
Saat Roman terlihat murung dengan pikirannya akan kenangan beberapa waktu lalu, Xili memberikan informasi yang membuatnya kembali siaga.
“Sir! Otka telah tiba di Magenta,” ucapnya yang membuat semua orang kembali fokus ke layar utama.
“Terus awasi,” jawabnya tenang.
Sandra mendarat dengan jarak 50 meter dari benteng terluar kota itu. HeliBot mengamankan diri ke sebuah pohon besar yang sudah tak memiliki daun di dahannya.
Sandra melangkah dengan kedua tangan ke atas saat berjalan mendekati gerbang. Ia bermaksud untuk datang dengan cara baik-baik meski tujuan utamanya membunuh pemimpin kota itu.
“Angkat tangan! Lepaskan helm robotmu!” perintah penjaga dengan sebuah senapan laras panjang berisi peluru. Sandra bisa mengenali jenis senjata itu saat ia membaca buku di Perpustakaan Great Ruler saat ia mengajukan diri menjadi calon User non-akademik militer.
“Aku tak bisa melepaskan helm-ku. Aku hanya sebuah robot dan aku utusan dari Great Ruler!” jawab Sandra lantang dengan dua WolfBot terlihat waspada karena para pria bersenjata membidik tuannya.
“Apa tujuanmu kemari?” tanya petugas yang memakai helm seperti para User robot level E di Great Ruler.
“Aku ingin menemui Yovic Yofalen, pemimpin kalian,” jawab Sandra masih mengangkat tangan menunjukkan jika ia datang dengan damai.
“Ketua hanya bisa ditemui jika kau membawakannya bingkisan. Jika tidak, kau tak akan diizinkan masuk!”
Sandra mendengkus keras. “Jangan membuang waktuku! Great Ruler sedang diserang dan aku harus segera menemuinya!” jawabnya marah. Roman dan semua orang terkejut karena Sandra tersulut emosi.
“Itu bukan urusan kami!”
“Benar-benar,” ucapnya geram dan perisai duri aktif.
Para penjaga terkejut saat robot putih di hadapan mereka merentangkan tangan seperti memberikan arahan kepada dua serigala robotnya.
“1 and 3! Fire!”
Seketika, dua tembakan laser terlontar dari dalam mulut WolfBot dan melubangi gerbang lapis baja tersebut.
Semua operator di ruang kendali termasuk Roman terlihat kaget, tetapi tetap duduk diam di bangku masing-masing.
“Tembak!” balas salah satu penjaga gerbang. Sandra yang sedang diliputi amarah karena kedatangannya disambut dengan penolakan, tak peduli jika ia harus membuat kota Magenta porak-poranda.
Suasana hatinya sedang kacau karena kawan-kawan User menunggu keberhasilannya agar bisa bangun demi menjaga perdamaian di Great Ruler.
Aksi saling tembak tak terhindarkan. WolfBot memanjat dinding dengan lincah seperti cecak. Bagian telapak kaki mereka juga dilengkapi dengan magnet di mana dinding tersebut memiliki fondasi besi di dalamnya.
WolfBot menjatuhkan para penjaga dengan melemparkan mereka dari atas benteng ke permukaan tanah.
__ADS_1
Baju robot Sandra yang anti peluru membuatnya tak mengalami dampak, meski punggung tangannya harus menutupi lubang di dada karena ia tak ingin terjadi konsleting jika sampai tertembus peluru.
Sandra terus berjalan dan mencari gedung utama dari kota tersebut. Namun siapa sangka, ternyata kota Magenta lebih mirip seperti Distrik 10 di tempatnya berada. Bangunan itu terlihat kuno dan rapuh.
Para warganya pun penduduk sipil biasa, tampak lemah, dan kurus. Sandra iba pada kondisi mereka, tetapi ia harus fokus pada tujuannya.
“Lihatlah orang-orang itu,” ucap Roman dengan pandangan sayu.
“Yes, Mr. President. Kami memahaminya,” jawab Xili dengan rona serupa.
Orang-orang yang berada di dalam sebuah ruangan terlihat ketakutan saat sebuah robot putih muncul dan berjalan mendekati sosok yang disinyalir adalah pemimpin di kota Magenta.
“Yovic Yofalen?” tanya Sandra menunjuk seorang pria dengan ciri-ciri yang disebut oleh Rey.
Pria tua itu mengangguk dengan cepat terlihat begitu ketakutan. Ia dikelilingi oleh para polisi dengan pistol berpeluru diarahkan ke tubuh robot Sandra.
Mata Sandra berkaca, ia seperti akan menangis saat pedang laser dinyalakan. Mata semua orang melebar seketika.
Tiba-tiba, Sandra dan semua orang di pusat kendali terkejut, saat Presiden Roman muncul dalam bentuk hologram seperti yang dilakukan oleh Matteo. Sandra dengan segera mematikan laser pedang di tangannya.
“Halo, Tuan Yofalen. Perkenalkan, saya Presiden Great Ruler, Roman Rodega. Maaf, jika kedatangan utusanku membuat kepanikan di kotamu, tapi kami terpaksa karena keadaan negara kami terdesak. Mohon dimaklumi,” ucap Roman sopan dengan anggukan kepala sebagai salam hormat.
“Roman sampai menghubungiku. Pasti … Great Ruler sedang dalam keadaan yang memprihatinkan,” jawab pria tua tersebut dengan suara parau. Roman mengangguk membenarkan.
“Saya memiliki sebuah permintaan, dan jika Anda setuju, saya berjanji. Saya akan mengizinkan warga Anda untuk tinggal di Great Ruler Distrik 10. Akan saya bangun kembali tempat itu dengan fasilitas layak huni dan perekonomian modern sehingga penduduk kota Magenta tak perlu mengalami kesusahan lagi,” ucapnya yang membuat mata semua orang terbelalak.
“Pasti sebuah kejadian buruk hingga kau memberikan penawaran mustahil ini. Apa yang kau inginkan?” tanya Yofalen serius.
“Kepala Anda.”
“Bunuh dia!” teriak salah satu penjaga dengan mata membeliak dan langsung menembaki robot Sandra. Suasana kacau seketika. Roman yang masih tersambung terlihat panik.
“Hentikan! Hentikan! Uhuk! Uhuk!” perintah Yofalen lantang sampai batuk-batuk karena berteriak.
Sekejap, serangan peluru itu terhenti. Sandra terlihat kaget sampai detak jantungnya meningkat dua kali lipat karena jarak tembakan yang sangat dekat dan ia tak berperisai duri.
“Rey, pindai,” pinta Sandra karena cemas dengan keadaan robotnya yang mengalami lecet di beberapa bagian.
“Seluruh sistem robot berfungsi normal, tak ada kerusakan parah. Diingatkan, sengatan listrik tak bisa lagi digunakan.”
__ADS_1
Semua orang di pusat kendali bernapas lega. Sandra kembali fokus di mana Yofalen menggerakkan kursi roda elektrik mendekati robotnya.
“Aku tak perlu tahu alasan kalian hingga menginginkan kepalaku. Namun, jika satu kepala si tua ini bisa membuat seluruh warganya hidup layak, tak mengapa jika aku harus kehilangan.”
“Ayah!” teriak seorang polisi bersenjata pistol yang tadi berteriak lantang untuk menembak robot Sandra.
“Alolo! Kau harus meneruskan perjuangan Ayah demi Kota Magenta! Demi rakyatmu! Berjanjilah!” ucap Yofalen lantang, tetapi membuat semua orang kaget seketika.
“Pasti ada cara lain! Pasti ada yang bisa kita lakukan tanpa harus kehilangan kepalamu!” jawab pria berambut pirang itu sambil meneteskan air mata.
“Bijaklah, Nak. Ayah sudah terlalu lama hidup dalam penderitaan ini. Sudah waktunya hidupku diakhiri. Ini … sudah takdirku,” ucapnya dengan senyum tipis, tetapi membuat orang-orang di sekitarnya menangis termasuk Sandra yang matanya langsung berlinang. “Buat janjimu di kertas ini,” ucap Yofalen seraya menulis dengan cepat pada kertas putih di mejanya yang telah dibubuhi tanda tangan.
Roman meminta Sandra menggantikan tugasnya. Sandra membubuhkan namanya yang tanpa sengaja menuliskan Sandra Salvarian dan disetujui oleh Presiden Roman. Alolo sebagai saksi beserta ketiga orang yang berada di ruangan itu.
“Pertemuan ini telah direkam dalam database Great Ruler dan akan disiarkan sebagai bukti jika penduduk kota Magenta akan menjadi salah satu bagian dari Negara kami,” ucap Roman lesu.
“Terima kasih, Presiden Roman. Aku … siap,” ucapnya dengan senyuman dan diakhiri dengan memejamkan mata.
Tangan Sandra bergetar. Ia terlihat tak sanggup melakukannya. Semua orang bisa melihat jika mental Sandra tertekan karena hal ini.
“Lakukanlah, Nak. Aku tahu, tugas ini pasti sangat berat bagimu. Namun percayalah, yang kaulakukan ini adalah benar. Sebuah kematian yang akan memberikan kedamaian suatu saat nanti. Kuatkan mentalmu dan … potonglah kepalaku. Jangan ragu,” ucap Yofalen seraya memegang tangan robot Sandra dan malah mengarahkan pedang tersebut meski laser belum dinyalakan di samping lehernya.
Alolo dan semua orang memalingkan wajah. Roman terlihat tegang. Sandra meneteskan air mata dan membungkam mulut rapat.
Kedua tangannya bergetar seakan-akan pedang terasa sungguh berat dan sulit untuk diayunkan.
“Ma … hiks, maafkan aku, Tuan Yofalen. Semoga … pengorbananmu sepadan. Selamat tinggal,” ucap Sandra yang pada akhirnya bisa mengangkat pedang dan menyalakan laser itu.
“Sampai jumpa semua.”
“No! Dad!” teriak Alolo histeris saat kepala sang Ayah terpenggal dengan mata terpejam.
Laser pada pedang Sandra membakar leher tersebut sehingga darah tak tersembur. Sandra menjatuhkan pedang laser tersebut, ia pun ikut roboh di depan tubuh Yofalen yang duduk di kursi roda.
Semua orang menangis sedih atas kehilangan pemimpin kota Magenta yang merelakan dirinya dibunuh agar para warganya hidup dengan layak di Great Ruler.
***
ILUSTRASI
SOURCE : GOOGLE
__ADS_1
uhuy tengkiyuw again mbk aju tipsnya meski ini yg terakhir krn dompet koin abis😆 lele padamu sehat selalu😘