
Hari berikutnya, Sandra yang sudah siap untuk masuk di hari pertama bekerja, telah menunggu di lobi penjemputan dengan pakaian formal layaknya pekerja kantoran, meski salah satu tangannya di gips.
Mobil otomatis kiriman Blue telah membukakan pintu untuk penumpang spesialnya.
Sandra masuk dengan sungkan, seolah kursi pada bangku sopir ada yang menempati, padahal kosong tak ada manusia selain dirinya.
Setibanya di Distrik 2, Roboto menyambutnya dengan suara ceria—ciri khasnya. Sandra membalasnya dengan senyum terkembang ketika robot pendamping permainan itu mengantarkannya ke lantai 10, ruangan tempat ia bekerja.
"Silakan identifikasi diri Anda," pinta si komputer pintar—Angel—yang kini suaranya seperti seorang resepsionis ramah, tapi berkesan tegas. Sandra menunjukkan barcode di pergelangan tangannya untuk di-scan di pintu masuk ruangan. "Sandra Salvarian. Selamat datang di Kantor Pusat Distrik 2 Sentra Video Games. Jabatan Anda, Sekretaris Perusahaan Pengembangan Video Games di bawah naungan Spectra Colosseum dengan penugasan khusus dari Colosseum Blue selaku Presiden Direktur. Selamat bekerja."
Mulut Sandra menganga. Ia saja tak ingat mimpinya semalam, tapi yang terjadi pagi ini seakan mimpi menyesakkan dada.
Jabatan yang diterimanya dirasa terlalu tinggi. Sandra tak menempuh jenjang pendidikan jurusan Ilmu Bisnis dan Management Kesekretarisan sebelumnya. Ia malah merasa tertekan akan hal ini.
Pintu ruangan terbuka. Sandra terkejut saat mendapati Blue sudah berada di dalam sedang memakai jas dengan senyum cerah seperti mentari pagi.
"Good morning, Asisten," sapa Blue.
"Good morning, Mr. Blue," jawabnya sungkan. Blue mengangguk.
"Jadi, karena kau masih masa penyembuhan, aku tak akan memberikanmu pekerjaan apapun untuk hari ini," ucapnya yang malah membuat Sandra melongo. "RC!" panggilnya lantang.
Seketika, sebuah kursi otomatis seperti yang digunakan Blue sebelumnya datang. Sandra diminta duduk di kursi itu. Wanita cantik tersebut terlihat kikuk karena tak pernah menggunakan benda itu sebelumnya.
"Santai saja. Kau terhubung dengan Aurora, nama asisten ruangan barumu," ucapnya dengan senyuman.
"Wait. Aurora? Maaf, kalau tidak salah, bukankah itu nama ibumu?"
Blue terdiam. Senyumnya pudar dan berubah murung seketika. Sandra merasa dirinya sudah lancang bahkan kepada bos barunya.
"Maaf, Blue, mm, maksudku, Tuan Colosseum. Aku tak bermaksud—"
"Hem, jadi kau sudah tahu banyak tentangku ya? Itukah, yang dikatakan orang-orang di luar sana?" tanya Blue berwajah sendu. Sandra mengangguk pelan, dan Blue ikut mengangguk.
"999!" ucapnya tiba-tiba. Sandra terkejut karena Blue tiba-tiba menyebutkan sederetan angka seperti sebuah kode. "Pergantian nama. Hapus Aurora, ubah menjadi ...," ucapnya menggantung seperti memikirkan sesuatu.
"Otka."
Blue langsung menoleh ke arah Sandra yang menyebutkan sebuah nama.
"Otka. Nama panggilanku saat masih kecil dulu yang artinya pahlawan," ucapnya gugup.
"Otka. Hem, nama yang mengagumkan. Oke!" sahutnya dengan anggukan kepala. "Pergantian nama, Aurora menjadi Otka. Kerjakan!" perintah Blue lantang sembari bertolak pinggang.
"Pergantian nama selesai. Hallo, aku Otka. Asisten ruangan gedung Sentra Video Games Distrik 2 lantai 10, siap membantu Anda, Tuan Colosseum Blue," ucap Otka memperkenalkan diri.
__ADS_1
"Tambahkan Sandra Salvarian sebagai pemberi perintah setelahku," pintanya santai, tapi membuat Sandra melebarkan mata.
"Penambahan nama Sandra Salvarian selesai. Otka siap membantu Anda, Nyonya Sandra Salvarian."
Mulut Sandra menganga. Banyak hal ajaib yang diterimanya dalam beberapa menit saja. Blue hanya tersenyum seakan yang ia berikan bukan hal besar.
"Tuan Colosseum—"
"Panggil Colosseum ketika kita berada di luar saat pertemuan penting anggota Dewan Pemerintahan. Selain itu, panggil aku Blue. Kau mengerti?" tegasnya menunjuk, dan Sandra mengangguk paham. "Good. Aku lihat kau sepertinya enggan untuk duduk santai sampai jam kerja selesai. Baiklah. Otka akan memberikanmu rincian pekerjaan yang harus kau lakukan selama aku tak ada di sini. Selama bertahun-tahun, Otka yang mengurus semuanya. Kau, jangan sampai kalah dengan asisten ruanganku. Kau mengerti, Sandra?" tanya Blue yang menunjukkan sisi profesionalnya sebagai pemimpin.
"Yes, Blue," jawabnya tegang.
"Oke. Aku ada acara sampai lewat makan siang. Aku baru akan kembali saat jam pulang kerja. Namun, aku ingin kau tetap di sini saat aku kembali. Kau mengerti?" tegasnya lagi menunjuk, dan Sandra mengangguk paham. "Good. Kalau begitu, aku pergi dulu. Selamat bekerja, dan jangan lupa minum obatmu," ucapnya yang diakhiri dengan senyum tipis lalu pergi meninggalkan ruangan.
Sandra shock. Ia merebahkan punggungnya yang mendadak terasa berat padahal ia tak memikul benda apapun di sana.
"Ini adalah pekerjaan seorang wanita kantoran yang sesungguhnya. Oke, kau pasti bisa, Sandra. Blue jembatanmu menuju ke gedung pemerintahan," ucapnya memotivasi diri. Sandra menarik nafas dalam dan kembali duduk tegap. "Otka. Rincian pekerjaan," pintanya mencoba terlihat profesional.
"Rincian diberikan."
Namun, mata Sandra melebar seketika. Layar dari RC menunjukkan sederetan pekerjaan yang harus ia lakukan selama menjabat sebagai Sekretaris Perusahaan.
Ucapan Roboto yang mengatakan jika Colosseum Blue sibuk sampai akhir tahun adalah benar. Hampir tak ada celah waktu yang lama baginya untuk istirahat.
Bahkan, Sandra melihat ketika ia berbincang dengannya, dalam jadwal, Blue seharusnya pergi ke Distrik 5 untuk melakukan penelusuran pada Gerbang Kermogal untuk mengidentifikasi jenis kurungan dan pengoperasian tempat tersebut.
Di sisi lain, Blue yang mendengar ucapan Sandra dari RC yang terhubung dengan earphone yang selalu terpasang di telinganya, membuat senyumnya terpancar karena dipuji oleh Asisten barunya.
"Kemarin dia mengatakan aku mempesona. Hari ini, dia mengatakan jika aku tampan. Hem, besok, apa lagi ya?" ucapnya dengan wajah bersemu merona.
Hari itu, Sandra disibukkan oleh pekerjaan yang seakan tak memiliki jeda baginya bahkan untuk minum.
Sandra begitu fokus, meski Otka selalu mengingatkan jam makan siang, waktunya minum obat, dan istirahat selama 30 menit di ruangan khusus.
Sandra merasa, fasilitas yang diberikan oleh Blue di luar pemikirannya. Sandra merebahkan dirinya di sebuah kasur pijat yang membuatnya terlena dan malah tertidur.
PIP! PIP!
Mata Sandra terbuka ketika suara alarm di jam tangan yang selalu ia kenakan berbunyi nyaring. Sandra langsung duduk, meski kepalanya terasa sedikit pusing karena kaget.
"Ada pesan masuk dari Distrik 1, kota Zalama. Ingin saya membacakannya untuk Anda, Nyonya Sandra?" tanya Otka.
Kening Sandra berkerut. "Distrik 1? Ya, tentu saja. Please," jawabnya bingung.
"Surat peringatan ditujukan kepada Sandra Salvarian dengan barcode S-D7-2756. Anda diharapkan mengembalikan properti Zalama Mall Distrik 1. Batas akhir esok hari sampai dengan pukul 8 malam. Melewati batas itu, Anda akan dijatuhi hukuman sebagai pegawai tanpa upah selama 10 tahun di Zalama Mall. Harap diperhatikan peringatan ini. Terima kasih dan kami tunggu kedatangan Anda esok hari. Salam damai bagi semua penghuni Great Ruler."
__ADS_1
Praktis, mata Sandra melebar seketika. Ini kedua kalinya ia mendapat surat peringatan dalam waktu dekat di Great Ruler. Ia baru ingat jika belum mengembalikan jam tangan navigator.
"Apakah Eliz mendapatkan peringatan juga? Agh, sial! Kami terburu-buru saat itu. Hempf, bagaimana ini? Aku baru bekerja selama 1 hari. Tak mungkin untuk meminta izin," ucapnya bingung.
BIB! BIB!
Sandra kembali tersentak saat layar pada RC-nya menyala seperti sebuah panggilan telepon untuknya. Sandra segera berdiri dan menekan tombol itu.
"Sandra."
"Oh, hai, Blue," sapanya gugup.
"Aku membatalkan semua jadwalku besok. Aku ingin berada di rumah dan istirahat. Aku merasa tak enak badan dan ingin tidur seharian," ucapnya dengan wajah terlihat letih.
"Kau, tak bekerja besok? Apakah kau sakit?" tanya Sandra khawatir dan Blue mengangguk.
"Kau datang saja mulai dari jam 8 sampai dengan jam 12 siang. Setelah itu pulang, kau juga butuh istirahat untuk menyembuhkan lukamu. Itu saja, dan ingat. Jangan meninggalkan kantor sampai aku kembali," ucapnya kembali tegas dengan menunjuknya. Sandra mengangguk.
Senyum Sandra terukir. Ia berpikir, bagaimana bisa Blue seperti seorang cenayang yang tahu jika dirinya harus pergi untuk mengembalikan properti ke Distrik 1 esok hari?
Padahal, Sandra sedang memikirkan alasan agar tak menyinggung bos barunya itu. Namun, tanpa ia duga, keajaiban kembali terjadi.
Sore itu, Blue pulang pukul 19.00 waktu setempat. Sandra menepati janjinya untuk menunggu bosnya kembali entah apa maksudnya.
"Aku lapar. Bagaimana jika makan malam bersama sebelum kau pulang?" ajaknya sembari menggulung lengan kemeja warna putih panjang yang ia kenakan.
"Ah, aku ... makan di rumah saja," jawabnya menolak halus.
"Memang, apa yang kau makan? Biar kutebak. Makanan cepat saji? Makanan yang kau hangatkan?" tanyanya yang tepat 100% bagi Sandra. "Jangan menolak ajakanku. Aku tak memintamu mengepel seluruh gedung atau membetulkan sirkuit yang rusak pada robot-robotku. Ini hanya makan malam. Jadi, ayo," ajaknya yang sudah siap dengan gaya lain yang kini berpenampilan santai tak formal seperti saat ia pergi bekerja tadi—dengan jas, dasi, dan sepatu mengkilatnya.
"Oke," jawab Sandra pada akhirnya.
Kini, mobil otomatis itu diisi oleh dua orang manusia. Sandra merasa canggung karena duduk berdua bersama bosnya. Sandra tak tahu ia akan diajak ke mana.
Namun seketika, matanya melebar karena tak bisa menutupi kekagumannya saat ia melihat sebuah bangunan berwarna keunguan seperti bentuk segitiga sembarang, tapi terlihat begitu mewah dan futuristik.
Blue tersenyum melihat ekspresi teman seperjalanannya yang tampak unik untuknya.
***
ILUSTRASI
SOURCE : PINTEREST
__ADS_1
(Inspiration Grid by Alex Aharon)