SIMULATION

SIMULATION
MISUNDERSTANDING*


__ADS_3


Semua orang terlihat satu pemikiran.


"Kita semua salah paham selama ini. Demi anakku, aku bersumpah Great Ruler tak memiliki teknologi itu. Kami saja membantu negara Bintang dengan mengirimkan para ahli dibidangnya. Bahkan membutuhkan waktu berbulan-bulan untuk bisa mengembalikan kesuburan tanah di wilayah Bintang yang terkontaminasi," ucap Sandra yang membuat kening semua orang berkerut.


"Great Ruler ... membantu Bintang agar wilayahnya kembali subur dan bisa ditanami? Begitu maksudmu?" tanya Kalahari—salah satu pengasuh bayi kembar Nekhii—memandang Sandra lekat.


"Ya. Great Ruler dan Bintang berselisih karena dendam serta kesalahpahaman masa lalu. Namun, sekarang kami telah berdamai. Bahkan, aku sangat yakin jika Titan dan Bintang saling memaafkan. Kini, tinggal Baatar dan Great Ruler. Jika kalian menyatakan damai dengan kami, secara tak langsung, Baatar juga telah mengakhiri konflik dengan Bintang, Titan, dan kota-kota yang tergabung dengan Great Ruler lainnya. Kami bisa membantu kalian memulihkan keadaan. Kalian tak perlu bersembunyi lagi di bawah tanah. Kalian bisa hidup di permukaan layaknya kami," ucap Sandra mantap menatap dua pemimpin tertinggi negara gurun itu.


Saat Nekhii dan Khan memikirkan ucapan Sandra, tiba-tiba ....


"Gempa bumi!" seru penjaga di atap tertinggi bangunan berdinding batu tersebut.


Seketika, "GOAARRR!!"


"Cacing robot!" seru pengawas menunjuk seekor cacing yang Sandra kenali.


"Amankan warga! Hancurkan monster itu! Serang!" seru Khan lantang mengomandoi pasukannya.


Mata Sandra melotot lebar karena ia tahu jika cacing itu adalah kendaraan milik Great Ruler. Sandra ditarik ke dalam bangunan bersama Nekhii dan lainnya untuk diamankan.


"Hentikan! Cacing itu milik Great Ruler!" seru Sandra yang praktis membuat mata Nekhii melebar dan menghentikan langkah seketika.


"Jadi berita itu benar, jika Great Ruler mereplika cacing robot Gobi? Kau pendusta, Salvarian!" seru Nekhii tajam.


"Aku tak berdusta apa pun. Cacing itu memang kami buat untuk mengamankan rute dari serangan negara musuh, seperti yang kalian lakukan selama ini. Kalian pikir, kami tidak takut? Kami juga ketakutan. Kami tak ingin pulang tanpa nyawa karena banyak orang yang akan menangisi kematian kami. Aku memiliki anak dan aku berjanji akan pulang bersama ayahnya dengan selamat ke Great Ruler! Aku menjanjikan perdamaian dunia pada anakku agar aku bisa membawanya berkeliling dunia dan menunjukkan kedamaian itu!" jawab Sandra lantang yang membuat semua orang terdiam.


Napas Sandra memburu. Kalung detektor kebohongan tak membunyikan alarm sejak terpasang di leher Sandra. Nekhii menatap Sandra lekat.


"Aku sudah muak hidup dalam kebohongan, Nekhii. Aku menyimpan dendam pada Presiden Great Ruler yang kini menjadi suamiku," ucap Sandra yang membuat Nekhii tertegun. "Kupikir, dialah pembunuh suamiku, Rey. Aku menyalahkan Matteo Corza atas kematian suami dan calon bayiku karena keteledorannya. Bertahun-tahun aku menyimpan dendam dan hidup dalam kesendirian di Great Ruler yang kalian takuti itu. Namun, karena dendamlah membuatku kuat dan bertahan dalam kepedihan. Dendamlah yang membuatku tersadar jika aku salah menilai Matteo Corza selama ini. Dendamlah yang membuat kebencian itu menjadi cinta. Dan karena dendamlah, aku sekarang berada di sini," ucap Sandra dengan mata berkaca menatap Nekhii lekat.

__ADS_1


Sang Permaisuri terdiam saat kedua tangan Sandra yang terborgol meraih kedua tangannya.


"Aku tak ingin dendam ini meluas, Nekhii. Cukup aku saja yang merasakan dendam dan kepedihan itu. Cukup penderitaan kita selama ini dan harus diakhiri. Semua hanya bisa terwujud jika orang lain bisa mengerti dan memaafkan. Seperti aku yang memaafkan dan merelakan dendamku pada pria yang kini kucintai. Kau sepertiku Nekhii. Kau seorang Ibu. Kau seorang Ratu, dan kau seorang isteri," ucap Sandra pelan menatap Nekhii sendu.


Sang Permaisuri memejamkan mata sejenak dan melepaskan genggaman tangan Sandra. Wanita berambut pirang itu melihat Nekhii berjalan ke arah lubang pada dinding mendekati kumpulan penjaga yang mencoba untuk menghancurkan cacing robot Great Ruler.


"Hentikan!" teriak Nekhii lantang seraya melemparkan suar dengan asap warna merah ke daratan.


Praktis, semua orang mematuhi perintah sang Ratu termasuk Khan yang membidik cacing robot dengan senapan penembus baja.


"Apa yang kaulakukan, Nekhii?!" pekik Khan terlihat marah besar.


"Sudah cukup. Mereka datang untuk menawarkan perdamaian. Bukan seperti ini penyambutan Baatar kepada tamu kehormatan. Berikan akses pada cacing robot Great Ruler untuk masuk ke terowongan Gobi," ucap Nekhii tenang yang melihat cacing robot milik Great Ruler mengalami kerusakan pada kulit luarnya.


"Kau gila?!" pekik Khan melotot tajam.


GRAB!


"Apa kau mencintaiku, Khan?" tanya Nekhii mencengkeram kuat rompi kulit sang pemimpin. Kening Khan berkerut. "Apa kau mencintai anak kembar kita?" tanya Nekhii lagi dengan mata berlinang. "Apa kau mencintai negara dan wargamu yang menginginkan hidup damai tanpa ada peperangan lagi? Jawab aku, Khan!" teriak Nekhii meluapkan perasaannya dengan air mata.


Kedua tangannya meremat kuat pakaian sang suami karena tak sanggup menahan hatinya yang sedang meronta.


Khan meraih kedua lengan Nekhii dengan lembut dan menatapnya lekat.


"Tentu saja aku mencintaimu. Aku mencintai dua anak kita, dan juga negara ini. Aku mengerti," ucap Khan yang membuat Nekhii langsung memeluk suaminya erat.


Para penjaga bernapas lega meski mereka tetap siaga. Sandra berlari mendatangi lubang pada dinding dan mengayunkan tangan meski masih terborgol.


"Itu Sandra! Dia baik-baik saja! Isteriku selamat!" seru Matteo yang melihat isterinya berdiri dengan senyum terkembang dari balik jendela cacing robot.


"Buka pintunya, tapi tetap waspada!" titah Roman dan semua orang bersiap dengan pistol laser disarungkan.

__ADS_1


GREKKK!!


Semua orang langsung dari pihak Baatar menoleh ke arah cacing robot yang menunjukkan bagian mulutnya sedang terbuka.


Tak lama, muncul beberapa orang dari dalam mulut cacing seraya mengangkat kedua tangan. Senyum Sandra terkembang terlihat bahagia.


"Kami datang dengan damai. Kami hanya ingin menjemput Wakil Presiden Great Ruler, Sandra Salvarian. Tolong diizinkan," ucap Matteo berdiri di hadapan sekumpulan warga Baatar.


"Kau siapa?!" tanya Khan tegas berdiri di bibir dinding gua.


"Aku, Matteo Corza. Presiden Great Ruler sekaligus suami dari Sandra Salvarian dan ayah dari Salvarian Corza, puteriku," jawabnya mantap.


Sandra tersenyum tipis karena Matteo tak terlihat takut meski wajahnya tegang. Khan menatap Matteo tajam dari tempatnya berdiri entah apa yang dipikirkannya, tapi hal itu membuat jantung semua orang berdebar kencang.


"Selamat datang di negara Baatar. Kami izinkan cacing robot kalian memasuki terowongan tempat biasanya Gobi tinggal. Silakan," ucap Khan ramah yang membuat Matteo dan timnya terkejut.


"Terima kasih atas kebaikan hati Anda, Tuan ...."


"Khan! Panggil aku Kaisar Khan. Aku Presiden di Negara Baatar," jawabnya mantap, dan Matteo membungkuk hormat.


Dua orang dari pasukan Gobi turun dan ikut masuk ke robot cacing meski awalnya Matteo ragu dengan hal itu, tapi Sandra meyakinkan jika mereka akan baik-baik saja.


Matteo bersama yang lain kembali masuk ke dalam robot cacing. Dua orang dari negara Baatar memberikan arahan untuk jalur yang harus dituju oleh cacing tersebut saat memasuki terowongan.


Sandra mendatangi Nekhii dan tersenyum lebar padanya. "Terima kasih. Aku berharap, perdamaian ini akan segera terwujud," ucap Sandra dan diangguki oleh Nekhii dengan senyum yang sama.


***


ILUSTRASI


SOURCE : GOOGLE

__ADS_1



uhuy tengkiyuw tipsnya mbak aju❤️jangan lupa rehat biar semangat up sampai tamat novel nanti. kwkwkw😆


__ADS_2