
Sandra diseret dari sebuah sepeda motor menggunakan tali hingga pakaian tempur robot level E miliknya robek.
Sandra mengerang karena batuan terjal mengenai tubuh bagian belakangnya dengan kuat.
"Arg! Agg!" erang Sandra saat ia akhirnya bisa menarik pedang laser yang disarungkan pada pinggul setelah tubuhnya terombang-ambing di daratan tandus.
KRASS!!
"Hah! Hah!" engah Sandra dengan tubuh tengkurap usai usahanya berhasil memotong tali itu.
Sandra merangkak kesakitan dengan pedang laser dalam genggaman. Namun, motor yang tadi menariknya ikut berhenti. Mata Sandra sayu hingga akhirnya ia kehilangan kesadaran.
"Halo? Ada yang mendengar panggilan kami? Halo?"
"Ya! Halo! Halo!" jawab Vemo langsung menyahut dari helm robot level E yang dikenakannya usai badai pasir reda di hari yang telah larut.
"Kami kehilangan sinyal Wakil Presiden. Sinyal terakhir didapat pada sebuah gurun yang dulunya bernama Gobi. Namun, penanda lokasi menganalisis, tempat itu pernah didatangi oleh robot level A saat menjalankan misi untuk pertukaran denganmu, Vemo," jawab Qimi menginformasikan.
"Oh! Baatar! Ya, aku ingat tempat itu. Namun ... Gila! Tempat itu jauh sekali dari sini! Bisa sekitar 2 hari perjalanan!" seru Vemo langsung memegangi kepalanya ditengah kegelapan alam liar.
"Tak usah cemas. Aku yang akan menjemput isteriku," sahut Matteo di mana kini semua jaringan telah kembali terkoneksi dengan Pusat Komando Great Ruler.
"Kau gila?! Kau akan mendatangi negara musuh yang sudah berkali-kali mencoba menyerang Great Ruler!" tegas Roman mendekat.
"Isteriku sedang dalam bahaya, Paman! Aku tak bisa membiarkannya terluka apalagi direnggut dariku. Aku sudah berjanji padanya, dan aku akan menepatinya!" tegas Matteo dengan mata berlinang.
Roman menarik napas dalam dan mengangguk. Tak lama, terlihat sebuah konvoi mendekat dengan teknologi unik.
Alat itu seperti sebuah skuter listrik otoped dengan mesin pendorong pada bagian bawahnya. Sekilas, mirip dengan teknologi yang dimiliki oleh Ceros dari kota Cryzen.
Hanya saja, alat itu memiliki pegangan pada kedua tangan dan sebuah tiang penyangga pada bagian depan untuk mengendalikan laju kendaraan. Benda itu bernama Oto-Fly.
Ternyata, mereka adalah kelompok dari kota Titan yang menyusul ke padang gurun usai Siren mengirimkan sinyal darurat.
Lima orang utusan itu menggendong sebuah tas berbentuk seperti tempurung kura-kura berwarna biru layaknya rambut Curva.
"Presiden Matteo. Seperti permintaanmu. Robot-robotmu," ucap Curva membuka sebuah tas yang digendong oleh salah satu anak buahnya dan disusul oleh tas-tas yang lain. Praktis, mata Matteo melebar.
"Apa yang kaulakukan pada mereka!" pekik Matteo geram langsung mencengkeram kuat baju Curva.
Dengan sigap, orang-orang dari kota Titan mengarahkan tongkat ke tubuh Matteo dan mengepungnya. Ujung tongkat mengalirkan listrik seperti milik Atlanta. Suasana kembali tegang.
"Lepaskan tanganmu jika masih ingin kota Titan berpihak pada Great Ruler. Sikapmu ini, adalah penghinaan bagi kota Titan," tegas Curva melihat tangan Matteo tanpa menyentuhnya.
"Tuan Presiden, bersabarlah," ucap Xili mendekat diikuti oleh kawan-kawannya.
Matteo terlihat geram dan akhirnya melepaskan cengkeramannya. Pria bermanik biru itu marah. Ia menendangi pasir dalam gelapnya malam padang gurun di luar wilayah negara Bintang.
"Saat kami menolongmu, Robot jingga dan putih ini memperangkap tubuhmu. Termasuk empat serigala robotmu. Kau hampir tewas jika kami tak membelah kepala robot putihmu ini. Termasuk tangan besar robot jinggamu. Namun, kau lihat sendiri. Hanya robot jingga dan putih yang kami rusak, tidak termasuk serigala robot," jawab Curva menjelaskan.
"Robot jingga itu bernama Roboto, dan putih itu bernama Spectra. Mereka adalah kawan karibku," tegas Matteo dengan napas memburu menunjuk dada Curva.
Namun, pemuda berambut biru itu terkekeh. "Dua robot ini bahkan kauberi nama? Dan kau menyebutnya kawan? Kau berkawan dengan robot? Wow, betapa kesepiannya dirimu," ledek Curva yang membuat emosi Matteo terpancing.
Lagi-lagi, Matteo mencengkeram kuat baju Curva hingga tubuh keduanya saling menempel. Tony dan lainnya berusaha untuk melerai keduanya yang malah bertikai.
"Hentikan! Kalian membuat malu! Jika kalian berdua ingin berkelahi semalaman di sini, silakan saja. Namun, aku dan yang lain, akan pergi ke negara Bintang sembari memikirkan cara membebaskan Sandra dari cengkeraman negara Baatar tanpa menimbulkan perang!" tegas Colonel Brego yang keluar dari mulut robot cacing.
"Kita akan memikirkan solusinya. Tak aman bagi kita berada di luar terlalu lama. Kalian harus ingat, negara Bintang di kelilingi oleh negara-negara musuh. Jangan sampai Russ-King menemukan keberadaan kita di tempat ini. Mereka masih sering berpatroli entah apa yang mereka cari. Namun aku yakin, sepertinya rumor tanah hijau yang kami sembunyikan telah terdengar sampai ke beberapa wiliyah. Ini bukan hal baik," tegas Benyamin mengutarakan.
"Tenanglah, Jenderal. Sandra akan baik-baik saja. Ayo, kita harus berlindung," ucap Akira menasehati dan Matteo mengangguk pelan.
Robot cacing kembali masuk ke dalam tanah dan melaju menuju negara Bintang. Sedang sisanya, berkendara dengan HeliBot, WolfBot, Oto-Fly, dan kendaraan milik pasukan negara Baatar yang tergeletak sudah tak berpemilik karena tewas.
Sedang di tempat Sandra.
Wanita berambut pirang itu membuka matanya perlahan. Helm dari seragam tempur robot level E sudah dilepaskan dari kepalanya. Sandra digeletakkan di atas tanah tanpa alas dan dikurung dalam penjara besi.
"Emph," keluhnya saat ia mencoba untuk bangun, tapi tubuhnya terasa sakit.
__ADS_1
Sandra melihat seragam tempurnya telah dilepaskan dan kini memakai seragam yang biasa ia gunakan untuk latihan sebagai pelapis dalam.
"Selamat datang di negara Baatar, Presiden Great Ruler," ucap seorang pria menyambut.
Sandra berkerut kening dan berdiri perlahan meski ia merasakan sekujur tubuhnya sakit. Sandra melihat tangannya lecet dan beruntung tak terluka parah di bagian lainnya.
"Kau salah. Aku bukan Presiden Great Ruler," tegas Sandra seraya memegangi lengan kirinya yang mendadak terasa ngilu seperti mengalami bengkak karena terhantam benda keras.
"Bohong! Kau pasti Presiden Great Ruler! Aku melihatmu memimpin penyerangan saat di gurun!" seru pria bertubuh besar, bermata sipit, dan memakai jaket bulu yang membuatnya terlihat gagah serta berkuasa.
"Apa gunanya aku berbohong? Siapa saja bisa menjadi pemimpin perang," jawabnya berdiri dengan membungkuk karena menahan sakit di tubuh.
Sandra melihat sekitar. Ia berada di dalam gua besar dengan obor sebagai penerang. Sandra tak menyangka, jika negara Baatar masih menerapkan cara kuno sebagai alternatif pengganti listrik.
Banyak pria dan wanita mengelilinginya dengan tato cacing robot Gobi di lengan dan beberapa di punggung.
Hingga, mata Sandra terkunci pada sosok pria yang ia kenali karena memiliki tato di dada seperti saat ia menukar Vemo dari misi Morlan.
"Oh! Kau!" tunjuk Sandra saat pria itu berjalan mendekati pria bertubuh besar yang Sandra sinyalir adalah pemimpin Baatar. "Kita pernah bertemu sebelumnya. Saat aku menggunakan robot level A dan kau menangkap Vemo," ucap Sandra mendekat ke arah besi dan menyentuhnya.
Namun seketika, CRETT!!
"AAAA!"
BRUKK!
"Hahahaha! Dasar bodoh. Kurungan itu dialiri listrik. Kau tak akan bisa kabur," ucap pemimpin tersebut menertawai penderitaan Sandra.
Tangan kiri Sandra gemetaran saat tangannya tersengat. Beruntung, ia langsung melepaskannya. Jika tidak, ia akan tewas terpanggang. Namun hal itu, membuat tubuhnya jadi sedikit mengejang karena efek kejut.
Saat orang-orang tertawa karena sandera mereka menahan kesakitannya, muncul segerombolan wanita memasuki gua. Sandra melirik dan melihat dua orang wanita menggendong seorang bayi.
Pistol dan pedang laser miliknya telah disita. Sandra tak memiliki senjata apa pun untuk melawan atau meloloskan diri dalam kesempatan emas itu saat fokus semua orang tertuju pada si bayi.
"Hah, sial. Aku sungguh-sungguh terperangkap di tempat ini," gerutunya dengan pandangan tertunduk menatap tanah dari tempatnya duduk.
"Ratu tak bisa menyusui. Isteri Anda mengalami demam tinggi sejak kemarin malam dan panasnya belum turun sampai sekarang. Kita harus lakukan sesuatu atau anak Anda bisa kelaparan," ucap seorang wanita yang terus menimang-nimang bayi dalam gendongannya karena terus menangis.
"Aku bisa melakukannya!" seru Sandra yang membuat semua orang langsung menoleh ke arahnya.
"Melakukan apa?" tanya pemimpin Baatar.
"Aku bisa menyusui. Aku juga memiliki bayi. Malah, ASI ini harus kukeluarkan. Jika tidak, aku akan sakit," ucapnya menatap pemimpin Baatar lekat.
Dua wanita yang menggendong bayi terlihat senang. Mereka bergegas mendatangi jeruji seraya menggendong bayi-bayi tersebut. Saat akan mendekat, pria bertubuh besar itu menahan keduanya.
"Dia pasti berpura-pura!" tegasnya menatap Sandra keji.
"Jika aku berbohong, kau bisa penjarakan aku selama-lamanya. Aku tak bersenjata. Aku juga tak tahu di mana keberadaanku sekarang. Percuma aku kabur. Aku juga akan tewas oleh lingkungan sekitar," jawab Sandra tegas.
Seorang wanita Asia yang menggendong bayi tersebut menatap mata Sandra lekat tak berkedip. Pemimpin Baatar memandangi wanita dari sukunya lekat.
"Dia bicara jujur. Lepaskan dia, Khan. Biarkan dia menyusui anakmu," ucap wanita itu tenang.
"Bagaimana jika dia menyakiti bayiku, Sahara?"
"Kita bunuh dia," jawab wanita bernama Sahara tajam. Sandra melihat cara berpakaian wanita itu yang berwarna biru terang .
Pria yang Sandra yakini adalah pemimpin Baatar bernama Khan, terlihat ragu dengan penawarannya.
Namun tiba-tiba, "Lepaskan dia, tetap awasi. Jika dia berani melawan atau kabur dari tempat ini. Kupersilakan siapa pun untuk membunuhnya!" seru Khan berdiri tegap menatap orang-orangnya yang menyaksikan dari celah dinding gua.
"Haaa!" jawab orang-orang itu serempak.
Aliran listrik di sekitar kurungan besi itu dimatikan. Besi kurungan diangkat setinggi 1 meter.
Sandra perlahan merangkak keluar karena kurungan itu sengaja diangkat sedikit tak sepenuhnya.
"Agh!" erang Sandra saat kedua lengannya dipegangi kuat oleh dua pria berotot dan membawanya ke suatu tempat.
Sandra diawasi oleh orang-orang Baatar yang menjaganya di depan dan belakang dengan senjata tajam dalam genggaman.
__ADS_1
Dua wanita yang menggendong bayi malang itu berjalan di depan bersama Khan.
Hingga akhirnya, mata Sandra menyipit saat melihat sebuah pintu gua dengan sinar menyala terang dari lampu bercahaya di sekitar dinding gua. Ada sebuah kolam dan air jernih terlihat.
"Kau akan menyusui bayi Raja. Mandilah, ganti pakaianmu, lalu kau akan diizinkan menyusuinya," ucap Sahara mengantarkan ke sebuah pemandian dengan kolam yang cukup besar. Sandra juga merasa jika tubuhnya kotor.
Para wanita muncul seraya meletakkan pakaian ganti dan obat-obatan di pinggir kolam. Para pria penjaga berdiri di dekat dinding gua untuk mengawasi gerak-gerik Sandra selama di sana.
"Ini adalah jam pasir. Saat aku membalik benda ini dan pada bagian kosong telah terisi penuh oleh pasir, waktumu di kolam ini habis. Jika kau sengaja berlama-lama, kau akan kuumpankan pada hewan buas peliharaan kami. Jadi, bergegaslah," ucap Khan lalu membalik jam pasir itu.
Terlihat, serbuk itu turun sedikit demi sedikit ke bagian kosong ruang di bawahnya.
Sandra terkejut dan segera melepaskan pakaian. Sandra terpaksa melucuti pakaiannya di depan para pria yang tak ia kenal meski terlihat canggung.
Dua wanita yang menggendong bayi dari Khan, merebahkan mereka di atas matras dengan tumpukan kain sebagai alas tidur mereka.
Sandra bergegas masuk ke dalam air yang ternyata terasa hangat. Senyum Sandra terukir sekilas, tapi ia segera membasuh tubuhnya yang kotor karena waktu di tempat itu tak memberikan kebebasan sepenuhnya.
Isteri dari Matteo sengaja memunggungi orang-orang yang melihat kemolekan tubuhnya saat berendam. Berulang kali Sandra melihat pergerakan jam pasir seraya menggosok tubuhnya.
Dengan sigap, Sandra segera keluar dari kolam dan mengambil kain untuk ia kenakan. Tak ada handuk di sana dan wanita cantik itu tak mau ambil pusing.
Ia segera menutupi tubuhnya dengan pakaian berwarna merah menyala dengan ornamen-ornamen unik yang tak pernah ia jumpai sebelumnya.
Masih ada sedikit waktu baginya untuk mengobati luka lecet ditubuh.
"Gunakan minyak itu untuk mengobati lukamu," ucap Sahara dan Sandra mengangguk.
Sandra mengambil kapas dan ia totolkan pada sebuah mangkuk tanah liat berisi cairan seperti minyak.
Segera, ia oleskan kapas basah itu ke luka-lukanya. Ternyata, minyak itu tak memberikan rasa perih meski baunya sedikit tidak enak.
"Waktumu habis. Kau melakukannya dengan sigap, Presiden Palsu," ucap Khan seraya mengambil jam pasir.
Sandra mengembuskan napas panjang. Ia lega karena berhasil menyelesaikan tugas dengan cepat.
Sandra lalu diminta untuk duduk di atas matras bertumpuk kain. Sandra melihat dua bayi mungil yang kira-kira seumuran anaknya tampak kehausan. Senyumnya terpancar.
Saat Sandra akan menyentuh untuk menggendongnya, Khan langsung melangkah maju seperti ragu dengan yang akan dilakukan oleh wanita berambut pirang itu.
"Percaya padaku," ucap Sandra menatap Khan tajam.
Pria itu menyipitkan mata. Dua wanita yang mengasuh dua bayi itu mengangguk pelan pada Khan. Sandra menarik napas dalam dan mengambil salah satu bayi lalu memangkunya.
Sandra menyenderkan punggungnya ke dinding gua. Mata semua orang menajam saat Sandra mulai menyusui bayi tersebut.
Dengan sigap, mulut si bayi langsung menghisap dan tak menangis lagi. Sandra terperanjat saat melihat bayi itu memegang buah dadanya terlihat menikmati susu hangat itu.
Senyum dua wanita pengasuh terpancar. Sandra tersenyum seraya mengelus lembut rambut hitam bayi cantik tersebut.
"Kau bisa menyusui dua sekaligus?" tanya Sahara yang sudah menggendong bayi tampan yang belum disusui.
"Aku belum pernah mencobanya, tapi aku tak keberatan," jawab Sandra.
Sahara mengajarkan cara menyusui dua bayi bersamaan. Sandra tampak gugup saat dua bayi itu kini berada dipangkuannya dan menyusu.
"Woah, sungguh! Ini pengalaman tak terlupakan," ucapnya dengan senyum terkembang, dan disambut oleh dua wanita pengasuh.
Khan menatap Sandra tajam dari tempatnya berdiri dalam diam entah apa yang ia pikirkan.
***
ILUSTRASI
SOURCE : GOOGLE
__ADS_1
Uhuy tengkiyuw tipsnya mbak AjušLele padamuā¤ļø