
ILUSTRASI
SOURCE : GOOGLE (m.buro247.me, foodprocessing-technology.com, wallpapersafari.com)
------ back to Story :
Akhirnya, malam yang dinantikan oleh Matteo tiba. Pria berwajah rupawan itu sudah terlihat rapi dan sibuk merapikan rumah padahal yang melakukan itu semua adalah para robot pelayan. Matteo hanya mengawasi dan memberikan instruksi.
Bahkan, ia tak bersungguh-sungguh memasak. Ia memesannya di sebuah restoran dan cukup memanaskannya saat Sandra hampir tiba.
Hari itu, Spectra membantunya untuk menyiapkan makan malam yang telah dikemas dengan suasana romantis untuk membuat Sandra terkesan di balkon rumahnya.
PIP!
"Jenderal Matteo, Otka Oskova sudah tiba," ucap Eco menginformasikan.
"Oh! Spectra. Bagaimana penampilanku? Sungguh, aku gugup, entah apa yang terjadi ... aku merasa aneh dengan diriku akhir-akhir ini," tanya Matteo yang terlihat gelisah dan seperti ingin tampil sempurna malam itu.
"Seperti biasa, Tuan. Anda hebat," jawab Spectra di hadapan Tuannya.
"Oke," jawabnya berdiri tegak seraya menatap dirinya yang sengaja berpakaian casual tak formal karena ia menilai jika Sandra bukan tipe wanita berkelas seperti tiga wanitanya.
Matteo terlihat santai saat menyambut Sandra dengan serbet di tangan seolah ia baru selesai memasak.
"Oh, kau tepat waktu, Otka. Selamat datang di kamarku yang terfasilitasi dengan segala jenis kecanggihan dan kemewahan ini," ucapnya dengan rentangan tangan, dan praktis, Sandra terkejut mendengar ucapan angkuh sang Jenderal.
"Oh, yes, yes. Anda benar, Jenderal. Sangat ... berkelas," jawab Sandra menatap Matteo keheranan yang tersenyum manis padanya.
"Jika aku mengatakan rumahku sederhana, kau pasti akan semakin sebal padaku. Jadi, aku katakan saja sebenarnya," jawabnya santai seraya.
Sandra melepas kekehannya dengan memalingkan pandangan. Matteo memberikan serbet pada Spectra, dan robot itu menerimanya lalu pergi entah ke mana.
Namun perlahan, Sandra mengakui jika fasilitas kamar Matteo memang berbeda jauh ketimbang miliknya.
Ruang tamunya bahkan dua kali ukuran kamarnya yang telah terisi lengkap dengan kamar tidur, ruang tamu, ruang baca, ruang makan, dan toilet, meski di ruangan terpisah.
__ADS_1
"Aku lihat kau sepertinya belum lapar. Jadi ... aku ajak kau berkeliling rumahku yang besar dan memiliki dua lantai ini. Ayo, aku memaksa," ucapnya terlihat bersemangat hari itu.
Kening Sandra berkerut. Ia merasa sikap Matteo sangat mirip dengan Blue, meski terlihat sedikit memaksakan dalam setiap pergerakannya.
Bagaimana bisa dua kepribadian dalam satu tubuh? Dia ini ... Matteo atau Blue? Entah kenapa ... aku merasa sikapnya malam ini seperti Blue. Menyebalkan, tapi ... sangat sulit untuk menolak karismanya, ucap Sandra dalam hati yang mengikuti langkah kaki Matteo seraya menyipitkan mata penuh selidik.
"Kau ... ingin ke kamar mandi? Silakan," ucapnya seraya membuka sebuah pintu dan terlihat kamar mandi berbentuk unik di sana.
"Dan ... aku memaksamu untuk masuk ke dalam sana karena Spectra telah menyiapkan pakaian untukmu, meski lebih tepatnya ... aku yang memerintahkan Spectra untuk menyiapkannya," jawabnya berwajah datar, meski terlihat gugup.
Sandra tak habis pikir dengan sikap aneh Matteo. Ia menurut dan masuk ke sebuah kamar mandi dengan dinding berbentuk seperti gelembung, seolah ia ditelan dalam sebuah perut monster.
Sandra mendapati sebuah gaun berwarna putih, hampir mirip dengan yang dipakainya saat ia diajak oleh Tony ke restoran Eliz kala itu.
Sandra tak ingin membuat dirinya lama di rumah sang Jenderal. Ia bergegas mengganti seragam latihannya dengan gaun cantik tersebut, bahkan telah satu set dengan sepatu berhak berwarna serupa.
Sandra keluar dari kamar mandi terlihat gugup, di mana ia sengaja mengacak rambutnya agar terlihat berantakan sehingga sang Jenderal kesal padanya, tapi hal itu malah membuat Matteo terbengong untuk waktu yang cukup lama.
"Jenderal? Matteo? Hallo?" tanya Sandra bingung seraya mendekati pria bermanik biru yang mematung di hadapannya.
Sandra spontan tertawa, meski tak terbahak. Sungguh, Matteo sangat aneh malam itu. Sang Jenderal juga terlihat bingung dengan dirinya.
"Jujur Otka, aku merasa dadaku seperti diinjak-injak oleh seekor kuda. Apakah ... aku terkena serangan jantung?" tanyanya memegangi dadanya yang bidang, dan Sandra malah terpesona karena Matteo mengenakan kaos ketat sehingga lekukan tubuh atletisnya terlihat jelas.
"A-aku tidak tahu," jawabnya ikut gugup.
"Spectra?" tanyanya menoleh ke arah robot asisten yang melayang mendekatinya..
"Anda baik-baik saja, Tuan. Semua organ vital berjalan normal. Anda hanya mengalami rasa cemas yang berlebihan. Minum segelas air mineral akan membantu Anda merasa lebih baik," jawab Spectra dari hasil analisisnya.
"Begitukah? Oke," jawabnya lalu bergegas menuju dapur dan segera meminum air dari sebuah botol yang masih tersegel.
Sandra mengikuti Matteo dan terus memperhatikan gerak-geriknya yang tak lazim itu.
Ternyata, ucapan Spectra benar. Matteo mulai terlihat tenang tak panik lagi. Sandra tersenyum melihat sang Jenderal berulang kali mengatur nafasnya.
"Oke. Hal aneh ini membuatku lapar. Ayo makan," ajaknya seraya mendatangi sebuah benda berbentuk seperti sebuah 'Pod' di mana mereka masih berada di lantai satu rumah tersebut.
__ADS_1
Sandra terlihat bingung, tapi saat Matteo mengetuk bagian atas benda yang mirip seperti sebuah telur itu.
Seketika, wanita berambut pirang pendek itu langsung memundurkan langkah saat Pod tersebut terbuka dan menjadi sebuah meja makan berkesan portabel serta tak memakan banyak tempat.
"Duduklah. Buat dirimu nyaman," ajaknya seraya duduk di salah satu kursi dan Sandra mengikuti. "Oh, Spectra! Singkirkan piring lainnya. Hanya ada dua orang di sini. Kau pikir aku sedang rapat dan mengundang orang lain?" perintah Matteo langsung menunjukkan sisi lain darinya.
Sandra berkerut kening karena sikap Matteo seperti berubah-ubah dan hal itu cukup membingungkannya.
"Jadi ... apa yang kau masak hari ini, Jenderal? Aku sudah menyiapkan obat pereda nyeri, anti racun, dan juga ... diare," tanya Sandra saat ia meletakkan tas jinjing yang ia bawa dan mengeluarkan obat-obatan itu dari isi tasnya.
"Hahahaha, kau sungguh lucu. Mm, entahlah. Semoga ... kita baik-baik saja," jawab Matteo tertawa kaku.
Tak lama, Spectra muncul membawakan beberapa sajian sekaligus ke atas meja. Mata Sandra kembali terbelalak.
Makanan-makanan dengan bentuk unik kembali muncul setelah terakhir kali ia melihatnya ketika di rumah Blue.
"Makanlah. Pilihlah yang kau suka. Aku ... tak tahu seleramu, jadi ... cobalah," ucapnya gugup.
Sandra hanya mengedipkan mata, meski terlihat kagum dari cara ia menatap empat makanan yang tersaji di hadapannya itu.
"Kau ... sungguh memasaknya?" tanya Sandra curiga menatap Matteo seksama.
"Yes, tentu saja. Aku itu ... sempurna. Jenderal, sekaligus merangkap sebagai koki. Memasak adalah hobiku," jawabnya bangga.
"Oh. Bisa kau ajarkan padaku bagaimana membuat makanan seperti kue dengan jamur tumbuh di dalamnya ini?" tanya Sandra menunjuk sebuah makan yang hanya tersaji satu buah lalu menatap manik biru sang Jenderal lekat.
Matteo mematung seketika. "Jangan, please. Aku mengaku. Semua makanan ini dari restoran favoritku. Jangan memintaku memasak. Sungguh. Aku tak mau jika harus mengganti semua kerusakan yang terjadi d fasilitas ini saat hal itu kulakukan. Tolong, ampuni aku," ucapnya memelas.
Praktis, tawa Sandra meledak karena Matteo sungguh ketakutan.
***
Huwa huwa huwa, lele ngetik buat naskah cetakan simulation baru sampai 21 eps. Ya ampun jebule seminggu kagak kelar karena di novel cetak lebih padet ceritanya dan alurnya lele balik gaes.
Doakan lele waras karena per 1 Nov nanti lele udah niatin buat ikut lomba lagi. Semoga lele selalu sehat dan masih jauh dari waras. Amin. Kalo waras nanti lele beralih jadi autor romance. Kwkwkw. Tengkiyuw tipsnya. Besok lagi ya. Hehehehe😁
__ADS_1