
Matteo menghabiskan waktunya hari itu bersama puteri kecilnya karena mulai esok hari, ia akan kerja lembur untuk menyelesaikan pembuatan cacing robot seperti yang sudah disepakati oleh para pejabat pemerintahan.
Sandra tersenyum, ketika mendapati sang suami mengajak bicara puterinya di atas kasur. Alva menggenggam telunjuk sang ayah. Akhirnya, Matteo tak kikuk lagi untuk menyentuh dan menggendong sang buah hati.
"Selama Ayah kerja lembur, kau jangan merepotkan mama ya," ucapnya menatap Alva lekat. Mulut Alva bergerak seperti mengiyakan permintaan sang ayah. Sandra menahan rasa harunya dan tetap mengawasi dari kejauhan. "Jika nanti Bumi sudah aman untuk dijelajahi, Ayah berjanji akan mengajakmu berkeliling dunia. Jujur, Ayah juga sangat penasaran dengan yang terjadi di luar sana. Ayah ingin menunjukkan padamu tempat-tempat yang indah seperti Bumi pada zaman dahulu sebelum ada peperangan," ucap Matteo lalu mengecup kening anaknya lembut penuh kasih.
Alva terlihat senang dengan menggerakkan kedua kakinya seperti menendang-nendang. Matteo terlihat gemas dengan tingkah anaknya.
Pria bermanik biru itu menggesekkan hidungnya ke telapak kaki sang anak hingga Alva seperti tertawa geli.
"Sudah waktunya tidur," ucap Sandra memecah kegembiraan dua insan itu.
"Oke!" jawab Matteo langsung merebahkan tubuhnya di samping sang buah hati. Sandra tersenyum karena suaminya tak mau menyingkir dan malah ikut tidur bersama dua orang kesayangannya. "Jangan usil," ucap Sandra saat ia siap untuk menyusuii sang buah hati.
"Aku tak akan menyerobot jatah Alva. Sungguh," jawabnya yakin.
Sandra hanya tersenyum seraya menepuk pantat puterinya yang menggemaskan saat ia memberikan ASI secara langsung.
Matteo menempelkan wajahnya ke punggung puterinya terlihat seperti tak ingin berpisah dengannya.
"Kau percaya itu, Sayang? Aku menjadi Ayah. Rasanya, seperti cacing Gobi menggeliat di dalam tubuhku," ucapnya mengilustrasikan, tapi malah membuat Sandra geli saat membayangkan.
"Kenapa harus cacing Gobi? Tak ada hewan lain yang lebih indah untuk dibayangkan?" tanya Sandra heran.
"Entahlah. Robot cacing Gobi akhir-akhir ini sering berkunjung ke mimpiku. Aku bermimpi mengendarainya dengan beberapa orang, tapi aku tak tahu mereka siapa. Pakaian yang mereka kenakan seperti seragam. Aku hanya ingat jika seragam-seragam itu berwarna hitam, abu-abu, merah, putih, cokelat, hijau, biru tua, ungu, dan ... emas. Aku seperti masinis kereta api zaman dahulu. Kami tertawa bersama seraya bersulang air biru entah apa yang membuat kami bahagia. Cacing itu bahkan bisa digerakkan secara otomatis. Ia seperti membawa kami ke suatu tempat yang indah dengan banyak pepohonan yang menghasilkan buah. Saat tiba, aku melihatmu dan Alva di sana. Ketika aku memeluk kalian, aku terbangun."
"Kau ingat dengan jelas mimpimu. Apakah itu terjadi berulang kali?" tanya Sandra menyipitkan mata yang tidur miring menatap suaminya lekat.
"Ya. Sudah tiga kali ini. Mimpi itu selalu datang saat aku tidur bersama Alva," jawabnya terdengar jujur.
Sandra tersenyum dan meraih tangan suaminya yang mengelus pinggangnya.
"Semoga ... mimpimu itu pertanda baik, Sayang," ucap Sandra penuh harap.
"Ya, semoga. Aku merasa bahagia saat mimpi itu berakhir," jawabnya dengan senyuman.
Matteo memejamkan mata siap untuk tidur. Ia tidur miring seraya memeluk isteri dan anaknya.
Perlahan, Sandra ikut tertidur dan membiarkan bayinya menyusu hingga Alva ikut tertidur lelap. Alva tidur dengan nyenyak diapit oleh kedua orang tuanya penuh cinta kasih.
Keesokan harinya. Matteo bersama 100 pekerja pilihan Jaksa Helium siap untuk bekerja di bengkel Distrik 4. Matteo memberikan cetakan robot cacingnya untuk dibuat perisai pelindung.
Segera, 25 pekerja itu melakukan yang Matteo perintahkan. Mereka melelehkan logam untuk dibuat perisai seperti cetakan komputer.
Vemo mengerahkan 25 orang untuk membuat rangka yang telah dimodifikasi karena robot cacing itu akan dipersenjatai dengan sengatan listrik yang menjalar di seluruh tubuh bagian permukaan.
Sedang Xili, Imo, Rhyz, Wego dan Bablo, fokus untuk pemasangan alat penting seperti papan kendali dan antena agar komunikasi serta pergerakan mereka terhubung dengan satelit Great Ruler di luar angkasa.
Sedang 50 pekerja yang tersisa, fokus untuk pemasangan sirkuit, kabel, pembuatan tungku untuk menggiling batu bara menjadi penggerak mesin robot, penyaring udara dan gas buang untuk sirkulasi selama manusia berada dalam robot agar tetap bisa bernapas, pemasangan perabotan agar terasa nyaman, pemasangan pekerja robot untuk melayani manusia di dalam, serta banyak hal lainnya.
Roman dan Morlan fokus dengan pertukaran tugas yang telah disepakati untuk sementara waktu.
Baik warga Distrik dalam kepemimpinan Roman, ataupun negara Bintang yang sedang diawasi oleh Morlan, tak keberatan dengan pertukaran sementara itu.
Sedang Sandra, mengajak bayi Alva untuk ikut bekerja bersamanya meski melalui video dan tetap di rumah. Sandra akan kembali aktif di lapangan saat bayi Alva genap berusia 6 bulan.
Sandra menggantikan Matteo selaku Presiden saat pelantikan para kandidat User untuk diresmikan menjadi User robot level E, B dan D di Colosseum.
__ADS_1
"Selamat kepada para kandidat yang telah resmi menjadi User robot sesuai dengan kemampuan yang telah ditunjukkan. Banggalah, karena kalian kini menjadi salah satu pasukan militer Great Ruler dan Great Mazepita! Hoi!" seru Sandra lantang dengan kepalan tangan kanan dan kiri terangkat ke atas.
"Hoi!" jawab 200 User robot dengan melakukan gerakan serupa seperti Sandra. Mereka bersuara lantang karena bangga atas prestasi yang diperoleh.
Kini, beberapa tentara akan dibagi menjadi 2 wilayah. Great Ruler dan Great Mazepita. Wilayah yang memiliki Oasis itu kini dilindungi oleh 3 jenis robot.
Nantinya, akan dibangun jalan rahasia bawah tanah yang menghubungkan Great Ruler dan Great Mazepita agar pergerakan mereka di permukaan tak terlihat.
Matteo dan Vemo yang telah mencoba jalur itu sebelumnya, mulai memetakan wilayah. Robot cacing pertama mulai melakukan tugasnya untuk menandai rute. Nantinya, robot konstruksi akan bekerja membuat terowongan.
"Pastikan, jangan sampai galian yang kalian buat tak membuat Great Ruler ambles dalam tanah," tegas Matteo mengingatkan para pekerja konstruksi.
"Yes, Sir!" jawab ketiga puluh orang itu mantap, meski wajah mereka pucat karena takut membuat kesalahan.
Akhirnya, hari yang dinantikan oleh semua orang tiba. Hari itu, Matteo memperkenalkan robot cacing generasi kedua yang menggunakan bahan bakar batu bara.
Robot tersebut siap untuk diterjunkan langsung ke lapangan setelah lulus beberapa tahapan.
"Semoga Tuhan menghargai jerih payah kita dan mensukseskan misi hari ini," ucap Matteo yang wajahnya terlihat jelas di semua televisi Distrik.
Warga Great Ruler dan Mazepita mengamini. Matteo akan menjadi masinis robot cacing yang memiliki panjang 500 meter dengan tinggi dan lebar 10 meter.
Cacing itu mampu menggiling komponen keras di dalam tanah kecuali batuan besar yang belum bisa diremukkan oleh gigi besi robot.
Kendali robot cacing dibuat mirip seperti ruang kendali simulasi berbentuk lingkaran. Matteo duduk menghadap kaca utama sebagai mata dari robot cacing.
Vemo duduk di sebelah kiri bagian persenjataan. Sedang Xili di sebelah kanan Matteo bagian komunikasi mencakup satelit.
Rhyz bertugas sebagai navigator mengenai rute perjalanan di sebelah Xili. Bablo duduk di sebelah Xili bagian deteksi serangan dan penghalang saat perjalanan di dalam tanah.
Imo bertugas untuk mengecek seluruh komponen mesin yang mungkin terjadi kerusakan selama beroperasi. Imo dan duduk di samping Bablo.
Sedang Spectra dan Roboto, berdiri di samping jendela bagian kanan dan kiri sebagai pembantu umum.
WolfBot diikut sertakan dalam misi percobaan sebanyak empat buah seperti yang Sandra sarankan.
"Uji coba Robot Cacing Great Ruler G2 dipersiapkan," ucap sistem pengatur otomatis seperti asisten ruangan. "Hitung mundur dimulai dari 10 ... 9 ... 8 ...."
Semua orang terlihat serius menyaksikan dari tayangan televisi di rumah masing-masing dan juga televisi Distrik yang terpampang sebagai papan iklan.
Sandra memejamkan mata dan berdoa, agar uji coba yang disaksikan secara langsung hari itu berhasil sukses. Bayi Alva digendong olehnya dengan Purple dan Lala ikut mendampingi.
"3 ... 2 ... 1, go!"
GREKK!
Jantung semua orang berdebar saat mereka melihat kamera dalam robot cacing sedikit berguncang ketika mulai melaju.
Terlihat, tujuh orang itu serius dengan laporan sistem yang muncul di papan kendali mereka.
"Kecepatan robot cacing stabil dan tak ditemukan penghalang sejauh 100 meter," ucap Bablo menginformasikan.
"Oke, terus laporkan padaku," ucap Matteo yang melihat jalur navigasi yang telah dipetakan oleh Rhyz.
"Tak ada pergeseran rute dan struktur tanah tetap stabil untuk dilewati, Sir," sambung Rhyz melaporkan dari hasil gilingan robot cacing.
Matteo masih terlihat serius yang mengemudikan robot cacing yang bergerak dengan kecepatan 50 km per jam. Hari itu, tujuan mereka menuju ke negara Bintang.
__ADS_1
Perjalanan memakan waktu 2 hari jika tak mengalami kendala. Robot cacing akan terus bergerak tak berhenti karena Matteo ingin memaksimalkan kinerja robot buatannya itu.
Roman sengaja duduk di ruangan khusus penumpang bersama dengan dua manusia evolusi, dua warga Pipemo, dua warga Cryzen, dan dua warga Magenta.
Mereka sepakat untuk bertukar tempat menggantikan pekerja yang telah berada di negara Bintang sebelumnya.
Mereka juga membawa muatan berupa bibit, dan beberapa perlengkapan penunjang yang dibutuhkan oleh negara Bintang untuk penghijauan kembali.
Robot cacing belum bisa membawa banyak muatan mengingat mereka masih dalam tahap uji coba, meski saat melakukan simulasi, semua sudah berjalan dengan normal tak ada masalah.
Tak terasa, jam demi jam telah terlewati. Saat petugas beristirahat, sistem otomatis di jalankan. Mereka bergiliran untuk beristirahat seperti yang telah dijadwalkan.
Sandra tak bisa tidur dengan nyenyak mengingat suami dan orang-orang terkasihnya berada di dalam tanah untuk menjalankan tugas mulia.
"Kapasitas oksigen masih mencukupi dan tak ada kontaminasi gas buang dalam robot cacing, Sir. Selain itu, suhu ruangan masih stabil dan energi kita masih cukup hingga esok hari," ucap Wego melaporkan sebelum ia istirahat di tabung khusus untuk ditidurkan selama 2 jam ke depan agar kondisinya tetap pria.
"Oke, terima kasih, Wego. Istirahatlah," ucap Matteo dan Wego segera mendatangi tabung miliknya lalu berbaring di sana.
Tabung tersebut berada dalam satu ruangan yang sama di ruang kendali. Tujuh tabung berjejer dan siap menjaga para manusia.
Gas dari dalam tabung menyeruak seperti gas bius. Wego memejamkan matanya perlahan dan tertidur lelap.
Gas dalam tabung sudah bercampur dengan nutrisi yang dibutuhkan oleh tubuh dan dihirup layaknya orang bernapas.
"Bagaimana komunikasi kita, Xili?" tanya Matteo tetap fokus dikursi kemudi meskipun robotnya kini bergerak dengan sendirinya tanpa jemarinya menyentuh papan sensor.
"Oh! Kebetulan, isteri Anda menelepon. Apakah aku harus menolak panggilannya?"
Matteo melirik petugas berambut keriting itu sadis. Xili malah meringis seperti sudah tahu respon dari Presidennya.
PIP!
"Hallo, Sayang," sapa Matteo dengan senyum terkembang.
"Jangan memaksakan diri, Tuan Presiden. Kau percaya pada mesinmu, bukan? Biarkan dia bekerja seperti yang sudah kauperintahkan. Percaya pada kawan-kawanmu. Kau sudah bekerja keras selama hampir 2 bulan," ucap Sandra mengingatkan.
"Kau menyindirku karena aku melebihi dari target yang dijanjikan?" tanya Matteo berwajah masam. Sandra terkekeh karena tak menyangka jika suaminya mengingat janjinya itu.
"Menurutku itu masih bisa dimaklumi. Meleset tiga minggu karena ingin memastikan kinerja robot, itu sudah lebih dari cukup. Beruntung, karena kita memiliki pekerja handal dan juga teknologi yang mumpuni tak seperti 200 tahun silam. Mungkin robot cacing baru bisa terealisasi 5 atau 10 tahun lagi karena banyaknya hal yang harus dipikirkan seperti biaya dan lainnya. Great Ruler mampu untuk mewujudkan mimpi yang dirasa mustahil oleh semua orang. Jadi ... tetap jaga kesehatan dan jangan paksakan pikiran serta tubuhmu untuk terus bekerja keras. Tubuhmu bukan robot, dan mereka butuh istirahat," ucap Sandra menegaskan.
"Hem, baiklah. Aku mengerti. Aku akan istirahat saat Wego sudah bangun nanti," jawab Matteo menyerah.
"Tolong jaga Presiden kita agar tetap fokus dan bugar, Kawan-kawan. Great Ruler dan Mazepita mengandalkan kalian," ucap Sandra yang hanya suaranya saja terdengar.
"Yes, Mam!" jawab orang-orang semangat termasuk Vemo.
Sedang Roman dan lainnya yang berada di ruangan khusus, sudah tertidur pulas layaknya berada di kelas VIP.
Mereka dilayani oleh tangan-tangan robot yang bergerak dari atap ruangan untuk menyediakan berbagai kebutuhan.
Ada toilet dalam ruangan dan pembuangannya langsung digelontorkan dalam tanah saat robot cacing membuat rongga dalam tanah.
Brego mengatakan, kotoran manusia bagus untuk menyuburkan tanah meski beberapa orang tetap menganggap hal itu menjijikkan.
***
__ADS_1
uhuy makasih mak ben tipsnya. lele sempilin di sini ya. lele padamu❤️