SIMULATION

SIMULATION
STRENUOUS EXERCISE*


__ADS_3

Sandra memulai latihannya hari itu dengan robot mentor. Sandra mengikuti robot mentor yang memintanya berlari mengelilingi lingkaran dengan langkah kecil sebanyak 10 putaran.


Tentu saja, Sandra lelah karena baju robot yang ia pakai cukup menguras energi dan membuatnya berkeringat. Matteo selalu melakukan penilaian dari hasil analisis Eco usai Sandra melakukan satu jenis latihan.


"Oke, istirahat minum. Ingat, Otka. Satu botol minuman berukuran 1 liter ini untuk satu hari. Tiap satu jam, istirahat minum cukup tiga teguk. Aku sengaja memintamu berhemat sebagai bentuk ujian jikalau kau melakukan simulasi secara terus-menerus tanpa henti. Kau mengerti?"


"Yes, Sir!" jawab Sandra dengan nafas terengah usai minum.


"Bersiap!" perintah robot mentor yang kembali meminta Sandra dalam posisi tegap.


Sandra diminta melakukan push up sebanyak 30 kali. Ia tak boleh mendahului atau terlambat. Ia harus menyamakan ritme dengan robot tersebut di mana bagian-bagian tubuh mentor tersebut dipasangi kamera yang dilengkapi sensor untuk melihat pergerakan Sandra.


Sandra tak menyangka jika latihan dasar kali ini cukup menguras energinya. Bahkan, latihan ini dilakukan setiap hari dengan peningkatan level setiap harinya hingga saatnya tiba untuk melakukan ujian 10 level ilmu bela diri.


Mulai dari berlari, push up, sit up, melatih pukulan, tendangan, dan gerakan sulit lainnya.


Ilmu bela diri yang dipelajari oleh para User Great Ruler mencakup keseluruhan dan campuran dari beberapa seni.


Hanya saja, Matteo memfokuskan untuk tiga jenis saja yakni karate, taekwondo, dan judo karena waktu yang menghimpit.


"Wah, kau hebat, Otka. Nilai latihanmu sempurna. Jika kau terus seperti ini, kau akan menjadi User wanita tertangguh di Great Ruler," ucap salah satu operator wanita bernama Qimi memuji.


"Begitukah? Hem, aku berharap demikian. Terima kasih, Qimi," jawab Sandra dengan senyum terkembang saat ia dibantu oleh petugas lain melepaskan baju robot berlatihnya.


"Baju latihan itu cukup berat, tapi kulihat kau mampu mengatasinya," sahut Xili yang diminta secara khusus oleh Matteo untuk mengawasi latihan Sandra selama ia tak ada.


"Yah, aku merasa tubuhku mulai bisa mengatasinya. Tak seberat yang terlihat," jawabnya santai.


Matteo diam menatap Sandra yang dikerubungi oleh para operator di sekitarnya. Sang Jenderal menyudahi latihan hari itu dan membawa Sandra kembali ke kamarnya untuk beristirahat karena sampai satu bulan ke depan, ia akan berada di ruang simulasi bela diri untuk berlatih.


"Bagaimana? Lelah? Kau belum terluka. Aku kecewa," keluh Matteo dengan wajah masam saat latihan tersebut selesai pukul 6 sore.


Kening Sandra berkerut. "Anda menginginkan aku terluka? Apakah melihatku kesakitan membuat Anda bahagia, Jenderal Matteo Corza?" tanya Sandra menghentikan langkah dan menatap tajam pria yang berjalan lebih dulu di depannya.


Matteo menghentikan langkah, ia berpaling dan berganti menatap Sandra lekat.


"Seingatku, kau begitu keras kepala ketika pertama kali berlatih. Apakah ... kesombongan itu sudah sirna setelah kau terluka dan merasa merepotkan orang lain, Otka Oskova?" balas Matteo menyudut. Sandra terdiam dan memalingkan wajah.


"Aku mengawasimu, meski aku dalam masa cuti. Aku bisa melihat kau mulai berlagak saat di tempat latihan tadi. Seakan kau mengatakan 'Oh, lihatlah aku. Otka Oskova mampu menyelesaikan latihan tanpa cidera'," sambungnya berkesan meledek. Sandra tertunduk.


"Aku bahkan ingin lihat, apakah sifat angkuhmu itu akan luntur setelah kepergianku, atau malah semakin menjadi? Satu bulan, Otka Oskova. Aku hanya memberikanmu waktu satu bulan untuk bebas dari cengkramannku karena kubiarkan Ego dan Tony yang melatihmu," tegasnya lalu berpaling dan berjalan lebih dulu meninggalkan anak didiknya.


Sandra kesal. Ia berjalan dengan gusar menuju ke kamar. Ia melepaskan seragam berlatihnya dengan melemparkannya kasar ke mesin cuci. Sandra bertolak pinggang di depan kaca kamar mandi memandangi dirinya.


"Menyebalkan. Apa maunya pria itu? Memang kenapa jika aku dipuji? Aku menyukainya. Aku merasa hebat karena aku satu-satunya User yang berhasil melewati serangkaian tes. Bahkan aku satu-satunya calon User yang akan mengendalikan robot level A di mana tak ada satupun yang pernah melakukannya," ucapnya kesal dan hanya mengenakan pakaian d*lam.


Sandra mengabaikan ucapan sang Jenderal dengan mandi. Usai membersihkan diri, Sandra baru menyadari jika Purple tak ada di kamarnya.


Biasanya robot itu membantunya dalam menyiapkan makanan dan membersihkan beberapa perabotan saat ia tak sempat melakukannya.


Sandra duduk termenung di kursi sofa, menunggu makanan yang ia panggang dalam oven matang. Sandra menikmati sajian itu sendirian dengan wajah datar.


Ia mencuci perabotan makannya yang kotor tanpa Purple membantunya. Sandra begitu lelah dan segera merebahkan dirinya di kasur seraya memandangi langit-langit kamar.


"Apakah ... aku menjadi orang yang sombong? Namun ... Jenderal Matteo juga bersikap demikian. Kenapa ia boleh melakukannya sedangkan aku tidak? Apakah ... karena perbedaan jabatan? Dia seorang Jenderal dan aku hanya ... kandidat User?" tanya Sandra dengan wajah sendu.


Sandra memiringkan tubuhnya seraya memeluk guling dalam dekapannya. Entah kenapa, ucapan sang Jenderal mengganggunya dan membuatnya sulit memejamkan mata. Sandra kesal sendiri.

__ADS_1


Ia menendang selimut, bantal dan guling hingga benda-benda malang itu berserakan di lantai. Nafas Sandra menderu, hatinya terasa panas karena sindiran sang Jenderal.


Namun perlahan, seiring dengan kelelahan itu, ia mulai bisa memejamkan matanya dan tertidur.


Keesokan harinya. Sandra dengan sendirinya pergi ke ruang pelatihan tanpa menunggu jemputan Ego atau Tony.


Ternyata, Ego sudah berada di sana menunggunya. Sandra memberikan salam hormat dan Ego membalasnya dengan cara yang sama.


"Kau siap untuk latihan hari ini?" tanya Ego dan Sandra mengangguk.


Wanita cantik itu kembali dipakaikan baju robot untuk memulai latihan dasar seperti kemarin. Selanjutnya, Sandra memulai latihan baru dengan teknik pukulan dan kuda-kuda yang membuat kedua kaki dan tangannya pegal. Hari demi hari ia lalui dengan latihan keras.


Ego dan Tony bergantian untuk mengawasi selama proses latihan di dalam ruangan tersebut.


Setiap hari, jenis latihan yang dilakukan selalu berganti, tapi sebelumnya mengulang gerakan yang telah dipelajari. Sandra menunjukkan keseriusannya, dan ia berusaha agar tak cidera.


Tony dan Ego menilai Sandra kini telah berubah menjadi wanita tangguh dilihat dari fisiknya yang terlihat layaknya prajurit wanita. Otot-otot di tubuhnya menjadi padat. Ia juga tegas dalam bersikap.


Perlahan, timbul rasa kagum di kalangan orang-orang yang melihat kesungguhan dalam diri Sandra untuk menjadi seorang User.


Tak terasa, Sandra telah selesai menjalani latihan berat untuk mempelajari ilmu bela diri. Ia terlihat letih hari itu usai melakukan latihan teknik judo yang telah ia pelajari selama seminggu penuh.


Hari itu, adalah hari terberat karena ia diminta mengulang semua teknik gerakan dari 3 ilmu seni bela diri.


Ia merasa beberapa bagian tubuhnya pegal karena terbanting meski beralaskan matras saat berlatih Judo.


Ia juga melakukan teknik apitan dan berusaha untuk melepaskan dari lilitan lawan, terlebih orang itu adalah Komandan Ego yang memiliki fisik dua kali lebih besar darinya.


Sandra juga melakukan teknik tendangan, menyerang, bertahan, dan menangkis dengan tangan kosong.


Sandra kembali ke kamarnya sore itu usai berlatih. Tony dan Ego yang melihat Sandra mulai kelelahan karena latihan keras sebulan lamanya, membiarkan kandidat User itu untuk beristirahat dan tak mengusiknya.


Sandra segera membersihkan tubuhnya karena merasa sangat letih dan ingin segera tidur. Usai mandi, Sandra langsung menuju ke kasur tak menyuapi perutnya karena tak merasakan lapar.


"Aghhh ...," keluhnya saat mencoba untuk merebahkan diri di kasur. "Sepertinya ... esok pagi aku tak bisa bergerak. Ego kuat sekali," ucapnya dengan wajah berkerut menahan sakit di sekujur tubuhnya. "Syukurlah, aku libur sampai dua hari ke depan. Aku harus segera memulihkan tubuhku sebelum ujian level dimulai," sambungnya dengan tubuh terlentang dan pasrah.


Tak butuh lama, akhirnya Sandra memejamkan mata bahkan ia mendengkur lirih. Entah sudah berapa lama Sandra tertidur, ia terbangun karena merasa lapar. Ia mencoba membuka matanya yang terasa berat dan lengket.


"Emph, masih pukul 3 pagi. Agh, aku lapar," keluhnya masih terbaring di ranjang, tapi memegangi perutnya yang kelaparan.


Sandra beranjak dari ranjang dengan mata sayu dan tubuh lunglai seperti orang mabuk. Ia malah berjalan keluar kamar, lagaknya seperti orang mengigau.


Sandra berjalan begitu saja menyusuri lorong dengan bertelanjang kaki, mengenakan celana pendek ketat sepaha warna hitam, dan atasan berupa kaos tanpa lengan.


PIP!


Pintu yang ia tempelkan barcode terbuka. Sandra masuk begitu saja dan berjalan menuju ke dapur.


"Anda lapar, Nona Otka Oskova?" tanya seorang robot pelayan.


"Hem. Sediakan apapun, please," pintanya dengan mata mengantuk dan langsung duduk di sebuah kursi dari sebuah pod yang ia tekan bagian atasnya.


Sandra meletakkan kepalanya di meja itu dengan mata terpejam. Sandra malah tertidur lagi dengan posisi duduk.



"Nona Otka Oskova. Makanan Anda sudah siap. Silakan," ucap robot pelayan dan Sandra kembali duduk.

__ADS_1


"Agh, tanganku sakit. Bisa kau suapi aku?" pinta Sandra mengeluh.


"Tentu saja," jawab robot itu ramah.


Sandra membuka mulutnya dengan mata sayu. Ia mengunyah makanan itu cukup lama hampir tertidur lagi.


"Ingin saya buatkan espresso?" tanya robot pelayan.


"Mm ... tak perlu. Berikan aku wine. Aku ingin bermalas-malasan hari ini. Aku lelah sekali, jangan bangunkan aku sampai aku bangun sendiri," pintanya menatap robot berwarna putih di depannya dengan punggung menyender.


"Baik," jawab robot itu dengan suara menyenangkan lalu kembali dengan membawa sebotol wine beserta gelas.


Sandra menghabiskan pizza-nya dengan lahap tanpa disuapi. Ia juga menghabiskan setengah botol wine sendirian. Robot itu masih menunggu di sampingnya hingga Sandra memutuskan sudah tak sanggup makan dan minum lagi.


"Terima kasih," ucapnya dengan senyum tipis.


Saat Sandra beranjak dan siap untuk melangkah, tiba-tiba saja Matteo muncul di depannya dengan kening berkerut. Sandra menatap Matteo saksama dan malah tersenyum.


"Hem, kenapa kau menatapku seperti itu, Jenderal? Aku tak cidera, hanya saja ... badanku sakit semua. Minggirlah, aku mau tidur," ucapnya lalu melewati Matteo begitu saja di sampingnya.


Matteo membalik badannya dan menatap Sandra tajam yang keluar dari kamarnya seperti orang mabuk, sama seperti saat ia datang tadi.


"Apa dia baru saja makan lalu pergi?" tanya Matteo ke hadapan robot pelayan. Robot itu diam tak menjawab. Ia pergi dengan sisa pizza, gelas kosong dan botol wine dalam nampan. "Kurang ajar. Awas kau ya. Kau pikir rumahku restoran," gerutu Matteo bergegas keluar kamar dan mendatangi kamar Sandra.


Namun, ia terkejut karena Sandra malah duduk di koridor seperti orang tidur. Matteo segera berlari dan mendatanginya.


"Dia sudah tak waras. Dia ini kenapa?" tanya Matteo langsung membopong Sandra, tapi ia bawa ke rumahnya. Matteo merebahkan Sandra di kamar lain dan merasakan tubuh wanita itu hangat.


"Spectra!" panggil Matteo dari pinggir ranjang.


"Ya, Tuan Matteo," jawabnya seraya mendekat.


"Periksa dia," pinta Matteo terlihat cemas.


Spectra melakukan pemindaian mulai kepala hingga ujung kaki Sandra. Matteo duduk dan terlihat serius menatap layar di hadapannya dari wajah Spectra yang menunjukkan hasil analisis.


"Otka Oskova mengalami demam. Tubuhnya tak mengalami lecet atau luka serius, tapi beberapa bagian ditemukan lebam karena benturan kuat."


Matteo mendekat dan meminta kepada Spectra untuk menunjukkan titik-titik lebam tersebut. Spectra menunjukkan daerah tersebut dengan jarinya. Matteo mengangguk saat mendapati luka-luka itu.


"Hempf. Baiklah, terima kasih, Spectra. Biarkan dia tidur. Jika esok hari panasnya tak turun dan lebamnya semakin meradang, baru kau obati. Aku ingin tahu, seberapa kuat dia menahan luka-luka ini di tubuhnya," jelas Matteo.


"Baik," jawab Spectra ramah dan segera pergi dari ruangan tersebut karena Matteo memberikan kode agar ia menyingkir.


Matteo menatap Sandra lekat yang tertidur pulas di ranjangnya. Sang Jendral malah ikut membaringkan tubuhnya di samping Sandra.


Ia memiringkan tubuhnya dan menatap wanita berambut pirang itu saksama entah apa yang dipikirkannya.


***


ILUSTRASI


SOURCE : GOOGLE


Ahh lele mau ikutan rebahan kaya mbak Sandra. Nguantuk banget sumpah, badan remek. Adeh ... btw ni eps puanjang loh😆makasih tipsnya❤️ Lele padamu😘


__ADS_1


__ADS_2