great Ruler yang kini berkumpul di ruangan tersebut.


“Tenanglah, Sayang. Morlan pasti sengaja melakukannya agar saat para pasukan mutannya menyerang, tak ada yang bisa menghentikannya,” jawab Lala seraya memegangi kedua lengan suaminya dan


menatapnya lekat.


Beberapa orang memutuskan untuk kembali ke pusat kendali simulator tempat Sandra berada untuk melihat perkembangan misi. Matteo yang tak meninggalkan tempat, terus melakukan pemantauan.


"Xili. Mola bilang jika robot tidak boleh rusak. Lalu ... di mana dua serigala mutan yang menyerang robot? Apakah mereka masih di sana?" tanya Matteo cemas.


Dengan sigap, Xili segera melakukan pengecekan dari pantauan satelit.


"Oh! Ini aneh, Jenderal. Dua serigala mutan tak terdeteksi di wilayah pertempuran tadi. Nampaknya, mereka telah pergi entah sejak kapan. Maaf, saya tadi fokus dengan penjelasan dari Mola," jawab Xili merasa bersalah.


Ternyata, empat operator lainnya juga melakukan hal yang sama. Mereka tak memantau robot di lapangan karena sambungan terputus.


Matteo berusaha untuk tak marah dan tetap bersabar mengingat keadaan sedang kacau.


Di saat semua orang kebingungan karena serangan di dalam inti Great Ruler, Sandra yang mengalami tidur sementara seperti mendapatkan mimpi.


Wanita berambut pirang dengan potongan seperti pria itu terlihat lelap dalam tidurnya. Matteo terlihat begitu cemas karena Sandra terperangkap dalam simulasi.


Sang Jenderal muda berusaha membuat Sandra tetap prima dengan meminta kepada petugas medis untuk memberikan infus selama wanita cantik itu tak sadarkan diri, dan vitamin untuk memperkuat fisik ketika sadar nanti.


“Jenderal Matteo,” panggil operator saat ia menunjuk layar utama berukuran 100 inch yang terpampang pada dinding ruang kendali.


Pria bermanik biru tersebut melangkah perlahan. Sebuah tampilan muncul entah siapa yang mengoperasikannya.


Namun, setelah Xili—operator berambut hitam—melakukan analisis, ternyata tampilan tersebut adalah kenangan dalam diri Sandra yang muncul di pikirannya ketika tertidur, seperti sebuah mimpi.


“Apa itu?” tanya Captain Tony yang kembali ke ruangan bersama Wakil Presiden Lala.

__ADS_1


“Ingatan lama Otka Oskova, mm … maksudku, Sandra,” jawab Xili merevisi panggilannya.


Semua orang terdiam dan hanyut, ketika kilasan kenangan itu muncul terlihat nyata. Kini, semua orang tahu kehidupan Sandra sebelum ia menjadi relawan User robot level A Great Ruler.


Kejadian lima tahun silam, saat hujan deras melanda The Great Ruler. Orang-orang yang melihat gambaran dalam pikiran Sandra teringat akan tragedi mencekam tersebut. Wajah tegang muncul di paras semua penonton.


Sandra sedang menyiapkan makan malam romantis untuk merayakan pernikahan tiga tahunnya di apartemen khusus para anggota militer.


Terlihat, rona kebahagiaan di wajah Sandra saat wanita cantik itu masih berambut panjang dan sedang merias dirinya di cermin. Matteo tersenyum, seolah-olah Sandra seperti tersenyum padanya.


Tiba-tiba, seseorang masuk dari pintu utama dengan tergesa. Sandra mendatangi orang tersebut. Ternyata lelaki itu adalah suaminya—Rey.


Seketika, tubuh Matteo tersentak. Ia seperti mengenali pria itu. Lala dan lainnya melirik dalam diam ke arah jenderal muda karena pergerakan Matteo terlihat jelas saat ia kaget.


Kejadian tersebut adalah saat insiden penyerangan negara Russ-King lima tahun silam.


Tampak jelas dalam ingatan Sandra ketika Rey terpaksa pergi untuk menggantikan tugas Matteo Corza yang dikatakan sedang sakit.


Matteo terlihat begitu fokus menyaksikan kejadian dari sudut pandang Sandra yang tak pernah ia ketahui.


Hingga akhirnya, kejadian memilukan hati terjadi saat Sandra tertinggal di dalam gua dan terinjak-injak ketika semua warga diminta untuk segera evakuasi karena lolongan serigala mutan terdengar.


Sandra tengkurap di tanah sendirian. Tiba-tiba, pintu keluar ditutup. Sandra terkurung di dalam gua. Ia panik dan merintih kesakitan.


“Oh Tuhan, tak adakah yang menyadarinya?” tanya Lala ikut panik sampai menutupi mulut dengan tangan bergetar. Semua penonton terdiam dan semakin serius menyaksikan.


Sandra menundukkan pandangan dan melihat ke arah kakinya yang tergolek di atas tanah. Ia yang hanya mengenakan gaun selutut, melihat darah mengucur dari balik roknya. Sandra menangis sedih sampai tubuhnya bergetar.


Semua penonton langsung memejamkan mata sejenak. Mereka tahu apa yang terjadi, Sandra keguguran. Perasaan sedih menyelimuti hati semua orang.


Matteo terlihat lesu dengan pandangan tak menentu saat duduk di kursi depan layar besar tersebut.


Sandra meringkuk di tanah memegangi perutnya yang sakit. Ia tak bisa berdiri ataupun merangkak menuju ke pintu gerbang. Sandra hanya bisa meratapi nasibnya yang menyedihkan di dalam gua yang gelap.


Hingga akhirnya, sebuah cahaya menyilaukan mata membuat Sandra yang sudah pasrah dengan nyawanya membuka mata perlahan. Ia melihat para User robot level E dan tenaga medis datang menolongnya.


Seketika, layar tersebut padam di mana para penonton menduga jika saat itu Sandra tak sadarkan diri usai diselamatkan.


“Merasa bersalah, Jenderal Matteo?” tanya Tony tiba-tiba membuka suara, tetapi ucapannya mengejutkan semua orang. “Itulah yang terjadi, ketika kaulalai dalam tugasmu. Jadi … apakah hal yang wajar, jika aku dan Otka Oskova yang nama sebenarnya adalah Sandra Salvarian membencimu? Aku rasa semua orang setuju dengan fakta yang terlihat barusan. Kau, membunuh sahabatku. Kau membunuh suami dari sahabatku. Bahkan lebih buruknya, kau membunuh bayi dalam kandungan wanita yang kaukagumi,” ucap Tony menatap Matteo tajam berkesan menyindir.


“Captain Tony, tolong jangan bicarakan hal ini dalam kondisi yang sedang pelik di Great Ruler. Kami semua melihatnya dan tahu perasaan yang Otka, em … Sandra rasakan. Tolong, jangan memperkeruh suasana,” ucap Lala seraya mendekat.


“Jika yang Anda ucapkan bisa semudah itu, aku pasti akan melupakan dendam dan kebencian pada Matteo. Sayangnya, hal tersebut melekat kuat dalam hati dan pikiranku termasuk Sandra. Nikmatilah penyesalanmu, Matteo Corza. Semua, salahmu,” tegas Tony lalu pergi meninggalkan ruang simulasi dikawal oleh dua User robot level E yang bertugas mengawasinya.


Kening Matteo berkerut, ia terlihat begitu bersalah seperti akan menangis. Matanya berkaca, tetapi tak ada air mata di sana.


“Dia benar. Semua salahku. Jika saat itu aku tak bertengkar dengan Blue, dan menuruti nasehatnya, pasti semua hal buruk ini tak akan terjadi. Aku … minta maaf, Sandra Salvarian. Aku minta maaf,” ucapnya sedih, dan semua orang di ruangan yang mendengar ucapan sang Jenderal ikut tertunduk diam.


Matteo pergi meninggalkan ruangan. Semua petugas memilih tak ikut campur dalam urusan pribadi tersebut. Lala mengikuti keponakannya yang terlihat lain tak seperti biasanya.


“Matteo,” panggil Lala saat sang Jenderal akan masuk ke kamar.


“Aku ingin sendiri, Bibi. Aku … akan kembali saat reset time. Panggil aku jika Sandra sudah kembali online,” jawab Matteo dengan pandangan tertunduk tak menatap wajah Wakil Presiden Great Ruler tersebut.


“Baiklah,” jawab Lala pelan dan membiarkan pria berambut cokelat dengan skin head di kanan kirinya masuk ke kamar. Lala menarik napas dalam dan kembali ke ruang simulasi.


***


ILUSTRASI


SOURCE : GOOGLE


__ADS_1


oke walopun ini nyuplik dari novel cetak tapi di novel online, lele banyak sisipin gambar dan tambahan keterangan ya. soalnya kalo dicetak itu kan kudu ngepres alias ngirit biar harga novelnya gak mahal. tengkiyuw tipsnya mbak aju yg udh ndukung crazy up semoga lele gak menggila😆


__ADS_2