
Sandra bisa mendengar keriuhan di dalam rumah itu saat Zua mengajaknya masuk dari pintu samping.
Sandra terlihat ragu karena sudah lama sekali ia tak berkumpul seperti perayaan sebuah Natal semenjak kepergian Rey.
CEKLEK!
"Mama!" panggil seorang anak perempuan yang langsung berlari mendatangi Zua. Sandra berasumsi jika anak tersebut adalah anak dari kawannya itu.
"Hay. Kau sudah makan siang?" tanya Zua seraya melepaskan pelukan gadis kecil itu.
"Not yet. Aku menunggu Mama pulang," jawab gadis yang memiliki senyum manis tersebut.
"Oke. Mama kebetulan mengajak kawan kerja Mama," jawab Zua seraya menunjuk Sandra yang berdiri di sampingnya melambaikan tangan.
Gadis kecil itu balas melambai dan mendatanginya. Sandra bingung, tapi Zua memberikan kode padanya jika anak perempuannya itu ingin memeluknya. Sandra mengangguk paham.
"Hai. Aku melihatmu di televisi. Apakah kau yang bernama Otka Oskova?" tanya gadis itu memandanginya lekat.
Sandra terlihat ragu awalnya, tapi ia mengangguk membenarkan. Gadis kecil itu terlihat riang. Ia berlari masuk ke dalam dan memberitahukan kepada semua orang di ruang tengah tentang kedatangan Sandra.
"Otka Oskova?" tanya Zua menyipitkan mata.
"Mm, ceritanya panjang. Intinya, Otka nama masa kecilku," jawabnya gugup.
"Oh, aku baru tahu. Baiklah. Jadi ... aku harus memanggilmu?"
"Otka saja," jawab Sandra pada akhirnya dan Zua mengangguk pelan.
"Oh! Kau!" tunjuk seorang wanita dari pintu tempat gadis kecil tadi muncul.
"Qiyo?" jawab Sandra dengan mata melebar. "Oh, kalian semua di sini?" tanya Sandra saat mendapati kawan-kawan wanitanya di pertambangan berkumpul di rumah tersebut.
"Wow! Kau terlihat hebat, Sandra!" ucap Gora mendekat lalu memeluknya dengan senyum terkembang.
Sandra terlihat senang. Ia merasa seperti reuni. Ia dipeluk dan disalami oleh semua orang yang mengenalnya, meski mereka menyebut namanya Sandra.
Namun, Zua berdalih dengan mengatakan jika nama itu adalah panggilan akrab mereka saat di tambang. Semua orang mengangguk paham, meski empat kawan wanitanya merasa janggal.
Sandra dibawa masuk dan bersalaman dengan banyak orang yang tak dikenalnya. Ternyata, Zua membuat acara di rumah kedua orangtuanya di mana kawan-kawannya banyak yang tak memiliki sanak saudara, seperti Sandra.
Wanita cantik yang tadinya bersedih, kini tersenyum gembira saat ia menikmati sajian kuno yang jarang sekali ditemukan karena makanan-makanan itu sudah jarang sekali yang membuatnya, tapi Ibu Zua masih memiliki resep turun temurun dan kini diwariskan kepada anak perempuannya.
"Di rumah ini, kami masih sering menerapkan cara kuno termasuk menggunakan perabotan, seperti membuat kue kering ini. Kami memanggang kue dengan kayu bakar dan oven zaman dulu, peninggalan dari ibuku," ucap ibu Zua yang sudah beruban, tapi ternyata masih mampu untuk membuat biskuit lezat layaknya natal.
"Departemen Kebudayaan Pelestarian Sejarah, sampai ingin memboyong semua barang-barang antik di rumah ini, tapi Ibuku menolaknya. Kata Ibuku, Great Ruler boleh memilikinya saat ia meninggal nanti. Sungguh, Ibuku membuatnya menjadi sulit," keluh Zua, tapi wanita tua itu tak tersinggung dan malah terkekeh senang.
"Grand Ma! Look! Aku berhasil membuat biskuit ini," ucap anak gadis Zua datang mendekat seraya membawa sebuah piring lalu ia letakkan di atas meja.
"Wow," ucap Sandra kagum karena kue itu terlihat indah. Zua menuang kopi di cangkir keramik dan meminta Sandra mengincipinya.
__ADS_1
"Oh, lucu sekali. Aku tak tega memakannya," ucap Sandra iba pada kue-kue yang terlihat menggemaskan itu.
Semua orang tertawa, termasuk Sandra yang tak menyangka bisa berkata aneh demikian, tapi pada akhirnya ia memakannya.
"Bagaimana?" tanya anak gadis Zua terlihat gugup.
"Emph, ini ... emph, enak sekali. Oh, aku hampir menangis karena rasanya sungguh lezat," ucap Sandra mendramatisir.
Semua orang kembali tertawa karena acting Sandra sungguh meyakinkan. Puteri Zua terlihat senang dan berjanji akan membawakan kue-kue itu untuknya agar bisa di makan selama tinggal di tempat pelatihan.
Tak terasa, Sandra berada di rumah keluarga Zua hingga malam. Bahkan, Sandra tak menyangka jika semakin malam, rumah itu malah semakin ramai layaknya acara berkumpul keluarga.
Sandra melihat sajian makan malam telah tersaji di ruang tengah dekat perapian siap untuk disantap. Namun, Zua mengajak Sandra untuk makan di ruangan lain karena tempat itu sudah penuh orang.
Sandra mengangguk setuju seraya membawa sebuah piring berisi banyak makanan yang terlihat lezat dari aromanya. Keempat kawan wanitanya juga ikut bergabung bersama Sandra dan mereka kini terlihat semakin akrab.
"Di sini kita tak terikat peraturan, Sandra. Jangan kaku begitu," ucap Woly—wanita berambut pirang keriting—seraya menuang wine ke gelas Sandra.
Sandra hanya tersenyum lebar dan berterima kasih atas keramahan para wanita itu.
"Panggil dia Otka. Katanya, itu nama masa kecilnya," sahut Zua seraya meraih gelas yang telah diisi wine oleh Woly.
"Aku lebih suka nama Sandra. Boleh 'kan?" tanya Woly dan Sandra mengangguk.
"Aku sungguh tak menyangka kau akan berhasil, Sandra. Keberuntungan di pihakmu dan sebaiknya, jangan kau sia-siakan," ucap Nega—wanita berambut cokelat panjang dengan poni.
"Ya, aku tahu. Menurut presiden Roman, aku akan di wisuda saat Maret nanti ketika awal musim semi. Aku sangat menantikannya," jawab Sandra dengan senyum terkembang seraya menyuapi mulutnya dengan masakan dari ibu Zua yang ternyata memang lezat.
"Wow, itu keren. Tentu saja aku akan mendoakan kalian. Sungguh, aku tak tahu jika yang kulakukan akan memberikan dampak besar bagi kalian," timpal Sandra tersanjung.
"Seluruh orang di Great Ruler, Sandra, bukan hanya kami. Bahkan anakku mengatakan, ingin menjadi User sepertimu kelak. Yah, aku harus menabung agar dia bisa masuk sekolah Militer nantinya," ucap Zua terlihat sedikit tertekan.
Sandra terkekeh dan mendukung atas mimpi anaknya itu. Tak lama, puteri Zua datang. Ia membawakan setoples kue kering buatannya untuk Sandra. Wanita cantik itu terharu dan mengelus kepala gadis manis itu dengan senyum terkembang.
"Rasanya pasti sangat bahagia ketika memiliki seorang anak," ucapnya terlihat sedih.
Semua orang yang tahu kisah Sandra terdiam. Suasana canggung seketika.
"Hei, kudengar, kau dekat dengan Jenderal. Seperti apa dia?" tanya Qiyo tiba-tiba yang mengejutkan Sandra.
"Mm, aku sedang tak ingin membahasnya. Namun dia ... hempf, entahlah. Jenderal memang sangat baik, hanya saja ... dia ... sikapnya tak menentu. Aku ... merasa seperti dipermainkan olehnya," jawab Sandra begitu saja terdengar jujur dari ucapannya.
Para wanita itu terdiam.
"Boleh memberikan penilaian?" tanya Zua dan Sandra mengangguk.
Anak dari Zua pamit kembali ke ruang tengah untuk berkumpul bersama kawan-kawannya. Sandra mempersilakan.
"Dulu, suamiku juga begitu. Menyebalkan. Lalu, aku bertanya padanya kenapa sikapnya tak menentu. Dia mengatakan, itu karena dia takut. Dia takut jika ada salah satu dari sikapnya yang nantinya akan mengecewakanku. Jadi dia seperti ... membuat sebuah tes. Dia melakukan semuanya untuk melihat reaksiku. Sikap dan ucapan apa darinya yang kusuka, dan apa yang kubenci," jawab Zua serius.
"What?" tanya Gora bingung.
__ADS_1
"Ya. Awalnya aku merasa hal itu sangat konyol dan alasan dia saja, tapi setelah dia memutuskan untuk serius denganku, sikapnya berubah. Hal-hal darinya yang tak kusukai, tak pernah ia tunjukkan. Mungkin ya, sesekali saat ia merasa sedih, kecewa, marah, atau menyesal akan sesuatu, tapi ... di sanalah aku tahu jika dia berusaha agar menjadi pribadi seperti yang aku inginkan. Aku tak pernah memintanya untuk melakukan hal itu, tapi katanya 'Happy life, happy wife'," ucap Zua yang membuat para wanita itu terdiam.
"Ya, apa yang dikatakan Zua benar," sahut seorang pria berjalan mendekat seraya membawa sebuah gelas wine.
Zua menyambutnya dengan sebuah ciuman manis di bibir pria yang disinyalir adalah suaminya.
"Ketika seorang pria menyukai seorang wanita, dia pasti akan melakukan hal-hal konyol dan membuat kau kesal. Aku rasa, Matteo melakukan hal itu padamu, Otka Oskova," ucapnya.
"Masalahnya ... aku tak menyukai Matteo," jawab Sandra pelan.
"Oh, begitukah? Hem. Saranku ... katakan padanya tentang perasaanmu yang sebenarnya. Aku hanya khawatir jika dia merasa, kau memiliki perasaan padanya. Aku sudah dengar berita jika kau menikah dengan Vemo, tapi ... pernikahan itu ilegal. Apa kau sungguh mencintai Vemo? Karena jika kulihat, kau seperti tak pernah memujinya di depan publik," tanya suami Zua.
Para wanita itu diam tak menjawab termasuk Sandra yang ikut terunduk.
"Ups. Apakah ... aku sudah kelewatan?" tanya pria itu mendadak gugup.
"Hem. Pergilah. Kenapa kau di sini? Ini khusus para wanita, dasar ganjen," ucap Zua berkesan mengusir. Semua orang terkekeh termasuk suami Zua yang akhirnya pamit undur diri.
"Jujur, Sandra. Aku tak tahu drama apa yang kau mainkan. Namun, aku tak pernah mengatakan tentang latar belakangmu yang sesungguhnya kepada keluargaku. Mereka tahunya, kau adalah Otka Oskova," tegas Zua dan diangguki keempat kawan lainnya yang melakukan hal sama.
Sandra mengangguk berterima kasih.
"Aku cukup yakin, alasanmu pasti sangat kuat hingga melakukan kecurangan itu. Apakah ini menyangkut tentang Rey?" tanya Nega dan Sandra mengangguk. Semua wanita pekerja tambang itu saling melirik.
"Kau ... masih menyimpan dendam itu? Kau ... melakukan ini semua karena ingin membalas kepada Matteo Corza atas kematian suamimu?" sahut Woly dan Sandra mengangguk membenarkan.
"Apa Matteo tahu?" tanya Qiyo dan Sandra menggeleng.
"Sandra dengar. Sebaik apapun kau menyimpan bangkai, suatu saat akan terbongkar. Jujur, aku tak ingin kau terusir dari Great Ruler karena hal ini. Aku lihat, Jenderal sangat baik padamu, padahal ia sudah tahu tentang kau dan Vemo," terang Zua.
Semua orang diam mendengarkan wanita berambut kepang itu.
"Kau, sudah sampai sejauh ini, tapi sungguh, lupakan niatan dendammu itu. Aku yakin, Rey menerima kematiannya. Jika kau menyalahkan Matteo terus-menerus, kau tak akan bahagia selama hidupmu, Sandra," sambung Zua serius seraya memegang tangannya.
Sandra menarik tangannya cepat lalu mengambil toples berisi biskuit buatan anak gadis Zua.
"Terima kasih semuanya, hanya saja ... rasanya aku sudah terlalu lama di sini. Esok, aku masih menjalani pelatihan tambahan. Sekali lagi, aku sangat senang bertemu kalian. Sampai jumpa," ucap Sandra lalu berdiri dengan membawa toples tersebut dengan tergesa.
Zua dan lainnya mengangguk pelan. Mereka mengantarkan Sandra sampai ke depan rumah. Wanita cantik itu disalami oleh banyak orang yang mendoakannya agar ia sukses menjalani pelatihan hingga akhirnya ia menjadi User secara resmi di Great Ruler.
Sandra berjalan kaki menuju ke Stasiun yang tak jauh dari kediaman orang tua Zua. Sandra duduk di bangku kereta seraya memandangi toples yang berisi biskuit berwarna-warni.
Senyum Sandra terkembang, ia merasakan kehangatan dan perhatian layaknya keluarga saat bersama keluarga Zua serta kawan-kawannya.
"Memaafkan? Apakah ... kau ingin aku memaafkan Matteo Corza, Rey?" tanya Sandra sendu dengan pandangan tertunduk.
***
ILUSTRASI
SOURCE : GOOGLE
Tengkiyuw tipsnya mbk Carmen😍 Lele padamu❤️
__ADS_1