SIMULATION

SIMULATION
BET*


__ADS_3

Malam itu, kabar yang disiarkan secara resmi oleh Divisi Pertahanan Great Ruler untuk melakukan perekrutan User non-akademik dibuka.


Sandra, yang sedang berada di Distrik 1 usai mengembalikan jam tangan ditemani Tony, tentu saja menyambut berita itu dengan senyum terkembang.


"Kau lihat itu, Tony. Aku memiliki kesempatan untuk menjadi User," ucapnya sembari memegang lengan Tony erat.


Namun, Tony malah terdiam seperti tak menyadari jika Sandra mengajaknya berbicara.


"Tony, hei."


"Ha? Oh, kenapa?" jawabnya langsung menoleh dan mendapati wajah cantik wanita di sebelahnya. "Eh, tanganmu? Apa tidak sakit saat kau gerakkan?" tanya Tony melihat jemari Sandra memegang lengannya..


Sandra ikut terkejut. Ia sampai tak sadar jika menggunakan tangannya yang terbalut gips untuk memanggil Tony.


"Oh, mungkin. Aku tak merasakan sakit. Apa aku sudah sembuh?" tanya Sandra dengan wajah berbinar seraya menggerakkan jemarinya.


"Ayo cari tahu," jawabnya mengajak Sandra kembali ke mobil.


Tony membawa Sandra ke rumah sakit di Distrik 1 yang selalu buka 24 jam karena dokter yang bekerja di sana adalah robot.


Namun, jika menyangkut dengan operasi besar atau penanganan serius, dokter manusia hadir di sana.



Di Rumah Sakit Distrik 1 Great Ruler.


Sandra terlihat kagum akan semua hal di Distrik 1 termasuk Rumah Sakitnya karena bentuk bangunan di sana sangat futuristik. Setiap Distrik memiliki ciri khasnya.


Sandra di daftarkan dan ia masih masuk dalam garansi kesehatan dari mendiang suaminya—Rey. Sandra memasuki sebuah ruangan dan diminta untuk berbaring.


Tony berdiri di sampingnya sembari melipat kedua tangan di depan dada dan menunjukkan senyum lebar. Sandra terkekeh karena sikap Tony saat alat itu mulai bergerak dengan suara mesin lirih ketika lengannya di scan.


PIP!


Hasil pada monitor di bawah kakinya berbunyi seraya sebuah cetakan kertas muncul seperti sebuah struk belanja pada mesin kasir zaman dulu.


"Wow! Kau sembuh. Dan robot bedah siap untuk melepaskan gips-mu. Sebaiknya, kau jangan bergerak. Santai saja," ucap Tony santai seraya membaca dari laporan medis kertas tersebut.


Sandra tersenyum lebar, meski tak dapat ditutupi wajahnya yang tegang karena tak terbiasa dengan robot-robot di sekitarnya, padahal ia hidup cukup lama di Great Ruler.


Sejak menikah dengan Rey bahkan setelah kepergian suaminya, Sandra jarang ke luar apalagi mengikuti perkembangan teknologi dan politik di Great Ruler.


Hidupnya disibukkan untuk menjadi ibu rumah tangga yang baik karena mendambakan seorang anak lahir di kehidupan mereka. Sayangnya, sampai Rey tiada mimpi itu tak terwujud.


SINGG!!


Sandra langsung memejamkan mata. Jantungnya berdebar kencang. Tangannya yang di-gips ditahan oleh sebuah besi yang dilapisi bantalan empuk agar tak melukai lengannya.


Sebuah roda dari besi berdiameter 10 cm itu mulai menjalankan tugasnya. Lingkaran besi berwarna silver memotong gips secara otomatis usai polanya ditentukan oleh komputer. Tony tersenyum melihat wajah Sandra yang pucat.

__ADS_1


PIP!


"Oke, sudah selesai. Bagaimana, terasa bebas?" tanya Tony dengan senyum terkembang mendekati kawan dari adik perempuannya—Eliz.


"Yah," jawabnya tersenyum.


Namun, mesin itu belum mengizinkan Sandra untuk bangun terlebih dahulu. Sebuah perawatan diberikan pada lengannya yang sakit. Cairan penyemprot yang terasa sejuk saat menyentuh kulitnya dan perlahan terasa hangat, membuat Sandra merasa nyaman.


"Pemeriksaan selesai. Perawatan usai pelepasan gips akan diinformasikan langsung ke asisten ruangan Nyonya Sandra Salvarian dengan nama Rey," ucap komputer medis.


Kening Tony berkerut seketika. "What? Rey? Nama asisten ruanganmu ... Rey?"


Sandra meringis dengan anggukan. Tony tak mau berkomentar lebih jauh lagi, ia malah balas meringis, meski terlihat terpaksa.


"Terima kasih atas kepercayaan Anda memilih Rumah Sakit kami. Selamat malam dan semoga Anda tak kembali lagi."


Tony dan Sandra terkekeh mendengar ucapan dari asisten ruangan di tempat penanganan medis itu. Komputer mengatakan agar mereka tak kembali, tapi dua orang itu paham dengan maksud tersebut.


Pihak Rumah Sakit berharap agar mereka selalu sehat dan tak kembali lagi dengan sebuah penyakit yang harus disembuhkan.


Tony mengendarai mobilnya kembali ke Distrik 7 tempat tinggal mereka. Mobil otomatis tersebut bisa melaju tanpa harus disetir oleh manusia dengan pengesetan tujuan akhir pada bagian pengendali.


"Tony. Kau masih berhutang cerita padaku," ucap Sandra membuka obrolan selama perjalanan.


"Hem. Tentang apa?" tanya Tony yang kini memiringkan posisi duduknya hingga terlihat jelas sosoknya.


"Saat di White Star. Kau bilang jika menepati janji pada Rey atas taruhan kalian ketika masih bujang dulu. Tentang apa itu?" tanya Sandra gugup.


"Oke, lanjutkan," sahut Sandra terlihat penasaran.


"Kami berlomba untuk mencari cinta sejati dan menikah. Siapa yang lebih cepat menikah dan tidak bercerai, maka dia pemenangnya. Rey langsung menerimanya, padahal taruhan saat itu cukup besar," sambungnya dengan mata melebar.


"Apa hadiahnya?" tanya Sandra terlihat tak tersinggung.


"Sebuah rumah. Bukan apartemen, tapi rumah, Sandra. Kau tahu 'kan betapa sulitnya memiliki hunian pribadi di Great Ruler. Selain itu, masa taruhan itu sampai sepuluh tahun untuk penentuan siapa yang berhak mendapatkan rumah tersebut. Sayangnya, kalian baru bersama selama 2 tahun, dan ...."


"Ya, aku tahu. Oleh karena itu, kau mentraktirku lobster sebagai ganti rumah?"


Tony meringis dengan anggukan. "Sebenarnya, aku berharap bisa memiliki hunian seperti yang aku dan Rey janjikan. Hanya saja, sampai saat ini, aku belum menemukan cinta sejatiku," ucapnya sedih dengan wajah tertunduk. Sandra ikut terdiam. "Kata orang, jodohmu ada di depan mata. Namun, entah kenapa bagiku ... hal itu tak semudah yang mereka katakan," ucapnya yang diakhiri dengan menatap wajah Sandra dalam.


Wanita cantik itu langsung memalingkan muka. Tony diam menatap Sandra yang seperti paham akan maksud dari ucapannya. Tony melihat kedua tangan Sandra yang saling menggenggam terlihat gugup.


PIP!


"Tujuan akhir Anda tinggal 1 kilometer lagi, Captain Tony. Persiapkan diri Anda," ucap sopir mobil otomatis dengan suara perempuan ramah.


Tony kembali duduk tegap seraya merapikan pakaiannya. Sandra memilih diam tak berbicara lagi sampai mobil itu berhenti di parkir khusus pada basement rumah susun tersebut.


"Terima kasih sudah mengantar, Tony. Titip salamku pada Eliz. Sampai jumpa," ucap Sandra yang keluar lebih dulu dan meninggalkan Tony yang masih berdiri di samping mobilnya.

__ADS_1


"Ya. Sama-sama," jawabnya canggung.


Sandra bergegas masuk ke lift dengan memandang ke arah lain. Matanya kini tak bisa beradu dengan Tony lagi.


Salah satu Captain dari User robot level B tersebut terlihat kesal. Ia mengusap wajahnya dengan kasar menggunakan kedua tangan.


"Kau terlalu cepat, Tony. Sandra tak bisa begitu saja menerimamu. Kau tak ingat, asisten ruangannya saja bernama Rey. Kawanmu itu masih berada di hatinya," gerutunya pada diri sendiri.


Tony akhirnya ikut melangkah masuk setelah lift terbuka untuknya dan membawa ke lantai tempat ia tinggal.



Di kamar Apartemen Sandra.


Wanita cantik itu terlihat kesal akan sesuatu. Ia meletakkan semua perlengkapan yang dibawanya dengan kasar ke sofa ungu tempat biasa ia duduk untuk melepaskan penat.


Sebuah ruangan berkesan futuristik minimalis yang lengkap dengan ruangan penunjang lainnya dan masih berkesan manusiawi karena beberapa perabotan diperlakukan secara manual tak sepenuhnya oleh robot.


"Apa-apaan Tony bicara seperti itu?" tanyanya bertolak pinggang.


Sandra yang dirundung amarah, segera pergi menuju ke kamar mandi untuk menyegarkan diri. Ia melihat tangannya yang sudah terasa lebih baik, meski masih ada bekas dari gips yang menekan kulitnya.


"Rey, bacakan pesan untukku," pinta Sandra saat membiarkan dirinya diguyur oleh tetesan air hangat dari shower.


"Anda memiliki dua pesan. Pertama, dari Rumah Sakit Gama Medical Distrik 1. Prosedur perawatan untuk terapi usai pelepasan gips."


"Ah, skip. Nanti saja. Pesan kedua, dari siapa?" tanya Sandra yang mulai berpikiran buruk jika itu dari Tony.


Ia sudah membayangkan jika pria itu akan mengucapkan permohonan maaf atas ucapannya. Entah kenapa, hal itu membuat hati Sandra kembali marah jika sungguh terjadi.


"Pesan kedua dari Colosseum Blue."


Sandra terkejut dan mematikan air shower. Wajahnya serius seketika. "Oke, bacakan," pintanya dengan jantung berdebar.


"Pesan ini berupa rekaman suara," ucapnya menjelaskan.


"Hai, bagaimana? Apa istirahatmu cukup? Aku harap libur setengah harimu bisa membuat lukamu segera pulih," ucapnya yang tiba-tiba membuat senyum Sandra terpancar seketika. "Aku masih tak enak badan. Sepertinya tak ada yang peduli padaku. Bahkan Angel menghubungiku hanya memberitahukan jadwalku besok. Dia sepertinya sungguh membenciku usai kuceraikan. Haruskah ... aku rujuk kembali dengannya?"


"Hahahaha!" Spontan, tawa Sandra meledak. Ada saja perkataan unik dari Bos tampannya yang mampu membuatnya gembira.


"Jadi ... tolong, Asistenku yang baik. Jenguk aku esok, usai kau pulang bekerja. Besok, aku masih cuti. Itu saja pesan dariku dan ... selamat malam," ucapnya ramah.


"Malam, Blue," jawab Sandra dengan wajah merona.


Malam itu, senyum Sandra tak memudar padahal ia sudah siap untuk memejamkan mata. Entah kenapa, ia tak sabar menunggu hari esok. Sayangnya, bukan keinginan untuk bekerja, melainkan untuk menjenguk Bos-nya.


***


ILUSTRASI

__ADS_1


SOURCE : GOOGLE (Decarotorist), (HomeKlondike).


__ADS_2