
Sementara itu di Great Ruler.
Meriam laser menjadi senjata utama untuk menembak jatuh pesawat drone milik militer New-US yang mencoba merusak barikade tempurung baja yang melindungi langit Great Ruler.
Semua warga diungsikan ke dalam bunker yang berada di tiap Distrik. Eliz, Otka, dan lainnya kembali ditugaskan untuk mengamankan sipil dari dampak penyerangan.
"Kita sudah pernah merasakan yang lebih buruk dari ini. Tetap tenang dan berdoa. Semoga para pejuang Great Rules mampu mengusir para penyerang!" seru Eliz lantang yang bertugas menjadi pemimpin evakuasi Distrik 7.
"Yeah! Ayo, balas mereka!" seru para warga yang menyaksikan dari tampilan kamera pengawas di luar benteng yang terhubung dengan kamera dalam bunker.
SpiderBot dikerahkan dan disebar ke seluruh penjuru Distrik sebagai mata serta pembantu cadangan jika barikade berhasil ditembus.
Bayi Alva diungsikan ke rumah dinas Matteo yang berada di Distrik 9 gedung Green-Eco. Bayi Alva dimasukkan dalam kapsul transparan anti getaran, anti laser dan anti pecah sehingga ia tetap nyaman meski perang besar sedang terjadi di luar.
Bayi cantik itu dijaga oleh empat WolftBot dan Sora. Terlihat, Sora cemas karena Great Ruler kembali diserang dan para pemimpin negara belum juga tiba.
Kapsul tersebut hanya bisa dibuka dengan sidik jari Lala yang kini bertugas di Pusat Komando bersama petinggi militer lainnya.
Beruntung, keberadaan Great Mazepita tak ditemukan oleh negara New-US. Sepertinya, mereka tak tahu jika ada wilayah lain yang masih dalam satu kepemimpinan Presiden yakni Matteo Corza.
"Jangan lakukan apa pun. Great Mazepita harus tetap tertutup," titah Lala kepada salah satu petinggi Pipemo yang kini ditugaskan sebagai pemimpin sementara karena kepergian Morlan.
Pria itu mengangguk dan tetap waspada. Sambungan komunikasi dilakukan dari terowongan bawah tanah hasil kerja keras Matteo dan Vemo kala itu yang membuat mereka terjebak di bawah tanah, tapi beruntung bisa diselamatkan.
Selanjutnya, terowongan dari cacing robot diteruskan oleh para pekerja dan berhasil diselesaikan saat mereka harus menyusul ke negara Bintang kala itu.
Great Mazepita kini menggunakan teknologi yang sama seperti kota Pipemo. Mazepita tak terlihat dari radar maupun tampilan visual karena terkamuflase dengan baik.
Jika dilihat dari atas langit dan dari mata telanjang, tempat itu hanya gurun tandus yang luas. Great Mazepita berhasil aman untuk sementara waktu sebelum pihak musuh menyadari keberadaannya.
Ternyata, serangan brutal New-US tertangkap satelit negara Mega-US dan Russ-King termasuk negara Bintang dan Titan yang berada dalam air.
Praktis, perhatian mereka kini tertuju pada Great Ruler yang tengah berusaha mempertahankan dinding tebalnya.
"Kita harus membantu Great Ruler!" seru Benyamin mendatangi Curva yang tampak tegang menyaksikan serangan demi serangan diluncurkan dari misil drone untuk melubangi barikade. "Curva!" teriak Benyamin mencoba menyadarkan pemimpin baru mereka yang tampak gugup.
"Apakah bisa? Selama ini, Titan tak pernah berperang," tanya Curva sendu.
Benyamin menangkap kedua lengan Curva erat dan pemuda berambut biru itu balas menatap pria tua di depannya lekat.
"Jangan mengulang kesalahan yang sama pada leluhurmu. Jangan seperti ayahmu yang menyembunyikan diri dan kabur dari peperangan. Kau bilang, ingin sebuah perdamaian. Kau bilang ingin hidup di permukaan. Kau bilang, ingin agar wargamu sejahtera. Apa semua itu hanya ucapan belaka, Curva?" tanya Benyamin yang membuat Curva tertegun.
__ADS_1
"Aku akan pergi," ucap Siren yang telah siap dengan tombak listrik dalam genggaman.
"Aku juga. Kau sudah mengizinkanku menikah dan nantinya hidup bersama Vemo. Great Ruler adalah rumahnya. Dan suatu saat nanti, aku juga akan tinggal di sana. Aku ingin rumahku aman," sahut Verosa.
Tak lama, semua pejuang Titan ikut melangkah maju. Mereka terlihat siap untuk bertempur membantu Great Ruler mengusir penyerang dari negara New-US.
Curva melihat teman-teman seperjuangannya seperti tak takut jika tewas dalam pertempuran.
"Kalian sungguh rela kehilangan nyawa demi negara lain?" tanya Curva memastikan.
"Yes. Demi perdamaian dunia. Jika kami mati, setidaknya, ada harapan untuk penerus Titan. Setidaknya, kami sudah berusaha, bukan bersembunyi," sahut Atlanta mantap.
Curva menarik napas dalam dengan mata terpejam. Benyamin masih menatap Curva lekat yang kini menatapnya tajam.
"Aku adalah Curva Titan! Pemimpin negara Bintang dan Titan! Aku tak akan lari dan sembunyi lagi. Semuanya! Bersiap!" seru Curva lantang penuh semangat.
"Yeah!" jawab semua orang seraya mengangkat senjata mereka tinggi ke atas.
Benyamin segera menginformasikan kepada para prajurit mutannya di negara Bintang. Para manusia mutan itu sangat bersemangat di mana selama ini mereka mencoba menahan diri agar tak mengamuk.
Puluhan mobil dan motor dengan sigap melaju kencang menuju ke Great Ruler. Kepulan debu dari daratan tandus tak menyurutkan semangat orang-orang untuk bertempur.
Namun, saat kendaraan mereka melaju di tengah padang gurun, badai kembali menghalangi dan mengejar mereka dari belakang.
"Hoii!" jawab pasukan Bintang bersiap. Mereka menaikkan tiang dari besi yang bisa dipanjang pendekkan dengan dilipat.
Para pembonceng menguatkan tiang dengan baut agar tak roboh saat terhantam badai.
"Siapkan tameng!" seru Benyamin dari pengeras suara yang tersambung dengan earphone dan mic ia kenakan.
Dengan sigap, para pembonceng menarik sebuah benda berwarna transparan dan elastis bagian kanan dan kiri kendaraan tersebut yang dilipat dengan rangka besi.
Sebuah bentuk seperti setengah lingkaran, menonjol bagaikan sebuah perisai anti benturan.
Mereka mengaitkan dua benda itu dengan besi sehingga terlihat seperti sebuah bola yang melindungi benda di dalamnya. Tiang besi menyumbul hingga ke atas bola.
"Come on! Berfungsilah! Aku sudah sangat menantikan momen ini untuk bisa menaklukanmu badai," ucap Benyamin menyemangati dirinya dan berpegangan kuat pada kemudi mobil dengan atap terbuka.
"Siapkan layar! Kita akan terbang!" seru Benyamin mengomandoi dengan pakaian tempur berwarna biru tua yang seragam dengan negara Titan.
Dengan cekatan, kendaraan mereka yang telah dimodifikasi agar tetap bisa bertahan dengan lingkungan ekstrim dampak perang mulai mengembangkan layar.
__ADS_1
"Pastikan muatan telah terkunci rapat!" seru Benyamin yang memasang seat belt dalam posisi X menahan tubuhnya dari goncangan.
Para pengendara motor yang berboncengan juga telah bersiap. Kendaraan mobil dan motor mereka kini seperti sebuah kapal, tapi mengarungi daratan.
"Badai datang!" seru anak buah Benyamin menengok ke belakang karena gumpalan angin besar itu mulai menerjang mereka.
Seketika, WHUSS!! WHOOM!!
Kendaraan-kendaraan itu terangkat dari permukaan dan terbang dalam gumpalan debu yang menutup keberadaan mereka.
Benyamin mengganti mesin mobilnya menjadi mesin terbang menggunakan baling-baling memanfaatkan angin.
BRUKK!
Kendaraan-kendaraan itu saling menghantam, tapi tak membuat kerusakan karena bola elastis dari Gelembung Great Ruler mampu menahan benturan.
Benyamin yang telah mempelajari badai pasir selama bertahun-tahun karena selalu menggagalkan aksinya untuk menjelajah keluar dari negara Bintang, kini telah menemukan solusi agar ia tetap bisa melaju tanpa harus berhenti berkendara.
Orang-orang itu menutup wajah mereka dengan kacamata seperti menyelam dan juga masker agar tetap bisa melihat dalam badai.
"Stabilkan layar! Gunakan navigasi! Jika kita terpisah, tujuan kita adalah Great Ruler! Ayo!" seru Benyamin yang sosoknya terhalang debu pasir, tapi suaranya jelas terdengar.
Para pengendara berusaha keras mengemudikan kendaraan mereka tanpa harus memaksakan mesin. Kali ini, mereka mengikuti pergerakan badai yang membawa ke tempat dituju, Great Ruler.
Senyum Benyamin terkembang, ia merasakan seperti terbang di udara. Benyamin menggunakan sistem navigasi dan radar yang terhubung dengan Pusat Komando Great Ruler.
"Yeah! Kita berhasil, Tuan! Kita terbang dalam badai!" seru anak buah Benyamin gembira.
"Yeahhh!" sahut tentara yang lain. Benyamin mengangguk bangga.
Senyum Lala dan para operator merekah. Mereka melihat dari tampilan satelit jika ada badai pasir besar bergerak sampai ke wilayah Great Mazepita membawa muatan.
"Yes, bagus, Benyamin. Terima kasih atas bantuan kalian," ucap Lala senang. Lala segera berdiri tegak di hadapan semua orang seraya melihat ke seluruh layar-layar hologram yang terkoneksi dengan pemimpin pasukan robot di lapangan. "Bintang akan datang dari Distrik 10! Begitupula dengan pasukan Baatar dari permukaan yang akan datang dari Distrik 5 celah Kermogal! Cacing robot akan langsung ke Distrik 4! Sedang Titan, mereka akan melindungi kita di perairan yang berada di antara Distrik 9 dan 10! Jangan takut dan tetap siaga! Kini mereka datang sebagai sekutu, bukan musuh. Bersiap!" seru Lala lantang.
"Yes, Mam!" jawab semua orang mantap.
***
ILUSTRASI
SOURCE : GOOGLE
__ADS_1
Uhuy happy weekend walaupun hujan terus uy. Tengkiyuw tipsnya, lele padamu❤️ besok lagi ya. kwkwkw😆