SIMULATION

SIMULATION
DROWN IN THE OCEAN


__ADS_3

Perjalanan robot cacing dengan jarak tempuh hingga 2 hari non-stop, membuat Matteo dan timnya fokus agar robot buatan mereka tak mengalami masalah sampai ke tempat tujuan.


PIP!


"Selamat datang, Tuan Roman Rodega. Maaf. Anda hanya diizinkan sampai ke zona ini. Siapa yang ingin Anda temui di ruang kendali?" tanya asisten ruangan.


Roman menunjukkan senyum. Ia sengaja datang di mana dirinya dalam robot cacing dianggap penumpang.


"Aku ingin bertemu dengan masinis, Tuan Matteo Corza," jawab Roman yang berdiri di depan pintu kaca yang menghubungkan kabin penumpang dengan kabin petugas.


"Silakan rekam pesan Anda dan akan saya sampaikan kepada Tuan Matteo Corza. Silakan," ucap asisten.


Roman menarik napas dalam.


"Halo, Tuan Matteo Corza. Saya Roman Rodega. Hanya ingin menanyakan, apakah kita masih lama sampai ke tujuan?" tanya Roman tenang.


"Hallo, Tuan Roman Rodega, terima kasih sudah bertanya. Saya, Matteo Corza, masinis cacing robot. Sisa waktu dari perjalanan yang ditempuh menuju ke negara Bintang tinggal 1 jam lagi. Harap bersabar dan nikmati fasilitas dari robot cacing kami. Terima kasih," jawab Matteo yang langsung menjawab.


"Baik, terima kasih informasinya," sahut Roman menunjukkan senyuman di kamera pengawas.


Xili dan lainnya yang melihat wajah Roman ikut tersenyum. Mereka tahu, jika mantan Presiden Great Ruler itu hanya melakukan uji coba karena ia juga ikut andil dalam pembuatan robot cacing.


Saat suasana tenang ditengah perjalanan panjang yang hampir berakhir, tiba-tiba ....


"Peringatan! Terjadi kebocoran gas buang dari ruang mesin. Analisis kerusakan. Mengakibatkan suhu panas dalam robot cacing hingga temperatur 80 derajat celcius jika tidak segera ditangani. Estimasi resiko terjadi, 30 menit dari sekarang. Hitung mundur," ucap sistem yang terdengar jelas di ruang kendali.


"Imo!" seru Matteo lantang karena tak ingin terpanggang dalam robot cacing mereka.


"Yes, Sir!" jawab Imo panik dan segera berlari ke ruang mesin bersama Spectra dan Roboto yang ditugaskan oleh Matteo.


Semua operator dengan sigap melihat dampak yang bisa meluas jika kebocoran tak segera diatasi.


"Aku akan membantu Imo!" sahut Vemo dan diangguki Matteo yang fokus mengendalikan laju robotnya.


Matteo juga harus menggantikan tugas Vemo dan Imo karena keduanya sedang berusaha memperbaiki kerusakan.


"Sial! Padahal tinggal sedikit lagi kita sampai!" seru Bablo kesal.


"Untuk itulah uji coba lapangan ini kita lakukan, Bablo. Fokuslah pada pekerjaanmu dan pastikan, tim kita yang bekerja di ruang mesin berhasil menyelesaikannya," jawab Matteo berwajah serius karena mereka kini berada di kedalaman 50 meter dari permukaan tanah.


Bablo menarik napas dalam dan kembali fokus untuk memastikan tak ada serangan yang mengganggu perjalanan robot cacing.


"Kita harus naik untuk mendapatkan udara dan mendinginkan mesin," ucap Matteo yang kini menjalankan robot cacing secara manual.


Tiga operator yang tersisa terlihat siap untuk tugas darurat.


"Rhyz! Analisis struktur tanah! Aku tak ingin robot cacing kita terlihat. Setidaknya, biarkan lubang ventilasi terbuka. Beruntung, kita sedang melaju di kegelapan malam," ucap Matteo bersiap dengan kendalinya.


Rhyz mengangguk mantap dan segera melaksanakan perintah sang Presiden.


"Sir! Kita bisa naik hingga 20 dari permukaan tanah," sahut Ryhz mantap dari analisis sistem.


"Sir! Satelit melihat, jika ada wilayah kosong dekat dengan negara Bintang untuk mengistirahatkan cacing kita. Menurut pengamatanku, itu wilayah pemakaman para warga negara Bintang yang telah tiada, seperti yang dikatakan oleh Wapres Sandra kala itu!" seru Xili menyahut.


Matteo mengangguk siap. "Vemo! Imo! Bagaimana status mesin?" tanya Matteo untuk menentukan keputusannya.


"Panas sekali! Kebocoran ini tak bisa ditutup jika cacing terus bergerak! Terpaksa, kita harus ke permukaan!" jawabnya terdengar panik.


"Oke! Kita telah menemukan tempat yang cocok. Bersiaplah, kita akan naik!" seru Matteo.


"Oke! Oke!"


Vemo, Imo, Spectra dan Roboto segera keluar dari ruang mesin yang kini sedang didinginkan dengan alat penyemprot pendingin suhu. Sayangnya, hal itu hanya bertahan sekitar 10 menit.


Matteo tak ingin mereka terpanggang di dalam robot dan memilih resiko rendah dengan menunjukkan diri ke permukaan.


Vemo dan lainnya segera kembali ke ruang kendali. Vemo dan Imo terlihat berantakan ketika mereka sudah duduk di kursi lagi.


PIP!


"Jangan panik. Diinformasikan kepada seluruh penumpang agar tetap tenang. Silakan duduk kembali dan pasang sabuk pengaman karena jalanan mendaki. Kita akan beristirahat selama 15 menit di permukaan dan tetaplah berada dalam robot cacing sampai kembali ke dalam tanah lagi. Terima kasih," ucap asisten ruangan menginformasikan.

__ADS_1


Seketika, Roman dan timnya saling berpandangan. Mereka tahu jika ada yang tak beres dengan robot yang sedang mereka tumpangi.


Namun, Roman memilih untuk mengindahkan peringatan itu sampai ke titik yang dimaksud.


GREEKKK!!


"Wow! Guncangannya cukup kuat, Teo!" seru Vemo yang tubuhnya sampai bergetar.


"Struktur tanahnya kering dan banyak batuan kecil," sahut Rhyz menjelaskan.


Matteo terlihat fokus dengan kemudinya dengan mengikuti titik yang telah dinavigasikan oleh sistem ke mana tujuan dari robot cacing itu.


BLUSHH!


"Woah!" seru orang-orang karena robot cacing itu menembus permukaan tanah.


Mata Matteo terbelalak karena robot cacingnya menjadi bergerak di atas permukaan tanah seperti tak terkendali.


"Apa yang terjadi!" seru Vemo panik karena robot cacing itu berjalan dengan berbelok-belok hingga tubuh mereka terombang-ambing.


"Imo!" seru Matteo panik karena nyala lampu merah berkedip menyelimuti ruangan dengan suara alarm peringatan.


"Sir! Mesin penggerak pada ekor robot cacing kita rusak. Ada kabel yang terbakar dan membuat kendali utama tak bisa terhubung dengannya. Ini bahaya! Kita akan terus berada di permukaan karena robot kita didorong dari ekor yang mengalami konsleting!" seru Imo dari analisis sistem.


CRANG!


"Suara apa itu?" tanya Wego sampai terperanjat.


"Sir! Mulut robot cacing tertutup otomatis. Sepertinya, kita mengalami kerusakan serius!" sambung Imo melihat dari tampilan pergerakan robot jika mulut cacing tersebut tak menggiling tanah lagi.


"Sial! Kita terperangkap dalam sini!" gerutu Vemo kesal.


"Berapa jauh lagi menuju negara Bintang?!" tanya Matteo berwajah tegang karena ia bisa melihat dengan jelas dari kaca depan kemudi, hamparan tanah luas dan tandus dalam kegelapan malam.


"10 kilometer lagi, Sir!" jawab Rhyz lantang.


"Hubungi negara Bintang untuk mengamankan keberadaan kita. Kemungkinan besar, kita akan menabrak dinding mereka!" seru Matteo karena rem pada robot cacing tak berfungsi.


Robot mereka melaju dengan cepat dan tak bisa dihentikan.


Semua orang tampak tegang menunggu balasan.


"Arahkan ke laut! Jarak dinding sebelah Timur dengan laut tak jauh! Jangan biarkan robot kalian menabrak dinding. Banyak warga bermukim di sana. Kami tak bisa melakukan evakuasi darurat karena banyak lansia dan bayi! Berusahalah!" seru Benyamin dari sambungan komunikasi suara.


"Rhyz! Xili! Petakan di mana posisi laut negara Bintang dan arahkan cacing kita ke sana!" seru Matteo lantang.


Segera, semua orang tampak sibuk agar kerusakan sistem pada cacing robot tak berimbas pada negara Bintang di mana kedamaian sedang terjalin. Matteo tak ingin merusaknya lagi karena robotnya rusak.


"Sudah kupetakan, Sir! Kita tak jauh dari laut!" seru Rhyz.


"Sir! Resiko terbesar kita adalah tenggelam! Robot cacing tak difungsikan untuk bergerak dalam air!" seru Wego mengingatkan.


Matteo terlihat panik dan wajahnya tegang. Semua orang menunggu instruksi darinya. Tiba-tiba, PIP!


"Matteo! Kau mendengarku? Matteo!" seru Sandra yang suaranya masuk ke sistem komunikasi padahal Xili tak mengizinkan.


Orang-orang semakin yakin jika robot cacing mengalami kerusakan serius karena semua panel menyala merah sebagai tanda darurat.


"Yes! Aku di sini. Kenapa kau bangun dari tidur, Sayang? Apakah ada yang mengusikmu?" tanya Matteo berusaha tetap tenang, padahal jantungnya berdebar kencang tak karuan. Semua orang terdiam.


"Aku tahu yang terjadi. Ayah memberitahuku. Segera lakukan evakuasi dengan 'Gelembung'. Tinggalkan robot cacing! Sekarang!" jawab Sandra bersikeras.


"Oh! Dia benar. Ada Gelembung untuk evakuasi!" seru Vemo seperti mendapatkan harapan.


"Kalian dengar yang dikatakan oleh isteriku? Segera evakuasi para penumpang. Setidaknya, gelembung memiliki sistem pelacak sampai posisi mereka ditemukan. Lakukan sekarang!" titah Matteo lantang dari bangku kemudi.


"Yes, Sir!" jawab enam orang di pusat kendali siap.


Vemo dan lainnya segera berlari meninggalkan Matteo seorang diri. Terlihat, wajah sang Presiden gugup. Ombak dari lautan sudah terlihat dan sebentar lagi, robot cacing itu memasuki wilayah pantai.


"Sandra, aku ...."

__ADS_1


"Apa yang kaulakukan? Cepat ke gelembung! Itu hanya robot. Kau bisa membuatnya lagi. Setidaknya, kau kini tahu kelemahan dari robot cacingmu. Kau harus hidup untuk memperbaikinya! Apa kau ingin anakmu tumbuh tanpa ayah kandung disisinya? Kau sudah berjanji padaku! Kau berjanji tak akan meninggalkanku seperti Rey! Keluar dari sana sekarang!" teriak Sandra penuh emosi seperti marah besar.


Matteo melihat foto dirinya bersama Sandra dan Alva yang disimpan pada database jam tangan. Matteo menarik napas dalam menguatkan mental.


Saat Matteo akan beranjak dari kursi, ia tak bisa mengoperasikan auto-pilot dari robot cacing karena mengalami konsleting. Matteo tampak tegang dan bingung dalam membuat keputusan.


"Jika aku meninggalkan kursi, pergerakan robot cacing tak terkendali, Sayang. Aku ... tak bisa pergi," ucap Matteo lesu.


Praktis, suara tangis Sandra terdengar. Matteo tertunduk dan keningnya berkerut. Saat wajahnya terangkat, ia melihat pasir pantai mulai dilintasi oleh robot cacing.


"Gunakan Roboto dan Spectra. Gunakan mereka untuk melindungimu! Begitu robot masuk ke dalam air, kau keluarlah dengan melubangi tubuh cacing menggunakan WolfBot. Itu masih bisa dilakukan!" jawab Sandra cepat memberikan solusi dalam waktu yang sempit.


Seketika, mata Matteo melebar. Ia melihat dari papan deteksi perlengkapan evakuasi menyala. Satu per satu, Gelembung terlontar.


Matteo menghitung jumlah penumpang dan petugasnya dari jumlah gelembung yang tersedia.


"Tersisa satu dan itu ... untuk aku," ucapnya lirih saat semua gelembung berhasil terlontar.


Namun, TET! TET! TET!


"Deteksi ancaman benturan! Analisis kerusakan. Tubuh robot akan tenggelam dalam air dan terus bergerak selama ekor robot cacing hilang kendali. Robot cacing akan turun ke kedalaman laut dan mengakibatkan kerusakan menyeluruh untuk semua komponen kelistrikan," ucap sistem detektor kerusakan.


Saat Matteo menyadari dampak dari kerusakan parah itu, tiba-tiba ....


BRANGG!!


"Aggg!" erangnya karena kepala cacing robot menghantam ombak dari laut.


TET! TET! TET!


"Bahaya! Bahaya! Air memasuki tubuh robot. Kandungan air laut merusak sistem kelistrikan dan berakibat kebakaran."


Matteo panik. Beruntung, tubuhnya masih tertahan dengan seat belt. Namun, perlahan air mulai memasuki bagian dalam robot cacing.


Alas sepatu Matteo mulai terendam. Dengan sigap, Matteo melepaskan seat belt yang menyelamatkannya dari benturan keras. Matteo meninggalkan kursinya.


"Spectra! Roboto! Menyatu!" titah Matteo lantang.


"Ai-ai, Sir!" jawab dua robot itu segera memisahkan tubuh robot mereka.


Matteo terlihat pucat, meski berusaha untuk tetap tenang ketika merasakan cipratan air memasuki tubuh robot cacingnya.


Satu per satu, tubuh robot Spectra dan Roboto menempel di tubuh manusia Matteo. Sayangnya, tak adanya Purple, membuat tubuh robot itu tidak sempurna.


"Matteo! Apa kau mendengarku? Matt!" seru Sandra terdengar panik di mana sambungan komunikasi mereka masih terhubung.


"Yes! Yes! Aku mendengarmu, Sayang. Aku ... argh!" jawab Matteo tergesa, tapi mendadak tubuh robot cacing itu menukik tajam.


BRANGG!


"Argh!"


Matteo terlempar dan tubuhnya mendarat di kaca besar anti peluru, anti getaran dan anti laser.


Robot cacing terus tenggelam dan meluncur cepat ke dasar laut karena ekornya terus bergerak.


DUANG!


"Agh!" erang Matteo saat ia hampir saja terkena kursi yang jatuh karena posisi mereka vertikal di dalam lautan.


KREKK!


Seketika, mata Matteo melotot. Ia baru menyadari jika kaca yang kini menjadi pijakannya tak bisa menahan benturan keras.


Matteo berusaha menghindar saat benda-benda dalam robot cacing satu per satu berjatuhan ke arahnya.


Matteo merangkak dan merasakan jika tekanan dalam air laut itu membuat dadanya sesak serta pergerakannya terasa berat.


"Agh! Errghhh!" erang Matteo saat ia merangkak ke pintu keluar agar bisa mencapai ruang evakuasi dan menaiki Gelembung terakhir.


***

__ADS_1



wah makasih tipsnya biar semangat up ya lele😆


__ADS_2