SIMULATION

SIMULATION
HELP FROM FISHERS*


__ADS_3

Lima robot level D generasi dua atau disingkat DG2 dengan bantuan dari kapal ikan pari kota Titan, berlayar dengan kecepatan penuh menuju ke Samudera Pasifik Utara di mana kapal selam Mega-US sedang berusaha keras untuk menghancurkan kapal induk New-US agar bantuan pesawat udara bisa digagalkan.


Xili dan lainnya terkejut saat kendaraan mereka melintas di Laut Cina Timur dan terlihat puing-puing dari sisa peperangan di sekitar permukaan lautan.


"Ini sungguh mengerikan," ucap Siren pucat saat melihat beberapa kobaran api menyala dari bangkai besi tersebut.


"Hei, ada kapal yang masih utuh diantara puing!" seru Rhyz yang melihat dari bangku kendali robotnya.


Dengan sigap, lima robot DG2 tersebut menyiagakan senjata karena khawatir jika itu pihak musuh. Namun seketika, mata Artic melebar.


"Tahan! Itu kapal dari kota Kagoshima yang dulunya masuk dalam negara kepulauan di Jepang! Mereka nelayan sipil! Mereka bukan ancaman!" seru Artic yang membuat Rhyz dan keempat kawannya menurunkan senjata.


"Ya! Titan bekerjasama dengan mereka dalam pertukaran hasil tangkapan laut dengan teknologi yang kami miliki. Kapal itu salah satu ciptaan kami," sahut Siren.


"Oke. Pastikan mereka bukan ancaman. Kita harus bergegas," sahut Imo.


Siren dan Artic mendekati kapal tersebut dengan menunjukkan kapal ikan pari mereka. Praktis, mata para nelayan itu terkejut.


"Kalian dari Titan?" tanya salah seorang nelayan yang telah memegang senjata berupa panah listrik dengan bentuk mirip seperti teknologi tombak, cambuk dan pedang ciri khas kota Titan.


"Ya. Mereka adalah robot-robot dari Great Ruler. Apa yang terjadi? Apa yang kalian temukan?" tanya Siren yang sosoknya muncul ke atas permukaan dari bagian atas kapal ikan parinya.


"Pertempuran hebat terjadi. Bahkan, pesisir Kagoshima terkena dampak. Namun, semuanya telah selesai saat matahari tenggelam. Kami memberanikan diri kemari untuk melihat apa yang terjadi. Sayangnya, tak ada yang selamat. Semua telah tewas. Hanya puing-puing sisa peperangan yang ditinggalkan," ucap salah seorang nelayan terlihat sedih termasuk ABK lainnya.


"Inilah perang menuju perdamaian. Titan, Baatar, Mega-US, Russ-King, dan Bintang kini telah berdamai dengan Great Ruler. Sayangnya, New-US tak menghendakinya. Oleh karena itu, kami sedang berjuang untuk mewujudkan perdamaian. Sebab itu, pertempuran besar ini terjadi lagi," jawab Siren yang membuat orang-orang itu terkejut.


"Perdamaian dunia? Maksud Anda ... perang akan segera berakhir, begitu?" tanya nelayan lain dengan mata melotot dan Siren mengangguk.


"Kami akan mendukung perdamaian itu. Aku yakin, jika perang antar negara pasti akan segera berakhir. Aku tak menyangka, jika aku masih bisa hidup untuk melihatnya. Lalu ... apa yang bisa kami bantu. Warga Kagoshima siap menolong," sahut salah seorang nelayan berambut hitam.


Xili dengan sigap mengambil sesuatu dari dalam tasnya. Ia lalu turun dari robot besarnya dan berdiri di samping Siren. Semua orang menatap gerak-gerik Xili saksama.


"Tuan. Anda bisa membantu kami dengan alat ini. Ambilah, bagikan ke semuanya, seharusnya ini cukup," jawab Xili seraya menyerahkan kacamata khusus berwarna abu-abu seperti kacamata selam.


Para nelayan itu menerima dan memakainya. Xili lalu mengajarkan cara mengaktifkannya. PIP!


"Woah! Ini apa?!" pekik salah satu nelayan terkejut saat kacamata itu bersinar dibagian tepi tanda telah terkoneksi.


"Pusat? Apa kalian bisa menerima transmisi ini?" tanya Xili dari sambungan komunikasi yang terhubung dengan salah satu earphone di telinga kirinya.


"Sangat jelas, Xili. Bagus," jawab Lala mantap.


"Dengarkan aku baik-baik. Kami yakin jika New-US memiliki kapal induk di berbagai wilayah. Sayangnya, mereka memiliki teknologi kamuflase. Kapal-kapal itu hanya bisa dilihat dengan teropong khusus, seperti teropong yang kalian gunakan ini. Jadi, kami minta kalian untuk menyisir sekitar perairan. Satelit kami akan menangkap gambar yang dirasa mencurigakan dan akan melakukan antisipasi jika benda tersebut dianggap sebuah ancaman," ucap Xili menjelaskan.


"Woah, keren sekali. Baik, akan kami bantu. Kalian punya berapa? Aku bisa meminta kepada seluruh nelayan untuk ikut dalam pencarian," sahut seorang nelayan antusias.


Xili meminta kepada semua temannya untuk memberikan alat serupa kepada para nelayan itu.


Rhyz, Wego, Imo, dan Bablo melemparkan tas-tas mereka dari atas dudukkan robot kepada Xili.


"Kami mengandalkan kalian," ucap Siren mewakili sekutunya.


"Serahkan pada kami. Demi perdamaian, kami akan berjuang," jawab nelayan itu mantap dan diangguki nelayan lainnya.


Segera, Xili dan timnya melanjutkan perjalanan. Kapal milik nelayan tersebut bergerak menuju ke pantai untuk menginformasikan kepada nelayan lainnya. Ternyata, banyak para nelayan yang mendukung usaha Great Ruler.


Kabar dengan cepat tersebar. Nelayan-nelayan dari pesisir lain ternyata ingin ikut bergabung. Mereka menyingkirkan perselisihan demi membantu memenangkan perang dari pihak Great Ruler.


Siapa sangka, para penduduk di wilayah itu telah bosan bertikai dan mulai mengharapkan perdamaian seperti yang dijanjikan.


Kapal-kapal nelayan mulai bergerak di sekitar pesisir Jepang. Mereka mencari keberadaan kapal induk milik New-US yang dikatakan memiliki teknologi untuk menyembunyikan diri.

__ADS_1


Para nelayan itu mengenakan kacamata pemberian dari Xili dan kawan-kawannya, serta senjata setrum dari Artic sebagai bentuk dukungan agar mereka tak takut menghadapi musuh.


Malam yang gelap mencekam begitu terasa di Samudera Pasifik Utara. Biasanya, perairan itu tenang dalam taburan bintang di langit menghiasi malam dan ombak lirih menyapu permukaan.


Namun malam itu, dentuman demi dentuman bom terdengar memekakkan telinga bahkan kobaran api terlihat di beberapa wilayah dari puing-puing yang terbakar.


Ternyata, dugaan para pengamat teknologi Mega-US benar. Kapal induk itu tak bisa terbang selamanya.


Mereka tetap harus mendarat di permukaan air laut sebelum nantinya mereka terbang lagi untuk berpindah lokasi.


Dengan kerusakan yang berhasil diberikan oleh kubu Mega-US di beberapa bagian kapal induk terluar, kapal besar tersebut tak mampu untuk terus melayang di udara.


"Seluruh kapal selam bersiap! Kita serang mereka begitu kapal induk tersebut menyentuh air! Laksanakan!" seru Birova lantang.


"Yes, Sir!" jawab 3 nahkoda kapal selam terakhir yang masih mampu bertahan dari serangan balasan kapal induk tersebut.


Terlihat, kapal induk New-US mulai turun perlahan seperti yang diprediksi oleh Mega-US. Pesawat-pesawat tempur New-US ikut membidik kapal selam Mega-US yang berusaha menghindari serangan dengan menyelam.


BRUSHHH!


"Now!" seru Birova lantang.


Dengan sigap, SWOOSH!



Detak jantung semua orang dari kubu Mega-US seakan berhenti sejenak. Luncuran dari belasan misil itu membuat mereka menahan napas seakan berada dalam kedalaman air hingga wajah ikut menegang.


Seketika, BLUARRR!!


"Yeah! Kita berhasil mengenainya!" seru para nahkoda kapal ketika misil-misil mereka berhasil meledakkan bagian bawah kapal selam saat besi tersebut menyentuh permukaan air.


BRAKK!!


"Harghhh!" erang Menteri Pertahanan New-US geram karena kapal induk mereka lagi-lagi dihancurkan. "Tak ada ampun lagi bagi Mega-US! Bunuh mereka semua!" titahnya murka.


"Yes, Sir!" jawab para pilot pesawat tempur yang masih mengudara di atas Samudera Pasifik Utara.


Pesawat-pesawat yang berhasil lepas landas sebelum misil kapal selam Mega-US merusak komponen, melakukan aksi balas.


Kapal selam Mega-US dijatuhi bom-bom berhulu ledak besar dari atas langit. Ledakan demi ledakan menggetarkan kedalaman lautan dan mengusik para penghuni di lautan lepas malam itu.


Tiga kapal selam yang tersisa berusaha menghindari ledakan dengan menyelam lebih dalam lagi.


Namun ternyata, tekanan air dalam membuat beberapa mesin mengalami kerusakan setelah terkena guncangan hebat akibat ledakan.


TET! TET! TET!


Lampu merah berkedip di ruang kendali kapal selam seri M-US-95 kubu Mega-US. Praktis, hal tersebut membuat seluruh petugas dalam kapal panik seketika.


"Kapten! Bahan bakar kapal kita mengalami kebocoran. Kita harus segera merapat ke daratan atau kita akan tenggelam," ucap salah satu operator menginformasikan dari peringatan sistem.


Namun, kapal-kapal selam itu seperti berada di dalam ladang ranjau. Pergerakan mereka terpantau dari permukaan karena sistem kamuflase mengalami kerusakan sehingga tak berfungsi.


"Selamatkan diri kalian! Gunakan Squid-Boat. Kami akan kirim bantuan," ucap Presiden Birova terlihat cemas jika awak kapal dari tiga kapal selam terakhir tersebut tewas.


BOOM! BOOM! BOOM!


"ARGHHH!"


Kapal selam berguncang hebat. Kapal selam seri M-US-97 kehilangan kendali pada baling-baling karena mengalami kerusakan akibat gelombang besar dari ledakan.

__ADS_1


Baling-baling macet dan tak bisa berputar. Praktis, para ABK di kapal tersebut panik.


"Nyawa kalian lebih berharga! Tinggalkan kapal! Kita bisa membuatnya lagi. Cepat!" titah Kapten kapal tersebut dan diangguki dengan cepat oleh para anak buahnya.


Semua orang menuju ke kapsul penyelamat yang berbentuk seperti cumi-cumi untuk mengamankan diri.


Kapsul-kapsul transparan tersebut hanya bisa dikendarai oleh satu orang manusia. Kapsul cumi-cumi tersebut bisa dikendalikan layaknya kapal selam mini karena tentakel bagian belakang berfungsi sebagai penggerak laju kapal.


Sayangnya, ledakan yang terus terjadi, membuat kapsul-kapsul yang berhasil meluncur keluar ikut terombang-ambing dalam gelombang besar.


Saat para ABK kapal dari kubu Mega-US khawatir tak bisa selamat dari ledakan yang dihadiahkan oleh pesawat tempur New-US, tiba-tiba saja terdengar suara mesin berkekuatan besar di atas permukaan laut.


"Wow! Apa itu?!" pekik salah satu ABK yang melihat dari atas kaca kapsul penyelamatnya saat riak air besar membuat jalur panjang layaknya jet ski 100 tahun silam.


Para ABK yang penasaran malah naik ke atas permukaan untuk melihat hal yang menarik perhatian itu.


Praktis, mata orang-orang itu melebar ketika melihat lima buah robot besar menaiki kapal ikan pari sebagai kendaraannya.


Robot-robot besar itu menembaki pesawat-pesawat tempur milik New-US dengan peluru tembus baja tanpa ampun.


DODODODOOR! BLUARR!


BROOM ....


DODODODOOR! BLUARR!


"Mereka gila! Aku tak menyangka bisa menggunakan cara seperti itu!" pekik salah satu ABK dengan mulut menganga saat bidikan senjata itu ternyata mampu menjatuhkan pesawat-pesawat tempur tersebut seperti telah dikunci.


DODODODOOR! BLUARRR!


"Wohoo! Bagus, Bablo!" seru Artic yang menjadi pengendali laju kapal ikan pari.


Artic dan empat nahkoda kapal ikan pari lainnya melakukan manuver apik di atas permukaan air dengan robot level DG2 membidik sasaran mereka.


"Yeah! Habisi mereka semua!" seru ABK dari dalam kapsul penyelamat yang melihat aksi gabungan Great Ruler dan Titan di atas laut.


Birova yang awalnya cemas jika tentaranya tak selamat mulai bernapas lega. Satu per satu, pesawat tempur New-US jatuh dari ketinggian dan tenggelam ke dasar lautan dalam kobaran api besar.


"Akhirnya ... ini telah berakhir," ucap Birova bernapas lega dengan mata terpejam.


Sorak-sorai kegembiraan terdengar jelas di sekitar Samudera Pasifik Utara di malam itu. Tak ada lagi serangan yang datang dari atas langit oleh kubu New-US.


"Kita berhasil! Yeah!" seru Wego gembira dengan kedua tangan terangkat ke atas setelah usahanya berhasil untuk melumpuhkan seluruh armada pesawat tempur New-US yang ingin mengirimkan bantuan dari kapal induk mereka.


Namun tiba-tiba, "Xili! Apa kau mendengarku? Halo, siapapun?!" tanya Qimi tiba-tiba dari sambungan komunikasi satelit yang membuat sorakan kegembiraan itu sirna seketika.


"Ya, ada apa?" sahut Xili cepat.


"Para nelayan menemukan satu buah kapal induk di Laut Filipina. Kami melihat, jika kapal tersebut kini menuju ke Laut Cina Timur!"


"Oh, shitt," umpat Xili langsung memejamkan mata.


***


ILUSTRASI


SOURCE : GOOGLE



makasih tipsnya ankfandi berkah selalu😍 bagi yg belom ngetips koin ditunggu ya😘

__ADS_1


__ADS_2