
Sandra termenung selama perjalanannya di kereta memandangi toples berisi kue berwarna-warni dengan berbagai bentuk itu.
Pikirannya melayang dan membawanya teringat akan kenangannya bersama Blue serta Matteo dalam waktu yang bersamaan.
Seketika, jantungnya berdebar saat membayangkan satu sosok dengan dua kepribadian berbeda mampu meluluhkan hatinya.
Perlahan, dua bayangan dari pria tampan itu menyatu dan menjadi satu orang saja di hadapannya. Tiba-tiba, mata Sandra melebar.
"Bagaimana Matteo tahu jika aku pernah ke rumah Blue? Ikan lumba-lumba? Dan ... Distrik 2 Sentra Video Games? Apakah ... dia sudah tahu jika aku adalah Sandra Salvarian?" tanya Sandra panik sampai matanya melebar pada dirinya sendiri.
TING!
"Selamat datang di Distrik 9. Periksa barang Anda sebelum meninggalkan kereta. Terima kasih atas pilihan Anda menggunakan transportasi antar Distrik Kereta Cepat. Sampai bertemu lagi," ucap asisten ruangan saat kereta tiba di stasiun.
Sandra segera bergegas keluar dan berjalan menuju ke gedung pelatihannya. Ia terlihat gugup, ditambah, malam sudah larut dan udara dingin mengusik.
"Kau!"
"Oh!" kejut Sandra yang langsung menghentikan langkah seketika saat tiba-tiba saja Matteo muncul di depannya terlihat pucat seraya menunjuk.
Sandra terlihat panik dan mencoba menghindar, tapi Spectra muncul di belakangnya seperti menghadangnya. Sandra terkepung.
"Kau! Berutang banyak penjelasan padaku," tegas Matteo garang dan membuat Sandra langsung menundukkan wajah dengan pandangan tak menentu.
Matteo mendekat dan langsung mengambil toples berisi kue kering buatan puteri Zua. Sandra panik karena Matteo membawanya dan bergegas masuk ke dalam gedung dengan langkah cepat.
"Jenderal! Jenderal!" panggil Sandra mau tidak mau harus mengejarnya.
Sandra tak bisa berkutik saat Matteo mendekap toples itu dalam genggaman dua tangannya seperti tahanan agar Sandra ikut dengannya.
Sandra terpaksa mengikuti Jenderal sampai ke ruang tengah di mana terdapat perapian yang menyala hangat seperti di rumah orang tua Zua.
Matteo meminta Sandra duduk di depannya dengan Spectra melayang di antara keduanya. Mata Sandra menyipit saat menyadari jika dada Spectra menunjukkan sebuah layar yang bergerak layaknya sebuah pemindai. Sandra melirik Matteo dengan wajah tegang.
"Detektor kebohongan," ucap Matteo tegas dan Sandra langsung mematung seketika. "Jawab pertanyaanku. Jika kau berbohong, layar itu akan berubah menjadi merah," sambung Matteo menunjuk layar Spectra yang masih berwarna biru.
"Anda ... ingin menanyaiku apa?" tanya Sandra pelan tetap tenang.
"Kau dapat makanan ini dari mana?" tanya Matteo curiga menunjuk toples dalam genggamannya.
"Puteri Zua yang memberikannya padaku," jawab Sandra jujur.
__ADS_1
Matteo melirik dada Spectra yang masih menyala biru dan grafik gelombang bergerak dengan normal.
"Siapa Zua?"
"Kawan kerjaku dulu saat di Pertambangan," jawab Sandra terlihat takut. Matteo melirik dan masih menatap Sandra tajam.
"Kau pernah bekerja di Pertambangan?" Sandra mengangguk.
"Aku ingin menjadi User lewat jalur pekerja tambang mengikuti jejak Wakil Presiden Lala, tapi ternyata ... aku mendapat musibah dan tak bisa melanjutkan." Kening Matteo berkerut. "Aku kecelakaan," sambungnya. Matteo mengangguk.
"Lalu. Dalam rekaman di database Roboto dan Purple, wajahmu muncul di sana. Kau, berbincang dengan Blue. Kalian sering bersama, dan itu kalian lakukan dalam waktu yang cukup lama. Apa hubunganmu dengan Blue?" tanyanya makin menatapnya tajam.
Sandra melirik Spectra yang masih memindai pembicaraan mereka.
"Anda melihat rekaman dari Purple dan Roboto?" Matteo mengangguk mantap. "Apakah ... database tak menunjukkan apa yang kami kerjakan?"
"Tidak semuanya. Blue sepertinya sengaja mematikan fungsi suara sehingga rekaman itu hanya berupa tampilan saja. Apa yang kalian bicarakan? Kau dan Blue terlihat akrab," tanya Matteo curiga dan perlahan, tangannya membuka toples berisi makanan itu.
Entah pria tampan itu sadar atau tidak, tapi Matteo mulai memakannya dan terlihat ia menyukainya.
"Ehem, maaf aku lapar. Nanti aku ganti. Cepat jawab," ucapnya malu, tapi mulutnya terus mengunyah. Sandra tersenyum tipis.
"Itu ... tidak sengaja. Aku mengalami kecelakaan saat bermain di Sentra Video Games milik Colosseum Blue. Roboto menjadi pendampingku," jawab Sandra terlihat gugup, tapi layar Spectra masih biru.
"Sorry?" tanya Sandra bingung.
"Aku melihat, kau sepertinya berteman baik dengan Sandra Salvarian dan Eliz, tunangan Akira. Aku mengecek dalam berkas jika Sandra Salvarian pernah menjadi sekretaris Blue. Data rekaman permainannya juga ada di Sentra Video Games bahkan nilainya 1000 kali lebih baik darimu. Hanya saja yang menjadi pertanyaan besar, kenapa dalam video, Sandra Salvarian tak pernah muncul dalam rekaman Purple?" tanya Blue menajamkan mata.
Sandra menarik napas dalam.
"Sandra Salvarian ada di sana. Mungkin, Purple memang tak merekam sosoknya. Aku ke rumah Blue saat itu untuk menjenguknya karena katanya ia sakit. Jadi, aku datang," jawab Sandra terlihat tegang, tapi sejauh ini, detektor kebohongan tak menunjukkan ia berbohong.
"Aku mencarimu ke rumah Roves, tapi aku tak bertemu denganmu. Aku malah bertemu anaknya, Yaz. Di sana juga ada si Sandra Salvarian yang katanya datang berkunjung. Ia mengatakan sudah tak bekerja pada Colosseum Blue. Ia sekarang membantu Eliz bekerja di restoran. Apakah itu benar?"
Sandra mengangguk.
"Jawab."
"Ya, itu benar."
TET! TET!
__ADS_1
Sandra terkejut. Detektor di dada Spectra menyala merah. Matteo lalu menatap Sandra tajam yang terlihat bingung. Matteo meletakkan toples berisi makanan itu dan segera berdiri mendatangi Spectra, tapi BRUKK!
"Jenderal!" teriak Sandra panik karena Matteo tiba-tiba saja jatuh meski masih sadar. "Anda kenapa? Ya Tuhan, tubuh Anda panas," ucap Sandra cemas dan segera memapah Matteo menuju ke kamar diikuti Spectra yang alarm-nya kini tak berbunyi lagi setelah tangan Matteo menyentuh layar di dadanya.
"Spectra! Ambilkan air dan juga obat milik Jenderal. Cepat!" perintah Sandra tergesa.
"Baik," jawab Spectra segera pergi.
Sandra terlihat khawatir karena Matteo menggigil. Wajahnya pucat dan tubuhnya gemetaran.
Tak lama, Spectra kembali membawa obat milik Matteo. Sandra segera meminumkan obat itu kepada salah satu mentornya. Sandra menyelimuti Matteo yang terlihat begitu sakit sampai kakinya dingin.
"A-aku ... belum selesai menginterogasimu," tegasnya menunjuk gemetaran dan Sandra mengangguk dengan senyuman.
"Ya, kita bisa lakukan lain kali. Istirahatlah, Jenderal. Apakah Anda sudah makan?" tanya Sandra karena Matteo terlihat lesu.
"Tuan Matteo belum makan sejak meninggalkan rumah sakit," jawab Spectra yang mengejutkan Sandra.
"Anda melewatkan makan siang dan malam?" tanya Sandra menatap pria itu tajam.
"Jenderal sibuk mencari Anda, Otka Oskova," jawab Spectra yang membuat amarah Sandra reda seketika.
Matteo memalingkan wajah dengan tubuh menggigil. Sandra menatap Matteo sendu. Ia memeluknya begitu saja dengan wajah ia benamkan di dada sang Jenderal. Matteo terlihat bingung dan diam saja.
"Aku akan minta koki robot untuk memasak sesuatu untukmu. Anda sakit, jadi, jangan berlagak, atau Anda tak akan kuizinkan memakan biskuit itu lagi," tegas Sandra menatap Matteo tajam dan pria itu mengangguk gugup.
Sandra memanggil robot koki dan meminta dibuatkan masakan hangat berkuah untuk Matteo. Robot itu pun segera pergi untuk melaksanakan perintah Sandra.
Sembari menunggu, Sandra mengkompres kepala sang Jenderal yang terasa panas. Matteo memiringkan tubuhnya karena merasa jika kepalanya sakit. Sandra tahu hal itu.
Wanita cantik itu membiarkan Matteo berbaring memiringkan tubuh menghadapnya. Sandra duduk di pinggir ranjang seraya mengelus lembut punggung sang Jenderal.
Tak lama, robot koki datang. Sandra menyuapi sang Jenderal meski kali ini ia terlihat enggan dan susah makan, tapi Sandra memaksanya. Namun, Matteo hanya sanggup makan satu mangkok sup saja, setelah itu ia tertidur pulas.
Sandra tak bisa pulang, karena Matteo tidur di pahanya yang dijadikan alas bantal. Sandra menatap wajah Matteo lekat dan memberanikan diri mengelus lembut rambutnya.
"Sampai kapan kau akan seperti ini? Tak bisakah kalian menyatu? Aku tak ingin dipermainkan, Jenderal," ucap Sandra sedih, tapi kali ini tak ada air mata menetes di pipinya.
Perlahan, Sandra yang menyenderkan punggungnya di sandaran kasur tertidur. Ia terlihat lelah dan tetap membiarkan Matteo tidur lelap di pangkuannya.
***
__ADS_1
Pilek uyy. Makasih tipsnya❤️ Kalo ada typo koreksi aja. Mau rehat dulu, matanya mulai blurrrr😵