
Sepeninggalan Sandra, Matteo duduk di bangku Pod ruang makan dengan sorot mata tajam menatap bangku di hadapannya.
"Spectra! Roboto! Purple! Kemari!" panggilnya lantang, dan tak lama, tiga robot itu mendatangi majikan mereka yang duduk terlihat kesal akan sesuatu. "Purple. Perlihatkan padaku rekaman terakhir saat aku makan malam di lantai dua," pintanya tegas menatap robot berwarna ungu tersebut.
"Baik."
Dada Purple tiba-tiba menyala terang dengan tampilan video di sana. Purple merekam kejadian saat Matteo terjatuh dari tangga lalu tak sadarkan diri.
Matteo menonton tayangan itu dengan saksama dengan serius hingga akhirnya tiga robot itu diminta pergi oleh Blue untuk mengisi daya.
BRAK!!
"Blue sialan! Awas saja. Kau tak akan bisa muncul lagi untuk selamanya. Malam tadi, terakhir kalinya kau kuizinkan keluar dan menggantikanku, tapi, tak ada lain kali," geram Matteo gusar pada dirinya sendiri sampai menggebrak meja.
PIP!
"Selamat datang, Otka Oskova," ucap Eco yang mengejutkan Matteo.
Dengan sigap, Matteo meminta agar tayangan video itu dimatikan. Matteo diam sejenak menatap Sandra yang berpenampilan casual dan menyisir rambutnya rapi ke belakang, tapi membuatnya terlihat tegas.
"Maaf, jika pakaianku—"
"Sempurna. Ayo sarapan," ajak Matteo dengan senyum tipis.
Sandra balas tersenyum dan berjalan mendekat. Tak lama, robot koki datang dan menyajikan makanan. Keduanya makan dengan lahap dan tenang, tak ada pembicaraan.
"Kita akan mengendarai mobil otomatis sampai Rumah Sakit," ucap Matteo seraya mengelap mulutnya dengan serbet dan Sandra mengangguk.
Usai sarapan, Matteo pergi bersama Sandra menuju ke mobil yang di parkir di basement gedung tempat tinggal para User.
Namun, Roboto dan Purple tak ikut, hanya Spectra saja yang diajak. Robot pintar itu melayang di bagian belakang, sedang Matteo dan Sandra duduk di bangku tengah.
"Mm, Otka."
"Otka?" tanya Sandra dengan kening berkerut. Matteo terlihat bingung, tapi ia tetap tenang.
"Ya. Aku harus memanggilmu Otka, tak mungkin aku memanggilmu dengan sebutan 'sayang, babe, sweet heart' dan sejenisnya karena hal itu bisa menimbulkan kecurigaan orang-orang di sekitar kita. Kau ... ingin hal itu terjadi?"
"Ah, aku mengerti," jawab Sandra dengan anggukan, meski terlihat kecewa.
Matteo menatap Sandra lekat dan memberanikan diri menyentuh tangannya. Sandra menaikkan pandangan dan balas menatap pria yang ia sangka adalah Blue.
"Kau, juga harus tetap memanggilku Matteo. Oke?" Sandra mengangguk pelan.
Matteo tersenyum seraya mengangkat tangan Sandra lalu mengecup punggung tangannya lembut.
Keduanya bergandengan tangan selama perjalanan dengan mobil otomatis hingga tiba di Rumah Sakit. Namun, saat di tempat umum, keduanya bersikap profesional layaknya atasan dan bawahan.
Rumah sakit yang berada di Distrik 9 khusus untuk para militer dan dilengkapi dengan pusat penelitian sebuah laboratorium, ternyata masih ramai dikunjungi di hari cuti bersama.
Sandra balas tersenyum saat berpapasan dengan beberapa orang yang datang berkunjung ke sana.
Rumah sakit yang dikelilingi oleh kolam air jernih dan rimbunan pohon, diharapkan bisa menjadi salah satu bentuk alternatif penyembuhan para pasien yang harus rawat inap.
__ADS_1
Mereka yakin, para pasien akan segera pulih jika lingkungan sekitar terasa damai dengan kondisi alam yang alami untuk mempercepat kesembuhan. Bangunan futuristik tersebut adalah salah satu karya dari Aurora Dimensia.
Sandra terlihat cemas saat Matteo berbaring di papan pemeriksaan dan mulai diperiksa oleh robit dokter.
Sandra tak diizinkan masuk karena Matteo tak ingin Sandra tahu hasil diagnosis dari robot dokter, meski ia berdalih dengan mengatakan agar ia jangan terlihat terlalu akrab dengannya. Sandra mengerti dan menunggu di luar bersama Spectra.
"Spectra," panggil Sandra saat duduk di ruang tunggu ruang pemeriksaan. Robot itu menoleh ke arah Sandra dan menatapnya. "Apa menurutmu ... Blue berubah? Aku merasakan ... dia seperti ... Matteo Corza," tanya wanita cantik itu seraya menatap robot berkuping seperti sayap itu saksama.
Spectra tak menjawab, dan membuat Sandra semakin sedih karenanya. Tak lama, Matteo keluar tanpa membawa apapun. Sandra berdiri dan menatap Matteo lekat.
"Benturannya cukup keras dan membuatku akan sering mengalami sakit kepala serta nyeri sampai tengkorakku membaik. Namun hasil diagnosis mengatakan jika, aku baik-baik saja, hanya perlu minum obat dengan rutin dan ... aku akan sembuh. Jangan khawatir," jawabnya lesu.
"Oke," jawab Sandra ikut lesu tak bersemangat seperti ketika bangun tidur lagi.
Matteo menatap Sandra lekat. Apa dia menyadari perubahanku. Gawat, ucapnya panik dalam hati.
"Kau kenapa, Sayang? Kenapa kau bersedih? Sudah kubilang aku tak apa. Jika nanti ... aku bersikap menyebalkan, tolong kau bisa mengerti," tanya pria tampan itu seraya memegang wajah Sandra lembut.
Sandra terkejut karena Matteo menyentuhnya di tempat umum. Sandra tak menjawab dan hanya mengangguk. Matteo makin menatap Sandra lekat yang masih menundukkan wajah.
"Aku ... ingin melihatmu bermain di Sentra Video Games. Ayo, kita ke sana," ajaknya tiba-tiba yang membuat Sandra menaikkan pandangan. "Karena sekarang cuti bersama dan semua tempat bisnis tutup, kita bisa bermain sepuasnya tanpa ada yang mengganggu. Aku pemiliknya, jadi, semua dalam kendaliku," ucapnya sombong, dan akhirnya, Sandra menunjukkan senyum.
"Oke," jawab Sandra dengan anggukan.
Matteo menggandeng tangan Sandra, dan hal itu malah mengejutkan wanita cantik itu. Tanpa sepengetahuan mereka, dua pasang mata melihat keakraban Sandra dan Matteo saat menuju ke mobil lalu pergi meninggalkan rumah sakit.
"Bukankah ... itu Jenderal dan Sandra? Mereka ... bergandengan tangan? Sejak kapan mereka akrab?" tanya Akira dengan kening berkerut.
"Ayo, Tony. Aku harus segera melakukan pemeriksaan. Kau ingat, kau berjanji padaku untuk membantu mengurus rencana pernikahanku dengan Eliz," ajak Akira karena pandangan Tony masih terpaku pada mobil Matteo yang sudah tak ada di hadapannya.
"Oke," jawab Tony mengedipkan mata saat ia kembali sadar.
Tony berjalan dengan wajah dingin di samping calon iparnya masuk ke Rumah Sakit.
Sedang di sisi lain. Sandra membantu Matteo meminum obat pereda nyeri dan obat-obatan lainnya yang diresepkan oleh dokter padanya di mobil.
"Jangan memaksakan diri, Blue eh, maksudku ... Matteo," ucap Sandra gugup.
Pria bermanik biru itu tersenyum tipis.
"Tak apa. Aku akan baik-baik saja. Ini cuti, dan aku ingin menikmati cutiku," jawabnya seraya merebahkan diri di dudukan kursi kemudi mobilnya yang mampu berkendara sendiri.
Tak lama, mereka tiba di Distrik 2 Sentra Video Games yang sengaja ditutup selama cuti bersama. Sandra dan Matteo memasuki pintu khusus langsung menuju ke ruangan ruang kerja Blue di lantai 10.
Sandra terlihat gugup dan kagum ketika memasuki tempat ia dulu bekerja. Tiba-tiba saja, Sandra melihat sosok yang ia kenali seperti saat ia pertama kali datang ke sana.
"Selamat datang, Otka Oskova," panggil sebuah robot mirip Roboto, tapi membuat kening Sandra berkerut.
"Okta Oskova? Apakah ... kau di-upgrade, hingga tak mengenaliku?" tanya Sandra berkerut kening.
Matteo menatap Sandra seksama.
"Memangnya ... kau dipanggil apa oleh Roboto jika bukan Otka?" tanya Matteo menatap Sandra lekat.
__ADS_1
Wanita berambut pirang itu balas menatap pria di depannya dengan tajam.
"Sudah kuduga," jawabnya berwajah dingin seketika.
"Menduga apa?" tanya Matteo bingung.
"Kau bukan Blue! Kau Matteo Corza! Sejak kapan? Kau bohong padaku, hah? Kau pikir itu lucu?!" teriak Sandra lantang yang membuat mata Matteo melebar seketika.
Sandra segera berpaling pergi dengan langkah gusar. Matteo kaget dan mengejar Sandra yang memasuki lift, tapi tak bisa ditutupnya.
"Hei, hei," panggil Matteo yang berhasil mengejar diikuti oleh Spectra, tapi tidak dengan Roboto yang masih berada di sana.
Mata Sandra berlinang. Ia memalingkan wajah tak ingin kesedihannya dilihat oleh pria di depannya. Matteo terlihat kebingungan dalam bersikap.
"Aku ingin pulang," ucapnya enggan menatap Matteo.
"Oke. Aku akan mengantarmu pulang ke tempat pelatihan," jawab Matteo seraya menekan tombol pada lift usai memindai barcode-nya untuk mengaktifkan tabung tersebut.
"Aku ingin pulang ke rumah. Distrik 7," jawab Sandra ketus.
"Apa yang akan kaulakukan?" tanya Matteo bingung.
"Bukan urusanmu," jawabnya dingin yang membuat Matteo terkejut akan perubahan drastis sikap Sandra.
PIP!
Sandra segera keluar dari lift dan berjalan tergesa meninggalkan gedung. Matteo bingung karena Sandra tak menuju ke mobilnya.
"Kau mau ke mana? Mobilku—" tanya Matteo kebingungan menunjuk mobilnya yang terparkir berseberangan dengan posisi Sandra kini berada.
"Selamat tinggal, Jenderal," jawab Sandra menoleh sekilas dan kembali berjalan.
"Otka! Otka!" panggil Matteo lantang, tapi Sandra malah berlari kencang.
Matteo kebingungan dan panik, tapi tak bisa mengejar wanita itu karena kepalanya kembali terasa sakit.
"Jenderal, Anda tidak apa?" tanya Spectra mendekat.
"Spectra. Apa kau tahu di mana rumah Otka?" tanya Matteo menatap robot pintarnya itu saksama.
"Kediaman Roves?" Matteo mengangguk. "Melakukan analisis wilayah. Menemukan lokasi tempat tinggal Otka Oskova," ucap Spectra.
"Oke, bawa aku ke rumahnya, Spectra," pinta Matteo dan Spectra segera bergerak ke mobil.
Matteo ikut berjalan tergesa dan sesekali memegangi kepalanya yang sakit menuju mobil.
Kendaraan tanpa roda dan melayang di atas permukaan tanah tersebut melaju pesat setelah Spectra menginputkan rute tujuan mereka ke komputer mobil.
***
ILUSTRASI
SOURCE : GOOGLE
__ADS_1
kwkwk maap lagi napsu jadinya 2 eps. jangan lupa boom like audio book lele ya~ lele padamu❤