SIMULATION

SIMULATION
BAATAR


__ADS_3

Usai pengumuman penting di Kubah, para penduduk negara Bintang bersiap. Para pejabat tertinggi pemerintahan memberikan sistem penjadwalan untuk mengunjungi kota Titan yang berada di dasar lautan.


Curva Titan, siap untuk menyambut kedatangan dan ingin membuktikan jika tak ada lagi rahasia yang dia tutupi kepada orang-orang calon warga negaranya nanti.


Sayangnya, kubu Great Ruler yang mencemaskan keadaan Wakil Presiden mereka sekaligus isteri dari Presiden Matteo Corza, tak ikut andil dalam kunjungan bersejarah itu.


"Kami minta maaf. Hanya saja, kami harus segera menemukan orang nomor dua di negara kami. Sandra Salvarian adalah prioritas. Kami harap, negara Bintang dan kota Titan bisa memaklumi hal ini," ucap Matteo serius di hadapan dua kubu yang berdiri di hadapannya untuk mengantarkan kepergian orang-orang Great Ruler terpilih mencari Sandra.


"Tentu saja. Kami doakan, keselamatan selalu menyertai kalian semua. Semoga, Wakil Presiden ditemukan dalam keadaan selamat dan tak menimbulkan perang baru saat ia harus kembali pada kita," ucap Benyamin bijak.


Matteo menjabat tangan Benyamin dan Curva bergantian dengan mantap, disusul oleh orang-orang dari kubu sang Presiden yang akan mendampinginya.


Matteo dan timnya telah menyiapkan diri untuk kemungkinan terburuk. Morlan, kali ini merasa bertanggungjawab.


Dialah pencetus pemberontakan di Great Ruler dan mengajak Baatar untuk bersekutu melawan tanah airnya. Morlan mengajukan diri sebagai bahan barter jika hal buruk harus terjadi meski awalnya ditentang oleh banyak pihak termasuk sang anak.


"Cacing robot siap diberangkatkan dalam hitungan mundur. 10 ... 9 ... 8 ...."


Semua penumpang dalam robot cacing terlihat tegang, tapi mereka siap untuk menjalankan misi.


"3 ... 2 ... 1, go!"


Cacing robot melaju dengan kecepatan 100 km per jam dikarenakan jalur menuju Baatar banyak perangkap yang bisa merusak robot.


Kendaraan replika Gobi kembali digunakan dengan energi penuh setelah pemeriksaan menyeluruh untuk membawa mereka menuju negara Baatar.


Kali ini, Matteo mempersilakan Colonel Brego sebagai masinis karena dianggap layak untuk menjalankan robot cacing.


Vemo bertugas sebagai navigator. Rute perjalanan telah dipetakan oleh Qimi dari Pusat Komando Distrik 9 Great Ruler dengan bantuan satelit.


Morlan dan Roman ikut duduk dengan Purple dan empat WolfBot pendamping. Empat WolfBot sisanya melindungi delapan HeliBot yang menerbangkan Akira, Ego, Tony, Xili, Wego, Rhyz, Imo, dan Bablo menuju ke titik yang sama, Baatar.


Dengan cacing robot, perjalanan cukup ditempuh hanya dalam waktu satu hari. Namun menggunakan HeliBot, membutuhkan waktu hampir 2 hari.


Tony dan lainnya akan menjadi tim penyelamat sebagai antisipasi jika hal buruk terjadi. Para WolfBot regu kedua akan ikut andil dalam bagian itu.


Di tempat Sandra berada.


Usai menyusui dua bayi kembar beda jenis kelamiin itu, Sandra kembali di masukkan dalam sel. Khan menunjukkan ketegasan bahwa ia tak memiliki belas kasih pada negara musuh.


Dalam kurungannya, Sandra tak bisa kabur ke mana pun karena jumlah penjaga dalam gua tersebut cukup banyak.


Tak hanya kamera pengawas, mata telanjang manusia juga membidiknya. Secara jumlah, ia kalah telak.


Isteri dari Matteo hanya merasakan kebebasan saat ia dikeluarkan dari sel ketika harus menyusui si kembar.


Siapa sangka, isteri dari Khan yang kondisinya mulai membaik, mendengar kabar dari para pelayannya jika ada wanita dari negara musuh yang bersedia menyusui buah hatinya.


"Temukan aku dengan wanita bernama Salvarian itu. Aku ingin berbicara dengannya langsung," pinta sang Ratu.

__ADS_1


Para dayang mendampingi isteri Khan yang duduk pada sebuah kursi robot berukuran cukup tinggi dan besar.


Kursi itu memiliki dua kaki di sisi kiri dan kanan serta kanopi penutup bagian atas. Tubuh robotnya digerakkan oleh papan kendali di sandaran tangan kanan dan kiri sang Ratu.


"Buka gerbangnya! Permaisuri ingin menemui tahanan!" teriak salah satu penjaga yang berada di atas dinding gua yang membuat dirinya seperti pengawas menara.


GREKKK ....


Sandra yang sedang duduk di atas lantai gua segera berdiri. Ia melihat sebuah robot ditunggangi oleh seorang wanita berdandan layaknya permaisuri.


Wanita cantik itu memakai pakaian dengan ciri khas negara Mongolia pada zamannya. Sandra mengenali pakaian itu setelah ia mengingat sejarah negara-negara di dunia ketika di perpustakaan digital dulu.


NGEKK!!


Sandra melihat dengan saksama saat dudukkan seperti sofa panjang mewah berwarna merah maroon dengan penghalang kaki agar manusia yang duduk di sana tak jatuh, turun ke bawah layaknya lift.


Dua kaki robot sebagai penopang dudukkan itu tetap berdiri kokoh seperti tugasnya. Dua tangan sang Ratu diraih oleh dua dayang di kanan kirinya yang berdiri di depan kaki robot.


Sandra menajamkan mata saat wanita bermata sipit itu mendekat ke arahnya.


"Tunjukkan rasa hormatmu kepada Permaisuri Nekhii!" teriak salah satu petugas di samping sel tempat Sandra ditawan.


"Bagaimana caranya? Aku tak begitu mengenal budaya negara Baatar," jawab Sandra tegas sekaligus memancing.


"Sahara. Siapkan 'Hada'," pinta sang Permaisuri yang dikenal bernama Nekhii.


Sahara mengangguk dan mengambil sebuah kain berwarna biru. Nekhii memberikan kode dengan lirikan mata kepada petugas agar sel yang mengurung Sandra dibuka.


Padahal, Sandra bisa melakukan ancaman agar bisa lolos dari tempat itu. Namun, Sandra memilih jalan damai bukan kekerasan.


Sandra diam saja ketika sang Permaisuri berjalan mendekat. Sandra diminta untuk mengulurkan tangan ke depan. Sahara meletakkan Hada di kedua lengannya, begitupula sang Permaisuri.


Nekhii mendekat lalu memegang lengan Sandra dengan senyuman. Sandra masih diam saja mencoba beradaptasi.


"Selamat datang di negara Baatar. Aku Permaisuri Nekhii. Kau bisa memanggilku Ratu dan aku tak keberatan. Dunia sudah berubah. Bahkan, suamiku Kaisar Khan kini disebut Presiden. Dia adalah anak dari Gobi. Sepertinya, kau tahu siapa yang kumaksud," ucap wanita itu pelan dan menatap Sandra lekat.


"Ya. Aku mengenal Gobi. Dia lelaki tua yang penuh kesan. Sayangnya, dia mengkhianatiku dan aku kecewa pada sikapnya," jawab Sandra tenang, tapi membuat semua orang di tempat itu murka.


Nekhii langsung melepaskan genggamannya dan kembali berdiri tegak dengan anggun. Nekhii juga terlihat seperti tak menyukai perkataan tamu kehormatannya.


"Negara Baatar ikut terkena imbas dari peperangan, Nyonya Salvarian. Hanya cacing Gobi yang membuat kami bertahan dari rintihan Bumi. Aku sudah mendengar sedikit tentang kisahmu. Kau pejuang yang cukup hebat. Pasti, kau sangat disanjung di Great Ruler," ucap sang Permaisuri seraya berjalan pelan memunggungi Sandra.


"Jika sanjungan itu bisa mengembalikan kedamaian di antara negara yang berselisih, aku anggap hal itu sebagai anugerah. Jika tidak, itu hanya kiasan," jawab Sandra tegas.


Langkah Nekhii terhenti. Ia menoleh sedikit, lalu membalik tubuhnya dan menatap Sandra di kejauhan.


"Jika aku tak salah dengar, kau menginginkan perdamaian antar negara? Kau pikir, kau tak salah bicara, Nyonya Salvarian?" tanya Nekhii menyipitkan mata.


Sandra menggeleng. "Hal itu sudah kulakukan, dan membuahkan hasil. Semua karena keinginan balas dendam Morlan yang melibatkan Baatar. Aku tahu jika kalian memiliki perjanjian. Misiku saat menukar Vemo dengan meminta membunuh tiga pemimpin kota besar, sudah terungkap jika Kaisar Khan yang menginginkan tiga kepala itu, bukan Morlan. Pastinya karena dendam di masa lalu," tegas Sandra.

__ADS_1


Nekhii tersenyum miring seakan membenarkan ucapan Sandra.


"Namun karena hal itu, perdamaian malah terwujud." Praktis, kening Nekhii berkerut. "Karena tiga kepala itu, Magenta, Cryzen, Pipemo dan Zezeta, kini bergabung dengan Great Ruler. Penduduk empat kota itu kini tinggal di sana. Kami hidup berdampingan tak ada perselisihan. Damai, seperti yang kuharapkan."


Sontak, semua orang langsung melongo.


"Kejadian penyerangan yang kalian lakukan pada kami di Gurun, semakin meyakinkanku, jika negara Bintang dan Titan sudah mengakhiri konflik. Dua kubu yang bertikai itu kini berdamai. Perdamaian dunia semakin mengerucut. Dan sekarang, aku berada di Baatar. Aku juga bisa merasakan jika kita akan segera bergandengan tangan dan mengakhiri perang," ucap Sandra tenang menatap sang Permaisuri.


Tiba-tiba, terdengar suara orang bertepuk tangan di kejauhan. Khan datang bersama pasukannya menunjukkan wajah dingin. Semua orang menoleh ke arah pemimpin kota itu.


"Wah, pidato yang sangat menginspirasi, Nyonya Sandra Salvarian. Jadi ... usahamu berhasil ya, untuk membuat kota-kota yang saling berselisih itu untuk berdamai," ucap Khan berkesan menyindir. Sandra memilih diam.


"Hem, biar kutebak. Kulihat kau sangat pintar dalam memainkan siasat. Oh, apakah setelah perdamaian terwujud, kau lalu mengatasnamakan dirimu sebagai pemimpin tunggal dari negara-negara itu?" tanya Khan yang kini berada di samping sang isteri.


"Anda seorang Presiden. Anda seorang ayah dan seorang suami. Bisakah Anda bayangkan, betapa sulitnya menjadi pemimpin satu negara? Apa gunanya menjadi pemimpin seluruh negara jika hal itu malah membuat tugas utama Anda terabaikan karena ingin menjadi penguasa tunggal? Maaf, aku terlalu sibuk untuk mengurus semua negara-negara itu. Aku seorang ibu, sama seperti isterimu. Aku seorang isteri, sama seperti para wanita di negaramu. Dan aku, Wakil Presiden di negaraku. Dan aku, tak tertarik menjadi penguasa tunggal," tegas Sandra membantah.


Mata semua orang menyipit menatap Sandra lekat yang kedua tangannya memegang syal pemberian Sahara.


"Kalian semua bisa membuktikan kebenaran dari ucapanku jika kumengenakan kalung detektor kebohongan. Jika alarm pada alat itu berbunyi, aku seorang pendusta. Jika tidak, yang kukatakan adalah sebuah kejujuran hati untuk menciptakan perdamaian," sambung Sandra.


"Bawakan kalung itu," pinta Khan.


"Kirim orangmu ke Great Ruler untuk membawakan benda itu kemari agar bisa kubuktikan. Atau, kuajak kalian ke Great Ruler untuk membuktikannya. Namun, sebuah janji harus kalian tepati sebagai pemimpin negara. Atas nama negara Baatar, kalian bukan penipu," jawab Sandra menatap Khan dan Nekhii tajam.


"Bisa jadi ini jebakan, Kaisar. Dia sangat pintar berbicara. Jika sengaja membawa kita ke negaranya lalu menghabisi kita di sana. Dia licik!" ucap salah seorang penjaga mengarahkan moncong senjata berpeluru ke tubuh Sandra yang tak berpelindung.


Suasana riuh seketika. Khan dan Nekhii saling berpandangan seperti menyamakan pemikiran. Khan membisikkan sesuatu kepada salah satu pria yang diduga oleh Sandra adalah orang kepercayaannya.


"Kami bisa mengirimkan pesan kepada Great Ruler. Benda yang kaukatakan sebagai kalung pendeteksi kebohongan itu akan diantar oleh orang kalian kemari. Kau, tak akan diizinkan pergi dari sini sampai semua terbukti," tegas Khan dan Sandra mengangguk.


"Masukkan dia ke sel lagi. Pembicaraan kita cukup!" tegas Khan seraya membalik badan dan berjalan meninggalkan gua tersebut.


GREKKK!!


Sandra masih berdiri diam menatap Nekhii yang memandanginya. Sandra kembali duduk dengan syal pemberian dari Sahara masih ia genggam.


Syal itu Sandra gunakan untuk membungkus kepalanya hingga rambutnya tak terlihat entah apa maksudnya.


"Permaisuri. Saatnya minum obat agar demam Anda tak kambuh lagi," pinta Sahara.


"Ya. Biarkan anakku menyusu pada Salvarian sampai aku pulih," jawab Nekhii dan Sahara mengangguk pelan.


Nekhii kembali menaiki robot dengan Khan telah duduk di sana. Gua tinggi dan besar itu menjadi tempat tinggal Sandra sementara waktu meski ia menjadi tawanan negara Baatar. Sandra duduk dalam diam seperti memikirkan sesuatu.


"Sedikit lagi perjuanganmu mencapai perdamaian selesai, Sandra Salvarian. Kau harus, bertahan. Demi Alva, Matteo dan juga negaramu," ucap Sandra pelan menatap gambar di lantai tanah sebagai perwujudan rasa rindunya kepada dua orang kesayangannya.


***


__ADS_1


Uhuy makasih tipsnya mbak Aju😍 Adeh kemarin sampai gak sempet loh mau up😩 Family time lele dilarang ngetik sama monster. Huhu sedih. Jangan lupa sudah hari senin. Vote vocer sebelum hangus ya❤️


__ADS_2