
Matteo mendekati Khan dan sang Presiden negeri bawah tanah itu menoleh ke arah pemimpin Great Ruler tersebut.
"Sudah berakhir. Tak ada lagi alasan bagi kita untuk saling berperang, Presiden Khan. Great Ruler dengan senang hati akan membantu Baatar mewujudkan mimpi yang belum terwujud," ucap Matteo menatap Khan lekat.
Khan langsung memeluk Matteo erat, begitupula pria bermaik biru tersebut yang balas memeluknya. Seketika, tepuk tangan meriah terdengar di sekeliling mereka.
"Akan kuumumkan hal baik ini kepada seluruh rakyatku. Mereka harus tahu, jika penderitaan ini akan segera berakhir," ucap Khan mantap seraya melepaskan pelukannya.
Matteo mengangguk dengan senyuman. Khan meminta kepada anak buahnya untuk menyiapkan jamuan dengan seluruh warga diminta hadir esok hari di Aula.
Puple dan empat WolfBot yang dibawa oleh Matteo diizinkan ikut serta setelah Khan merasa yakin jika Great Ruler bukan lagi ancaman bagi negaranya.
Matteo dan rombongan diantar ke ruangan tempat Sandra dan Nekhii serta dua pengasuh bayi kembar menunggu.
Sesampainya di sana, Matteo terkejut melihat sang isteri didandani layaknya wanita dari bangsa negara itu dengan pakaian khas berikut aksesorisnya.
"Bagaimana? Apakah aku terlihat pantas?" tanya Sandra gugup seraya mendekat.
"Kau cantik sekali, Sayang," jawab Matteo memuji saat melihat sang isteri mengenakan baju tradisional negara Baatar seperti wanita Mongolia pada zamannya.
"Kalian kini menjadi tamu kehormatan Baatar. Para pelayan sudah menyiapkan kamar untuk kalian. Menginaplah semalam karena esok ada jamuan besar," pinta Nekhii seraya mendekat ke kumpulan perwakilan dari Great Ruler tersebut.
"Terima kasih, atas keramahan negara Baatar, Yang Mulia," ucap Matteo menundukkan kepala sejenak sebagai bentuk hormat.
Saat Sahara dan Kalahari ingin menunjukkan kamar para tamunya, tiba-tiba saja terdengar alarm peringatan jika ada pasukan robot mendekat ke arah Baatar. Praktis, semua orang langsung bersiaga.
"Apakah ada pasukan negara lain menyerang?" tanya Vemo waspada melihat sekitar karena suara sirine terdengar nyaring.
"Tunjukkan padaku para penyerang itu!" titah Nekhii.
Segera, seorang wanita yang memakai seragam tempur berwarna cokelat mendekat seraya menunjukkan sebuah tablet dengan layar terkoneksi kamera robot pengawas di luar.
"Oh! Itu HeliBot dan WolfBot! Mereka orang-orang kami! Mereka bukan ancaman! Hentikan serangan!" seru Matteo saat ia mengenali kawan-kawannya dari regu kedua.
"Mereka orang-orangmu? Apa yang mereka lakukan hingga datang kemari?" tanya Nekhii berkerut kening terlihat curiga.
Matteo terlihat gugup tak bisa menjawab.
"Pastinya antisipasi jika usahamu untuk mengajak damai dan membawaku pulang tak berhasil. Apakah tebakanku benar, Pak Presiden?" tanya Sandra menatap suaminya lekat di mana wanita cantik itu masih memakai kalung detektor kebohongan di lehernya.
"Yes, tepat sekali," jawab Matteo meringis.
Nekhii melirik Sandra dan melihat kalung itu tak berbunyi. Nekhii lalu memerintahkan kepada petugas untuk menghentikan serangan kepada robot dari kubu Great Ruler.
Seketika, peluru-peluru tajam, senapan peleleh logam, dan tembakan laser yang ditujukan kepada kelompok kedua tim Great Ruler dihentikan.
Sayangnya, HeliBot berhasil terkena tembakan dan membuat benda itu jatuh di padang pasir masih dalam wilayah kekuasaan negara Baatar.
"Aku akan menjemput mereka," ucap Matteo dan diangguki Sandra.
"Bawa WolfBot, untuk berjaga-jaga," pinta Sandra dan Matteo mengangguk.
Matteo ditemani oleh Vemo dan Morlan keluar dari dalam tanah kota Baatar. Sandra, Colonel Brego dan Roman menunggu di sebuah ruangan untuk menyambut kedatangan orang-orangnya meski masih diawasi oleh Khan, Nekhii serta para tentaranya.
Di Padang Gurun, luar kota bawah tanah negara Baatar.
"Hah, hah," engah Tony saat ia jatuh dengan keras karena HeliBot yang dikendarainya terkena tembakan dan mengeluarkan asap.
Baling-baling HeliBot rusak dan mengalami konsleting serta percikan api.
__ADS_1
"Kalian baik-baik saja?" tanya Akira ikut berdiri sembari melepaskan diri dari HeliBot.
"Yeah," jawab Ego seraya berdiri dan membersihkan pakaiannya yang terkena pasir gurun.
"Kenapa mereka tiba-tiba saja berhenti menembak?" tanya Xili seraya membuka penutup helm robot level E miliknya.
"Entahlah, tapi pasti sesuatu terjadi. Apakah ... Presiden berhasil berdamai dengan Baatar?" tanya Imo seraya berdiri lalu melihat sekitar di mana hanya gurun yang terlihat.
Tiba-tiba, empat WolfBot yang melindungi mereka menggonggong layaknya anjiing. Kedelapan orang utusan Great Ruler sebagai tim kedua langsung waspada dengan menyiagakan pistol laser dalam genggaman.
"Oh! Itu ... itu mereka! Mereka berhasil!" seru Wego seraya menunjuk tak jadi menembak.
Ketujuh anggota sisanya melakukan hal yang sama. Mereka melihat dari tampilan kaca helm robot yang memiliki fungsi layaknya teropong.
Kedatangan Matteo, Morlan dan Vemo tertangkap kamera helm. Mereka mengendarai WolfBot dan orang-orang Baatar menggunakan kuda.
Senyum tim kedua Great Ruler terkembang. Mereka melambaikan tangan bahkan melompat-lompat.
Rhyz menembakkan suar dari pakaian robot level E miliknya pada bagian punggung tangan sebelah kanan. ke langit untuk menandai lokasi.
SHUW! DAR!
Bagaikan kembang api di siang hari, kilauan percikan api biru itu terlihat jelas oleh Matteo dan orang-orang Baatar.
"Dasar pamer," ucap seorang pria dari negara Baatar yang menunggangi kuda di samping WolfBot Matteo.
Sang Presiden hanya mengembangkan senyuman tak menjawab. Mereka segera mendatangi sekelompok orang yang mengenakan seragam hitam di panasnya terik gurun Gobi.
Namun, tanpa sepengetahuan mereka. Robot mata-mata dari Mega-US dan New-US menangkap pergerakan itu meski dari lokasi berbeda.
Pusat Komando New-US, Amerika Utara.
"Sir," panggil salah satu operator dengan pakaian berwarna abu-abu yang berdiri di depan layar hologram, menampilkan hasil tangkapan kamera robot di lapangan.
"Yes, Sir!" jawab semua pasukan yang telah bersiap di hanggar.
Robot ular yang berkamuflase dengan pasir gurun tak terdeteksi oleh sistem keamanan negara Baatar karena mereka masih kalah dalam teknologi. Namun, para serigala robot menyadarinya.
"Grrr," erang kedelapan WolfBot, tapi mereka berpencar ke berbagai sudut.
"Ada apa?" tanya Bablo seraya mendekat ke salah satu WolfBot seperti membidik sesuatu.
Saat pihak dari regu kedua Great Ruler bertemu dengan pasukan negara Baatar, tiba-tiba ....
"Awas!" teriak Bablo langsung membalik tubuhnya dan berlari menghindar.
Dua WolfBot yang menangkap pergerakan ular robot pasir itu berlari mengejar. Matteo segera mendekati Bablo dan menyiagakan pistol laser dalam genggaman.
"Apa yang terjadi?!" tanya Matteo menatap Bablo tajam.
"Ular robot! Pasti itu milik negara musuh! Kita telah diawasi!" jawab Bablo panik melihat sekitar.
"Cepat pergi dari sini! Lokasi ini jauh dari perangkap untuk mengamankan diri!" seru penjaga dari kubu Baatar.
Segera, Akira dan lainnya menunggangi 5 WolfBot. Sisanya membonceng kuda pada prajurit Baatar. Namun, Matteo masih berada di lokasi bersama Vemo dan Morlan.
Vemo mendatangi HeliBot yang rusak dan mengeluarkan SpiderBot. Matteo melihat yang dilakukan sahabatnya dan mengikuti caranya.
"Apa yang kalian berdua lakukan?! Cepat pergi dari sini!" teriak Morlan lantang melihat dua orang itu keheranan.
__ADS_1
"Vemo benar. Ada mata-mata dari negara musuh. Pantauan Baatar tak sampai sejauh ini, tapi satelit kita bisa!" jawab Matteo cepat.
"Qimi! Apa kau mendengarku? Qimi!" panggil Vemo lantang masih mengenakan pakaian robot level E miliknya.
"Ya, sangat jelas dan lantang, Vemo," jawab Qimi yang membuat semua orang bernapas lega.
"Gunakan mata SpiderBot untuk mengawasi sekitar gurun. Sebar mereka semua dan bila perlu, lakukan aksi balas jika dianggap ancaman!" sahut Matteo memberikan perintah.
"Yes, Sir!" jawab Qimi cepat.
Lala yang juga melihat kejadian itu dari mata para WolfBot ikut panik. Seekor WolfBot berhasil menangkap satu ular robot tersebut dan meremukkan bagian tengah tubuhnya hingga benda itu tak bergerak lagi.
"Hei, 8! Bawa kemari!" panggil Matteo dalam posisi berjongkok di samping HeliBot yang telah rusak.
Serigala robot seri 8 segera mendekat. Matteo mengambil robot ular itu dan menatapnya saksama.
Lampu pada kamera robot masih menyala biru dan Matteo menyadari jika kamera tersebut masih aktif.
"Jangan merusak perdamaian yang sebentar lagi akan terjalin antara Baatar dan Great Ruler. Jika kalian berani mengusiknya, kalian akan melawan banyak negara," tegas Matteo menatap kamera bulat pada kepala robot tersebut.
KRAK!
Seketika, Matteo melebarkan mata karena kaget. Vemo memukul mata robot itu hingga kaca tersebut pecah dan lampu biru berubah merah lalu padam.
"Kau sudah memberikan mereka peringatan. Mau apa lagi?" tanya Vemo santai dengan bangkai HeliBot dalam genggaman untuk merusak robot ular tersebut.
Matteo langsung melemparkan robot ular itu kesembarang tempat. Para WolfBot sudah tak mengerang dan dalam posisi siaga lagi.
Morlan, Vemo dan Matteo kembali menaiki WolfBot untuk memasuki negara Baatar. Sayangnya, satu buah robot tak ditemukan oleh para WolfBot.
Robot kadal gurun milik Mega-US menangkap tampilan terakhir dari Matteo, Vemo, dan Morlan saat mereka menemukan robot ular ciptaan New-US.
Pusat Komando Mega-US. Amerika Selatan.
"Apa aku tak salah dengar? Apa yang mereka katakan tadi? Great Ruler berdamai dengan negara Baatar bahkan akan dilawan banyak negara?" tanya salah seorang pemimpin tertinggi di ruangan tersebut.
"Ya, Tuan. Begitulah yang diucapkannya," jawab seorang operator dengan seragam berwarna merah.
Pria berseragam merah, tapi memilki lencana khusus pada seragam perwiranya itu mengangguk pelan.
"Oke. Lanjutkan untuk terus mengawasi perairan dan sekitarnya. Pastikan tak ada serangan dari kota atau negara lain yang berusaha menyusup dan menghancurkan kita dari dalam," titah pria berpotongan cepak berumur sekitar 50 tahunan tersebut.
"Yes, Sir," jawab operator tersebut mantap.
Pria itu lalu keluar dari ruang kendali dan berdiri pada sebuah lantai berjalan otomatis yang membawanya ke sebuah pintu lain. Pria itu menggunakan sidik jari pada jempolnya untuk membuka pintu ruangan.
"Silakan masuk, Jenderal Ogerus," ucap sistem saat sidik jarinya dikenali.
Pria tersebut melangkah masuk dan mendapati ruangan tersebut kosong. Ia berdiri dan mengamati tampilan dari kamera pengawas yang melihat keadaan sekitar baik dalam atau wilayah luar dari negaranya.
Pria itu menatap layar besar dihadapannya saksama di mana kapal dan pesawat tempurnya selalu bersiaga untuk mengantisipasi ancaman.
"Apakah benar ... perdamaian dunia bisa terwujud? Siapa pencetusnya? Jika benar, ini akan membuat perubahan yang sangat besar," ucapnya serius dengan mata menyipit.
***
ILUSTRASI
SOURCE : GOOGLE
__ADS_1
Wah ada yang ngetips lagi😍 Gitu dong jangan lele mulu😆Kan capek cari koin kudu rekaman dulu. Kwkwkw makasih tipsnya💋 Sering-sering yaa🤭 Lele padamu❤️