
Sandra dan Matteo terlihat begitu akrab malam itu. Keduanya menikmati makan malam dengan senyum terkembang. Sandra bahkan tak menyangka jika selera humor pria bermanik biru tersebut bisa membuatnya sampai menangis.
"Oh, aku tak menyangka jika kau senaif itu, Jenderal," ungkap Sandra seraya meneguk segelas wine yang dituangkan oleh Spectra yang merangkap tugas sebagai pelayan layaknya di restoran mewah.
"Hah, bukan naif. Aku lebih suka hal itu disebut sebagai ... kepercayaan diri yang tinggi," jawabnya bangga seraya meraih gelas wine miliknya dan meneguk sampai habis.
Matteo mengetuk bibir gelasnya dengan telunjuk agar Spectra mengisinya lagi dengan wine, dan robot itu melaksanakan perintah Tuannya.
Sang Jenderal menatap Sandra lekat dengan kedua siku menopang dagunya di atas meja. Sandra tertunduk terlihat malu. Wanita berambut pirang itu seperti menyadari jika dipandangi salah satu Perwira Tinggi di Great Ruler.
"Otka, jujur padaku. Menurutmu ... aku orang yang seperti apa?"
"Jujur?" Matteo mengangguk terlihat penasaran. "Keras kepala." Praktis, senyum pria tampan itu sirna karena kaget. "Kau sangat percaya diri dan menganggap dirimu hebat dalam segala hal, sedang aku tak berpikir demikian. Mungkin ... orang-orang menyanjungmu karena kau keponakan Presiden, jika bukan, entahlah," jawab Sandra santai lalu meneguk wine-nya lagi hingga habis. Sandra menirukan gerakan jari seperti yang Matteo lakukan. Spectra menuangkan wine itu di gelasnya.
"Oke. Aku orang yang keras kepala, sangat percaya diri, dan menganggap diriku hebat. Ada lagi?" tanyanya terlihat pucat.
"Yah. Kau sepertinya merasa seperti pria yang sempurna. Kaya, tampan, berpangkat tinggi, tapi ... aku tak pernah melihat sepak terjangmu dalam dunia nyata. Maksudku ... caramu melatih para User, atau ... kemampuanmu bertarung, aku ... tak pernah melihatnya, jadi ... wajar bukan, jika aku meragukanmu," jawab Sandra dengan pernyataan terlontar begitu saja. Matteo terkesikap dan mematung untuk sesaat.
Sandra kembali meminum wine di gelasnya hingga habis. Wanita cantik itu mulai terlihat mabuk. Ia berulang kali membuka dan menutup matanya seperti mencoba untuk tetap sadar. Matteo menatap Sandra lekat.
"Aku pernah bertarung melawan mutan di Colosseum," jawabnya serius.
"Colosseum? No ... no," bantah Sandra dengan kening berkerut dan lambaian tangan. "Yang melakukan itu Blue, bukan kau. Kalian mungkin saudara kembar atau ... entahlah. Namun, jika harus memilih antara kau atau Blue, aku lebih menyukai Blue," jawabnya dengan senyum tipis dan bertingkah seperti orang yang tak memiliki tata krama dalam bicara.
Matteo menatap Sandra tajam. Ia merebut botol wine di tangan Spectra lalu menuangkannya di gelas Sandra.
Wanita berambut pirang itu tersenyum bahkan mengajak Matteo bersulang, tapi sang Jenderal sudah tak tertarik untuk melanjutkan minum. Ia lebih tertarik untuk menginterogasi wanita di depannya.
"Kau menyukai Blue? Kenapa?" tanya Matteo menunjukkan wajah serius.
"Ahh," engahnya begitu cairan merah di gelasnya habis karena telah mengalir di tenggorokannya untuk kesekian kali. "Blue itu pria yang manis. Mungkin terlihat lemah, tapi setelah ia menunjukkan kemampuannya saat itu melawan mutan Presiden Morlan, aku ... kagum padanya. Dia pintar, tampan, dan ... berkarisma," ucapnya dengan senyum terkembang seperti membayangkan sosok Blue dalam pikirannya. Matteo terdiam.
"Apakah ... Blue sangat berbeda denganku?"
"Yes, yes, tentu saja. Seperti yang kubilang tadi. Meskipun kalian sangat mirip bagaikan pinang di belah dua, tapi ... sifat kalian sungguh bertolak belakang," jawabnya mantap dengan anggukan meski matanya terpejam lalu kembali meminum wine yang dituangkan oleh Matteo.
"Kau itu playboy, semua orang di Great Ruler tahu hal itu. Kau sombong dan angkuh. Aku bisa melihat caramu memandang seseorang. Kau itu suka merendahkan orang yang levelnya di bawahmu. Mungkin menurutmu ... aku ini semacam mainan menarik yang bisa kau pergunakan selama kau tersekap di fasilitas ini," ucapnya yang membuat mata Matteo melebar seketika.
"Oh, oh, seperti ini misalnya," sambung Sandra seperti melakukan pentas drama. Kening Matteo berkerut. "Ehem. 'Oh, aku menemukan wanita bodoh dan lugu di fasilitas ini. Dia akan jadi hiburan menarik untukku agar aku tak mati kebosanan selama di sini'. Yah begitulah dirimu," ucap Sandra menirukan suara Matteo dan mengakhiri pentas dramanya dengan tepuk tangan serta kekehan.
Matteo terdiam. Ia merasa seperti tertohok dengan ucapan yang terdengar begitu jujur dari Sandra.
__ADS_1
"Dan satu hal lagi, Jenderal. Aku, sangat, membencimu. Aku sangat menginginkan kau duduk di Persidangan Great Ruler untuk menebus kesalahanmu yang terjadi beberapa tahun silam," ucapnya seraya menunjuk wajah Matteo dengan pandangan sayu.
"Kesalahan apa?" tanya Matteo bingung, tapi seketika, BRUK!
"Sir, Nyonya Otka Oskova mabuk, dan ia tak bisa mengendalikan dirinya. Disarankan untuk—"
"Aku tahu yang harus kulakukan, Spectra," jawab Matteo dengan sigap berdiri dan membopong Sandra keluar dari rumahnya.
Matteo berjalan dengan langkah cepat diikuti oleh Spectra di sampingnya. Robot itu mengubah tangan kanannya menjadi sebuah konektor ke papan sirkuit untuk membuka pintu kamar Otka. Seketika, pintu kamar Sandra terbuka.
Matteo segera masuk dan merebahkan Sandra di kasur lalu melepaskan kedua sepatu dan menyelimutinya.
"Sir. Anda berpeluang untuk menidurinya," ucap Spectra begitu saja, dan praktis, membuat mata sang Jenderal melotot lebar.
"Kau gila? Hei. Dia itu bukan seperti para wanitaku," tegas Matteo menatap robot asistennya seksama yang berdiri di sampingnya. Spectra terlihat bingung. Matteo bertolak pinggang seperti siap memberikan ceramah pada robot pintar bermata biru itu. "Kau tak dengar yang dikatakan olehnya? Hem? Dia membenciku. Dia bahkan ingin menyeretku ke Pengadilan Great Ruler entah kesalahan apa yang kubuat padanya. Sepertinya, aku memiliki kisah masa lalu dengannya, tapi ... aku tak mengingatnya," tegas pria bermanik biru itu.
Spectra diam sejenak. "Anda yakin tak ingin menidurinya?"
Matteo terlihat kesal sampai mengepalkan kedua tangannya. Ia gemas bukan main dengan robot di depannya itu.
"Ingatkan aku untuk menyetel ulang memorimu. Dasar robot gila! Tidak. Aku tak mau menidurinya. Tidak hari ini. Puas?!" pekiknya kesal seraya berjalan dengan gusar meninggalkan kamar Sandra. Spectra mengikuti majikannya di belakang.
"Bagaimana dengan makan malam yang telah dipersiapkan di teras lantai dua?" tanya Spectra mengingatkan begitu keduanya tiba di kamar milik Matteo.
PIP!
Spectra berdiri menatap pintu kamar majikannya yang tertutup di hadapannya. Robot itu lalu melayang menuju ke lantai dua dan duduk di salah satu kursi di mana meja makan itu yang telah di persiapkan untuk makan malam romantis.
Sayangnya, acara yang telah dijadwalkan itu berakhir dengan kegagalan karena Sandra mabuk. Ditambah, pengakuannya yang mengejutkan. Robot putih itu duduk diam di bangku menatap langit malam, sendirian.
BIB! BIB!
"Good morning, Otka Oskova. Pengingat waktu jadwal harian," ucap Eco—asisten ruangan.
"Hay, Eco. Good morning," jawab Sandra terlihat begitu letih hingga ia sulit untuk membuka mata. Suaranya serak dan matanya malas untuk terbuka.
"Hari ini, pelatihan di Gedung Green-Eco 04. Bersiaplah. Waktu pelatihan dimulai pukul 9 pagi."
"Hem, jam 9? Oke, sekarang pukul ... ah, pukul 7. Ya Tuhan, aku lelah sekali," ucapnya terlihat enggan untuk bangun, meski ia telah duduk di samping ranjang.
Sandra beranjak dengan lesu menuju ke kamar mandi. Ia melepaskan gaunnya begitu saja dan segera membersihkan tubuhnya yang terasa lengket entah karena apa.
Akhirnya, setelah 15 menit, Sandra mendapatkan kembali nyawanya. Ketika wanita cantik itu mengeringkan tubuhnya, matanya melebar seketika seperti menyadari sesuatu.
__ADS_1
"Oh! Aku ... ada di kamarku? Sejak kapan? Lalu ... gaun?" ucapnya dengan pertanyaan terisi penuh di kepalanya. Sandra mematung untuk beberapa saat seperti mencoba mengingat kembali kejadian semalam. Praktis, matanya melebar. "Oh, shitt! Aku pasti mabuk. Lalu ... Jenderal membawaku kembali ke kamar? Apa yang kukatakan padanya? Oh, semoga bukan hal aneh yang membuatnya curiga padaku. Apakah ... aku salah bicara dan mengatakan jati diriku sebenarnya? Agh!" erangnya kesal pada dirinya sendiri.
Sandra terlihat begitu malas untuk memulai hari. Ia tak bisa mengingat apa yang ia ucapkan pada sang Jenderal semalam. Ia hanya ingat jika Matteo seperti menanyakan suatu hal padanya.
"Bodoh, idiot, agh, pasti aku mengatakan hal memalukan sehingga ... oh, shitt," ucapnya menggerutu, tapi tiba-tiba langkahnya terhenti saat ia memasuki ruangan tempatnya berlatih hari itu.
"Halo, Otka. Mulai hari ini sampai akhir tahun, aku akan menjadi mentormu," ucap Matteo dengan senyum terkembang dengan Spectra di sampingnya.
"What? Ta-tapi ... bukankah ... aku memiliki misi untuk menyelamatkan Vemo?" tanya Sandra bingung.
"Hem. Akan aku beritahukan alasannya. Oleh karena itu, ikut aku," jawab Matteo menunjukkan senyum manis dengan kedua tangan di belakang pinggang.
Sandra merasa gugup karena sang Jenderal bersikap ramah padanya. Sikap pria itu terlihat sedikit berubah, dan hal itu malah membuat Sandra was-was.
"Oh!" pekiknya saat Matteo membuka sebuah pintu ketika ia memindai barcode di lengannya.
Keduanya melangkah masuk dan berjalan perlahan di level dua di mana level satu sedang dilakukan proses seperti sebuah perbaikan pada robot.
"Itu ...," ucap Sandra menggantung.
"Ya. Itu adalah calon robotmu. Level A. Keren bukan? Sayangnya, Presiden Roman harus melakukan modifikasi agar sesuai dengan dirimu. Entah apa yang dipikirkan olehnya, tapi ... aku setuju," jawab Matteo seraya melangkah mengitari robot tersebut yang kini disemprot sebuah gas dan dibiarkan berputar dengan rentangan tangan.
Sandra terlihat kagum. Ia berdiri seraya menyentuh dinding kaca berbentuk tabung tersebut, mendekatkan tubuhnya agar bisa melihat dengan jelas.
Ia menatap lekat robot yang memiliki sayap di punggung entah apa fungsinya. Matteo mendekat dan berdiri di sampingnya dengan senyum tipis.
"Presiden Roman sedang melakukan pembaharuan data pada sistem komputer. Nantinya, Mola akan menjadi pemandumu selama dalam simulasi. Seperti percobaanmu sebelumnya. Ia ingin memastikan, jika robot tersebut kuat, dan aman ketika berada di luar sana, tapi tak ingin terlihat mencolok. Ia melengkapinya dengan banyak persenjataan canggih, dan dibuat seringan mungkin agar kau lebih leluasa bergerak," ucap Matteo menjelaskan.
"Dia sempurna. Indah sekali," ucap Sandra terlihat begitu kagum akan robot yang berdiri gagah di hadapannya tertutup oleh dinding kaca.
"Oleh karena itu, berjuanglah. Aku yakin, jika Vemo bisa menunggu. Morlan, tak mungkin melakukan hal keji pada suami ilegalmu itu," ucap Matteo yang membuat senyum Sandra sirna saat diingatkan tentang pernikahan tipuannya.
"Ya. Vemo lelaki tangguh, aku yakin ... suamiku itu bisa menunggu," jawab Sandra kaku, dan Matteo ikut kikuk karena pernyataan Sandra. Keduanya terlihat canggung.
***
ngetiknya sambil ngepel jadi kalo ada tipo maklum aja ya. koreksi tar lele revisi. tengkiyuw tipsnya😘
ILUSTRASI
__ADS_1
SOURCE : PINTEREST and GOOGLE